
Sea View Pool
Bagian belakang kapal, tempat di mana crew party diadakan, dari tempat itu kita bisa melihat laut lepas dari atas kapal secara langsung.
Hiasan dan kerlap-kerlip lampu, telah terpasang sempurna, malam ini para kru akan menghabiskan malam mereka dengan istimewa, beer, wine dan hidangan gratis seolah menjadi penebus kerja keras mereka selama satu bulan ini.
"Luna, apa kau tidak ingin pergi ke party?" tanya Reza sambil bersiap, malam ini ia tidak mengenakan seragamnya. Sebab, pasta hanya dihadiri oleh para kru.
"Kak, kakak memakai pakaian casual?" tanya Luna memperhatikan sang suami yang hanya mengenakan kemeja dan celana jeans.
"Iya Luna, ada apa?"
"Kupikir kau akan selalu mengenakan seragammu Kak," ucap gadis itu, heran. Baru kali ini melihat sang kapten tanpa setripnya.
"Tidak sayang, ini hanya pesta untuk kru. Tak perlu memakai atribut, " ucap Reza sambil menyentuh dagu tirus istrinya.
"Apa kau sedang kurang sehat Luna?" Reza merasa jika kulit Luna terasa sedikit panas.
"Ya Kak, sepertinya begitu. Udara terasa lebih dingin sejak kemarin," jawab gadis itu sambil menggosokkan kedua tangannya.
“Apa kita perlu ke infirmary?” tanya Reza,
“Tidak perlu Kak, ini hanya proses adaptasi terhadap cuaca saja,” Luna meyakinkan suaminya.
“Tetapi, kau demam. Bisa saja karena masalah kesehatan yang lain,” Reza menyentuh dahi istrinya lalu diraihnya thermometer dari dalam nakas.
“Tiga puluh sembilan derajat celcius,” ucap Reza menatap angka yang tertera pada pengukur suhu badan tersebut.
“Aku akan membatalkan acara mengisi sambutan di party,” sang kapten mulai mengkhawatirkan istrinya.
“Kak, pergilah tidak apa-apa, bukankah kakak hanya pergi sebentar?” ucap Luna. Reza tampak berfikir, sepertinya apa yang dikatakan istrinya benar, dia memang hanya akan menghadiri pesta itu hanya untuk beberapa menit saja.
“Kalau begitu aku akan meminta dokter untuk memeriksamu terlebih dahulu,”
“Lalu aku akan pergi ke pesta dan kembali ke kabin. Dan merawatmu” Reza terlihat seperti seorang yang kebingungan.
“Kak! Sudahlah! Kakak pergi saja, lalu kembali dan kita akan menemui dokter jangan membuatnya terlalu rumit,” Luna menyentuh pipi suaminya.
“Tidak, dokter harus memeriksamu segera,” Reza tetap pada pendiriannya.
“Ya, terserah kakak saja,” Luna malas jika harus terus berdebat dengan pria kakunya itu.
“Aku pergi dulu ya sayang, jaga dirimu!” ucap sang kapten tersebut lalu meninggalkan istrinya yang sedang berbaring di ranjang.
“Jika dokter datang, bukakan pintu untuknya, jika bukan dokter yang datang jangan buka pintunya!” pesan Reza lagi.
“Iya, Kak! Iya…” Luna kembali memutar mata malas. Menurutnya akhir-akhir ini tingkah suaminya terasa berbeda dari biasanya.
Reza berjalan menaikki anak tangga menuju sea view pool, namun langkahnya terhenti saat berpapasan dengan Charles.
“Good evening Capt,” ucap Charles menyapa dirinya.
“Sore Charl, apa kau akan pergi ke party?” tanya Reza sambil memperhatikan penampilan pria itu yang tidak jauh berbeda dengannya itu.
“Iya Capt, mau berangkat bersama?” tawar sahabat Reza itu.
“Sebenarnya Luna sedang kurang sehat, dan aku tidak tega untuk meninggalkannya seorang diri di kabin,” ucap kapten.
“Aduh Capt, baru juga dua hari satu kabin, udah bikin anak orang tumbang! Haha!” tiba-tiba saja kalimat tersebut terontar begitu saja dari mulut Charles.
__ADS_1
“Kau ini!” Reza menonyor kepala Charles.
“Tetapi, mungkin benar juga katamu Charl, haha,” Reza membenarkan ucapan sahabatnya.
