
Reza POV
Aku panik saat mendapati bahwa jendela dressing room tak sengaja tertutup oleh Ganis, padahal sudah kuperingatkan padanya agar jangan sampai jalan satu-satunya untukku dan Luna keluar dari tempat itu tertutup. Tapi seperti biasanya bukanlah Ganis namanya , jika tidak ceroboh.
Dan bagaimana dengan Luna? jangan tanyakan lagi bagaimana paniknya saat ia tau bahwa kami akan terkunci bersama lagi seperti yang sudah-sudah.
"Kak, bagaimana ini? Kenapa kakak santai sekali ha?"
"Kak, ayo lakukan sesuatu! aku sangat lelah!" ucap Luna berkali-kali, seperti biasa ia mondar-mandir kesana kemari mengintari ruangan yang dipenuhi oleh baju-bajuku ini.
"Kak! please!" Luna terus memanggil namaku, bibir merona itu terus saja mengomel, tak ada lagi rasa malu atau canggung, bahkan ia selalu memanggilku dengan sebutan Kak sekarang, bukan lagi Capt, dan itu bagus. Setidaknya kecanggungan menghilang sedikit demi sedikit.
"Kak, ayolah kemari.. " Luna menarik lenganku dan menempatkannya pada tubuh bagian depannya, kini kami berjalan menuju sumber masalah, yaitu pintu terkutuk itu.
"Lun, tenanglah. Jangan panik, kita pasti akan keluar dari tempat ini." Luna masih saja memeluk lenganku, hingga aku merasakan sesuatu, sesuatu yang membuat mataku yang sejak tadi mengantuk menjadi seketika terjaga.
"Kak, ayolah lakukan sesuatu, aku sudah bosan terkurung di tempat ini sejak kemarin," Luna mulai merengek. Wajar saja ia bosan, bahkan jika dipikir-pikir sejak awal pertemuanku dengannya selalu saja didominasi oleh adegan 'terkurung bersama'.
"Lun, apa kau tidak merasa dingin?" tanyaku, aku tau bahan kemejaku yang ia kenakan itu tidak terlalu tebal.
"Apa kak? aku malah merasa pengap di sini," ucapnya masih dengan lenganku pada dekapannya, sungguh jika ini terus terjadi. Aku tak tau lagi siapa yang akan menyelamatkan gadis manis ini dari seorang pria dewasa seperti diriku.
"Pengap? tetapi bajumu itu sangat tipis Luna, bahkan terlihat menerawang."
Luna terdiam, lalu segera melepaskan lenganku dan seketika menutupi dadanya dengan kedua tangannya.
"Ahh Kak? Apa kau melihatnya?" Luna meneriakkiku.
"Hmm?" jawabku, tak mengerti.
"Kak, jadi kau bisa melihatnya?" ucapnya lagi dengan wajah yang mulai memerah, seperti sangat marah padaku.
"Apa Luna?" sungguh aku tak mengerti.
"Kau melihatku kan Kak? Menyebalkan sekali!" ucapnya lagi, kini bibir itu mengerucut, membuatku ingin mengecupnya saja.
"Melihat apa Luna? Ya, tentu saja aku melihatmu? mataku masih normal!"
"Akhh?" Dia menutup mulutnya dengan telapak tangan, astaga aku semakin tidak mengerti dengan tingkahnya.
"Lun, ada apa sebenarnya? apa yang kau maksud dengan melihatnya? memangnya apa yang sudah kulihat?"
"Kak, jangan bohong. Kakak sangat tidak sopan tau!" kini wajah imut itu semakin terlihat mengemaskan seperti ingin menangis.
"Ha??"
__ADS_1
"Luna, apa yang sudah kulakukan memangnya? bukankah aku belum melakukan apapun padamu?" Ya Tuhan, kenapa aku jadi salah tingkah sendiri.
"Kak kau membuatku malu tau! kenapa tidak pura-pura tidak tau saja, bukannya malah mengatakannya langsung padaku seperti itu, aku malu kak!" ucap Luna beranjak dari tempat duduk sambil menghentakkan kakinya.
"Astaga Luna, jelaskan padaku, memangnya apa yang sudah kulakukan?"
Luna terdiam, melihatku sambil berdiri dan aku masih duduk di bawahnya, menatap kaki jenjang dan mulus itu. Aku ingin mengalihkan pandanganku, tetapi posisi Luna yang menyebabkan mataku tak ingin melepas pemandangan indah ini. Dia memakai kemeja, tanpa bawahan, tentu saja mata buaya mana yang tak tergoda. Meskipun aku bukan seorang buaya.
Luna pun menyadari, jika aku terus memperhatikan bagian tubuh bawahnya sejak tadi.
"Kak Reza!!" teriaknya.
"Iya Laluna," jawabku tetapi dengan mata yang masih tertahan pada keindahannya.
"Kak, kau pun melihatnya juga?" Mata Luna membulat saat menangkap basah mataku sedang terjebak pada kaki jenjangnya.
"Melihat apa? Kakimu?" jawabku santai.
"Iya! kau melihatnya kak?" gadis ini semakin tak dapat kupahami, bagaimana aku tidak melihat sesuatu yang sudah disuguhkan di hadapanku.
"Iya.. "
"Kak, kau menyebalkan!"
Reza POV End
Entah bagaimana caranya mendiskripsikan rasa malu ini, aku terlalu ceroboh saat menggandeng lengan kokoh Kak Reza, dan menempatkannya pada dadaku. aku sadar jika tak ada bra yang melekat di balik kemeja putih itu.
