
Luna POV
Sejak keluar dari ruang ganti itu, aku merasa lemas dan pusing, rasanya semua persendianku sangat kaku dan pegal-pegal, setelah berganti pakaian aku pun menghampiri Kak Reza yang sedang bercengkrama dengan papa,mama dan Luna di ruang keluarga. Mereka terus saja mengajakku mengobrol dan sesekali bercanda, tetapi aku begitu malas untuk menanggapi sebab rasa pusing disertai mual yang kian menjadi.
Untung saja Kak Reza menyadari ketidaknyamanan yang kurasakan, ia mengajakku ke kamar untuk beristirahat, di kamar aku langsung berbaring dan memakai selimut, rasa dingin kian menyerang menambah ketidaknyamanan tubuhku, Kak Reza menawariku untuk pergi ke dokter atau memanggil dokter tetapi aku menolaknya, ada rasa bahagia di hati, sebab suamiku ternyata sangat perduli padaku.
“Luna, badanmu demam, lihatlah suhumu 39 derajat celcius. Ini tak baik. Aku akan memanggil dokter,”ucapnya dengan wajah kebarat-baratannya yang khawatir, oh mengapa dia tampan sekali, ingatan tentang ciuman yang berhasil ia curi kemarin membuat badanku semakin panas dingin tak karuan.
Aku terus mengatakan jika aku tidak apa-apa, dan akan membaik setelah istirahat, tapi keadaan tubuhku sangat tidak kumengerti, rasa pusing dan mual tak dapat kubendung lagi, aku segera berlari ke kamar mandi
dan mengeluarkan seliruh isi perutku ke wastafel. Kak Reza sangat panik dan beberapa kali mendekatiku, aku sudah memintanya untuk menjauh,
sangatlah malu untuk berada di dekatnya dalam keaadaan menjijikkan seperti ini, muntahan demi muntahan terus saja keluar dari mulutku hingga tak ada lagi yang tersisa, dan akhirnya aku pun tumbang karena lemas dan kekurangan cairan.
Kak Reza semakin khawatir melihatku seperti itu dan dengan sigap ia membopongku dari kamar mandi ke tempat tidur, entah sudah berapa kali adegan ini terulang tetapi persaanku tetap saja sama, aku selalu kehilangan keseimbangan ritme detak jantung, aku terus menatap wajahnya saat berada dalam dekapan pria ini, namun saat ia membalas tatapanku, aku langsung berpura-pura tertidur, sungguh kekanak-kanakan ya.
Kak Reza membaringkanku ke tempat tidur, dan ia langsung keluar dari kamar untuk memanggil mama, aku masih saja merasakan mual yang begitu hebat meskipun hanya tertinggal cairan kuning saja jika aku memuntahkannya.
Aku yakin ini adalah masuk angin atau mungkin asam lambung, sebab kemarin seharian aku berada di ruang ganti berexhaust itu dalam keadaan tak berpakaian lengkap, aku menyesal seharusnya kurangkap saja pakaian suamiku itu agar tidak kedinginan, dasar bodoh. Berada di ruang ganti tetapi masih kebingungan untuk berganti.
Tak berapa lama, mama datang dengan raut wajah paniknya, ia menghampiriku dan bertanya apa yang kurasakan, aku pun menjelaskannya sedetail mungkin, tetapi mama malah memintaku untuk melakukan tes kehamilan, Kak Reza sangat terkejut saat mendengar perkataan mama itu, begitu juga dengan diriku, dihamili saja belum, bagaimana bisa hamil.
Tanpa ingin mengecewakan dan melawan perintah mama, akhirnya kami pun setuju untuk melakukan tes kehamilan, Ganis datang ke kamar dengan membawa sebuah tespek di tangannya. Ganis mengikutiku ke kamar mandi. Aku bisa melihat tawa tertahannya.
“Wah keren nih, bakalan ada huru-hara di rumah ini!” ledek gadis berambut pirang itu.
“Apaan sih Nis, huru-hara bagaimana?”
“Ya iyalah, papa aja udah optimis banget kalo lo hamil Lun!” Ganis begitu bersemangat.
“Apa makudmu Nis?” aku tak mengerti.
“Lo tau gak Lun, kalo Kak Reza gak boleh berangkat kerja dulu sebelum berhasil mbuntingin elu!” ucap Ganis serius.
“Serius Nis? Bokis ah!” ucapku tak percaya.
__ADS_1
“Beneran Lun!”
“Akh, gimana dong nih!” aku mulai memikirkan perkataan Ganis.
