I LOVE YOU CAPT !!

I LOVE YOU CAPT !!
Pernikahan


__ADS_3

Sejak tadi pagi, aku terus mondar-mandir di ruangan dressing ini. Hingga membuat penata busana itu pusing melihatku.


"Kak cantik, tolong diam sebentar ya, biar saya bisa pasangkan crown di rambut kakak." Ucapnya.


"Iya iya." Jawabku malas.


"Orang mau nikah kok kayak orang kebakaran jenggot sih kak, ngiter mulu." Ucapnya lagi tetapi aku malas menanggapinya.


Beberapa menit kemudian, ibuku datang.


"Luna, sudah siap belum?" tanya Ibuku dan aku masih belum bisa berkata apa-apa.


"Luna!" kini ibu berada di hadapanku, memandangi diriku yang sudah berbalut baju pengantin. Sungguh ini seperti mimpi.


"Buk, Luna takut." Ucapku sambil memeluk ibuku.


"Hey, kenapa menangis? Dengarkan ibu Lun, pernikahan itu tidak seburuk yang kau kira."


"Buk, Luna takut. Kapten orang yang baik sebenarnya tetapi bagaimana untuk ke depannya?"


"Jangan berfikir terlalu keras, sudah jalani saja Luna. Tidak ada yang salah dalam ikatan suci, ibu dan bapak juga sudah memikirkan tentang ini baik-baik." Kata ibuku sambil menghapus air mataku.


"Buk, Luna harus bagaimana setelah menikah nanti?"


"Ya tinggal jalani saja, jadi istri yang baik untuk nak Reza, ubah kebiasaan burukmu." Ucap ibuku, entah mengapa tiba-tiba aku teringat kakakku, Mbak Ana.


"Buk, Luna pengen nelpon Mbak Ana, boleh?" tanyaku.


"Boleh Lun, tapi jangan lama-lama ya. Acara akan segera dimulai." Kata ibuku sambil keluar kamar.


Aku pun menelepon kakakku, aku benar-benar butuh dukungannya saat ini.


"Halo mbak Ana?"


"Iya Lun, gimana?" Tanya kakakku di seberang sana.


"Mbak tau gak, hari ini Luna mau dinikahin sama anaknya temen bapak!" ucapku, berharap kakakku itu akan terkejut setelah mendengarnya.


"Oh iya, mbak sudah tau Lun, apa semua sudah siap?" tanya kakakku, Ya Tuhan bahkan mbak Ana pun sudah tau.


"Kok udah tau sih?"


"Iya kemarin bapak sama ibu udah ngabarin, kalo kamu mau nikah, bahkan yang pas kamu tunangan kemarin mereka juga udah ngasih tau kami kok."


"Ya ampun, terus gimana pendapat Mbak?" aku berharap kakakku dapat menolongku saat ini.


"Mbak minta maaf ya belum bisa pulang, ini si baby lagi demam terus dari kemarin ada masalah sama imigrasi. Jadi mundur deh pulangnya." Ucap kakakku detail. Aduh, bukannya memberiku solusi malah menyesal karena tidak bisa hadir.


"Baby kenapa mbak?" tanyaku mengkhawatirkan keponakanku yang sudah mulai masuk SD itu.

__ADS_1


"Demam, biasa karena perubahan iklim."


"Mbak, Luna belum ingin menikah. Gimana dong?" akhirnya aku mengungkapkannya juga.


"Kenapa Lun? Bapak ibu bilang kamu sama bule anak temen bapak itu sudah saling mengenal?"


"Iya dia Kapten di kapal tempat Luna magang mbak, namanya Roosevelt.


"Bagus dong, nanti Mbak punya ponakan bule buat main sama baby. Kata kakakku, semakin mengelantur.


"Aduh, mbak ini! Akhirnya aku menutup teleponnya, percuma saja mungkin bapak sama ibu sudah mendoktrin kakakku agar tidak mendengarkan keluhanku.


***


Aku berdiri di depan cermin, kupandangi diriku dengan gaun pengantin megah berwarna putih tulang, rambutku tersanggul rapi dan mahkota kecil menghiasinya senada dengan desain gaun ini.


Bagian punggungku yang sedikit terbuka sebenarnya membuatku risih. Mengapa keluarga mereka tidak memilih kebaya saja, batinku.


"Lunaa!" teriak Ganis, menghampiriku dan memandangku dari atas hingga bawah.


"Nis, udah waktunya ya?"


"Iya nih, eh lu cantik banget. Ya ampun kakak gue pasti terpana liat lu Lun!" ucap Ganis sambil memutari tubuhku.


"Lebay!"


"Serius Lun! beda banget dari biasanya. Kak Reza pasti pangling ntar!" Ucap Ganis sambil membetulkan rambutku dan menyiapkan heels.


"Serius dong Lun dan gue bakal manggil elu dengan sebutan kakak ipar. Ciyee " Ganis masih saja meledekku.


