I LOVE YOU CAPT !!

I LOVE YOU CAPT !!
BERHATI-HATILAH


__ADS_3

“Kak, kau berjanji akan mengatakannya,” ucap Luna keluar dari ruang shower, dia dengan rambut basahnya menghampiri sang suami yang masih berada di atas ranjang.


“Kau curang Luna,” ucap Reza, memperhatikan sang istri yang sedang mengeringkan rambut dengan handuk, lalu berganti dengan hair dryer.


“Curang bagaimana?” Luna menghentikan kegiatannya, dan meletakkan hair dryer pada holder.


“Aku masih belum selesai, tetapi kau sudah mengakhirinya,” Reza terbangun dan melihat sang istri hanya yang hanya mengenakan handuk, jujur saja hal itu kembali membuat insting liarnya yang belum tersalurkan secara penuh kembali naik.


“Kak, lihatlah sudah jam berapa ini?” Reza menunjuk jam dinding berbentuk jangkar itu.


“Masih ada tiga puluh menit lagi untuk melanjutkan, “ Reza mengedipkan satu matanya melihat Luna yang masuk ke ruang dressing.


“Kak, ayolah! Katakan!” Luna kembali mengingatkan sang suami akan perjanjian mereka.


Gadis itu pun keluar dari dressing room dengan membawakan seragam untuk suaminya.


“Kak, ayo bangun!” ucap Luna saat melihat suaminya masih berada di atas ranjang.


“Haruskah aku meminta tolong pada Charles, untuk stand by di bridge,” gumam Reza matanya sungguh tidak bisa terlepas dari istrinya yang belum juga berganti pakaian tersebut.


“Untuk apa? Bukankah Chief Charles akan off hari ini?” tanya Luna heran.


“Aku masih ingin bersama denganmu Luna,” ucap Reza menyentuh sesuatu miliknya yang masih tegak.


“Kak, ayolah cepat katakan! Kau sudah berjanji! Dan cepat bersiap! Aku sudah menyalakan air hangat untukmu,”


“Tapi, aku sedang malas hari ini,” jawab Reza.


“Ayolah Kak, jangan bermalas-malasan!” Luna berniat memberikan setelan seragam suaminya, namun ia malah tersandung mat yang barada di bawah ranjang hingga kembali terjatuh ke pelukan Reza.


“Kau yang membuatku malas bekerja Luna,” ucap sang kapten. Sambil menarik handuk yang melilit tubuh istrinya. Luna pun menarik kain itu kembali, ia tau waktu hanya tinggal bebrapa menit lagi.


“Kak, jangan menggodaku. Aku sudah tidak sabar untuk mendengarkanmu!”


“Kau yang menggodaku sayang,” Reza pun bangkit dari tempat tidurnya kemudian meraih pakaian ditangan istrinya lalu mengecup bibir merah Luna sebelum ia masuk ke ruang shower.


Luna membereskan pakaiannya yang berceceran di lantai, sambil memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada Bumi dan Sharon. Dia merasa Bumi baik-baik saja sejak pertemuan mereka yang terakhir.


Beberapa menit kemudian Reza keluar dari dressing room dengan pakaian yang sudah lengkap dan rapi, Luna selalu saja terpana saat melihat suaminya dalam atribut lengkap seperti itu. Baginya Reza terlihat seribu kali jauh lebih tampan.

__ADS_1


“Aku tau kau sedang memperhatikanku Luna,” ucap nahkoda itu dengan senyuman tersungging di bibirnya.


“Iya Kak, sedikit!” jawab Luna lalu memeluk Reza dari belakang.


“Kenapa dari belakang sih!” gumam Reza saat sang istri bergelayut manja pada punggungnya.


“Aku menyukai punggungmu Kak! Sangat hangat!” Luna menempelkan wajahnya pada punggung bidang itu, aroma parfum maskulin begitu menenangkan jiwanya.


“Jika kau memeluk dari depan akan jauh lebih hangat lagi Luna,” Reza menggenggam tangan putih yang melingkar pada pinggangnya tersebut.


“Lun, dengarkan aku. Mulai saat ini kau harus menjauhi Bumi,” ucap Reza.


“Kakak selalu bilang seperti itu, aku bosan mendengarnya,” Luna berdecak kesal.


“Kali ini berbeda, dia jauh lebih licik dari biasanya jika kau tau,” Reza membalikkan tubuhnya dan memperlihatkan wajahnya pada Luna jika ia sedang benar-benar serius.


“Apa kak? Apa yang terjadi pada Bumi dan Sharon?” Luna sadar jika suaminya sedang tidak bercanda, meskipun memang pria itu memang tidak pernah bercanda.


“Mereka bekerja sama Luna, mereka sedang merencankan sesuatu yang buruk untukmu, dan mungkin juga untukku. Aku bisa menjaga diri, tapi kau?”


“Apa kau bisa menjaga dirimu?” Reza merangkup wajah mungil istrinya.


