
Hari itu sebelum kepergian Luna dari kapal ini. Mama menghubungiku.
"Reza kamu harus pulang!" Kata mama di telepon.
"Ma, kontrak Reza masih satu bulan lagi berakhirnya." Ucapku, aku bisa saja mengajukan cuti saat ini tetapi aku malas bila harus membicarakan acara pertunanganku dengan Sharon.
"Mama gak mau tau, pokoknya kamu harus pulang secepatnya." Ucap mama.
Mama selalu saja membuatku pusing, selama bertahun-tahun ini bahkan hubungan kami tidak seperti ibu dan anak lagi karena status lajangku yang selalu menjadi penyebab utama keributan di antara kami.
"Iya Ma, iya. Dua minggu lagi Reza pulang." Kataku, sungguh aku tak ingin ribut lagi dengan ibuku. Aku menyerah, sudah saatnya aku menuruti kemauan Ibuku untuk bertunangan dan menikah dengan Sharon.
"Benar ya? mama gak mau kamu ngeles-ngeles lagi." Kata mama sambil menutup teleponnya.
Akhirnya hal ini terjadi juga, sudahlah lagipula ini bukan hal yang penting. Bukankah pernikahan bukan akhir dari segalanya. Ya, aku akan menikahi Sharon, atau entah siapa itu namanya.
Persetan dengan kata cinta, aku tak peduli lagi dengan kehidupan asmaraku. Aku hanya ingin hidup tenang tanpa omelan dan ocehan dari mama. Itu saja.
***
Sebuah laporan dari kantor kru masuk ke
emailku, setiap minggu aku selalu menerima laporan ini dari Narita, yaitu staf kepengurusan kru yang dulu pernah kujabat sebelumnya.
Dalam email itu Narita memberikan informasi tentang kru yang akan datang dan juga keluar dalam hari yang sama. Betapa aku sangat terkejut saat mendapati nama Luna tertulis dalam daftar kepulangan.
"Luna, dia pulang besok?" gumamku dari dalam hati.
Aku pun segera menelepon Narita untuk memastikannya.
"Halo Rita, apa benar Laluna akan pulang besok pagi?" tanyaku.
"Benar capt. Laluna Aditama staf dari departemen engine telah membuat surat izin cuti selama beberapa bulan ke depan.
Aku pun bertanya-tanya mengapa gadis itu mengajukan cuti. Padahal tidak ada masalah yang menimpanya, terakhir kali aku melihat pun sepertinya biasa-biasa saja.
Akhirnya karena rasa penasaranku, aku berniat untuk menemuinya. Bagaimana pun aku masih bertanggung jawab atas semua kru di sini, termasuk Luna.
***
Di aula briefing departmen mesin, kulihat Luna sedang mengobrol berasama Bumi, lagi-lagi mereka terlihat sangat akrab dan saling bercanda gurau.
Mungkinkah Luna dan Bumi itu berpacaran, mengingat keakraban yang terjalin di antara mereka berdua. Aku pun mengurungkan niatku untuk menemui Luna, aku tak ingin mengganggu mereka berdua.
Sepanjang perjalanan ke anjungan pikiranku sangat tidak tenang, bukan karena melihat Luna dan Bumi seakrab itu, tetapi lebih kepada setelah ini aku tak akan bisa melihat tingkah pecicilan Luna di kapal ini lagi.
__ADS_1
Terutama senyum itu, senyumannya itu sangat mengusik tidurku akhir-akhir ini. Meskipun Luna jauh dari kata feminim tetapi dia sudah cukup cantik dan manis hanya dengan tampilannya yang apa adanya.
Keesokan harinya, aku berencana untuk memberikan ucapan selamat tinggal untuk Luna, aku pun menunggunya di Pelabuhan bersama Narita, staf dari kantor kru itu.
Sambil menunggu Luna, kami asik mengobrol mengingat posisiku dulu di kapal ini sama sepertinya. Sesekali kulihat area gangway untuk memastikan Luna sudah keluar atau belum.
Tiba-tiba saja mataku menangkap Bumi sedang berlari menuju ke arah pelabuhan. Ternyata Bumi sedang mengejar Luna, sungguh sepertinya dugaanku benar.
Bumi dan Luna adalah sepasang kekasih. Bahkan pria cina itu memberikan sesuatu untuk Luna. Aku pun mengalihkan pandanganku tak ingin menyaksikan adegan Romeo Juliette itu berpisah, melepaskan satu sama lain.
Sementara itu Rita terus saja mengajakku berbicara. Aku pun menanggapinya hingga melupakan tujuanku kemari. Dalam sekejap Luna menghilang.
