I LOVE YOU CAPT !!

I LOVE YOU CAPT !!
Kembali Bekerja


__ADS_3

“Kak, maafkan aku,” ucap Luna di dalam mobil, saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah Reza sedangkan Ana dan Yoshi kembali ke mansion.


“Tidak mau!” jawab Reza sambil memalingkan wajahnya.


“Kakak sungguh mengacuhkanku?”


“Tidak tau!”


“Ah! Kak kau benar-benar marah padaku?” Luna mendekati wajah suaminya yang sedang menatap ke jendela.


“Kau sangat menyebalkan Luna! Aku kesal padamu!” ucap Reza dengan nada dibuat-buat menirukan saat sang istri sedang merajuk padanya.


“Kak, ayolah! Semuanya sudah berlalu, mengapa kau masih saja ingin memperpanjang urusan ini?” Luna tidak sadar jika Reza sedang mengerjainya.


“Tidak semudah itu Luna! Beberapa orang tidak bisa melupakan masa lalunya! Maupun waktu yang baru saja berlalu! Kau telah menuduhku tidak jujur padamu! Itu sangat melukaiku!” pria itu semakin melancarkan aksinya membuat sang istri benar-benar mengira jika ia tengah merajuk.


“Kak, apa kau sedang membalasku?” wajah cantik itu terlihat sedikit muram, sementara Reza berusaha keras menahan senyumnya.


“Tidak Luna, aku hanya ingin kau belajar lebiih dewasa lagi!”


“Kak, please! Maafkan aku! Kau boleh menghukumku jika kau mau!” pinta Luna sambil memeluk tubuh itu dari belakang.


“Sungguh?” tanya Reza


“Iya Kak, aku akan memenuhi semua permintaanmu asalkan kau mau memaafkanku!” ucap Luna, bersungguh-sungguh. Sementara Reza hanya terkekeh dalam hati.


***


Tiba di kediaman keluarga Vandenberg


“Laluna!” teriak Ganis saat mendapati kakak dan sahabatnya telah kembali ke rumah itu.


“Nis, gimana kabarmu?” tanya Luna.


“Sepi nih! Di rumah gak ada kalian!” ucap gadis berwajah blasteran itu.


Reza langsung berjalan ke lantai atas menuju kamarnya tanpa memperdulikan Luna dan adiknya.


“Kenapa tuh laki lu Lun?” Ganis menatap kepergian sang kakak.


“Ngambek Nis! Dan aku gak tau harus ngapain sekarang!” ucap Luna, ia masih menyangka jika Reza sungguh marah padanya.


“Kasih pelayanan terbaik Lun! Biar ngambeknya ilang! haha” canda Ganis. Luna pun hanya menggelengkan kepalanya, dan berniat untuk membuatkan sesuatu untuk suaminya.


Luna memasukki kamar bernuansa anjungan itu, dengan sang suami sedang terbaring memunggunginya.


“Kak, apa kakak ingin makan sesuatu?” tanya Luna.


“Tidak!” jawab Reza singkat, Luna mengerti sekarang ternyata menghadapi seseorang yang sedang merajuk itu sangat membutuhkan kekuatan dan kesabaran yang lebih.


Berpikir mungkin inilah yang dirasakan Rezaa setiap kali dirinya sedang kesal pada pria tampan itu.


Luna pergi ke dapur dan membuatkan makanan untuk suaminya, meskipun ia tak begitu pandai memasak tetapi ayahnya sangat memuji nasi goreng buatannya di rumah.


Setelah menyiapakan semua bahan yang ada, gadis itupun mulai memasak dengan cepat, dalam hitungan menit nasi goreng ala Laluna itupun telah siap.


“Kak, makanlah! Kau bilang kau ingin menghukumku!”


“Hukum saja aku asalkan perutmu terisi,” ucap Luna dengan sepiring nasi goreng di tangannya.

__ADS_1


“Luna, aku tidak ingin makan!” jawab Reza ketus. Membaut kesabaran Luna semakin menipis.


“Kak please! Jangan seperti anak kecil! Kau ini lebih kekanak-kanakan daripada Shian tau!” ejek Luna.


Tetapi Reza hanya diam saja tak menjawab apapun. Tetapi aroma nasi goreng buatan istrinya itu begitu membuat air liurnya menetes ingin keluar.


“Kak, makanlah! Jangan keras kepala!”


Tahan Reza! Tahan! Biarkan drama ini berlanjut hingga nanti malam! Bukankah kau ingin melihat istrimu merayumu? Batin Reza.


“Kak, aku akan membiarkanmu kelaparan jika kau tetap tidak mau makan!” bentak Luna mulai kehabisan kesabaran, lalu berniat meninggalkan Reza.


“Luna!” panggil Reza saat sang istri bersiap membuka pintu.


“Apa?” jawab Luna ketus.


“Bukankah aku yang sedang merajuk?”


“Iya, baiklah! Lalu apa yang harus kulakukan Kak?” tanya Luna kemudian terduduk di atas bed.


“Apa kau serius akan menerima hukumanku?” tanya Reza dengan raut wajah serius.


“Iya! Apa yang harus kulakukan?” mata dengan bulu lentik itu kini menatap wajah suaminya dengan intens.


“Kau harus membayar sakit hatiku karena tuduhanmu Luna!”


“Dengan apa Kak? Aku tidak punya uang!” ucap Luna memutar mata malas.