"Nis, gue takut." Ucapku namun Ganis malah menarik tubuhku dan memperlihatkan diriku pada tampilan cermin.


"Nih ya, gue kasih tau. Sekarang lu udah mau nikah sama kak Reza, acaranya itu hari ini bahkan saat ini, akan dimulai. So, jangan berfikir yang tidak-tidak ya Lun. Maaf kalau keluarga gue nyusahin lu kayak gini." Ucap Ganis menyesal.


"Bukan seperti itu Nis, gue cuma ngerasa gak pantes aja buat Kapten, gue cuma ABK nya di kapal. Apalagi kakak lu itu sebelumnya juga udah punya pasangan kan?"


"Udahlah, jangan mikirin itu. Sharon itu bukan apa-apanya Kak Reza, kok. Sekarang kita ke aula ya Lun, udah jamnya nih. Besok gampang kita bisa ngobrol lagi. Kita bakalan tinggal bareng." Ucap Ganis sambil membantuku berjalan dengan gaun berekor panjang ini.


Membayangkan tinggal bersama dengan suami, adik ipar dan mertuaku dalam satu atap, membuatku semakin tak karuan. Ini sungguh gila, bisa-bisanya hal ini terjadi padaku.


Sial, mau kabur gak mungkin, sudahlah trima nasib ajalah, ucapku dari dalam hati. Ganis terus memapahku berjalan menuju tempat akad dilaksanakan.


"Lun, lihat deh semua mata ngeliat lu, tau." Ucap Ganis.


"Papa mama gue juga tuh. Gak kedip dari tadi, kayanya bajunya pas banget lun."


"Masa sih Nis?" tanyaku.


"Beneran apa lagi Kak Reza itu liat deh, dari tadi mantengin lu terus dari atas ke bawah."

__ADS_1


"Bikin gugup gue aja lu." Ucapku sambil melirik ke arah kapten. Dia benar-benar sedang melihatku dengan intense.


Aku pun duduk di sebelah kapten sejak tadi mata kami saling bertemu tetapi aku tak berani mengatakan apapun padanya.


Bapak berada di samping penghulu. Dan tersenyum melihatku, seandainya saja kakakku juga hadir saat ini. Sungguh, pasti aku akan merasa jauh lebih tenang.


Acara pun dimulai, kini tinggal beberapa detik lagi, statusku akan berubah menjadi seorang istri, bahkan istri dari Kapten di tempatku magang.


Astaga, ini sungguh lucu, Luna yang seperti ini menikah dengan Kapten Roosevelt, entah aku harus bahagia atau apa. Yang jelas sekarang aku harus tenang.


***


Akad nikah pun usai dan sekarang kami telah sah menjadi sepasang suami istri. Kapten menyodorkan tangannya untuk kucium dan dia membalasnya dengan mencium keningku.



Kami duduk di pelaminan sambil menyalami tamu-tamu yang datang.


"Luna, aku tau ini sangat merepotkanmu. Tetapi kumohon berpura-puralah seperti menjadi pengantin sungguhan." Ucapnya pelan, takut didengar oleh para hadirin.


"Baik Capt."


"Dan lagi, jangan panggil aku Capt."


"Baik Kak Reza," ucapku patuh.


"Luna jangan terlalu menjauh, kemarilah. Kita harus terlihat mesra dan serasi di depan para tamu." Ucapnya, sambil mendekatkan dirinya padaku dan apa katanya? mesra? yang benar saja.


"Lun, akan ada sesi pemotretan setelah ini, bersiaplah." Entah mengapa, aku merasa Kapten benar-benar menjadi tukang perintah hari ini.


"Kak Reza, ini indah.. " Ucapku saat kami diminta keluar ruangan menuju halaman gedung untuk berfoto.


"Iya Luna, indah sepertimu." Ucapnya tanpa melihatku. Namun perkataannya itu sungguh membuatku gila.


"Pak Reza dan istri bisakah anda lebih berdekatan lagi?" ucap fotografer


"Lun, sudah kubilang jangan menjauh. Ayo mendekatlah." Kata Kapten sambil mrnarik gaunku.


"Tapi Capt, dia meminta kita untuk berpose seperti sedang berciuman?" Jawabku, ini sungguh konyol.


"Lalu? Lalukan saja Luna." Jawabnya.


"Apa?!" ucapku kaget


"Ya, mari kita buat adegan itu," sambil meraih bunga di dekatnya.


Kami menggunakan bunga itu sebagai pelengkap dan menutupi kedua wajah kami.


"Kau terlalu dekat kak, sedikit menjauhlah." Ucapku.

__ADS_1


"Tenang saja Lun, aku tidak akan menciumu. Tetapi jika kau yang meminta, maka aku tidak akan menolaknya." Jawab kapten menahan tawanya.



__ADS_2