Kak Reza nampak biasa saja, saat kupeluk lengannya menuju pintu sialaan yang mengurung kami. Aku merasa detak jantungnya mulai tak beraturan, dan sesekali ia mengelap keringat pada dahinya. Apa mungkin Kak Reza sedang merasa gugup?
"Luna, apa kau tak merasa dingin?" tanyanya, aku masih belum mencerna perkataan itu. Dia pun mengulangi kalimatnya lagi.
"Luna, bajumu itu sangat tipis. Dan terlihat menerawang," ucap Kak Reza santai. Akupun terkejut dan langsung melepaskan dekapanku pada lengannya.
Astaga, Kak Reza melihatnya? Dia melihat asetku yang tak tertutup? Bahkan ia berkata jika bajuku menerawang? Ya, tentu saja dia melihat dadaku, ternyata benar baju ini sangat tipis. Aku pun menutupi dadaku dengan kedua tanganku.
"Kak. kenapa kau harus mengatakannya padaku? kenapa tidak diam saja? aku sangat malu jika kau tau!" ucapan itu keluar dari bibirku dengan begitu saja, aku tak dapat menahan rasa malu, aku yakin Kak Reza tau jika aku tidak memakai bra. Tetapi kenapa ia harus mengatakannya dengan jujur.
Sekarang aku harus bagaimana, faktanya udara memang semakin dingin, sebab terdapat saluran exhaust pada ruangan ini yang terhubung dengan udara di luar.
Aku tak tahan lagi dengan tatapan Kak Reza, saat itu juga aku berdiri, karena sangat malu untuk berada di dekatnya dalam keadaan berbusana tapi tidak berbusana seperti ini.
Sialnya, mata biru itu malah semakin mengintimidasi bagian bawah tubuhku yang juga tak tertutupi apapun. Apa dia juga bisa melihat bahwa aku tak mengenakan celana dalaam.
Aku pun bertanya padanya untuk memastikan sebab mata itu benar-benar membuatku risih.
__ADS_1
"Kak, apa kau juga melihatnya?" kuberanikan diri untuk menanyakan hal itu, parahnya iya mengangguk tetapi dengan ekspresi yang sama datarnya dengan sebelumnya.
Apakah aku yang terlalu lebay di sini, tetapi Kak Reza terlalu membuatku risih, jika aku tak menanyakannya.
"Kak, jangan menatapku seperti itu!" aku pun berjalan menjauhinya.
"Kenapa Luna? matamu seperti ingin menangis, memangnya apa yang sudah kulakukan?" wajah polos itu benar-benar menyebalkan, aku tau ia sedang berpura-pura.
"Kakak tau kan??"
"Ha? tau apa?" tanyanya masih dengan ekspresi tak berubah.
"Kakak tau kan, jika aku tidak memakai dalaman!" akhirnya mulut tidak tau diri ini mengatakannya juga.
"Apa??" dia malah balik bertanya padaku, mungkinkah sejak tadi Kak Reza memang benar-benar tidak tau apa-apa.
"Kak.. aku tidak memakai bra.. dan.. " aku menutup mataku perlahan untuk mempermalukan diriku sendiri.
"Jadi benar? apa yang kurasakan sejak tadi? Haha," dia tertawa terbahak, dia berhasil memancingku hingga ke titik ini.
"Kak, kau sedang mengerjaiku?" aku pun menangis, baru kali ini aku merasa malu di hadapan pria, bahkan saat pria itu adalah suamiku sendiri.
"Hey jangan menangis, kemarilah!" tangan itu menarikku dengan lembut hingga aku terduduk di sampingnya.
"Kau ini kenapa lucu sekali Luna? jujur saja sebenarnya aku tak mengerti dengan ucapan dan tingkahmu yang aneh sejak tadi. Tetapi, kini aku tau alasannya," ucap Kak Reza sambil menghapus air mataku.
"Jangan menangis lagi ya, memangnya apa masalahnya jika aku melihat semuanya? bukankah aku suamimu?" wajah tampan itu semakin mendekat, aku ingin terlarut tetapi rasa malu yang belum hilang itu masih saja menggangguku hingga membuatku menangis lagi.
Sapuan hangat menyentuh bibirku, aku semakin memejamkan mata dan menahan rada ngilu menahan malu.
Kak Reza benar-benar mengecupku, aku bisa merasakannya meskipun dengan mata terpejam.
"Luna, masih merasa malu?" ucapnya sambil memperhatikan wajahku yang terasa sangat panas.
"Kak, apa kau menciumku baru saja?" demi Tuhan aku Ingin menampar diriku saat ini juga, tetapi itu tidak mungkin.
"Hahaha.." astaga, bukannya menjawab, tetapi dia malah tertawa lagi.
"Kak, kau sangat lancang!" aku pun mengatakan kalimat yang semakin membuat tawanya semakin meledak.
"Iya, sedikit. Haha,"
"Kau bisa membalasku jika kau mau, Luna," ucapnya tanpa memperdulikan jantungnya yang kembali bermarching band tak karuan.
Haloo genk maaf ya sekarang jarang up. š«š«. Author sedang kurang amunisi ide nih. Maaf kalo tulisannya garing kek krupuk gado-gado. Selamat menunaikan ibadahnya puasa ya , jangan lupakan berbuka.
__ADS_1
Baca novelku pas lagi buka aja ya genk. jangan sekarang.wkwkššš