“Itulah sebabnya aku memindahkan function dan kabinmu secara tiba-tiba, lagipula aku sungguh tak nyaman dengan hubungan backstreet kita selama ini,”


“Luna, aku memiliki cctv di setiap area di kapal ini, dan jika hanya untuk memperhatikan Bumi dari kejuahan, itu bukanlah hal yang sulit. Apa kau mau melihat rekaman cctv?” Reza mengeluarkan ponselnya. Dan Luna hanya mengikuti arahan sang suami.


“Lihatlah ini, perhatikan baik-baik apa yang sedang Sharon bicarakan dengan pemuda itu,” ucap Reza sambil memperbesar layar yang menunjukkan Sharon dan Bumi sedang berbincang secara sembunyi-sembunyi.


“Kak, aku tau ini Sharon, tetapi benarkah pria ini Bumi? Dia mengenakan masker dan topi, apa kakak yakin?” Luna meragukan praduga suaminya.


“Sayang, aku tau postur tubuh Bumi, ini Bumi! Aku yakin!” Reza mencubit pipi istrinya dengan gemas.


“Wah kakak hafal sekali dengan postur tubuh Paku Bumi ya!” sahut Luna.


“Ya, jujur saja aku sudah sering memperhatikan pria ini, sejak aku mengira kau dan Bumi berpacaran dulu,” ucap sang kapten.


“Kak, kau sangat manis. Kukira dirimu hanyalah sebongkah es batu yang tak akan pernah mencair,” goda Luna.


“Tapi, jika hanya berdasarkan postur tubuh, itu tidak membuktikan apa-apa Kak!” Luna kembali menyanggah suaminya.

__ADS_1


“Kau ini ingin membela sahabatmu atau apa Luna, kenapa sepertinya kau sama sekali tidak percaya padaku!” Reza mulai tersulut emosi setiap kali membahas Bumi dengan istrinya.


“Kak, aku hanya bertanya, bukan membela siapa-siapa,” jawab gadis itu, membela dirinya sendiri.


“Baik, akan kutunjukkan. Coba perhatikan saku dada Bumi baik-baik!” Reza memperbesar lagi layar yang mengarah pada Bumi.


“Di sana ada id card dan kunci kabin atas nama Paku Bumi!” meskipun terlihat samar-samar, namun susunan huruf pada nama dada tersebut terlihat jelas jika nama Bumi yang tertera di sana.


“LEE, PAKU BUMI..” Luna mengeja nama itu, ia baru sadar jika ternyata apa yang dikatakan oleh suaminya benar. Dan nama keluarga Bumi adalah Lee, mengapa marga itu seperti tak asing di mata Luna, gadis itu kembali berfikir dan mengingat-ingat, namun hasilnya nihil. Pikirannya sedang tertuju pada Bumi dan Sharon saat ini.


“Bagaimana Luna?” tanya Reza.


“Benar Kak! Itu Bumi, ternyata benar apa yang kakak lihat,” Luna menyerah pada suaminya.


“Mulai saat ini, kau harus berhati-hati pada Bumi. Sahabat bisa saja berubah seiring berjalannya waktu Luna, aku juga tidak dapat memastikan tentang apa yang akan Bumi lakukan padamu atau pun padaku.”


“Yang jelas, kau harus berhati-hati! Jangan terlalu sering berinteraksi dengannya,” ucap sang nahkoda itu sebelum akhirnya, berpamitan untuk berangkat bekerja.


“Baik Kak,” ucap Luna, walaupun sebenarnya ia ingin memastikan jika sahabatnya tersebut sungguh telah merencanakan sesuatu dengan Sharon.


Di tempat lain


Hari ini kapal sedang bersandar di port Halifax, sebuah kota dengan pemandangan yang indah dan suhu yang sejuk, terdapat museum ternama di sana. Salah satunya adalah museum titanic, yaitu mesum yang menyimpan barang-barang yang berkaitan dengan kapal titanic, dan di sanalah Sharon dan Bumi bertemu untuk menyusun rencana mereka.


“Bumi, ayo berpikirlah! Waktumu hanya tinggal dua minggu lagi! Dan setelah ini kau akan dibuang ke kapal lain!” ucap Sharon sambil meneguk beer di tangannya.


“Apa yang bisa kita lakukan Nyonya? Saya hanya kru di kapal ini, saya tidak bisa meminta perpanjangan waktu untuk tetap tinggal,” jawab Bumi.


“Apa kau tau akan ada event crew party besok?”


“Ya, saya tau. Tapi, anda adalah aguest, mana mungkin dijinkan untuk ikut crew party?” Bumi menatap Sharon yang terus meneguk sebotol beer tersebut.


“Dasar bod*h!”


“Bukan itu maksudku!”


“Lalu apa Nona?” Bumi tak mengerti.


“Apa kapten akan hadir dalam acara tersebut?” Sharon menyipitkan matanya, sepertinya ia sudah memiliki rencana.

__ADS_1


“Biasanya, kapten akan hadir hanya untuk memberikan sambutan saja, setelah itu dia akan kembali ke kabinnya.


“Bagus! Itu akan menjadi kesempatan emas untuk kita. Kau akan mendapatkan Lunamu dan aku akan mendapatkan Rooseveltku,” senyuman tersunggih di bibir wanita seksi itu.


__ADS_2