I LOVE YOU CAPT !!

I LOVE YOU CAPT !!
Trauma


__ADS_3

Reza berada di ruang crew office untuk mengurus dokumen kepulangannya hari ini. Terlihat dua orang pria sedang sibuk dengan komputernya masing-masing.


“Good morning,” sapa sang nahkoda tersebut, kemudian Wisnu dan Arsha menghentikan pekerjaan mereka melihat jika kapten yang datang.


“Morning Capt,” jawab Wisnu yang merupakan senior Arsha.


“Bagaiamana? Apa semua sudah siap?”tanya Reza mengarahkan pandangannya pada Arsha, ia ingat jika pemuda itu pernah berusaha mendekati istrinya.


“Sudah Capt, semua dokumen sudah siap,” jawab Arsha, ekspresi wajahnya begitu memperlihatkan kecanggungan pada Reza.


“Bagus, jangan sampai ada yang tertinggal Arsha! Terutama hati dan perasaan,” ucap Reza menyindir pria yang tengah patah hati tersebut.


Arsha sempat akan menyatakan perasaannya pada Luna sebelum pemuda itu tau jika gadis pujaan hatinya tersebut merupakan istri dari kaptennya sendiri, ia sempat mengalami patah hati.


Namun tidak begitu menyiksa sebab Arsha tau kebenarannya di saat perasaannya pada Luna belum begitu dalam.


Reza pun meninggalkan kantor kru itu dengan membawa beberapa dokumen di tangannya, tetapi langkahnya terhenti saat seseorang memanggilnya namanya.


“Captain Roosevelt, tunggu!” Arsha berlari menghampiri Reza.


“Ya, Arsha, Ada apa?”


“Capt, saya ingin meminta maaf sebelumnya jika ada perlakuan saya yang kurang berkenan di hati anda dan Luna,” ucap Arsha, dengan wajah tertunduk menunjukkan sebuah penyesalan.


“Arsha, aku mengerti apa yang kau rasakan,” ucap Reza dengan bijak, pria itu menepuk pundak bawahannya tersebut.


“Capt, sungguh saya tidak tahu jika Laluna adalah istri anda, maafkan saya!”


“Sudahlah, sekarang kau sudah tau, Dan bagaimana perasaanmu pada Luna?”


“Saya sudah melupakannya Capt, sungguh! Semoga captain dan Luna selalu dalam kebahagiaan!” Arsha berusaha menutupi sakit hatinya bagaimana pun semua ini adalah murni kesalahannya sendiri, yang telah jatuh hati pada seseorang yang bahkan belum ia ketahui secara keseluruhan.


“Arsha, sebenarnya aku ingin marah padamu,” Reza menghela nafas panjang, mengingat masa lalu saat ia masih menjabat sebagai staff crew office seperti Arsha, dia begitu mengagumi Ana saat itu, dan mencintai dalam diam adalah pilihannya hingga saat Yoshi datang dan membawa Ana pergi begitu saja, bahkan sebelum Reza sempat menyatakan perasaannya.


“Aku juga pernah berada di posisimu seperti saat ini, aku tau rasanya saat kita benar-benar jatuh hati pada seseorang, namun dengan tiba-tiba pemilik sesungguhnya mengambil sesorang itu tanpa aba-aba.”


“Apa maksud captain? Saya tidak mengerti,” jawab Arsha.


“Jatuh hati dan patah hati adalah satu paket yang tak pernah bisa dipisahkan, jika kau berani jatuh hati, maka kaupun harus siap untuk patah hati,”


“Aku tau itu memang menyakitkan Arsha! Jadi bersabarlah. Semoga setelah ini kau bisa menemukan Lalunamu sendiri,” bisik Reza tersenyum.


Arsha terdiam tak menyangka jika nahkodanya sungguh telah mengatakan hal itu padanya, padahal pria itu sudah mempersiapakan tubuhnya untuk menerima pukulan dari Reza


Seperti yang Bumi terima beberapa hari yang lalu akibat mengakui perasaannya pada Luna di hadapan kapten langsung.


****


Reza berjalan menuju bridge untuk membereskan semua yang perlu disiapakan untuk kapten penggantinya.


