
Flashback on
Bandara Soetta
Seorang pria bermata sipit sedang tergesa-gesa menuju pintu check in, sambil sesekali memperhatikan sekitar untuk memastikan jika tidak ada satupun orang yang mengenalinya, begitupun juga dengan petugas bandara, yang sedang memeriksa paspor dan tiket milik pria itu.
Tak satupun yang menyadari jika orang itu adalah Albertus Lee bersama dengan orang suruhannya.
“Tuan, apa kita akan pergi ke Shanghai sekarang juga?” tanya pria dengan wajah yang penuh dengan pukulan tersebut setelah percobaannya untuk menculik Gweneth gagal.
“Menculik anak kecil saja tidak bisa! Dasar tak berguna!” ucap Albert sambil memukul kepala anak buahnya itu.
“Saya tidak bisa melawan pria blasteran itu tuan, untung saja dia melepaskan saya kemarin,” ungkap pria tersebut sambil menatap Albert dengan ketakutan.
“Ya, karena kebod*hanmu itulah kita harus kabur ke Shanghai sekarang juga!”
“Se-sekarang tuan?” tanya anak buah itu masih dengan boboba milik Gwen yang tak tanpa sadar ikut dibawanya.
“Tentu saja bod*h! buang boneka itu! Kenapa masih saja membawanya kemana-mana! Kita ini buron! Berhenti bertindak konyol” bentak Albert.
“Baik tuan, saya akan membuangnya saja jika begitu,” jawab anak buah Albertus itu.
“Cepat! Kita sudah terlambat!”
“Sebelum para petugas itu menyadari siapa diriku sebenarnya!” Albert pun berjalan mendahului pria itu sambil,
sedangkah sang anak buah malah menabrak seorang anak kecil yang sedang berjalan bersama ibunya.
“Eh om! Om kan yang kemarin bawa kabur boneka cewek itu kan!” sergah anak kecil dnegan topeng Ultraman itu.
“Eh diem kamu bocil tau apa!”
“Sini Om, balikin bonekanya! Dia nangis tau!” anak bertopeng itupun menarik boneka dari tangan pria itu.
“Tuh ambil! Dasar bocil!”
Anak itupun memungut boneka pink milik Gwen dan berniat untuk pergi mencari putri kecil Yoshi itu untuk mengembalikan boneka tersebut,
namun karena sang ibu sedang terburu-buru maka pertemuan antara Gwen dan anak misterius itupun tertunda.
“Sayang kita berangkat sekarang ya, papa sudah menunggu!” ucap sang ibu.
“Ma, adek ingin menemui temen adek buat balikin bonekanya,” pinta sang anak.
“Sudah tidak ada waktu lagi sayang, sebentar lagi pesawat akan berangkat.” Sang ibu menarik tangan putranya menuju gate pesawat mereka.
“Tapi kapan kita kembali ke Indonesia lagi Ma?”
“Saat kau memasukki usia kuliah sayang, saat itu masa kerja papa di London akan telah berakhir dan kita bisa tinggal di sini lagi,” terang sang Ibu.
Anak tampan itu memandang boneka dalam genggaman tangan kecilnya sambil berkata
“Tunggu aku ya Princess Boba, aku pasti kembali!”
Flasback off
****
“Sayang, makanlah kau belum makan sejak tadi pagi,” pinta Reza dengan sepiring nasi di tangannya.
“Kak, aku mual! Aku tidak bisa makan apapun!” jawab Luna, namun sang suami justru semakin memaksanya untuk tetap makan.
__ADS_1
“Tapi kau harus tetap makan sayang, biarpun mual. Kondisi lambung yang kosong akan semakin memperburuk keadaan,”
“Masalahnya, aku tidak lapar Kak!” sang istri tetap bersikeras untuk tidak mau makan,”
“Apa kau sedang hamil sayang?” Reza memperhatikan tubuh sang istri dari atas hingga bawah memperhatikan perubahan yang mungkin terjadi.
“Kak, jangan terlalu berharap, aku tidak mau ada kekecewaan,” ucap Luna dengan murung.
“Tapi Luna tidak ada salahnya untuk memeriksanya bukan?” usul Reza.
“Kak ini sudah tespek ke-231 yang telah kugunakan untuk memeriksa apakah aku sedang hamil atau tidak,” ucap Luna lemas, seperti sudah berputus asa.
Ana yang tidak sengaja melewati kamar sang adik, kemudian masuk ke kamar itu untuk memeriksa keadaan Luna. Dia tau jika adiknya memang sedang tidak enak badan sejak kemarin.
“Luna masih belum mau makan Za?” tanya Ana pada adik iparnya tersebut.
“Belum nih An, katanya mual,” ucap Reza.
“Oh atau mau makan apa Lun? Biar mbak beliin,” tawar Ana sambil memeriksa suhu tubuh adiknya.
“Nggak usah Mbak, kayaknya asam lambung lagi naik nih!” ucap Luna sambil memegangi perut sebelah kirinya.
“Apa kita periksa ke dokter saja, siapa tau pertanda hamil?” tawar kakak Luna itu bersemangat,
“Tapi aku gak mau sakit hati Mbak,” gadis itu kembali menunjukkan wajah murungnya.
“Coba dulu, memangnya bulan ini kamu udah mens belum?”
“Belum sih tapi emnag biasanya tidak teratur Mbak!” Luna masih saja bersikukuh untuk tidak mau menggunakan tespek.
“Nah itu! Yuk coba yuk! Mbak punya banyak tespek tuh!”
“Wah jualan lo An?!” sindir Reza terkekeh.
“Tau gue! Dasar pabrik!” Ana memukul lengan adik iparnya tersebut.