“Bukan dengan uang!” Reza menaikkan satu alisnya.


“Lalu?” tanya Luna dan perasaannya mulai tidak enak.


“Dengan tubuhmu!”


Luna memukul kepala itu dengan bantal berbentuk jangkar di atas bed.


“Aww!” pekik Reza.


“Sudah kuduga! Pasti kakak akan mengatakan itu!”


“Aku sudah berusaha sabar sejak tadi, mengira jika kau sedang marah padaku! Ternyata kakak hanya sedang mengerjaiku saja!”


“Menyebalkan!” dengus Luna kesal sementara Reza meraih pinggang itu dan mendudukkan Luna di atas pangkuannya.


“Luna, dengarkan aku!” ucap Reza sambil tertawa.


“Kau tau apa yang seharusnya seorang istri lakukan saat suaminya sedang merajuk bukan?”


“Iya kak, aku tau! Tapi kau hanya sedang mengerjaiku hari ini! aku tau kak, kau tak mungkin mudah merajuk seperti diriku!”


“Apakah aku salah , jika ingin dimanjakan oleh oleh istriku yang cantik ini hm?” Reza mencubit pipi berlesung itu membuat Luna tersipu malu.


“Luna, ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu,” ucap Reza masih dengan posisi yang sama, merengkuh pinggang ramping itu dengan erat.


“Apa kak?”


“Kontrak kerjaku telah turun, dan bulan depan aku harus kembali bekerja,” ucap Reza dengan serius, Luna pun terdiam seakan terkejut dengan apa yang tealh dikatakan oleh suaminya.


“Jadi gunakan waktu satu bulan ini dengan sungguh-sungguh sayang!”

__ADS_1


“Agar kau tidak menyesal saat kamar ini akan sepi tanpaku,” Reza mengecupi pipi itu tetapi bibirnya merasakan sesuatu yang basah. Luna telah menangis sejak sang suami mengatakan bahwa dia akan kembali bekerja lagi.


“Sayang, apa kau menangis?”


“Kak, itu artinya kita tidak akan bertemu selama sepuluh bulan?”


Reza mengangguk, memanyunkan bibirnya yang terlihat menggemaskan.


“Tapi kenapa kakak baru mengatakannya sekarang? Hikss!” Luna berbalik dan memeluk tubuh tegap itu, menghirup aroma parfum sang kapten dalam-dalam.


“Aku ingin mengatakannya sejak kemarin tetapi, kondisinya sangat tidak memungkinkan sayang, bukankah kau sibuk merajuk padaku beberapa hari ini?” Reza mengecupi bibir tipis itu.


“Kak, aku tidak ingin kau pergi!” Luna semakin mengeratkan pelukannya.


“Hey, jangan memelukku dengan sekencang itu sayang!”


“Kenapa kak? Apa kau tidak suka?” tanya Luna sesenggukan.


“Bukan begitu, aku takut khilaf sayang!”


Luna melepaskan pelukannya , disentuhnya wajah berdagu tegas itu, berharap jika pria itu tidak meninggalkannya, tetapi ia sadar jika dirinya hanyalah seorang istri yang seharusnya mendukung karir suaminya.


“Masih ada waktu satu bulan lagi kan kak?”


“Iya, mari gunakan waktu yang tersisa ini sebaik mungkin!” Reza merebehakan tubuh berkulit putih itu ke atas ranjang. Hingga tiba-tiba Ganis datang dengan membawa sesuatu.


“Duh ileh!”


“Kebiasaan gak nutup pintu! Kalian ini dasar!” ucap Ganis sambil memberikan sesuatu untuk Reza.


“Kebiasaan! Main masuk aja Nis! Ketuk pintu kek!” dengus Reza kesal.


“Dih! Orang masih siang gini, siapa sangka mau begituan!” ucap Ganis sambil tertawa.


Sementara Luna hanya meneyembunyikan wajahnya yang malu, karena ini sudah kesekian kalinya ia dan Reza tertangkap oleh Ganis.


“Mendingan keluar deh sekarang Nis!”


“Ih kak! Aku lagi ada perlu sama Luna tau!” sergah Ganis, menghampiri kakak iparnya tersebut.


“Apa Nis?” tanya Luna.


“Ayo, berikan pelayanan terbaikmu Lun!” ucap Ganis lalu memberikan sebuah baju ke tangan istri kapten itu.


“Apa ini? nggak ah!” tepis Luna menyingkirkan baju tipi situ.


“Ganis! Ayo keluar!” Reza menarik tangan adiknya.


“Bentar dong kak! Ini demi kenyamananmu juga loh!” jawab gadis tomboy itu.


“Nis, keluar sekarang juga! Mau ponakan nggak?”


“Iya–iya! mau!” Ganis pun meninggalkan sepasang suami istri itu sambil mengedipkan matanya pada Luna.


“Luna, apa itu?” tanya Reza mentap sebuah kain yang disembunyikan oleh sang istri.


"Bukan apa-apa kak," jawab Luna. Tetapi Reza segera menarik kain itu dan melihatnya.


"Wah, sepertinya Ganis sudah tumbuh dewasa Luna," ucap Reza memuji adiknya.

__ADS_1


"Kak, kau makan. Mau makan dulu tidak?" tanya Luna.


"Boleh sayang, untuk tenaga!" jawab Reza jahil.


__ADS_2