I LOVE YOU CAPT !!

I LOVE YOU CAPT !!
Reza POV - Sedikit warna di hidupku


__ADS_3

Hari itu aku memutuskan untuk makan siang di kru mess, entah mengapa aku ingin sekali melihat kondisi kru mes di hari minggu yang biasanya akan sangat ramai sekaligus kuingin memeriksa keamanan di area itu.


Kulihat antrean yang sangat panjang. Hingga keluar dari pintu utama tempat itu. Awalnya aku berjalan biasa, namun langkahku terhenti saat kulihat Luna dan Bumi juga mengantre.


Mereka terlihat sangat akrab, bercanda gurau namun tiba-tiba Luna juga terlihat kesal entah apa yang sedang mereka bicarakan. Lagi-lagi mataku terpaku saat melihat senyuman dan tawa Luna.


Tak butuh waktu lama aku sudah berada di dalam PO mess, yaitu ruang makan untuk para officers.


"Selamat pagi kapten," sapa salah sahitu staf di sini.


"Pagi Andi. Apa semua lancar?" tanyaku sambil menatap nama dadanya.


"Normal Capt." Jawabnya.


Aku pun mengambil sepotong roti gandum dan kopi hitam di tray ku. Sebenarnya banyak sekali makanan khas Indonesia hari ini. Tetapi aku sedang tidak nafsu makan.


Tiba-tiba seorang gadis berjalan ke mejaku dan meletakkan tray nya begitu saja tanpa mengatakan apapun kepadaku. "Luna?" kataku dalam hati menyadari bahwa Luna lah yang saat ini duduk di hadapanku. Kurasa dia tidak menyadari keberadaanku di sana.


Dengan lahap dia memakan makanannya, ada tiga piring makanan dan dua soda. Sungguh apakah gadis ini selalu seperti ini. Porsi makannya cukup banyak untuk ukuran badannya. Lalu lari kemanakah semua makanan ini jika tubuhnya masih saja seramping ini.


Entah bagaimana melihatnya menyantap makanan itu membuatku tersenyum sendiri. Masih adakah gadis seperti ini yang bertingkah sesuka hati tanpa menjaga Image sama sekali.


Kuperhatikan wajah mungil itu, kurasa dia masih sangat muda bahkan lebih muda daripada adikku di rumah. Luna manis juga jika diperhatikan dari dekat. Cukup lama aku memperhatikannya hingga akhirnya aku pun menyapanya.


"Laluna, apa kau selalu makan sebanyak ini?" tanyaku dan itu membuatnya sangat terkejut.


"I-iya capt," jawabnya dengan ekspresi yang sangat membuatku gemas.


Sungguh aku tak akan tahan bila berlama-lama dalam posisi ini. Terasa ada debaran sekilas di jantungku. Tetapi aku tak begitu merasakannya yang jelas aku harus segera pergi dari tempat ini sebelum debaran ini semakin kencang.


"Luna, makanlah yang banyak untuk pertumbuhanmu." Kataku, dan itu berhasil membuat pipinya semakin bersemu merah.


Aku pun berlalu. Dalam diam aku berfikir bagaimana mungkin aku merasakan suatu perasaan yang sama persis saat pertama kali aku melihat Ana, bahkan debaran kali ini lebih kencang dari pada yang pernah kurasakan sebelumnya.


Ada beberapa gadis yang mendekatiku, tetapi aku merasa mereka sangat biasa saja tak pernah menimbulkan perasaan aneh seperti ini.


Kadang aku ingin untuk menuruti permintaan ibuku saja untuk menikah dengan Sharon, seorang gadis yang belum kukenal sama sekali. Tetapi dilihat dari fotonya, kurasa dia cukup cantik namun aku belum tertarik padanya.


Tiba-tiba aku teringat pada Luna, jika saja Luna berpenampilan seperti Sharon mungkin saja Luna akan jauh lebih cantik darinya. Ah, apa ini. Mengapa bayangan Luna akhir-akhir ini sering sekali muncul di benakku.

__ADS_1


***


"Ah sorry Capt, saya tidak sengaja." Ucap seorang kru wanita yang tiba-tiba menabrakku.


"Tidak apa-apa," Jawabku sambil berlalu menuju kamarku.


"Ah sakit!" pekik perempuan itu. Aku pun segera mendekatinya.


"Apa kau baik-baik saja?" tanyaku.


"Kaki saya terkilir Capt," ucapnya sambil memegangi kakinya.


"Apa kau bisa berjalan? akan kupanggilkan Tim penyelamat jika diperlukan." Kataku.


"Tidak Capt, apa kapten bisa membantu saya untuk berjalan ke kursi itu?" ucapnya dan aku pun membantunya. Aku tak tega bila harus melihat seorang wanita kesakitan seperti ini.