Aku pun kebingungan mencarinya, astaga apa aku terlambat. Benar saja, kulihat Luna sudah berada di dalam taksi bandara. Dia sempat melihatku namun kemudian memalingkan wajahnya. Selamat tinggal Luna, ucapku dalam hati.
***
Dua minggu berlalu akhirnya tiba waktunya untukku meninggalkan kapal ini dan menghadiri undangan pertunangan. Sungguh lucu bagaimana bisa aku menganggap diriku sebagai tamu di acara pertunanganku sendiri.
***
Hari itupun tiba, hari yang selalu berhasil kuhindari selama bertahun-tahun ini.
"Reza, cepatlah jangan lemas seperti itu!" ucap mama sambil memebetulkan dasiku.
"Ma, apa mama yakin?" tanyaku sambil menatap mata ibuku berharap belas kasihan darinya.
Aku pun terduduk diam sambil menatap cermin.
Sungguh Reza yang malang, selamat menempuh hidup baru Reza. ucapku untuk diriku sendiri.
Waktu terus berjalan seharusnya tamu undangan sudah datang, namun saat aku akan melangkah menuju ballroom dimana acara itu digelar, tiba-tiba papa datang.
"Groot probleem Roosevelt ! goot probleem!"
(masalah besar Roosevelt! masalah besar!) ucap papa sambil memijat keningnya.
"Apa yang terjadi pa?" tanyaku.
"What moeten we nu doen?"
(Apa yang harus kita lakukan sekarang?)
"Apa bagaimana maksudnya? Pa, bicaralah dengan jelas. Aku sungguh tak mengerti.
"Sharon menghilang, calon tunanganmu menghilang Roosevelt!" ucap papaku dengan panik.
__ADS_1
"Bagaimana papa bisa tau?" tanyaku, sungguh aku ingin bersorak dalam hati kali ini.
"Om Kuppens baru saja menelepon jika Sharon, putrinya kabur bersama kekasihnya untuk menghindari pertunangan ini!"
"Oh astaga, jadi acara hari ini batal pa?" tanyaku. Sungguh kekasih Sharon itu sangat berjasa di hidupku hari ini.
"Nee! Ben je gek?" (tidak! apa kau gila?)" ucap papa. Astaga nasibku masih dalam bahaya ternyata. Aku terlalu cepat berpesta kemenangan.
"Lalu? Apa kita harus mencari Sharon? Sudahlah pa, tidak baik memisahkan dua orang yang saling mencintai." Ucapku.
"Akan ada tunangan pengganti untukmu Roose! " Ucap papa dengan tenang dan tegas.
"What?!"
***
Author POV
Sementara itu di ruang lain, Luna, Pramuja dan Larissa sedang berdiskusi.
"Nggak ! pokoknya Luna gak mau Pak!" ucap Luna dengan tegas
"Tapi, Luna pikirkan nasib Om Alex, bagaimana jika penyakitnya kambuh karena tak tahan dengan hinaan ini." Kata Larissa mencoba membujuk putrinya.
"Dengar, ini hanya tunangan. Masih belum menuju acara pernikahan Luna." Kata Pram.
"Tapi Pak, bukan begitu cara menyelamatkan nama baik seseorang. Luna gak mau meskipun hanya bertunangan."Ucap Luna mempertahankan keyakinannya.
"Luna.. Tante mohon, tolonglah keluarga ini. Tidak ada yang pantas menjadi pasangan Reza selain dirimu." Kata Ibu Dewi, ibunda Ganis.
"Luna, tolongin gue!! gue akan berterimakasih seumur hidup gue sama lu setelah ini." Bahkan Ganis pun juga memohon kepada Luna dan itu membuatnya tidak bisa berkutik sedikit pun.
"Gue takut bokap sakit kayak dulu lagi Lun!" ucap Rengganis, kini bersimpuh di kaki Luna.
Matilah kau Luna, apa yang harus kau lakukan sekarang? ucap Luna dalam hati.
"Ya, baiklah aku bersedia!" ucap Luna dengan pasrah.
Mereka pun tersenyum bahagia dan membawa Luna ke hadapan Reza saat itu juga.
***
"Luna???" ucap kapten Reza sambil menatap Luna dalam-dalam, mencoba memperhatikan gadis cantik itu. Seakan tak percaya bahwa itu benar Luna anak buahnya di kapal kemarin, bahkan penampilannnya sangat berbeda dari biasanya.
"Ka-kapten Roosevelt?" ucap Luna, tak dapat menyembunyikan raut wajah terkejutnya melihat kapten tampan yang ternyata akan menjadi tunangannya itu.
__ADS_1
Author POV End