
BRIDGE DECK 7 FORWARD
(Anjungan lantai tujuh depan)
Kapten beserta staffnya sedang berada di ‘basecamp’ mereka, tampaknya pria-pria bersetrip itu tengah membicarakan sesuatu, hingga tibalah sepasang sahabat menekan bel, Chales pun beranjak dari singgahsananya.
Dia tau jika siapa yang datang, kemudian membukakan pintu untuk Luna dan Bumi.
“Welcome home our first lady,” ucap Charles kepada istri kapten itu, disusul dengan tatapan tajamnya pada Bumi.
“Thank you Chief,” jawab Luna, ia menghela nafas panjang. Ternyata suaminya sudah membeberkan rahasia mereka berdua selama ini.
“Hai Bumi,” sapa Charles basa-basi.
“Hai Chief,” jawab Bumi tak kalah dingin.
Merekapun masuk ke ‘sarang penyamun’ itu. Luna lebih dulu menyapa suaminya, kemudian disusul oleh Bumi.
“Good morning, Capt!” ucap Luna dengan senyuman yang memaksa.
“Good morning, Luna dan Bumi,” Reza melirik pria berkulit putih di belakang istrinya itu. Raut keksalan masih tampak di wajah Reza, tapi ia berusaha menutupinya dari officer lain.
“Jadi, maksud saya memanggil Bumi hari ini adalah bulan depan Paku Bumi akan ditransfer ke kapal lain,” ucap Reza dengan surat rekomendasi di tangannya.
“Apa Capt?” Bumi terkejut.
“Yes, Bumi! Sorry to let you know. Kamu akan dipindahtugaskan ke MS Nieuw Amterd*m, di sana sedang membutuhkan staff engineer baru,” ucap Reza dan disambut tepukan tangan dari para staff kapten.
“Ah, apa tidak ada kru lain Capt? Mengapa harus saya?” Bumi berusaha menawar kepitusan itu.
“Ini adalah keputusan mutlak dari Seattle, Bumi. Bukan saya yang menentukan tetapi kantor pusat,” jelas kapaten.
“Jabatanmu akan naik setelah ini, kau bukan lagi trainee. Melainkan pegawai tetap dengan gaji mengkuti UMR Belanda, bagaimana?” Reza tersenyum meskipun dalam hatinya percikan api mulai tersulut melihat istrinya dan pebinor itu datang bersamaan.
“Baik Capt,” tak ada yang bisa Bumi katakana selain menerimanya. Bagaimanapun, dirinya hanyalah trainee di kapal itu, gaji yang ditawarkanpun cukup menggiurkan, meskipun ada rasa kesal di hatinya sebab ia tau jika Rezalah yang telah mengatur semua itu.
“Bagus, dan ini surat ‘transfer’ mu, siapkan semuanya dengan baik, Bumi. Nieuw Amterd*m adalah kapal keluaran terbaru dengan peraturan baru juga. Persiapkan mentalmu,” ucap Reza kemudian menyerahkan kertas itu kepada Bumi.
“Si*l, dia membuangku ke kapal baru!” ucap Bumi dalam hati. Bumi pun melangkah keluar dari anjungan dengan hati yang masih tersudut
.
“Jangan bikin masalah di sana ya Bro! kaptennya kejem!” celetuk Charles saat Bumi melintas di hadapannya.
Pria itu hanya tersenyum kecut menaggapi sahabat Reza itu.
Luna sedang berada di tengah-tengah anjungan, dia menundukkan kepalanya, niatnya untuk meminta penjelasan kepada suaminya tentang masa magangnya pun terhenti, Dia malu, tidak enak dan taidak mungkin mengungkapakan kekesalannya pada sang nahkoda di hadapan pria-pria itu.
“Luna, ada perlu apa?” Reza menatap gadis yang sedang dilanda malu itu, Luna tak menyangka jika keadaan anjungan sedang sangat ramai.
“Capt, bring her to your cabin!” ucap salah seorang staff Reza. Meminta pria tegap itu untuk menggiring istrinya ke kamarnya, dan diikuti dengan gelak tawa yang lain.
__ADS_1
“Sorry Luna, hanya bercanda,” celetuk salah seorang staff. Luna semakin salah tingkah dan membuatnya ingin kabur saja.
“Luna, ada apa?” bisik kapten pada pipi bersemu itu.
“Tidak jadi Kak, aku pergi saja!” Luna pun melenggang keluar dari bridge dan mengutuk tingkahnya hari ini. Namun, sesaat kemudian dia teringat Bumi, bagaimana mungkin sahabatnya itu tiba-tiba saja ditransfer.
