
Satu Minggu kemudian
Alex bergegas terbang ke Surabaya untuk menemui puteranya disusul dengan Kuppens yang babak belur setelah mendapatkan pukulan bertubi-tubi dari Alexander akibat kebohongan yang dilakukan oleh Sharon.
“Roose! Apa yang kau lakukan di sini? Mengapa tidak menemui Luna!” bentak Alex saat tiba di sebuah losmen tempat putranya menginap.
“Papa?” Reza yang tengah sibuk menghubungi Luna itu seketika meletakkan ponselnya tatkala melihat sang ayah datang bersama Kuppens.
“Papa menyusulmu kemari untuk menemui Pramuja dan meminta maaf kepadanya juga keluarganya,” ucap Alex menundukkan kepala karena rasa bersalah. Reza melihat Kuppens yang tengah berada di belakang ayahnya.
“Om Kuppens, apa yang terjadi dengan wajah anda?” tanya Reza yang sebenarnya juga masih memiliki bekas luka pukulan dari Yoshi seminggu yang lalu. Tanpa menjawab pertanyaan Reza, pria itu bersimpuh di kaki sang kapten.
“Om, jika anda meminta saya untuk melakukan drama lagi, saya mohon maaf. Saya tidak bisa melakukannya, karena kejadian kemarin kini pernikahan saya dengan Luna terancam hancur!” ucap Reza dengan tegas.
“Nak, om tidak akan menyusahkanmu seperti kemarin lagi, justru om sangat menyesali kejadian kemarin,”
“Sharon telah membohongi om, Reza! Dia tidak sakit!” ucap Kuppens dengan tubuh bergetar bersiap menerima resiko yang akan dia dapatkan dari Reza.
“Apa Om? Maksudnya kita semua tertipu!” Reza begitu tersulut amarah hingga menarik tubuh pria paruh baya itu dengan kasar.
“Om minta maaf atas nama Sharon Nak!”
Bugh
Sebuah pukulan mengujam ke tubuh Kuppens, Reza memberinya pukulan bertubi hingga membuat pria itu hampir pingsan.
“Roose! Cukup! Papa sudah terlalu banyak menghajarnya hari ini, hentikan! Atau dia bisa mati!” ucap Alex yang telah memutuskan persahabatannya dengan Kuppens.
“Ayah macam apa sebenarnya dirimu Om?”
“Aku begitu menghormatimu, aku begitu menganggapmu sebagai orang tua yang harus kuhargai, tetapi apa, nyatanya kau tetap saja tidak bisa mendidik putrimu dengan benar!”
“Dimana Sharon sekarang? Aku sungguh akan membunuhnya!” Reza beranjak dari tempat itu dan berniat menemui Sharon.
“Nak, om mohon! Jangan! Biar om saja menggantikan hukuman Sharon darimu!” mohon Kupens dengan wajah penuh luka dan lebam.
“Katakan dimana Sharon!” ucap Reza dengan bibir bergetar. Dia harus membayar rasa sakit hati yang dialami Luna akibat kelicikan gadis itu.
“Roose! Hentikan dulu emosimu!”
“Sekarang kau harus benar-benar menemui Luna! Bagaimanapun caranya! Jangan pikirkan hal lain, saat ini Lunalah yang terpenting!” pinta Alex.
Saat itu juga Reza melepaskan Kuppens yang sebenarnya juga telah menjadi korban oleh pebuatan puterinya sendiri.
“Om, urusan kita belum berakhir!” ucap Reza meninggalkan penginapan itu dengan amarahnya pada Kuppens yang belum tuntas.
“Roose, mengapa kau sangat santai sekali! Seminggu berlalu tetapi kau masih saja belum bisa mendapatkan maaf dari Luna!”
“Pa, kenapa papa menyalahkan Reza? Seharusnya papalah yang berkaca! Jika papa tidak percaya begitu saja pada om Kuppens, semuanya tidak akan menjadi serumit ini!”
"Kaupun mempercayainya dengan mudah Roose!"
"Karena Reza menghargai Papa!"
“Papa minta maaf Roose, papa telah banyak menyusahkanmu dan Luna, bahkan kini hubungan papa dan Pramuja pun tidak akan sama seperti dulu lagi,” ucap Alexander.
***
Yoshi bersiap untuk menghajar Reza lagi saat pria itu sedang berada di halaman rumahnya bersama sang ayah mertua.
“Kak, jangan menghajarnya lagi,” ucap Luna dengan wajah sendunya, seminggu ini Reza terus mengirimkannya berbagai keperluan untuk ibu hamil, tetapi tak satupun yang Luna sentuh.
“Lun, maafkan aku! Aku sungguh tidak terima jika Reza kembali padamu lagi!” sergah Yoshi dengan Ana yang memeluknya dari belakang untuk menahan suaminya itu.
“Kak, bagaimanapun dia adalah ayah dari anak ini!” jawab Luna, ia tau jika kakak iparnya bisa saja membunuh suaminya saat itu juga.
