I LOVE YOU CAPT !!

I LOVE YOU CAPT !!
Rumah Hantu, eh Rumah Mertua


__ADS_3

Luna POV


Tiba di kediaman Vandenbergh. Mataku terpukau melihat Bangunan belanda modern itu. Sebuah rumah bergaya Eropa dengan pagar fancy dan pepohan rindang di sepanjang hallway menuju pintu utama, beberapa bunga tulip artificial menghiasi taman indoor di dalam rumah kaca, benarkah kami sedang berada di Indonesia? Ataukah pintu doraemon yang sudah mengantarku ke Negeri kincir angin. Bagaimana mungkin mereka mendesain rumah itu dengan segalanya yang merupakan ciri khas Belanda.


"Eh kakak ipar udah dateng!" Ganis berlari ke garasi menyambut kedatangan kami. Dia memelukku dan berbisik "selamat datang di rumah mertua Laluna, wkwk."


"Dasar kalagondang, seneng kan kamu Nis?” aku membalas bisikannya.


"Mari kita lihat apakah menantu keluarga Vandenbergh ini mampu bertahan di rumah ini atau tidak Cirippah?" Ganis memicingkan matanya, sambil tertawa jahat.


"Dengar adik ipar, akulah yang akan mengambil alih kekuasaan di rumah ini, HAHAHA!" aku membalasnya dengan tawa kencang tapi hanya dapat didengar oleh Ganis.


"Persiapkan mentalmu untuk mengepel seluruh lantai marmer di rumah ini secara manual Kak ipar, hihihihi!!!"


"Kau akan menyesal telah bersedia menjadi istri kakakku ratu lebah!" tambahnya.


"Kau yang akan menyesal karena telah


memilihku sebagai kakak iparmu Ferguso!"


Siaal, obrolan tak bermutu ini semakin


menjadi-jadi.


"Hentikan ocehanmu itu Suketi, ayo masuk


ke Neraka sekarang juga!" Gadis itu menenteng koperku sambil menahan perutnya yang bergetar karena menahan tawa.


Kak Reza tersenyum memperhatikan gerak-gerik kami sambil menggelengkan kepalanya, apakah ia mendengar percakapan konyolku dengan adiknya? Aku tak perduli, dia suamiku sekarang jangan harap aku akan


memperlakukannya layaknya atasanku seperti di kapal kemarin.


"Kak, gimana kemarin?" Ganis beralih menatap Kak Reza.


"Gimana apanya Nis?"


"Yang diangetin kemaren?" Ganis


menatapku sambil tersenyum mesuum dan akupun tersadar, jadi Ganis tau tentang perbuatan lancangku pada kakaknya.


"Oh, aman," jawab Kak Reza santai, terang


saja aman. Bukankah aku yang kini merasa tidak aman karena menjadi bahan obrolan kakak-baradik ini.


Memasukki pintu utama rumah.


Beberapa maid menyambut kami dan


membawakan barang bawaan. "Selamat pagi


Den Roosevelt," sapa mereka pada Kak Reza.


"Selamat pagi Nona Roosevelt," astaga


mereka memanggilku dengan Nona? Ah,


mengharukan. Mimpi apa aku semalam


hingga pagi ini aku terbangun dan terlahir


sebagai noni belanda.


Aku pun menjawab sapaan istimewa itu


dengan senyuman seanggun mungkin.


"Eh, menantu sudah datang," sapa seorang


wanita cantik yang kupanggil dengan ibu mertua itu.


"Pagi tante.." entah harus memanggilnya


dengan apa, jika tidak cocok pasti beliau


akan mengoreksiku.


"Mama dong sayang, panggilnya." Sesuai


dugaanku.


"Baik Ma," akupun duduk di ruang keluarga rumah itu.


Para maid membawa koperku dan Kak Reza ke lantai atas, entah ada berapa lantai di rumah ini, yang jelas sepertinya kamarku berada sangat terpencil dari kamar-kamar yang lain.


"Sayang, bagaimana semalam?” tanya mertuaku padaku, sungguh tidak ingin basa


basi dulu, mengapa ia langsung tancap gas


seperti itu, apa ia tidak tau bagaimana

__ADS_1


rasanya dipermalukan di hadapan suami


dadakan dan sahabat yang tiba-tiba berubah


menjadi adik ipar.