Berbagai spekulasi bersarang di otaknya pagi ini mulai dari dirinya yang tiba-tiba lulus masa training, kemudian Bumi yang tiba-tiba dipindah tugaskan. Tentu saja Luna menganggap semua ini ulah suaminya, namun ia tak ingin terlalu cepat mengambil kesimpulan.
Ceklek
Luna masuk ke kabinnya, matanya membulat sempurna saat mendapati barang-barangnya telah menghilang.
“Ah, kemana koper gue?”
“Tas?”
“Sepatu? Majalah dewasa?”
“Kemana semuanya?” berulang kali ia bermonolog mencari ke setiap sudut ruangan kecil itu, namun hasilnya tetap saja sama. Barang-barangnya menghilang tanpa jejak, begitupun dengan isi lemarinya, benar-benar tak bersisa.
“Astaga gak mungkin ada maling kan?” Luna mengacak rambut panjangnya. Akhirnya gadis itupun menelepon security untuk membantunya.
Tut
Tut
"Selamat pagi Luna," sapa security officer itu. Saat mengetahui jika nomor kabin Luna lah yang tengah menelepon.
"Ada apa Luna?"
"Bryan, apa kau tau sepertinya telah terjadi perampokan di kabinku!" ucap gadis itu panik.
"Perampokan?" pria india itupun terkejut.
"Tidak mungkin Luna, tidak akan ada perampokan di atas kapal! kau ini!"
"Mau kabur kemana malingnya? ke laut?" sanggah Bryan tertawa.
"Sungguh Bry! semua barang-barangku hilang begitu saja!"
"Tanpa sisa sama sekali!" Luna mulai panik, sebab sepertinya security itu tidak percaya padanya.
"Apa kau yakin itu pencurian Lun?"
"Ya, memangnya apa lagi??"
"Mending lo lapor kapten aja deh!" ucap Bryan lepas tangan.
"Ah menyebalkan sekalii!" dengus Luna.
Akhirnya gadis itu pun kembali naik ke lantai tujuh, menuju anjungan.
__ADS_1
"Apa saya bisa bertemu Kapten?" tanya Luna pada Charles yang sedang membukakan pintu untuknya lagi.
"Eh Luna Lagi.. " pria itu tersenyum menahah tawa, sebab ia tau apa yang sedang terjadi saat ini.
"Chief, apa kapten ada di dalam?" Luna mengulangi pertanyaannya.
"Kapten sedang dalam waktu istirahat Luna," ucap Charles,
"Ah begitu rupanya, terimakasih Chief," akhirnya Luna meninggalkan anjungan.
"Hey Lun, coba datang saja ke kabinnya!" teriak pria itu dari kejauhan.
Sesuai ucapan Charles, Loni gadis itu tiba di depan kabin Reza
"Kak!" ucap Luna, sambil mengetuk pintu itu.
"Kak Reza!"
"Iya Luna," jawab pria itu saat membukakan pintu untuk istrinya.
Luna pun masuk ke kamar itu, dilihatnya ruangan itu tidak seperti biasanya, ada tambahan lemari, drawer dan beberapa item lainnya.
"Kak, apa kakak tau! barang-barangku menghilang!" wajah manis itu kembali panik.
"Benarkah?" Reza terkejut.
"Iya! hilang Kak! security tidak mau membantuku,"
"Wah benarkah?" Reza kembali terkejut, dengan menutup mulutnya.
"Sungguh Kak! periksa saja kabinku jika kakak tidak percaya!"
"Apa mungkin ada pencuri di kapal ini?" tanya Reza.
"Aku tidak tau Kak!" Luna terlihat semakin kacau, pasalnya suaminya juga tidak bisa diandalkan.
"Akulah pencurinya Luna!" bisik Reza pada telinga gadis itu.
Reza menatap wajah bule itu dengan segudang pertanyaan.
"Coba periksa kabinku sayang!" perintah Reza, tanpa menjawabnya Luna pun membuka lemari yang sejak tadi ia curigai itu.
"Ah baju-bajuku! semuanya ada di sini!"
"Sepatku! papan sky! semuanya ada di kabinmu kak?!" Luna terkejut. Dia tak tau kapan suaminya memindahkan barang-barang tersebut.
"Dan ini?" Reza nebula drawernya dan menyerahkan beberapa lembar majalah dewasa milik Luna.
Luna tampak malu, dan segera menyerobot majalah-majalah itu dari tangan suaminya.
"Mulai sekarang kita akan tinggal satu Kabin!" ucap kapten pada istrinya yang sedang menyimpan barang memalukan miliknya tersebut.
__ADS_1