“Gimana apanya? Tinggal bikin aja, apa susahnya sih!” Ganis menjawab dengan entengnya.
“Aduh Nis, gue belum siap! Kan lo tau, gue masih harus lanjutin sekolah,”jawabku masih dengan memegangi tespek di tanganku, rasanya ini tak akan berguna, karena sudah pasti hasilnya akan negative.
“Yaelah Lun, jadi bener lu belum ngapa-ngapin sama sekali sama abang gue?” Ganis menanyakan hal itu lagi dan lagi.
“Belumlah, kan lo tau kakak lo kayak gimana orangnya,” dengusku kesal.
“Hadeh, sama aja kalian berdua itu! Sama-sama mau tapi pura-pura gak mau!” Ganis menyerobot tespek di tanganku.
“Eh, mau diapain itu Nis!”
“Mau gue buanglah, percuma juga dipake. Udah ketauan hasilnya,” jawab Ganis malas.
“Tapi, jangan gitu dong Nis, gak enak sama mama tau! Biarin aja sih aku pake tespeknya, biar negative juga gak apa-apa, asal jangan bilang mama kalo memang gue sama Kak Reza belum ngapa-ngapain!” ucapku, kembali menyerobot benda pipih itu lagi.
Seseorang mengetuk pintu, dan aku pun membukanya.
“Luna,” terdengar suara Kak Reza dan dia pun ikut masuk ke dalam kamar mandi.
“Iya Kak, ada apa?” tanyaku.
“Kenapa kalian lama sekali? Mama sudah menunggu terlalu lama, takutnya mama juga ikut masuk,” ucap Kak Reza, aku jadi serba salah jika seperti ini.
Kini kami bertiga berada dalam satu ruangan yang biasa digunakan untuk mandi itu.
“Kak, gimana nih?” tanyaku, sementara Ganis masih saja terlihat kesal,yang aku tak tau apa penyebabnya.
“Lun, pakai saja tespeknya. Apapu hasilnya, tunjukkan pada mama,” ucap Kak Reza.
“Tapi Kak, beneran gak apa-apa kan kalo hasilnya negative?” tanyaku lagi.
__ADS_1
“Tentu saja tidak apa-apa Luna, jangan khawatir belum hamil bukanlah suatu tindakan kriminal,” kata Kak Reza terkekeh.
“Tinggal bikin Luna positif aja sih Kak, apa susahnya!” celetuk Ganis sambil menyilangkan tangannya.
“Kamu tuh, hobi banget ya Nis, bikin Luna malu,” ucap Kak Reza memandangku.
“Kak, kenapa sih kalian masih malu-maluan aja, tinggal gas aja sih Kak! Daripada kakak gak dibolehin berangkat kerja sama papa,” kata Ganis masih saja membahas hal yang membuatku malu.
“Kata siapa papa ngelarang kakak buat berangkat kerja?” sanggah Kak Reza.
“Tadi aku denger kok pas kakak lagi ngobrol sama papa di koridor,”ucap Ganis.
“Jangan sok tau kamu Nis, kakak boleh ke berangkat kerja, asal sama Luna,” jawab Kak Reza mengedipkan matanya, hampir saja aku terjatuh, ini kali kedua ia menggodaku.
“Haha, terus mbuntinginnya di kapal gitu kah Kak?” Ganis kembali mempermalukan diriku, kakak beradik ini mulai memojokkanku sepertinya.
“Iya dong, sambil terombang-ambing, iya kan Luna?” astaga , ingin sekali aku keluar dari kamar mandi menyesatkan ini.
Tok
Tok
Suara ketukan kembali terdengar, aku yakin itu pasti mama.
“Reza, Luna, Ganis! Kalian sedang meeting atau apa sebenarnya? Kenapa lama sekali ha?”ucap mama dari balik pintu. Ganis pun membukakan pintu.
“Aduh nenek-nenek ini, kenapa berisik sekali sih!” ucap Ganis pada mama.
“Kalian, ini lama sekali sudah hampir satu jam loh, mama nunggu hasil tesnya."
“Ah mama, maaf ya. Kami terlalu lama,” ucapku tidak enak hati, kini ada empat orang di ruangan ini. Aku, Kak Reza, Ganis dan mama, kami saling bertatapan satu-sama lain.
“Eh, mana hasil tesnya?mama mau lihat.”
“Belom tes ma!” celetuk Ganis.
__ADS_1
“Eh belum? Cepetan pakai tespeknya Luna! Papa sudah menunggu tuh!” astaga, bahkan ayah mertuaku pun juga hadir. Jangan sampai beliau juga ikut masuk ke kamar mandi ini.