
Author POV
Siang itu di kamar yang resmi mereka tempati selama dua bulan lebih. Dua hati yang selama ini saling menyembunyikan perasaan itu, kini telah menjadi satu, tak ada lagi kecanggungan, sebab Luna yang tadinya merasa ragu pada perasaannya, kini telah mengakui jika ia mencintai Reza, suaminya. Begitupun dengan Reza yang sejak awal sudah tertarik pada gadis muda itu.
“Kak, apa yang harus kita lakukan? Aku tidak ingin membuat papa dan mama kecewa,” ucap Luna yang bersandar pada lengan kekar suaminya.
“Aku juga tidak tau Luna, coba cari cara agar ayah dan ibu mertuamu tidak kecewa,” balas Reza.
“Apa maksudmu Kak? Bukankah mereka orang tuamu, lalu mengapa hanya aku aku yang harus memikirkan caranya?”
“Karena aku tak bisa berbuat apa-apa. Apa yang bisa kulakukan jika kau sedang datang bulan?” Reza masih belum puas untuk mengerjai istrinya itu.
“Kak, pikirkan cara, bukan siasat!” ucap Luna.
“Astaga Luna, siasat apa? Itu adalah cara!” Reza tidak mau kalah dari Luna.
“Cara bagaimana! Itu siasatmu saja Kak!”
“Memangnya menciptakan bayi bisa dengan siasat? Harus dengan cara Lun!” tatapan Reza mengarah pada wajah istrinya yang bersemu merah, ia sangat suka membuat Luna tersipu malu seperti itu.
“Kak, aku ingin bertanya,” Luna mencoba menghindari kontak mata antara dirinya dan Reza.
“Apa?” tanya Reza meraih tangan Luna, lalu menggengamnya dan kemudian menciumnya.
“Kak, jangan menatapku seperti itu!” Luna menarik tangannya, tetapi Reza meraihnya lagi, dan kini lebih erat.
“Kenapa? Hm? Luna, jangan kaku seperti itu! Tanganmu sangat dingin! Aku tau kau masih menyimpan sesuatu di hatimu,”
“Kak, apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Luna.
“Ya!” jawab Reza, mengangguk masih dengan tangan gemetar Luna yang ia genggam.
“Dimana? Kapan?”
Reza tampak berfikir, seperti sedang mengingat sesuatu.
“Apa kau lupa Luna?”
“Kak, aku sedang bertanya padamu, kenapa kau malah balik bertanya?”
“Ya, kita memang pernah bertemu Luna…”
“Dimana?”
“Di mimpiku…”
__ADS_1
“Ah Kak! Aku serius!!”
“Sungguh Luna! Aku serius, kau sering hadir di mimpiku, sejak pertama kali aku melihatmu di training room, kau tau, wajahmu mengingatkanku pada temanku,” Reza kembali berfikir dan sesekali memejamkan matanya, seperti ada rasa sakit dalam perkataan itu.
“Siapa Kak?” tanya Luna penasaran, sebab ia melihat ekspresi berbeda dari suaminya itu.
“Hanya teman Luna, teman lama, Dia sangat mirip denganmu, mungkin jika kalian berdiri sejajar, akan terlihat seperti kakak beradik,” ucap Reza, kembali menciumi tangan Luna.
“Kak, aku juga seperti pernah melihatmu, dan mendengar suaramu!”
“Jangan menggombaliku Luna, kau masih terlalu lugu untuk membuat bualan,” Reza terkekeh.
“Kak, tetaplah tertawa seperti itu,”ucap Luna memandangi wajah rupawan suaminya.
“Kenapa? Apa aku terlihat lebih tampan?”
“Tidak, kau terlihat lebih muda Kak!”
“Luna, kau mengejekk? Tetapi mungkin benar, mungkin aku lebih cocok untuk menjadi kakakmu saja,”
“Kudengar kau memiliki seorang kakak? Dimana dia? Dan kenapa tidak menghadiri pernikahan kita?” tanya Reza, ia tidak tau jika Ana adalah kakak kandung Luna. Sejak pertama berkenalan dengan Ana, ia bahkan tidak tau dimana Ana tinggal dan bagaimana keluarganya, ia terlalu sibuk dengan perasaannya saat itu, satu-satunya hal yang ia ketahui tentang sahabat yang ia sayangi itu hanyalah Yoshi.
“Dia sedang berada di Venice bersama suami dan anak-anaknya Kak!”
“Wah, jadi kau adalah seorang tante? Hahaha,” entah mengapa tiba-tiba Reza tertawa.
“Aku hanya ingin tertawa saja, saat mengetahui jika kau sudah memiliki keponakan, dan mereka ada dua! Bagaimana caramu menenangkannya saat mereka menagis, aku bisa membayangkan, mungkin saja kau juga akan ikut menangis bersama dua bocah kecil itu!” ucap Reza, dan Luna tak ingin menanggapiunya, ia hanya sibuk menikamati senyum indah suaminya yang jarang sekali terlihat itu.