“Baru juga dua, pabrik apanya!” Ana memukul lengan adik iparnya tersebut.
****
“Nih, tespeknya Lun,” Ana meletakkan tespek itu di atas meja.
“Mbak, aku males!”
“Ayo dong sayang, coba dicek aja biar tau kalo memang positif ya berarti kita tau penyebabnya rasa mualmu itu memnag efek dari kehamilan,” kata Reza lalu membuka benda pipih berebntuk strip itu.
“Kalo negative?”
“Kalo negative ya coba lagi! Aku tidak akan keberatan sayang!” ucap Reza sambil mencium kening sang istri.
Luna pun masuk ke kamar mandi dengan cupo dan tespek di tangannya. Selang beberapa menit kemudian diapun kembali. Dengan wajah yang tanpa ekspresi.
“Gimana Luna?” tanya Ana.
“Positif sayang?” Reza menghampiri Luna namun, sepertinya ia salah menebak, hingga tidak jawaban dri sang istri melaiankan sebuah tangisan.
“Kak, sudah kubilang tidak usah terlalu berharap!”
“Aku tidak mau pakai tespek lagi!” Luna pun berlari dan membenamkan wajahnya pada bantal, sementara Reza hanya mengacak rambutnya, merasa bersalah pada sang istri, padahal niatnya hanya ingin memeriksa kondisi kesehatan Luna saja bukan membuatnya menjadi seperti ini.
“Ya sayang, maaf ya. Aku tidak bermaksud seperti itu,” Reza meraih benda pipih dari tangan Luna dan memeriksanya, teryata memang masih menunjukkan satu garis.
__ADS_1
Ana memeluk tubuh sang adik, memberikan afeksi positifnya dan mengatakan pada Luna jika semuanya akan datang di saat waktu yang tepat.
“Luna, jangan bersedih. Apapun itu, Tuhan sudah mengaturnya dengan sangat baik. Jadi kau tak perlu bersedih ya,”
“Mbak, memangnya dulu waktu proses Shian lama juga ya?” tanya Luna membuat Ana tersenyum
“Umm tidak langsung jadi, tetapi Shian datang di waktu yang sangat tepat sayang!”
“Jika tidak ada Shian mungkin aku sudah meninggalkan Kak Yoshi,” ucap Ana, mengenang masa lalu. Reza hanya memperhatikan ucapan gadis itu tak menyangka jika gadis yang pernah disukainya itu pernah memiliki masalah serius dengan Yoshi.
“Tapi kak, apa Luna akan punya anak juga? Apa dia akan datang di saat yang tepat?”
“Tentu saja sayang, Tuhan sudah mengatur segalanya.
****
Seminggu kemudian Reza dan Luna memutuskan untuk peri ke Amsterdam, sesuai permintaan Luna untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut pada organ reproduksinya.
“Pak, Buk, Luna pergi dulu ya!” ucap anak bungsu Pram itu sambil mencium tangan ayah dan ibunya secara bergantian.
“Iya sayang, hati-hati. Kabari kmai jika sudah sampai,” pesan Larissa memluk Luna.
“Nak Reza hati-hati ya, jewer saja telinga Luna kalaiu nakal!” pesan Pram kepada menantunya.
“Baik Pak, saya akan menjewernya dengan cara yang berbeda! Hehe!” Reza terkekeh.
“Ih bapak! Selalu semena-mena bibirnya!” dengus Luna, lalu munculan dua orang bocah kecil dari dalam rumah bersama ayah dan ibunya.
“Bibilu..!” Gwen memeluk tantenya itu dengan erat,
“Aunty jangan pergi!” Shian pun ikut berhambur memeluk sang bibi.
“Sayang, bibi janji akan cepat kembali kok! Jangan menagis ya kalian berdua,” ucap Luna mencium keponakannya satu persatu.
“Uncle, cepat kembali ya biar kita bisa main bola lagi kayak biasanya!” pinta Shian pada Reza.
“Woiya dong jagoan!”
“Uncle pasti cepat kembali kok bawa temen buat kalian,” Reza mencium balita tampan itu sambil mengedipkan matanya pada Yoshi.
“Bikin yang rajin Za! Jenny aja bisa masa elo kalah sama banci!” ejek Yoshi tanpa didengar Luna.
“Ngejek ya! Gue bikin banyak ntar kaget lo Yosh!” balas Reza dan Yoshi pun terbahak.
“Za, ati-ati kemanapun kapanpun kalian pergi! Karena musuh kita masih berkeliaran,” pesan Yoshi sebelum Reza dan Luna berangkat ke bandara.
***
“Kak, apa kita akan bertemu dengan papa di sana?” tanya Luna sambil bersiap memasukki gate.
“Ya sayang, papa akan menunggu kita di sana, tetapi masalahnya pesawat direct ke Amsterdam sedang fullbooked, jadi kita harus transit ke Hongkong dulu baru terbang ke Belanda,” jawab Reza.
“Oh baiklah,”
Suami istri itu pun masuk ke pesawat dan lima jam kemudian tiba di Hongkong, sambil menunggu pesawat selanjutnya, Reza dan Luna berjalan-jalan melihat beberapa merchandise yang dijual di dalam bandara.
"Kak, aku ke toilet dulu ya," ucap Luna sambil menyerahkan tasnya pada Reza.
"Aku akan mengantarmu,"
"Tidak usah Kak, toiletnya dekat kok!" Luna pun berlari menuju ruangan bertuliskan restroom tersebut.
__ADS_1
Seseorang sedang memperhatikan istri Reza itu dari kejauhan, memasang ancang-ancang untuk menyerang.