I LOVE YOU CAPT !!

I LOVE YOU CAPT !!
Welcome on board!


__ADS_3

Reza dan Luna tiba di pelabuhan, tempat kapal berbendera Belanda itu berlabuh, keduanya berjalan beriringan tanpa berpegangan tangan, pandangan Reza lurus ke depan, aura kaptennya mulai terasa, jika di dalam kabin pesawat ia masih sempat bergurau dengan istrinya, kini tidak lagi ia lakukan, ia hanya fokus pada kru dan para staffnya yang menyambutnya di gangway.


Luna berjalan di belakangnya, sambil memperhatikan suaminya itu, diapun bersikap senormal mungkin, agar apa yang mereka sepakati berjalan dengan sesuai rencana, namun ada kekesalan tersendiri saat melihat suaminya disambut oleh para staff perempuan, Luna lebih kesal lagi saat Reza menanggapi gadis-gadis itu dengan senyuman yang menawan.


“Ah sengaja atau apa? Sok manis sekali, bukankah dulu ia hampir tak pernah tersenyum pada ABK-nya?” dengus Luna dalam hati.


Apalagi saat seorang gadis membawa kalung bunga penyambutan nahkoda, sejak kedatangan Reza dan Luna, pandangan matanya tak lepas dari suami Luna itu, pandangan yang begitu mengagumi sosok tampan, tegas dan berwibawa tersebut.


Reza bersikap biasa saja, tetapi dengan Luna, ia sangat kesal, perasaan memiliki mulai tumbuh begitu saja, ingin ia menghampiri gadis tersebut dan menamparnya, menyongkel kedua matanya. Hingga ia tak dapat menunjukkan mata nakalnya pada suaminya.


“Welcome on board, Capt!” ucap gadis itu, kemudian meminta Reza menunduk agar ia dapat mengalungkan bunga itu ke leher sang captain. Reza pun menduduk dan merendahkan badannya, dan bunga pun berhasil mengalung dengan indahnya pada dada bidang itu.


“Perfect! You looks gorgeous as usual Capt!” ucap sang gadis, Luna memutar bola mata malas, ia tau apa yang sedang dipikirkan oleh gadis itu.


“Thank you, Sweet!” balas Reza, Luna yang mendengar kata itu terucap dari mulut sang suami, seketika membulatkan kedua bola matanya.


“What? apa katanya? 'sweet’ ?emang gula! Dasar kapten semut!” Luna bermonolog, tetapi jujur ia sangat kesal.


Dia pun berjalan dengan cepat mendahului sang kapten, Reza menatap istrinya yang pergi begitu saja, senyuman terukir pada sudut bibirnya.


***


Luna masuk ke dalam kapal dengan dua koper berada di tangannya, setelah melewati scan dan inspeksi luggage, Luna pun berjalan ke kantor kru untuk mendapatkan kunci kabin, Reza mengikuitinya dari belakang tetapi ia tak perlu pergi ke ruangan itu sebab semuanya sudah dipersiapkan sebelumnya oleh para staff.


Mereka pun berjalan terpisah, Reza menuju kamarnya di deck 7, yaitu kabin yang letaknya dekat dengan (anjungan) tempatnya menjalankan tugas kenavigasian.


“Good morning,” sapa seorang staff kru office pada Luna yang tengah mengantri dengan wajah masamnya.


“Morning, Pak minta kunci,” ucap Luna pada pria staff crew office tersebut.


“Kunci apa?” tanya sang pria.


“Kunci kabinlah! masak kunci gitar!" Luna menjawab dengan ketus, membuat sang pria dengan nametag Arsha tersebut tertawa.


“Gak ada kunci kabinnya!” jawab Arsha


menatap Luna yang semakin terlihat kecut.


“Jangan bilang adanya kunci ke hatimu! Dasar laki-laki semuanya sama saja!” kata Luna, bisa menebak apa yang sedang dipikirkan oleh sang staff CO itu.


“HAHAH, sial, dia bisa nebak ternyata,” ucap Arsha terbahak.

__ADS_1


“Siapa namanya?” tanya Arsha.


“Laluna Aditama.”


“Aditama Laluna?” tanya Arsha.


“Iya, sama saja!” Arsha kembali terkekeh, akankah ia masih berani mengerjai Luna. Saat ia tau bahwa gadis itu adalah istri kaptennya.


“Oke tunggu ya, gue proses dulu,” Luna pun menunggu sambil duduk di kursi,


diperhatiaknnya pria itu, dan membaca nama dadanya.


“Arsha, nama gue! Gausah curi-curi pandang gitu!” ucap Arsha, menangkap Luna yang sedang membaca namtagnya.


