I LOVE YOU CAPT !!

I LOVE YOU CAPT !!
Terkunci lagi dong..


__ADS_3

Author POV


Luna terbangun dari tidurnya, sejak pukul 6 sore ia terus berusaha memejamkan mata sebab obrolannya dengan Reza siang ini terus terngiang di kepala gadis cantik itu, begitupun dengan Reza pria 32 tahun itu masih sangat bingung dengan perasaannya, ia tidak tau apakah ia mulai tertarik pada Luna atau belum, tetapi berada di dekat istri barunya itu selalu berhasil membuatnya nyaman. Luna bagaikan mood booster untuknya.


Terkadang ia tersenyum setiap kali mengingat tingkah Luna, tidak dapat dipungkiri gadis itu telah mengisi ruang di hatinya yang selama ini hampa. Baginya Luna adalah anak buah yang lucu dan menggemaskan, berbeda dengan gadis lain yang selama ini selalu mencoba mendekatinya dengan cara yang mudah ditebak.


Reza POV


Kemarin hampir saja aku mencium Luna, bibir ranum itu, pipi bersemu merah jambu dan lesung pipinya berhasil menaikkan insting liarku, aku berusaha keras menahan diri meskipun aku berhak atas dirinya, tetapi aku tak yakin, akankah adegan itu akan berakhir hanya dengan ciuman atau ke tahap selanjutnya yang membuat gadis seusia adikku itu mungkin saja akan menangis.


Aku memutuskan untuk meninggalkannya keluar kamar dan kembali bersama segelas jus untuknya, kebetulan stok juice di area buffet hanya tersisa jus pisang dan v8, melihat jus sayur dan buah itu mengingatkanku pada Ana, entah seperti apa kehidupannya saat ini, yang jelas dia telah bahagia bersama Yoshi.


Aku pun kembali ke kamar dan memberikan jus itu pada Luna, ia tampak sangat lucu ketika mengetahui jika jus itu adalah jus pisang, aku bisa menebak kegugupannya saat berada di dekatku, satu hal yang sangat menarik dari gadis itu adalah dia sangat apa adanya dan juga cantik, aku beruntung bisa menikahi daun muda sepertinya, Haha.


Terkadang aku merasa bahwa kami pernah bertemu sebelumnya, tetapi aku lupa kapan dan dimana. Lima tahun ini kulalui dengan begitu banyak perubahan dari dalam diriku, mungkinkah jika aku bertemu dengan teman-teman dekatku dulu, semuanya akan kembali seperti semula. Aku bahkan sangat sulit untuk tertawa dan tersenyum, padahal beberapa tahun yang lalu, kalian tau kan seperti apa diriku yang lekat dengan julukan ‘songong dan narsistik’.


Dianna dan Ana, masing-masing dari mereka telah menikah, begitupun dengan Eve dan Jenny, tapi tak satupun yang tau jika dirku juga telah menikah. Terkadang kisah kami begitu menggilitik perutku jika dipikir-pikir. Ana menikah dengan seorang yang dianggapnya rentenir selama ini, Dianna menikah dengan robot, asisten dari rentenir tersebut sedangkan Evelyn menikah dengan Jenny, yang selama ini hanya berpura-pura menjadi waria demi cintanya untuk Evelyn.


Kupikir hanya kisahkulah yang normal dari kisah mereka. Aku menikah dengan gadis cantik dan muda, jika mereka tau tentang ini kupastikan mulut-mulut itu akan menganga seluas samudera atlantis.


(Elu yang menganga Za, soalnya istrimu itu adiknya Ana, hahah)


Reza POV End


Luna tidak melihat keberadaan suaminya di kamar unik itu, ia mencari Reza keluar, menyusuri koridor di lantai dua, tiga dan lantai dasar. Tetapi bukanlah Reza yang ia temui.


“Kakak ipar sayangku, sudah bangun?” Ganis menepuk pundak Luna.


“Eh, Nis. Kakakmu kemana?” tanya Luna, kebingungan.


“Lah,kebangetan banget lu Lun, laki lu ilang? Makanya kasih jatah biar gak kabur.”