***


Bugh..


Terdengar suara besi menghantam lantai karpet koridor ini.


Dia melihatku tetapi tidak menjawab salamku. Kadang aku heran padanya, mengapa gadis ini seperti tidak respect padaku.


Aku baru sadar jika sedari tadi aku sedang memapah perempuan ini. Jika orang melihat pasti mereka mengira aku sedang memeluknya dan membawanya ke kamarku.


Astaga, jadi Luna tadi melihat adegan ini. Segera kutinggalkan kru wanita yang entah berasal dari departemen mana ini. Aku tak ingin Luna salah sangka padaku. Meskipun sebenarnya ini tak masalah tetapi ada rasa mengganjal di hati.


Kumasukki ruang mesin itu dan kulihat Luna sedang sibuk memeriksa sesuatu. Dia menjawab salamku dan kemudian kutanyakan ada masalah apa di sini.


"Hatiku Capt." Begitulah jawabannya. Sungguh aku ingin tertawa mendengarnya.


Setelah mengobrol sebentar aku pun berniat untuk pergi keluar dari ruang ini. Sebenarnya aku ingin terus mengobrol dengannya, senyuman dengan lesung pipinya itu bagaikan booster untukku.


Ceklek


Pintu terkunci, astaga aku pun kaget. Hey, bagaimana ini bisa terjadi. Sementara sensor pada tombol otomatis itu terus berbunyi.


Sepertinya pintu otomatis ini rusak, begitupun juga tombol darurat di ruangan ini yang sejak kemarin belum dibetulkan.

__ADS_1


Aku berusaha untuk tetap tenang tetapi tidak dengan Luna, dia sangat panik, aku tau ini bukan pertama kalinya untuknya. Tetapi tempo hari memang cukup membahayakan nyawanya.


Kali ini aku terkunci dengannya dan itu berarti nyawa kami sedang terancam bersama. Aku sama sekali tidak keberatan jika harus terus terkurung di tempat ini bersamanya.


Untung saja suhu di tempat ini tidak terlalu dingin. Ancaman hipotermia sangat rendah, aku tak perlu khawatir. Tentu saja stafku akan menolongku. Siapa yang akan mengendalikan anjungan jika kapten tidak ada di tempat.


***


Beberapa menit berlalu, jangan tanyakan bagaimana kondisi Luna. Dia terus saja berputar seperti gangsing mengelilingi area ini untuk menemukan sesuatu.


"Laluna, kemarilah. Kau akan kehabisan tenaga jika terus seperti itu." Ucapku, kepalaku pusing melihatnya berputar seperti itu.


"Kapten, anda masih bisa setenang ini?" tanyanya.


"Apa yang bisa kita lakukan?Mau berteriak pun ruangan ini cukup bisa meredam suara. Tenanglah, kau pikir stafku akan diam saja mengetahui kaptennya tidak berada di tempat?" ucapku.


"Luna, apa kau selalu seperti ini?" tanyaku


"Seperti ini bagaimana maksudnya?" jawabnya


"Bertingkah sesuka hati, lari kesana kemari?" tanyaku. Aku jadi ingat tayangan kera sakti.


"Tidak kapten, memangnya ada yang aneh dengan saya?" tanyanya. Jika saja aku mampu menjawabnya, aku ingin mengatakan. Jika dirinya sangat menggemaskan.


"Tidak, hanya sepertinya duniamu itu sangat berwarna." Ucapku kembali mengingat hidupku yang hampa.


Hingga saat dia menyebut nama kakaknya yang bernama Ana. Aku kembali teringat dengan pujaan hatiku itu. Sudah saatnya aku melupakannya sekarang.


Tiba-tiba suara radio bergetar di sakuku, aku mendengarnya tetapi aku pura-pura tidak mendengarnya.


Sialnya Luna menyadari itu. Hingga terpaksa aku membalas panggilan dari anjungan itu. Sejurus kemudian bantuan datang, sungguh sebenarnya aku ingin lebih lama terkurung di sini bersama gadis pecicilan tetapi manis ini.


Apa daya, aku harus profesional. Aku tak mau merugikan orang lain hanya karena keinginan bodohku ini.


"Luna, jaga dirimu baik-baik. Bye." Bisikku pada telinganya. Dan hal itu kembali membuat pipinya bersemu merah.


Bye Luna, senang bisa mendapat sedikit warna dari keceriaanmu hari ini. Kataku dalam hati.


Maaf ya banyak sekali typo genk, Author sedang tidak enak hati. Eh, tidak enak badan maksudnya 😭😭

__ADS_1


__ADS_2