I LOVE YOU CAPT !!

I LOVE YOU CAPT !!
Lanjut di kapal


__ADS_3

“Luna, apa kau akan benar-benar kembali bekerja?” tanya Reza.


“Iya Kak, aku harus melanjutkan masa magangku yang belum selesai,” balas Luna, sejenak Reza tampak berfikir, ia ingin melarang istrinya untuk kembali ke kapal, tetapi ia ragu, sebab dari awal pernikahan kedua orang tua mereka sudah setuju jika setelah Reza dan Luna menikah, maka Luna bebas menentukan akan melanjutkan pendidikannya atau tidak.


“Lun, tetapi aku keberatan, apa kau bisa menjalani hubungan jarak jauh?” Luna menatap suaminya, ada raut manja di sana, ia tersenyum dan menghampiri Reza.


“Memangnya apa salahnya dengan LDR kak?”


“Tidak ada yang salah, hanya berat saja,” ucap Reza.


“Bukankah yang berat itu rindu Kak?” Luna terkekeh.


“LDR dan rindu adalah satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan.” Reza menatap istrinya dengan intens.


“Kak, tenang saja, kau adalah kapten tertampan dan termuda di Holland Am*rica Line, jangan khawatir aku tak akan tergoda dengan nahkoda lain!” Luna mencubit hidung mancung pria itu. Ia sangat tau apa yang ada di pikiran Reza saat ini.


“Bahkan nama dan fotomu selalu terpampang pada halaman pertama e-fleet!”


“Kau benar, aku memang cukup populer di H*L, kau tau itu Luna!” Reza mengiyakan perkataan istrinya, namun kini Luna lah yang merasa ‘illfeel’.


“Kak, kau bisa narsistik juga ternyata ya?” cibir Luna.


“Aku tidak narsis Luna, memang itulah kenyataannya,” ucap Reza masih dengan nada datar.


“Baiklah suamiku, lalu apa keputusanmu?” tanya Luna.


“Keputusanku tetap tidak berubah,”


“Apa Kak? Kau belum memberikan jawabanmu sejak tadi.


“Kau tetap tidak boleh bekerja!” ucap Reza mendominasi.


“Kak, aku tidak bekerja aku hanya sedang magang!” elak Luna.


“Terserah Luna, entah itu magang, atau bekerja, atau apalah namanya, aku tidak mau hubungan jarak jauh!” Reza masih saja tidak mau mengalah.


“Kak, jika aku tidak menyelesaikan pendidikanku, lalu bagaimana dengan masa depanku nanti?”


“Apa kau becanda, Luna? Tentu saja akulah masa depanmu! Kau ini!” dengus Reza kesal.


Mereka masih saja meributkan hal itu, tanpa mereka sadari, ada dua pasang mata sedang mengintai dari jarak jauh.


“Pap, bagaimana ini? Bukankah mama sudah bilang, jangan biarkan dokter sialan tadi masuk ke rumah!”


“Papa juga tidak tau Ma, padahal papa sudah meneleponnya untuk membiarkan kesalahpahaman antara Luna dan Reza terjadi!”


“Siapa yang mengijinkan dokter tadi masuk Pap? Papa ya?”


“Ganis Ma!bukan papa!”ucap Alexander bersembunyi di balik korden koridor rumah.


“Apa langkah kita selanjutnya Pa?”

__ADS_1


“Papa tidak tau Ma! Papa dengar Luna akan segera kembali bekerja, dan itu berarti akan semakin jauh pula harapan kita untuk memiliki cucu Ma!” pria itu memijat keningnya sementara istrinya juga melakukan hal yang sama, kemudian seseorang hadir dari arah belakang dan mengagetkan mereka berdua.


“Nah kan! Ketauan ya, lagi ngintip ya!!” Ganis menangkap basah ayah dan ibunya yang sedang mengintai kakaknya dan Luna.


“Diam kamu! Dasar anak nakal! Gara-gara kamu, rencana papa mama jadi batal!”


“Apaan sih, emangnya Ganis kenapa!” ucap gadis itu tanpa dosa.


“Nis, ngapain sih kamu tadi ngijinin dokter itu masuk!” ucap Alexander.


“Yaelah Papa! orang mau masuk gak boleh! Dia itu tamu Pap!”


“Tapi gara-gara itu, Luna sama Reza jadi tau kalo kita semua sudah pada tau tentang kehamilan yang salah terka itu!” dengus ibunda Ganis.


“Oh jadi, awalnya mama papa udah tau kalo Luna belum hamil? Terus pura-pura excited? Biar Luna sama Kakak jadi gak merasa gak enak gitu! Wih tak kusangka suami istri ini jago juga!!” Ganis terbahak-bahak mengetahui akal bulus orang tuanya.


“Diam kamu! Ganis, jangan kencang-kencang!”Alexander mencubit hidung putrinya.


“Akhh.. Akhh.. Mam! Sakit tau!” pekik Ganis menahan jeweran ibunya.


****


“Pa, Ma, sebelumnya Luna minta maaf ya, mungkin ini tidak benar, tetapi Luna terpaksa harus kembali ke kapal untuk melanjutkan masa magang yang sempat terhenti,” ucap Luna di hadapan Reza, gadis itu sedang berlatih meminta ijin kepada kedua mertuanya.


“Terlebih tentang berita kehamilan yang salah itu, sungguh Laluna minta maaf Pa, Ma. Sejujurnya Luna juga ingin memiliki momongan, mungkin memang belum waktunya saja,” Luna menundukkan kepalanya, ia malu terutama saat suaminya menahan tawa sejak tadi.