“Ah,elu mah!!”


“Serius Nis, aku nyariin dia di kamar dari tadi, tapi tetep gak ada. Emang ada ruangan lain di rumah ini?”


“Wah, banyak ruang rahasia di rumah ini Lun, ruang bawah tanah juga ada,” ucap Ganis mulai terlihat ingin mengerjai Luna.


"Jangan bilang ruang mesin juga ada di sini?" tebak Luna.


"Ada kok, mesin cuci. Kali aja lu mau kekunci di sana kayak dulu lagi. haha!" Luna semakin menaikkan nada tawanya.


"Kamu tau insiden itu Nis?" Luna terkejut.


"Taulah, orang beritanya viral di efleet!"


"Kamu bisa ngakses efleet juga emangnya?"


"Dih, ngeremehin. Punya abang kapten sayang kalo gak dimanfaatin Lun!" Luna mencebikkan bibirnya.


"Anyway, gimana semalem?"

__ADS_1


"Semalem apa? Kenapa sih orang-orang pada hobi banget nanyain 'gimana semalem'? Bosen akutu!"


"Habisnya gak ada topik yang lebih menarik daripada itu Lun! buruan dong bikinin gue ponakan yang gemas!"


"Bikin aja sendiri!" Luna pergi meninggalkan sahabatnya itu dan kembali ke kamar Reza.


Luna POV


Aku memasukki kamar itu lagi, bahkan ada fire detector di langit-langit kamar ini, ini sungguh seperti di kapal. Beginikah rasanya memiliki suami seorang captain cruise ship. Pajangan itinerary tertempel di dinding, mungkin jika di hitung lebih dari lima ratus port of calls yang berhasil di kunjungi Kak Reza, aku sempat berfikir jika suamiku itu adalah tipe orang yang dingin, pendiam dan jauh dari hal unik.


Tetapi nyatanya setelah kulihat koleksi foto di kamarnya, ternyata Kak Reza memiliki teman-teman yang seru, tak jauh berbeda dariku.


Dia begitu ceria di dalam foto-foto yang di ambil sekitar lima tahun yang lalu. Tetapi setelah itu tak ada lagi foto yang tercetak, mungkinkah terjadi sesuatu padanya selama lima tahun terakhir ini.


Hari mulai siang, aku pun mandi, kunyalakan shower, dan mulai mandi. Tetapi tiba-tiba hal mengejutkan terjadi, tiba-tiba saja dinding di sudut ruangan shower itu bergerak, bergeser dan akhirnya terbuka, aku yang terkejut melihat pemandangan ini dan hanya bisa terdiam hingga lupa akan tubuhku yang sedang berlumuran sabun.


“LU-LUNAA??” Kak Reza terkejut saat mendapati diriku yang sedang mandi, astaga bagaimana mungkin si tampan ini bisa muncul dari balik dinding kamar mandi.


“Luna? Apa yang kau lakukan?”


Aku masih mematung karena keterkejutan, tetapi Kak Reza lebih terkejut lagi hingga ia menutup matanya, aku pun tersadar.


Oh my God, aku tealanjangg?? Di depan pria ini? Tetapi bukankah aku sedang mandi? Apa aku salah masuk ruangan?


Tetapi jika ini bukan kamar mandi mengapa ada shower dan bath tub di sini. Ah, persetan dengan semua ini, segera kuraih handuk dan kulilitkan pada tubuh.


“AAKHHH???” Aku tidak sedang berpura-pura kaget, aku benar-benar malu saat mata biru suamiku itu menatapku dari atas hingga bawah, rasanya seperti sedang ditelanjangi padahal aku sudah dalam keadaan telanjaang.


Aku pun keluar dari kamar mandi aneh itu dan segera menuju ruang ganti, kaki ini sangat sakit saat beberapa kali harus menabrak kaki meja, kaki bed, kaki kursi dan kaki-kaki lainnya yang berada di kamar ini. Astaga, sungguh repot sekali memiliki kamar tak normal seperti ini. Setealah memastikan bahwa ruangan ini adalah kamar ganti aku pun segera mengunci ruangan itu. Dua kali klik.