"Ma, jangan terlalu vulgar dong, kasian itu


anak orang bisa minta pulang ke rumah


ortunya gara-gara malu!" celetuk Ganis,


berniat membantu tetapi malah semakin


membuatku malu.


"Ceritain dong Lun, gimana tadi malam!"


benar saja, kalagondang ini tidak sungguh


sungguh membantuku.


"Malam? Semalam ya Ma?" berpura-pura tidak mengerti.


"Uh.." aku mulai gelagapan menjawab.


"Semalam, baik-baik saja Ma, hehe." Astaga, jawaban apa ini. Pelayan membawakan minuman untuk kami, huh akhirnya pengalihan datang juga, aku pun meneguk segelas air itu, dan Kak Reza hanya memperhatikanku sejak tadi, tanpa membantu menjawab tanpa membantu membuat pengalihan isu atas serangan ibu dan adiknya padaku.


"Haus banget ya Lun?! Eh kak ipar. Abis


ngeronda semaleman sih! Hehe," Ganis lagi-lagi memojokkanku dalam situasi yang sejak tadi sudah tersudutkan.


"Ekhmm.. Ma, Reza sama Luna pamit ke kamar dulu ya!" akhirnya suamiku yang tampan itu memecahkan kecanggungan juga.


"Oh iya sayang, kalian pasti capek ya. Ya sudah istirahat dulu deh kan abis begadang semalem,hehe." Ya ampun, apa ayah mertuaku juga sevulgar ini orangnya, jika iya, semoga hari ini aku tidak bertemu dengannya.


"Masih pagi mau begadang Lun?" bisik Ganis mencuri start langkahku naik tangga.


"Awas kau kalagondang, aku akan membuatmu terusir dari rumah ini!" balasku tetapi ia telah berlari menuju lorong kamar lain.


***


"Luna, ini kamar kita. Sebelumnya ini kamar tamu tetapi mama menyulapnya sebagai kamar pengantin baru sekarang," ucap Kak Reza sambil memperhatikan ruangan ini, letaknya cukup jauh dari ruangan lain, apakah kamar pengantin baru harus selalu seperti ini, agar penghuni lain tidak terganggu dengan suara-suara tertentu.


"Apa kak Reza juga baru tau tentang kamar ini?"


"Ya, lebih tepatnya aku baru menempatinya sekarang. Aku memiliki kamar sendiri di


"Luna, tanganmu sangat dingin. Apa kau


gugup?" pertanyaan ini semakin membuatku


gugup saja.


"Iya Kak, aku belum pernah bergandengan


tangan dengan lawan jenis sebelumnya, " jawabku jujur.


"Benarkah? Jadi benar, kau tidak berpacaran


dengan Bumi selama ini?"


"Euh Bumi?" mengapa tiba-tiba Kak Reza membawa nama Bumi.


"Ya,kupikir Bumi menyukaimu Luna," ucap


Kak Reza sambil tetap meggenggam tanganku


menyusuri koridor menuju lantai tiga.


"Ah, itu tidak mungkin Kak, kenapa kakak berkata seperti itu?"


"Feeling. Just feeling, bukankah hanya lelaki


yang tau mata lelaki lain berfungsi?" ekspresi


wajahnya sangat datar. Aku seperti sedang


menghhadapi sosok kaptennya sekarang.


"A-aku dan Bumi hanya berteman kak, dan


dia pun juga hanya menganggapku sebagai


rekan kerja biasa sebab kami berada dalam satu bidang yang sama.


"Bukankah Bumi cukup manis?"


"Iya Kak, dia memang manis meskipun menyebalkan," jawabku santai, tapi kupikir genggaman tangan Kak Reza, semakin kencang, dan sorot mata itu lurus ke depan tetapi, rasanya ia seperti sedang menatapmu dengan intens melalui pantulan kaca koridor rumah ini.

__ADS_1


"Kak.. "


"Hmm," jawaban paling membosankan sedunia adalah deheman.


"Kak, tanganku sakit," ucapku, dia pun melonggarkan cengkraman tangannya.