“Capt, anda serius akan disembarking hari ini?” ucap Charles tak percaya. Jika sahabatnya akan meninggalkannya, bagi Charles tidak semua kapten bisa memiliki karakter menyenangkan seperti Reza.


“Iya Charl, aku tidak ingin melihat Luna merasa tertekan secara terus-menerus,” jawab Reza yang sedang mempersiapakan kepulangannya.


“Kau benar Capt, bawa istrimu pulang, kalian butuh healing!”

__ADS_1


“Lalu bagaimana dengan kapten penggantimu?” Charles sedikit khawatir jika nahkoda yang akan menggantikan Reza akan sangat strict dan galak.


“No worries Charl, She is on her way here!”


“She? Jangan bilang jika kapten yang baru adalah seorang perempuan!” Charles terkejut.


“Yess! Charles! Dia perempuan, satu-satunya kapten perempuan se-Holland Ameri*a Line!” jelas Reza mengedipkan matnya pada Charles, Reza tau jika sahabatnya tersebut termasuk spesies buaya yang hobi ber-one night stand.


“Hmm menarik!” gumam Charles memijat dagunya.


“Jaga dirimu Charl, kudengar dia sangat tidak suka pada pria hidung belang sepertimu,” ejek Reza.


“Kita lihat saja Capt, sejauh ini tidak ada yang bisa menolak pesona seorang Charles Verhoeven!” ucap pemuda bertubuh atletis itu dengan percaya diri.


Mereka terus berbincang hingga seorang security datang, menekan bel anjungan. Reza dan Charles seketika menghentikan perbincanagnnya.


“Capt, nyonya menagis histeris di gangway!" ucap Bryan saat Charles membukakan pintu untuknya.


“Apa?” Reza dan Charles terkejut.


“Kau serius Bryan? Bukankah sudah kukatakan jika nyonya tidak boleh berada di area pier tanpa diriku!” ucap Reza geram, sejak peristiwa yang membuat istrinya mengalami keguguran itu, Luna selalu saja histeris dan ketakutan saat melkihat area gangway.


“Nyonya memaksa saya Capt, dan saya tidak berani melawan,” jelas kepala security bernama Bryan itu.


Reza mempercepat langkahnya menuruni anak tangga dari lantai tujuh ke lantai dasar tempat gangway atau akses keluar kapal berada. Tak ingin sesuatu terjadi pada istrinya.


“Luna!” pria itu segera memeluk istrinya yang sedang terduduk di ujung escalator sambil menutup mata dan telinganya.


“Sayang, sudah kubilang jangan pergi ke gangway sendirian!” ucap Reza dalam kepanikan.


“Luna, sayang ini aku. Tidak ada Sharon di sini,” bisik Reza pada telinga istrinya.


“Tidak! Jangan dorong aku Sharon! Aku sedang mengandung!” Reza tak kuasa melihat sang istri yang masih belum bisa menghilangkan taraumanya.


Luna terlihat biasa saja saat sedang berada di dalam kapal. Namun begitu kakinya melangkah ke area gangaway maka hal seperti inilah yang selalu terjadi.


“Kak Reza?” Luna membuka matanya, air mata membasahi pipi gadis yang selama ini sangat jarang menangis itu.


“Ya Luna, ini aku. Apa yang kau lakukan di sini hm?” Reza mengusap rambut hitam istrinya.


“Kak aku sedang belajar menghilangkan trauma itu, tetapi saat mataku melihat arah bawah sana, tiba-tiba saja banyangan Sharon kembali hadir Kak!” Luna mengeratkan pelukannya pada tubuh sang kapten.


“Dia ada di sini Kak! Aku melihatnya! Dia menarik tanganku agar aku kehilangan anakku!” Luna masih saja histeris, ini kesekian kalinya hal ini terjadi sejak tragedi itu.


Luna bahkan selalu gematar saat berada di area gangway, selama dua minggu ini mereka sama sekali tidak keluar dari kapal meski kapal sedang bersandar di tempat yang cukup indah sekalipun.


Bagi Luna dengan menuruni escalator tempatnya terjatuh kemarin akan membuatnya kembali terjatuh dan kehilangan bayinya lagi.


“Kak, kita tidak usah pulang saja ya, aku tidak mau melewati escalator itu!” ucap Luna masih dengan keringat dingin yang membasahi tangannya.