“Ayo Lun! Lanjutkan, susun kalimat yang bagus agar papa mama mengijinkanmu kembali bekerja,” ucap Reza dengan posisi duduk di depan Luna yang tengah berdiri.


“Kak, apa benar papa dan mama tidak akan memberiku ijin dengan mudah?” tanya Luna.


Luna mengacak rambut hitamnya yang panjang, ia tampak sangat risau, khawatir jika mertuanya akan benar-benar mempersulitnya.


“Kak, ayo bantu aku, aku kan istrimu!” Luna merengek, membuat Reza semakin gemas.


“Ayo Luna, berlatih lagi,” jawab Reza.


“Berlatih membuat kalimat lagi? Ah aku lelah kak!”


“BUKAN!”


“Berlatih menjadi istri yang baik, ekhm..” Reza berdeham agar dapat menahan tawanya.


“Aku harus kembali bekerja kak, aku tidak mungkin hamil dulu!” ucap Luna.


“Lalu, bagaimana jika aku tidak bisa menahannya?” Reza meraih pinggang istri mudanya itu, kemudian menciumi tengkuk leher Luna dengan lembut, merasakan kelembutan dan keharuman aroma tubuh gadis itu.


“Kak, kau membuatku geli!” ucap Luna sambil menghindari serangan suaminya.


“Luna…” suara Reza mulai parau.


“Kak, aku masih belum selesai…” ucap Luna lirih. Reza membenamkan wajahnya pada dada Luna, lalu ia menatap wajah istrinya, rambut pirang itu menyentuh dagu Luna dan membuat gadis semakin geli.

__ADS_1


“Luna, kenapa dia datang saat aku telah berani menyentuhmu? Hm?” tatapan Reza begitu penuh harap, wajahnya pun merah padam,menandakan jika pria itu benar-benar sedang mengingkan istrinya.


“Kak, bukan salahku, tetapi salahmu!” ucap Luna merangkup wajah blasteran itu dengan tangan kecilnya.


“Apa salahku Luna?” tanya Reza, dia mencoba membela dirinya.


“Salah kakak yang tidak menyentuhku sejak kemarin-kemarin!hahah!”


“Kau! Berani berkata seperti itu padaku Luna?”


“Ya, memangnya kenapa?!”


“Tunggu pembalasanku!”


Seseorang mengetuk pintu menghentikan adegan romantic sepasang suami itu.


“Kak, ada telepon!” ucap Ganis tergesa-gesa. Luna segera merapikan pakaiannya yang kusut akibat ulah suaminya.


“Wah ada kekacauan apa ini gerangan?” selidik Ganis menatap Luna dan Reza secara bergantian, Luna tersipu, tetapi tidak dengan Reza, pria itu selalu saja terlihat datar dan kaku.


“Ganis, kau sangat mengganggu!” ucap Reza lalu meninggalkan dua gadis itu, ia sengaja meletakkan ponselnya di kamar Ganis sebab, charger Reza ada pada adiknya. Ganis tak pernah merawat barangnya dengan baik, selalu saja rusak dan rusak.


****


“Jadi, Laluna mau berangkat kerja lagi?” tanya Alexander pada menantunya.


“Jangan dong sayang, biar Reza saja yang bekerja ya!” rengek ibu mertuanya sambil mengedipkan matanya pada Alexander.


“Benar Ma, Luna minta maaf sebelumnya,” ucap Luna dengan ekspresi menyesal.


“Lalu bagaimana dengan cucu mama Nak? Jika kau berkerja, maka prosesnya akan terhenti…” wanita paruhbaya itu semakin gencar memainkan acara merajuk palsunya.


“Dih, mama! Proses apaan maksudnya?” celetuk Ganis tertawa, ia tau apa yang dimaksud oleh ibunya, tetapi ia sedang ingin menggoda wanita tua itu.


“Ganis!” ucap Alex,seketika membuat anak manja itu terdiam, Alex hanya kasihan pada Luna sebab wajahnya sudah seperti kepiting rebus.


Luna tak mampu berkata, tetapi melihat ibu mertuanya seperti itu, sepertinya ia akan menunda masa magangnya, tiba-tiba Reza datang dan memotong pembicaraan mereka.


“Luna akan bekerja Ma!” ucap Reza menghampiri anggota keluarganya.


“Apa-apaan kamu Reza! Bukannya mendukung mama malah meminta istrimu bekerja!” ucap wanita itu kesal, Luna masih menerka apa yang sedang dikatakan oleh suaminya, ia mengira suaminya sedang membantunya untuk meyakinkan ayah dan ibu mertuanya.


“Luna akan bekerja bersama Reza,” ucap pria itu.


“Apa maksudmu Reza? Bukankah kau masih dalam masa cuti?” tanya Alex


“Tidak Pap, assignment letter Reza sudah turun dan Reza akan membawa Luna bekerja,”


“Apa Kak?” Luna terkejut


“Ya Luna, wife on board!” Reza tersenyum.

__ADS_1


“Aku akan menjadi wife on board?” Luna kembali tercekat, sejenak ia membayangkan jika dirinya akan kembali ke kapal, bukan sebagai kru, melainkan sebagai istri kapten, lalu bagaimana teman-temannya nanti saat melihatnya lagi dengan status yang unik itu.


(wife on board, suatu kewenangan dari perusahaan kapal pesiar yang diberikan kepada nahkoda untuk membawa istri atau keluarganya untuk ikut berlayar bersamanya dengan syarat dan ketentuan tertentu)


__ADS_2