Yoshi terdiam dan kembali duduk sambil memperhatikan tiga orang pria itu sedang berbicara. Sementara Ana berganti memeluk adiknya. Ana adalah support system terbaik bagi Luna sejak mereka masih kecil.
__ADS_1
Entah apa yang sedang dibicarakan oleh Pram dan Alex, sesekali wajah kedua pria itu terlihat sangat serius sementara Reza masih tetap dengan wajah sendunya, ia juga merasakan duka yang sedang dirasakan oleh istrinya.
“Aku tau, Reza adalah pria yang dewasa meskipun terkadang sikapnya dimanfaatkan oleh orang lain, tetapi untuk ke depannya bapak berharap kau jauh lebiih bisa berpikir lagi dalam mengambil keputusan,” ucap Pram kepada Alex.
“Menghormati orang tua itu wajib Reza, tetapi jangan sampai itu menjadi boomerang untuk dirimu sendiri,” Pramuja yang telah memaafkan Alexander dan juga Reza, ia sadar terkadang Luna juga belum bisa berpikir dengan benar dalam mengambil sebuah keputusan penting.
Pram memberikan kesempatan pada Reza untuk menemui putrinya itu, tanpa ikut campur dalam keputusan terakhir anak dan menantunya tersebut.
Reza memasukki rumah itu, dengan pelan. Namun justru Yoshi lagi yang menghadanganya.
“Mau apalagi lo kesini?” gertak Yoshi.
“Yosh, kalo lo mau pukul gue lagi, gue terima! Tapi lo harus tau kalo gue itu suami sah Luna, gue lebih berhak atas Luna daripada elo yang cuma kakak iparnya,” ucap Reza dengan nada halus.
“An, gue minta maaf ya,” ucap Reza kepada kakak kandung Luna itu, namun Ana hanya menggagukkan kepalanya, ia masih sibuk menahan Yoshi untuk tidak gegabah lagi, sementara Larissa sedang membawa cucu-cucunya untuk pergi dari rumah itu sementara waktu.
Yoshi kembali duduk bersama Ana, ia ingat perkataan sang adik jika Luna tidak ingin dirinya kembali melukai Reza.
Pria dengan wajah lusuh itupun memasukki kamar istrinya. Dilihatnya Luna sedang duduk menghadap jendela, tanpa tau Reza sedang berjalan ke arahnya.
“Sayang!” ucap Reza perlahan, Luna pun menoleh, seminggu lebih tidak melihat gadis itu, membuat Reza semakin merindukannya.
“Luna, maafkan aku!” Reza bersimpuh di kaki istrinya, sementara Luna masih mengarahkan pandangannya pada luar jendela.
“Sayang, maafkan Daddy!” Reza membelai perut Luna dengan lembut, tetapi gadis itu menepisnya.
“Jangan menyentuhnya!” ucap Luna kasar.
“Ijinkan aku mengatakan padanya jika aku adalah ayahnya sayang!” Reza menangis menahan sesak di dadanya.
Sebesar itukah kesalahannya pada Luna hingga untuk menatap wajahnya saja Luna tidak mau.
“Kak, aku tidak ingin melihatmu lagi! Sebaiknya kembalilah pada Sharon! Dia lebih membutuhkanmu!”
“Tidak sayang!”
“Kak, aku tau mungkin kau hanya ingin menolong Sharon, tetapi karena sikap penolongmu itu kau telah menyakitiku, aku tak pernah perduli dengan keadaan Sharon yang sebenarnya, tetapi satu yang aku tau saat ini."
"Kau lebih memikirkan perasaan orang lain dari pada perasaanku!” ucap Luna sambil menangis, sekian lama ia menahan air mata itu untuk keluar, dan kini tak dapat terbendung lagi.
“Sayang, aku menyesalinya. Aku menyesali perbuatan bodohku itu! Tolong beri aku kesempatan lagi Luna, demi anak kita."
"Kau boleh membenciku asal jangan pisahkan aku dari bayi yang bahkan belum terlahir ini,” Reza terus menatap wajah istrinya meskipun Luna sama sekali tidak melihat pria itu.
“Pergilah Kak, aku masih ingin menyendiri dulu,” pinta Luna.
“No Luna, jangan usir aku!”
“Kak, please! Jangan membuatku semakin tertekan! Aku masih ingin menata hatiku!” ucap Luna dan akhirnya membuat Reza meninggalkan tempat itu dengan lunglai.
Dia tidak ingin membuat kandungan Luna terancam dengan kehadirannya.
Dua hari kemudian
“Luna, aku harus kembali bertugas. Hari ini adalah hari terakhirku berada di sini, apa kau mengijinkanku untuk pergi?” tanya Reza saat melihat gadis itu sedang duduk di kursi tamannya.
Luna yang terlihat acuh sebelumnya seketika menatap wajah suaminya, wajah yang sebenarnya sangat ia rindukan.
“Kakak akan pergi ke kapal lagi?” tanya Luna sedikit memperdulikan suaminya.