“No sayang! Tidak akan terjadi apa-apa,” Reza bersedih melihat kodisi psikis istrinya yang seperti ini. Pria itu terus memeluk Luna untuk mengurangi traumanya.


“Aku akan menggendongmu, tenang saja!” ucap sang kapten. Tetapi Luna menggelengkan kepalanya, ia benar-benar tidak ingin berada di area itu lagi,


“Kak, tadinya kupikir rasa takutku akan menghilang jika aku memberanikan diri untuk berjalan sendiri ke tempat ini, tetapi nyatanya aku salah.

__ADS_1


Esacalator itu tetap saja menyeramkan seperti terakhir kali aku melihatnya.


“Maka dari itu kita harus pulang sayang. Agar kau terhidar dari area gangway ini dan juga hal-hal yang membuatmu kembali mengingat kejadian itu,” dengan sabar Reza masih menjelaskan pada Luna.


“Apakah ada akses lain untuk keluar dari kapal selain dari sini kak?”


“Ada, tapi kau harus terjun ke air dan berenang hingga mendekati pier. Mau?” tanya kapten itu menggoda sang istri.


“Kalo begitu baiklah. Aku akan segera melakukannya kak,” Luna berdiri dan mengambil ancang-ancang untuk terjun ke laut, Reza tak percaya jika istrinya akan benar-benar melekukan apa yang ia katakan.


“Sayang no!”


“Astaga, aku hanya bercanda Luna! Kau ini!” pria itu mneggelengkan kepalnya, ingin marah tapi tidak tega.


“Ayo kak, aku bisa berenang!” Luna semakin bersemagat, tangisannya pun sudah mereda berganti menjadi hal gila.


“Luna please!” Reza membopong tubuh itu kemudian membawanya menuruni anak tangga yang sangat Luna takuti tersebut.


“Kak! Aku takut!” ucap Luna saat kaki suaminya mulai menuruni anak tangga satu demi satu.


“Sayang, ini romantis mengapa kau sangat ketakutan. Buka matamu!” Reza tau jika hal ini terus berlanjut maka akan membuat Luna akan memiliki phobia pada segala sesuatu yang berkaitan dengan tangga.


“Kak, aku tidak mau! Aku tidak mau!” Luna histeris sambil memegangi perutnya. Rasa sakit saat ia terjatuh dulu tiba-tiba saja kembali lagi.


“Kak perutku sakit! Ada yang keluar dari dalam!” ucap Luna seperti sedang mengalami dejavu.


“Sayang, tenanglah itu hanya perasaanmu saja.” ucap sang kapten mengatakan apa yang sebenarya terjadi.


Tiba di pier, Reza menurunkan istrinya dengan pelan kemudian mendudukannya pada kursi, di usapnya wajah berekringat itu denga tissue.


“Sekarang sudah aman sayang,” pria itu tersenyum dan meminta istrinya untuk membuka mata.


“Kak, aku takut!” Luna membuka matanya perlahan dan memperhatikan kakinya, ia kahawatir jika noda darah kembail membanjiri kaki jenjangnya itu.


“Tenang sayang perut dan kakimu baik-baik saja, semua itu hanya perasaanmu saja Luna,”


"Kita pulang ya! tenangkan pikiranmu. Tak akan ada lagi escalator yang menakutkan,"


"Baik Kak," jawab Luna sambil berdiri ia tak berani menoleh ke belakang, tangga itu masih tampak seperti monster yang berbahaya untuknya.


Tiba di Airport.


Reza menggandeng tangan istrinya, setiap kali melihat eskalator tangan Luna kembali bergetar , berkeringat dingin dan menggenggam tangan suaminya dengan erat.


"Jangan takut Sayang," ucap Reza.


"Ini hanya escalator biasa, bukan seperti yang di kapal,"


"Tapi Kak, bentuknya sama persis," ucap sang istri.


"Bilang saja kau ingin agar aku menggendongmu kan Luna?" Reza menggoda istrinya untuk mengurangi ketakutan gadis itu.


"Kak! kau ini!" Luna mencubit pipi suaminya dengan gemas.


"Bilang saja iya, aku tidak akan keberatan Luna!"

__ADS_1


__ADS_2