“Jangan kasar Capt! Kasian Luna!”
“Sudahlah, jangan membahasnya. Apa kau keberatan jika aku memintamu untuk mewakiliku di acara party?” tanya Reza berharap sahabatnya bisa mnegerti.
“Ya, tentu saja Capt! Aku siap untuk melaksanakan apapun perintahmu!”
“Aku akan menyusulmu setelah kembali dari infirmary,” Reza pun memutuskan untuk turun ke lantai dasar, menuju pelayanan kesehatan, untuk menemui dokter.
***
“Captain?” ucap perawat yang sedang berjaga.
“Nurse, apa aku bisa bertemu dengan dokter? Sejak tadi aku menelepon kalian, tetapi tak satupun yang mengangkatnya."
“Ah, I do apologize Capt, hari ini kami sedang sangat sibuk, melakukan inventory obat-obatan,” jelas sang perawat.
“Dokter sedang berada di ruangannya, kapten bisa langsung masuk ke dalam,” pungkas wanita berpakaian biru tersebut.
“Baiklah,”
Kapten pun masuk ke dalam ruangan dokter dan memberitahu pshycian itu jika istrinya sedang sakit. Dengan rasa hormat akhirnya dokter tersebut akan segera datang ke kabin kapten setelah memeriksa kru yang sedang menjalani rawat inap di klinik tersebut.
Di tempat acara crew party berlangsung. Dua pasang mata sedang memperhatikan suasana party. Mereka tersenyum simpul saat melihat sang kapten sedang mengisi sambutan.
“Bumi, mataku sedikit rabun. Aku terlalu banyak minum, apa kau yakin itu Roosevelt?” Sharon mengerjap-erjapkan matanya menatap sang pengisi acara.
“Sepertinya demikian Nona, siapa lagi yang mengisi acara jika bukan kapten? Saya akan turun ke bawah, melihat keadaan Luna, jika kapten di sini, tentu Luna akan sendirian di kabinnya,” ucap Bumi, tanpa memperhatikan siapa yang sebenarnya sedang berada di atas panggung.
“Ingat! Jangan sampai tertukar! Kau ingat mana milikmu dan mana yang bukan?” Sharon memberikan tiga botol sekaligus untuk Bumi yang akan diberikannya pada Reza dan Luna.
“Ya, Nona! Tenang saja! Nikamati malammu juga!” ucap Bumi meninggalkan gadis bule itu. Bumi pun memanggil salah satu waiter untuk memberikan minuman pada Reza,
ia tak mungkin memberikannya langsung pada kapten. Pria itu sadar jika Reza sangat tidak menyukai dirinya.
“Berikan minuman ini padanya!” Bumi menunjuk arah panggung tanpa mengatakan jika yang ia maksud adalah kapten, Dengan menerima uang dari Bumi, pelayan tersebut langsung melaksanakan tugasnya tanpa pikir panjang.
“Jika kau melihat pria itu mabuk ataupun pingsan segera bawa dia ke kabin ini!” Bumi menyerahkan sebuah kunci kabin, pada sang pelayan suruhannya.
***
Tok
Tok
“Luna, apa kau di dalam?” ucap Bumi yang tengah berada di depan pintu kabin kapten.
“Bumi?” Luna mengintip dari celah pintu kabinnya, ia ingat perkataan Reza, jika Bumi sedang merencanakan sesuatu untuknya.
Gadis itu tak ingin mengambil resiko meskipun dalam hatinya berontak jika sahabatnya tidak mungkin tega untuk menyakiti dirinya.
“Lun, lagi apa?” tanya Bumi, seperti biasa pria itu selalu bertingkah biasa saja pada Luna mskipun ia memendam rasa pada gadis itu.
“Lagi istirahat, jangan ganggu gue ya Bum,” jawab gadis itu lalu berniat menutup pintu kabinnya lagi.
“Lun, tunggu, gue ada jus jambu nih! Bagus buat stamina juga!” ucap Bumi sambil menyodorkan sebotol minuman berwarna pink.
“Gak usah deh Bum, gue lagi gak enak body,” ucap Luna menolak pemberian sahabatnya.
__ADS_1
“Gak apa-apa Lun, ini cuma jus, gue juga minum nih!” Bumi meneguk minuman yang ia tawarkan pada Luna tersebut, Luna pun memperhatikannya, jus jambu itu tampak sangat menyegarkan di tenggorokan Bumi,
ditambah lagi kondisi tubuh Luna yang sedang tidak fit, sepertinya akan kembali segar setelah meminum minuman itu.