“Iya sayang, aku akan pergi besok. Jika kau keberatan aku tak akan melakukannya,” jawab Reza, ia ingat jika masa kerjanya memang tiba. Luna mematung, ia ingin melarang suaminya itu untuk pergi tetapi rasa sakit hatinya begitu mengekangnya.
“Pergilah Kak!” perintah Luna memalingkan wajahnya agar Reza tidak mengetahui jika dirinya sedang menangis.
“Apa kau yakin? Lalu bagaimana jika kita tidak akan bertemu lagi?” Reza menatap netra itu, berharap masih ada cinta untuknya.
“Apa yang kau katakan kak? Jika kau ingin pergi, maka pergilah! Biarkan takdir yang mempertemukan kita lagi!”
__ADS_1
“Lalu bagaimana jika takdir tidak mempertemukan kita lagi?” perasaan tertancap ribuan panah Arjuna itu kembali menyerang Reza, ia tak menyangka jika Luna akan semudah itu melepaskannya meskipun dengan benih yang kini telah tertanam di rahimnya.
“Maka biarkan takdir menjalankan tugasnya itu,” Luna memejamkan matanya. Sebenarnya kata itu sungguh menyakiti dirinya sendiri.
“Baiklah jika ini maumu, jawaban inilah yang kutunggu, sekarang aku bisa pergi dengan tenang,”
Reza memeluk tubuh yang mulai berisi itu, dengan erat dan dalam, lalu ia menciumi perut Luna, gadis itu sama sekali tidak berontak, ia ingin membalas pelukan suaminya tetapi, tertahan oleh egonya.
Reza telah banyak berjuang untuk mendapatkan maaf dari Luna akhir-akhir ini, namun tetap saja Laluna tak tersentuh.
“Sayang, jaga dirimu baik-baik!” Reza mencium kening istrinya.
“Nak, Daddy tidak tau berapa jumlahmu dan apa jenis kelaminmu, tetapi satu yang Daddy harapkan. Jaga Mommy di saat Daddy tidak ada ya,” Reza mencium perut yang masih rata itu kemudian berlalu meninggalkan Luna.
Luna menatap kepergian Reza dengah air mata yang mengalir, ada ketakutan tersendiri saat Reza mengatakan bagaimana jika mereka tidak akan bertemu kembali.
****
Satu bulan kemudian
DI kapal tempat Reza bertugas.
“Captain! Lapor! Terjadi robekan pada lambung kapal!” Charles dengan kepanikannya melapor kepada nahkoda itu.
Reza segera menatap layar navigasi, dan menuju ruang mesin, melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Gunung es? Aku menabrak gunung es?gumam Reza kembali naik ke Anjungan.
Badan kapal itu terkoyak karena menyerempet gunung es yang begitu tajam di perairan Alaska, wilayah Kutub Utara.
Reza segera menyalakan signal darurat .
Mayday! Mayday!
Untuk mendapatkan bantuan dari daratan atau radar dari kapal lain di sekitar wilayah itu.
Sebagian air telah masuk ke lantai dasar kapal memenuhui ruang mesin, awalnya Reza tak menyangka jika hal ini akan terjadi tetapi keadaan cuaca, badai dan tekanan angin yang tak stabil menyebabkan hal apapun bisa terjadi.
“Capt, apa yang harus kita lakukan?” para officer dan tim darurat mulai panik, pengumuman emergency pun berkumandang, para tamu dan kru mulai mnegikuti arahan dari rescue team.
“Apa kita akan tenggelam Capt?” tanya Charles dengan keringat yang mulai keluar.
“Ya satu jam lagi!” jawab Reza melakukan perhitungan, membutuhkan waktu kurang lebih satu jam untuk membuat sebuah kapal pesiar berpenumpang 1000 lebih untuk benar-benar terisi penuh dengan air dan tenggelam.
“Persiapkan semuanya!”perintah Reza, mulai mengumukan pada seluruh penumpang untuk bersiap menaikki sekoci dan meninggalkan kapal itu.
Sekoci mulai diturunkan satu persatu untuk mengevakuasi para tamu.
Keaadaan semakin tak terkendali, air laut mulai memasukki lantai kedua paling dasar.
Ladies and gentlemen this is your Captain speaking from the bridge, I decide to all of you to
Abandon the Ship!
(Tuan dan nyonya, Saya Kapten mengumukan dari anjungan dan memerintahkan anda semua untuk
Meninggalkan kapal!)
Alarm dibunyikan, suaranya melengking memekikkan telinga.
Reza berdiri di anjungan memperhatikan semua sistem, sesuai prosedur kemaritiman ia memastikan jika dirinya adalah orang yang paling terakhir meninggalkan kapal setelah semua awak dan penumpang berhasil dievakuasi.
Waktu berlalu, ketinggian air semakin meningkat hampir mencapai lantai tujuh anjungan tempat Reza berdiri.
God, I did my best, now it's your turn! gumam Reza.
(Tuhan, aku telah melakukan yang terbaik, sekarang giliranmu!)
__ADS_1
Hai gaes, ini episode spesial ya. Nulisnya deg-degan, sumpah🤧🤧