"Maaf Luna.. " jawabnya singkat dengan hembusan nafas panjang.


Tiba di kamar Kak Reza.


"Wah, ini kamar kakak?" astaga, ini anjungan atau kamar. Mengapa desainnya mirip seperti bridge, yaitu tempat navigasi berpusat dimana kapten bertugas di kapal.


"Ya, kenapa?" tanyanya.


"Ini seperti bridge.." aku masih mengagumi kamar ini dengan jendela khas kapal yang terhubung ke rooftop.


"Kau menyukainya?"


"Iya kak, aku masih tidak menyangka jika ada arsitek yang mampu mendesain ruangan seunik ini."


"Luna.." Kak Reza memanggil namaku sambil duduk di atas bed.


"Ya Kak," aku pun mendekat padanya tetapi mataku masih berkelana di sekeliling ruangan.


"Luna, bisakah kita bicara?"


"Ah, iya kak. Maaf..." aku pun mulai fokus padanya, sungguh pembicaraan ini sepertinya akan sangat serius.


"Apa kita bisa memulainya?" ucapan itu membuatku terpaku.


"Me-memulai apa kak?" Oh, Tuhan lagi-lagi detak jantungku mulai berontak ingin memulai konser parade band.


"Memulai semuanya dari awal," raut kegugupan mulai terpancar dari wajahnya.


"Iya Kak, tentu saja. Bukankah kemarin kita memang belum memulainya?" aku pun terbata mengatakan hal itu.


"Kemarin?"


"Iya Kak, kemarin... "


"Maksudmu apa Lun?" astaga, apa aku salah bicara, bukankah kemarin kami hampir berciuman. Tetapi jika memang bukan ini yang dimaksud Kak Reza, lalu memulai apa lagi.


"Kak, sepertinya aku salah sangka... "


"Ha?" dia mengernyitkan keningnya menatapmu yang tidak jelas ini.


"Lupakan saja Kak, mari memulainya dari awal,"


"Apa kau berharap hal lain Lun? Kukira kita sedang membicarakan hubungan, bukan kegiatan?"


Blushhhh.. Wajahku memanas, ternyata Kak Reza benar-benar bisa membaca pikiranku.


*****


Di belahan bumi lain, Ana dan Yoshi sedang berada di Venice, Italy bersama kedua buah hatinya.


"Sayang, berikan ponselmu!" ucap Ana, berusaha merebut ponsel suaminya.


"Aku sedang mengirim pesan sayang, tunggu sebentar." Yoshi masih mempertahankan benda miliknya.


"Apa Sarah sedang mengganggumu?"


"Atau Celine yang sedang mengirim pesan? berikan ponselmu, aku ingin melihatnya!"


"Bukan, ini David yang sedang mengirim laporan."


"Mas, berikannn!!" Ana mulai tidak sabar. Dia ingin memeriksa whatsapp sebab Luna berjanji akan mengirmkan foto pernikahannya. Hingga saat ini Yoshi dan Ana tidak mengetahui jika adik mereka telah menikah dengan Reza.


"Beri aku sesuatu dulu, maka ponsel ini kan jadi milikmu!" Yoshi masih saja ingin menggoda istrinya.


"Kau mengujiku Mas!" Ana mendorong tubuh sixpack itu dan meraih tangan suaminya tetapi malah ponsel itu terjatuh ke air sebab saat ini mereka sedang berada di atas gondola.


Plung..


Ponsel seharga mobil **** itu pun jatuh ke air, tenggelam dalam perairan venice dan sirna.


"Mas!! Kau!!" Ana panik, hingga berniat terjun ke air.


"Astaga An, kau masih saja gila. Biarkan saja ponsel sampah itu hilang!"


"Mas, bagaimana ini. Semua ini salahmu!"


"Jika kau tak menyita ponselku aku pasti tidak akan merebut ponselmu!"


"Dasar lintah darat!"


"Kau terlalu asik membaca novel online hingga mengabaikanku, apa yang bisa kulakukan jika tidak menyita benda sialan itu ha?"


"Ah sudahlah.. " Ana kesal, sementara Shian dan Gwen Sudah terbiasa dengan keributan kedua orang tuanya itu.

__ADS_1


Bersambungg...


__ADS_2