“Lu baru di sini?” tanya Luna.


“Nggak, udah seminggu,”


“Itu baru, dodol!” balas Luna, setelah itu Arsha memberikan kunci kabin dan beberapa stuff lain. Luna membaca nomor kabinnya dan memeriksa satu persatu perlengkapan yang ia dapatkan.


“Lo, mau ke kabin sendiri, atau gue anterin?”tanya Arsha.


“Ngak usah! gue lebih senior di sini, mana sini nametag gue!” Luna meraih benda pipih atas namanya yang tergeletak di atas meja, moodnya benar-benar sedang jelek pagi ini.


***


Di kabin A002 kini gadis itu akan tinggal, sebuah ruangan yang tidak besar tetapi juga tidak begitu kecil. Dia meletakkan kopernya di atas upper bed atau tempat tidur bagian atas yang kosong, Luna tidak memiliki roommate, sebab ia adalah satu-satunya perempuan di departemen engine, kemudian disusul oleh hand bagnya yang sejak tadi ia jinjing.


Saat ia hendak merebahkan tubuhnya di bed, tiba-tiba saja, telepon di kabin itu berdering,


Tillilit


Tilililit


“Ya halo, Laluna speaking,” sapanya, menjawab telepon.


“Laluna, gue kira lo gak bakal nyampe kabin dengan selamat,” jawab pria di seberang sana.


“Ah, lu lagi, ada apa? Cepetan bilang, gue lagi sibuk, Arsha!” ucap Luna, masih mengingat nama pria itu.


“Ada meeting, di training room sama kapten dan staffnya, jam 10!”

__ADS_1


“Iya, udah tau gue! Gue lebih senior dari elo!”


“Dih songong! Jangan sampe telat! Inget, dandan yang cakep jaga omongan, jangan kayak preman, siapa tau captain naksir elo ntar!” Arsha pun menutup teleponnya.


“Dih, dasar! Belom tau aja dia gue siapanya kapten!” dengus Luna juga menutup telepon.


Luna bergegas menuju kamar mandi, lalu bersiap untuk beremu dengan Captain yang sudah sangat dikenalnya itu. Sepuluh menit kemudian Luna telah siap.


Dia berjalan menuju lantai satu, atau main floor.


Melewati beberapa ruangan, seperti kru mess, gym, smoking room dan beberapa tempat khusus kru lainnya.


Semuanya masih tetap sama seperti terakhir kalinya ia berada di kapal ini, mungkin hanya beberapa ornamen saja yang telah terganti mengikuti kemajuan design.


“Woy!! Lun!” seseorang memanggilnya dari arah belakang.


“Heh Luna tengik!” suara itu semakin mendekat dan Luna pun menoleh.


“Eh, Bum-Bumi??” ucap Luna saat melihat pria bermata sipit itu menghampirinya.


“Lu balik lagi?” tanya Bumi, ia menatap wajah sahabatnya itu lekat-lekat.


“Iyalah, entar lo kangen sama gue!”


“Hahah! Lo kali yang kangen sama gue!” Bumi mengejek.


“Eh, lo tau gak captain dewa yunani lo itu juga join hari ini!” ucap Bumi, ia sempat melihat Reza dan berpapasan dengannya.


“Oh iya?” Luna pura-pura tidak tahu, padahal ia ingin menertawakan Bumi, membayangkan bagaimana ekspresinya saat tau bahwa dirinya telah menikah dengan Dewa Yunani tersebut.


Mereka pun berjalan ke training room bersama, sesekali saling bercanda membicarakan apa saja yang terjadi di ruang mesin saat Luna tidak ada, Bumi juga menanyakan apakah Luna sudah membuka kotak pemberiannya dahulu atau belum.


Tiba di training room, ternyata Luna dan Bumi datang terlambat, dilihatnya kapten dan staffnya sudah duduk berjajar dengan gaya elegannya. Para kru yang lain pun tengah duduk rapi, menunjukkan sikap hormatnya pada para officers itu.


“Laluna Aditama,” tiba-tiba saja, kapten memanggil nama Luna, saat ia dan Bumi hendak mengambil tempat duduk bersama kru yang lain.


“Yes, Capt,” Luna menjawab.


“Kau terlambat menit,” ucap Reza menatap jamnya, ia sangat kaku, dan dingin. Seperti tidak mengenal Luna sama sekali.


“Maaf Capt, saya akan membuat laporan permintaan maaf setelah ini,” ucap Luna.

__ADS_1


“Tidak perlu, datang saja ke brigde setelah meeting ini,” ucap Reza, matanya menatap tajam ke arah Bumi.


“Baik, Capt,” ucap Luna.


__ADS_2