I LOVE YOU CAPT !!

I LOVE YOU CAPT !!
Swarovsky


__ADS_3

Setelah pertempuran panjang itu, Reza dan Luna pun terlelah, hingga melupakan jika sang ayah sedang menunggu mereka di lobby hotel.


Tok


Tok


Seseorang mengetuk pintu kamar pasangan suami istri itu, kemudian Luna tersadar lalu membangunkan Reza.


“Kak, bangun!” ucap Luna sambil menarik-narik lengan sang suami, tetapi Reza masih saja memejamkan matanya, tubuhnya terasa remuk redam akibat kelelahan.


“Kak!” Luna semakin mengeraskan suaranya, tetapi sepertinya kali ini Reza benar-benar susah untuk dibangunkan.


Akhirnya gadis itupun bangkit dari tempat tidur dan membukakan pintu.


“Papa!” Luna terkejut saat sang ayah mertua sedang berdiri di depan pintu sedang menunggu dirinya dan Reza.


“Luna, ini sudah jam berapa? Papa menunggu kalian sejak delapan jam yang lalu!” ungkap Alexander, sambil menggelengkan kepalanya.


“Ma-maaf Pa!” ucap Luna sambil menggaruk tengkuknya.


“Dimana Reza?” tanya Alex sambil melongok tempat tidur yang seperti kapal pecah itu.


“Kak Reza masih tidur Pa!” jawab Luna. Alexpun masuk ke kamar untuk melihat sang putra. Sesuai perkataan Luna, pria itu masih terlelap, bahkan belum mengenakan pakaian.


“Roosevelet!” Alex memanggil nama putranya, agar pria itu segera bangun.


“Sejak tadi Luna sudah mencoba membangunkannya Pa, tetapi Kak Reza tetap tidak mau bangun,” kata Luna, merasa tidak enak pada ayah mertuanya.


“Biar Papa yang mengurusnya, Lun.”


Alex menggoyang-goyangkan tubuh sixpack itu, agar sang empunya terbangun.


“Roose!”


“Bangun! Kita sudah terlambat!” ucap Alex memencet hidung mancung itu hingga membuatnya memerah.


“Roosevelt! Astaga anak ini tidur atau pingsan!”


Alexander mulai tak sabar, akhirnya ia memercikkan air ke wajah sang putera.


“Reza, jika kau masih tidak bangun juga, papa akan membawa satu ember air untuk mengguyurmu!”


Reza pun menggeliat, tetapi masih belum membuka matanya.


“Iya sayang. Aku masih lelah. Nanti saja kita lanjutkan lagi!” ucap Reza tanpa sadar, membuat Alex kebingungan.


“Roosevelt, ini papa! Apanya dilanjutkan?” tanya Alex, sementara Luna hanya menundukkan kepalanya, menahan malu dan kahwatir jika sang suami akan mengatakan hal yang lebiih konyol lagi.


“Reza!” Alex semakin meninggikan suaranya.


“Iya sayang, iya! Kenapa bernafs* sekali hari ini membuatku kwalahan saja!”

__ADS_1


“Astaga Reza! Ini papa!”


“Kau yang membuat papa kwalahan menunggumu yang tidak bangun-bangun!” Alex semakin kehilangan kesabaran.


“Buka matamu Kak, papa ada di sini! Jangan bicara yang tidak-tidak!” bisik Luna pada telinga suaminya.


Reza mengerjapkan matanya perlahan lalu kembali menggeliat, meregangkan persendiannya. Setelah kesadarannnya penuh, dilihatnya sang ayah sedang berdiri di dekat tempat tidur dengan ekspresi datar.


“Apanya yang bernafsu sekali Reza?!” sergah Alex sambil menyilangkan kedua tangannya.


“Tidak Pa, Reza hanya sedang bermimpi!” Reza tersenyum memaksa.


“Ya sudah ayo siap-siap! Papa tidak ingin kalian terlambat lagi!” perintah Alex.


Alex pun menunggu pasangan suami itu di dalam kamar, ia tak ingin penantiannya gagal lagi seperti sebelumnya,


***


Tiba di sebuah kllinik milik seorang obgyn ternama di kota itu, sang dokter berbincang-bincang dengan Reza dan Alexander. Sementara Luna hanya memperhatikan saja, ia tidak begitu mengerti bahasa Belanda.


Setelah melakukan pemeriksaan melalui USG dan uji kwalitas ******, dokter mengatakn jika semuanya baik-baik saja, tak ada masalah serius pada organ reproduksi kedua orang tersebut, Luna bernafas lega, ternyata apa yang ditakutkannya selama ini tidak terbukti.