“Ya udah deh Bum, mana sini!” Luna meraih botol di tangan Bumi, dan kemudian menutup pintunya.
“Woy, main tutup-tutup aja!” ucap Bumi, dengan senyuman di sudut bibirnya. Akhirnya misi pertamanya berhasil,
ia pun menunggu di area yang tak jauh dari tempat itu, agar saat Luna memanggilnya karena pengaruh obat, maka pria itu bisa segera masuk ke kabin gadis tersebut.
Sementara Reza sudah terperangkap ke dalam jebakan Sharon.
Bagus, sebentar lagi obat itu akan bekerja! Seperti yang selalu ada di film-film, obat perangsang adalah jurus ampuh untuk menyelesaikan segala masalah! gumam Bumi.
Namun, senyuman di bibirnya tiba-tiba saja harus hilang dalam sekejap saat dilihatnya sang kapten sedang berjalan ke arah kabinnya.
“Apa? Ka-kapten di sini?” lalu siapa yang sedang berada di panggung tadi?” ucap Bumi menggosok matanya, memastikan jika pengelihatannya tidak salah.
“Si*al! salah sasaran!” Bumi segera pergi dari tempat itu sebelum Reza mengetahui keberadaannya.
Reza masuk ke dalam kabinnya, ia tidak jadi menghadiri pesta, pikirannya sedang terfokus pada keadaan istrinya, dokter berkata jika bisa saja sang istri sedang mengalami infeksi jika demamnya tak kunjung turun juga.
“Kak, kakak tidak jadi pergi?” tanya Luna dengan sebotol jus di tangannya.
“Aku menyerahkan semuanya pada Charles, Luna,” jawab sang kapten lalu mencuci tangannya dan kembali memeriksa keadaan istrinya.
“Demammu masih tinggi ya,” ucap Reza saat melihat thermometer kembali menunjukkan angka tiga puluh sembilan derajat celcius.
“Dan sepertinya dokter tidak bisa datang malam ini, ia hanya memberimu ibuprofen dan penurun panas,” Reza menunjukkan beberapa butir obat pada istrinya.
“Tidak apa Kak, aku sudah lebih membaik,” jawab sang istri. Reza melihat jika istrinya telah meminum sesuatu.
“Luna, kau minum jus? Darimana?” tanya Reza.
“Oh ini dari Bumi Kak!” ucap Luna sambil mengipas-ngipaskan tangannya karena hawa pans yang tiba-tiba menyerang.
“Bumi?” Reza membukatkan matanya lalu segera menarik botol yang sudah hampir kosong itu dari tangan istrinya.
“Iya Kak, tidak apa-apa ini hanya jus jambu. Bahkan BumI pun juga telah meminumnya,” Luna mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada suaminya. Sementara tubuhnya semakin terasa panas dan sedikit gatal.
“LUNA!” bentak Reza.
“Sudah berapa kali kukatakan! Jangan pernah percaya pada Bumi!”
“Kau selalu saja, tak pernah mendengarkanku!” Reza semakin ingin memearahi sang istri yang ceroboh dan bandel. Namun, entah bagaimana tiba-tiba saja Luna mencium bibir pria itu.
“Kak, kau tampan sekali malam ini,” bisik Luna, Reza pun terdiam, mematung dan tak tau apa yang sedang terjadi pada istrinya.
“Kau ini kenapa? Jangan coba merayuku! Aku sedang memarahimu Luna!” Reza menghindari istrinya yang mulai tak karuan itu.
“Kak, jangan lari!” Luna mengejar Reza memutari ranjang, pria itu panik melihat sang istri tak seperti biasanya.
“Kak, rasanya panas!” Luna kembali mengibaskan tangannya agar menghasilkan angin.
“Dan gatal!” gadis itu mulai menggaruk tubuhnya, dengan menanggalkan pakaiannya satu persatu.
“Gatal?” Reza kebingungan.
“Gataall Kak!” ucap Luna semakin menjadi-jadi. Kulit mulus itu memerah, akibat rangsangan dari obat lakn*t dari Bumi.
Apanya yang gatal?” Reza mulai mendekati istrinya, ia tau ada yang tak beres pada Luna.
__ADS_1