“Kak, apa aku terlihat sekekanak-kanakan itu menurutmu?” Luna melepaskan genggaman tangan Reza.
“Ya, terkadang, tetapi jujur saja aku sangat menyukai karaktermu Luna, kau mirip sepertiku dulu,” Reza bersandar pada paha Luna, Luna pun sedikit kaget tetapi ia mulai bisa menangani kegugupannya.
“Kak, kepalamu sangat berat!”
“Kau hanya mengalihkan sesuatu Luna, aku tau kau merasa terancam dengan posisi ini bukan?”
“Kak, kenapa kau selalu bisa menebak apa yang kupikirkan, ha?menyebalkan!”
Reza bangkit dari tidurnya, kemudian membelai wajah istrinya,
“Jika saja kau tidak sedang datang bulan Luna,” ucap Reza mengedipkan satu matanya, sungguh ia mulai terlihat seperti Reza yang lama.
"Dan apa yang membuatmu berubah seperti saat ini kak?"
"Cinta," ucap Reza, ada sedikit rasa menusuk di hati Luna saat mendengar kata itu dari mulut Reza.
__ADS_1
"Kak, apa kakak perah mencintai Sharon?" tanya Luna, ia ingin jika Sharon pernah hadir di hidup Reza, bahkan dialah yang menyebabkan dirinya menikah dengan Reza seperti sekarang.
"Kak, kau bilang Kau tidak menyukai Sharon, tetapi nyatanya dia bisa mengubahmu seperti sekarang,"
"Kak.. "
Tak ada jawaban dari Reza, tetapi Luna masih penasaran dengan ucapan suaminya yang terlalu singkat baru saja, Luna kembali rambut hitam kepirangan Reza, ia mengelusnya dengan lembut, sebab Reza tengah tertidur di pangkuannya.
****
Keesokan paginya saat sedang sarapan, dokter yang memeriksa Luna kemarin datang kembali ke kediaman keluarga Vandenberg.
“Tuan dan Nyonya Alexander, Nona Luna dan Tuan Reza, saya mohon maaf sebelumnya, saya hanya ingin menyampaikan jika pemeriksaan yang saya lakukan kemarin salah, saya salah dalam menghitung denyut nadi Nona Luna,” ucap wanita itu, semua mata tertuju pada sang dokter termasuk Reza dan Luna yang tampak biasa saja, tanpa terkejut sedikitpun.
“Apa maksud dokter?” Ibu Reza terlihat sangat terkejut dan tidak mengerti apa yang dokter itu katakan.
“Begini nyonya, sebetulnya Nona Luna tidak hamil, atau belum hamil lebih tepatnya,” ucap sang dokter.
“Apa?? Bagaimana bisa tiba-tiba menghilang kehamilan menantuku, kemana perginya cucuku Dok?” Alexander terlihat panik.
“Maaf tuan, bukan menghilang tetapi memang belum ada, saya hanya salah diagnose kemarin," ucap dokter menyesal.
“Oh dokter, apa yang kau lakukan pada cucuku! Kenapa kau menghilangkannya begitu saja!” Ibunda Reza, sangat berlebihan dalam menerima kabar terbaru itu.
“Maafkan saya, nyonya, saya benar-benar tidak bermaksud membuat anda semua kecewa. Tetapi saya berjanji akan memberikan vitamin dan panduan agar Nona Luna segera hamil,”kata dokter itu sebelum akhirnya meniggalkan rumah tersebut.
"Bagaimana ini Pap, cucu kita hilang! dasar dokter bodoh!" ucap nyonya Aexander pada suaminya.
"Mama ini apa-apan! Luna memang belum hamil Ma, please!" Reza mencoba menyadarkan ibunya yang sedang galau.
"Reza, lakukan sesuatu! Papa tidak mau tau!" ucap Alexander, lalu pergi meninggalkan ruang makan bersama istrinya.
"Wah ada huru-hara apa lagi nih? Haha!" celetuk Ganis, ikut menghilang bersama kedua orang tuanya.
Sekarang hanya tinggal sepasang suami istri itu saja yang tertinggal di ruang makan, Luna menatap Reza dengan penuh kebingungan, tetapi Reza begitu terlihat biasa saja.
"Kak, bagaimana ini? Papa mama sangat kecewa pada kita!" ucap Luna, merasa tidak enak.
"Mau bagaimana lagi Luna? apa yang bisa kulakukan?"
"Kak, padahal aku harus kembali ke kapal bulan depan, sebab masa cutiku telah usai," ucap Luna.
"Benarkah?" Reza tersentak kaget, mendengar ucapan istrinya.
"Humm, agency menelepon, jika ada staff engine yang pulang mendadak, jadi aku harus menggantikannya,"
__ADS_1
"Tapi, Luna. Bagaimana denganku? bagaimana dengan rencana kehamilan, Mama papa dan lain-lain?" Reza terlihat bingung, Luna sangat menyukainya, Ia tak pernah melihat suaminya panik seperti ini.
"Itulah yang harus kakak pikirkan!" Luna meninggalkan Reza yang masih berfikir keras akan ucapannya.