Aku takut sekali jika semua ini hanyalah ilusi dan saat aku tersadar semuanya telah berubah menjadi kuburan Belanda kuno seperti di film-film thriller.


Tok


Tok


Tok


Suara ketukan terdengar.


“Luna, apa kau di dalam?” tanya Kak Reza dari balik pintu.


“Lun…” dia kembali memanggil namaku.


“I-iya Kak, aku sedang berganti baju. Maafkan aku kak…”


“Akulah yang seharusnya minta maaf Luna, maafkan aku.”


“Kak, kukira ruangan tadi itu shower, tapi sepertinya aku salah. Dan bagaimana kakak bisa tiba-tiba muncul dari balik dinding?”


“Kau tak salah Luna, itu memang shower. Tetapi…” ucapannya menggantung.

__ADS_1


“Tapi apa Kak?” aku mempertanyakannya.


“Luna, ruangan yang kau masukki sekarang adalah ruang ganti,” ucap Kak Reza, bukankah aku memang memasukki ruang ganti, lalu mengapa Kak Reza mempermasalahkannya.


“Benar Kak, lalu?”


“Itu adalah ruang gantiku, dan ruang gantimu ada di sebelah,”


What ?? segera kulihat sekeliling kamar ini, ternyata benar. Ruangan Ini berisi baju-baju Kak Reza dan semuanya tertata rapi. Oh astaga, kenapa mereka menggunakan bahasa Belanda untuk memberi tanda di setiap ruangan, tidakkah mereka tau jika bahasa belandaku selalu mendapat skor C di setiap training bahasa asing di kapal.


“Luna, bisakah kau membuka kuncinya?” tanya Kak Reza lagi.


“Sebentar Kak, aku ganti baju dulu. Kak, aku pinjam kemejamu ya.”


“Iya, pakai saja. Jika sudah segera buka pintunya,” ucap Kak Reza seperti khawatir padaku.


Beberapa menit berselang,


“Luna, sudah selesai belum?” aku masih sibuk membenarkan kancing kemejaku, ah ini sangat besar sekali padahal ukurannya M, tetapi karena produk import ukuran M menjadi seperti ukuran XXL untukku.


“Luna…” tariak Kak Reza lagi, astaga pria itu sangat tidak sabaran baagaimana jika aku keluar dengan kancing yang belum sepenuhnya tertutup. Apa tidak akan membuatnya terkejut lagi seperti tadi.


“Lunaa!” teriaknya lagi.


“Iya kak, iya. Sebentar!” aku mulai emosi dibuatnya. Saat itu juga kucoba untuk memutar kunci pintu.


Klik


Kucoba untuk memutar gagang pintunya, ah tidak bisa. Kucoba berkali-kali. Tetap tidak bisa. Aku pun panic.


“Kak!!!”


“Kak Reza, pintunya tidak bisa dibuka. Bagaimana ini ??”


“Luna, akhirnya yang kutakutkan terjadi juga..” suara pria itu terdengar pasrah. Membuatku semakin panic.


“Apa maksud Kakak?” Kak Reza hanya menghela nafas panjang. Aku jadi ingin menangis sekarang, haruskah aku terkunci dan terjebak di ruang ganti mewah ini. Sebenarnya tak apa, tetapi bagaimana mungkin ini terjadi.


“Lun, apa kau men-double klik kunci ini tadi?” tanya Kak Reza.


“Benar Kak, apa ada masalah?”


“Ya, jika kau memutar knopnya dua kali, itu berarti kunci ini akan ter-double lock. Dan tidak bisa dibuka dari dalam.”


What??? Lelucon apa lagi ini Neptunus!!”


“Kak, tolong akuuu!!” aku pun panik dan mulai mengingat kejadian di kapal dulu saat aku terkunci di ruang mesin dua kali bersama Kak Reza.


“Huuaaa..” asataga air mata ini mengalir begitu saja aku sudah sangat lelah dengan semua ini.


"Kak, aku takut... " ucapku lirih.

__ADS_1


"Tenanglah, aku akan menyelamatkanmu seperti yang sudah-sudah."


Bersambung...


__ADS_2