“Kak, apa dokter itu sungguh tidak berbohong?” tanya Luna memperhatikan laporan kesehatannya.


“Aku rasa dia cukup ahli Luna, dan tidak mungkin melakukan kesalahan,” ucap Reza menggengam tangan istrinya.


“Jangan khawatir, hanya masalah waktu saja, tenanglah!” ucap Reza menenagkan sang istri.


“Pantas saja, kau berbicara ngawur saat papa membangunkanmu tadi Kak!”


“Membuatku malu di hadapan papa saja!” Luna mengerucutkan bibirnya.


“Kau yang membuatku seperti itu Luna!”


“Tidak, kakak juga sama saja!”


“Ya baiklah, tetapi teruslah sepertri itu, karena aku menyukainya!” goda Reza mencium pippi sang istri.


Luna menonyor kepala berambut mowhak itu.


Ponsel berdering


“Yah halo!” jawab Reza menerima panggilan dari Yoshi.


“Ngapain nelpon? Gak penting gue hajar!” ucap Reza terdengar suara tertawa Yoshi dari seberang sana.


“Za, gimana?” tanya Yoshi.


“Gimana apanya?”


“Itu Lo! Capek gak Za?” Yoshi terkekeh, ia sedang membahas ramuan hijau yang salah kirim kemarin.

__ADS_1


“Capek, sampek sempoyongan gue gak bisa bangun Yosh!” ucap Reza melirik Luna yang sedang duduk di sampingnya.


“Gile! Sisain dikit buat gue Za, solanya itu kemarin sebenarnya salah kirim!”


“Salah kirim bagaiamana?”


“Itu harusnya bukan buat elo tapi buat gue!”


“What?” Reza menggantung teleponnya dan menatap Luna.


“Kak, ada apa?” tanya Luna.


“Sayang hijau-hijau yang kemarin itu, apakah masih tersisa?” tanya Reza pada istrinya.


“Kan sudah habis Kak, bukankah kakak yang telah menghabiskannya?”


****


Tiga hari kemudian,


Reza dan Luna bersiap untuk kembali ke tanah air, selama tiga hari ini mereka tinggal di apartemen milik Alex, pria paruhbaya itu memilik aprtemen di kota itu yang terletak di area downtown.


“Kak kopermu rusak, rodanya tidak bisa berputar!” ucap Luna saat sedang memasukan pakaian-pakaian suaminya.


“Ah iya, tapi aku masih punya koper lain Luna, aku akan mengambilnya!” pria tampan itu segera naik ke lantai atas dan mengambil barang jadulnya dulu.


Reza masih menyimpan barang-barang lamanya di sana terutama saat masa pendidikannya dulu.


“Ketemu?” tanya Luna melihat sang suami membawa sebuah koper kuno tetapi masih terlihat bagus dan terawat.


“Ini sayang,” Reza pun meletakkan benda itu di atas bed agar sang istri tidak keberatan mengangkatnya.


“Luna, aku akan menemui papa di luar untuk bersiap ke bandara,” pesan Reza dan Luna pun mengangguk.


Luna mulai membuka koper usang itu, terdapat beberapa saku di dalamnya.


Tanpa sengaja ia menemukan foto-foto Reza saat masih menjabat sebagai crew office clerk dulu.


Ah Kak Reza, dia terlihat sangat konyol di sini! Gumam Luna melihat foto sang suami bersama teman-temannya dulu, Jenny, Evelyn , Dianna dan kakaknya, Ana dalam satu bingkai.


Luna mulai memasukkan pakaian-pakaian itu, namun ia merasa ada yang mengganjal tangannya saat kulit itu menyentuh sesuatu di saku koper terdalam.


Apa ini? kotak biru berpita putih dengan logo Swrovsky?


Luna membuka kotak itu perlahan, dan benar sesuai tulisannya, di dalamnya terdapat sebuah gelang berlian meskipun termakan usia tetapi keindahannya tetap tidaklah pudar.


Gelang siapa ini?Dan mengapa Kak Reza menyimpannya di sini? Jika ia berniat memberikannya pada seseorang mengapa dia masih menyimpannya? Tidak mungkin jika ia memakainya untuk dirinya sendiri, bukan? Gadis mana lagi yang pernah singgah di hidupmu Kak? Luna bermonolog, ia mulai tak tenang.


“Sayang, sudah siap?” tanya Reza memasukki kamar, dilihatnya Luna masih sibuk dengan persiapan untuk pulang.


“Kak, ini punya siapa?” Luna menunjukkan gelang berkilauan itu, sementara Reza seketika terdiam, membisu. Mengapa ia bisa melupakan jika kotak itu masih berada di dalam kopernya, hingga Luna mengetahuinya.

__ADS_1


__ADS_2