
"Kak, bagaimana ini?" tanya Luna sambil mengambil sebuah koper hard casenya.
"Bagaimana apanya?" Reza pun tengah sibuk dengan perlengkapan yang akan dibawanya bekerja.
"Bukankah aku sedang magang di sana? Lalu bagaimana mungkin bisa menjadi WOB-mu?" tanya Luna, ia ragu sepertinya suami-istri tidak dapat bekerja dalam satu perusahaan yang sama.
"Ah kau benar.." Reza tampak berfikir, masalahnya awalnya ia mengira bahwa Luna hanya akan menemaninya bekerja, bukan sedang bekerja juga.
"Tapi, sepertinya tidak masalah Luna," ucap Reza, namun gadis itu masih sangat ragu, ia takut jika terjadi masalah dan akhirnya masa magangnya akan sia-sia, mengingat ini tahun terakhirnya mengenyam pendidikan di permesinan.
"Kak, atau aku telepon kantor dulu ya, untuk memastikan bagaimana baiknya?" Reza pun mengangguk, ia akan pasrah pada apapun keputusan istrinya, ia sudah cukup senang akhirnya kantor memutuskan dirinya untuk kembali bekerja di saat masa cuti Luna juga telah berakhir.
"Kak.... " Luna kembali menghampiri Reza.
"Iya, bagaimana? apa yang kau dapatkan?"
"Karena suatu hal, kantor memintaku untuk memilih salah satu dari dua pilihan, menjadi istrimu atau menjadi kru, jika menjadi kru aku tidak bisa berada satu kabin denganmu, jika menjadi wob-mu aku bisa tinggal di kabinmu, tetapi tidak bisa bekerja," ucap Luna. Dia tampak bingung, ingin memutuskan apa.
"Apa-apaan ini?" Reza menatap istrinya dengan penuh tanda tanya, seakan tidak terima dengan keputusan kantor pusat.
"Kak, please.. "
"Ijinkan aku bekerja, hanya tiga bulan. Setelah itu aku akan menjadi wob-mu, menjadi istrimu dengan benar, ya? ya? ya?" ucap gadis itu, bergelayut manja pada lengan kokoh suaminya.
"Lun, bagaimana bisa seperti itu? aku akan menelepon kantor!" ucap Reza, kemudian ia meraih ponselnya dan mendial nomor kantor pusat Seattle, Washington.
Beberapa menit kemudian, Reza kembali menampakkan wajah masamnya.
"Kau menang Luna," ucapnya pasrah.
"Bagaimana Kak?" Luna masih belum mengerti dengan ucapan suaminya.
"Kau bisa bekerja," Reza masih saja menggantung kalimatnya, ada sedikit rasa dongkol di hati nahkoda tersebut.
"Benarkah Kak?" Luna terperanjat girang, tetapi ia tau jika suaminya tidak sebahagia itu. Dia pun menghampiri Reza yang terduduk di pinggiran bed.
"Kak, kenapa wajahmu muram? bukankah kita akan bekerja dalam satu kapal yang sama? apa agency telah merubah kontrakmu?" Luna duduk disamping suaminya, dan memperhatikan wajah pria itu dalam-dalam. Bulu mata lentik itu terus berkedip naik-turun, membuat Reza ingin menerkamnya saat itu juga, tetapi moodnya sedang sangat buruk saat ini.
"Luna, kita memang berada dalam satu kapal, tetapi tidak satu kabin? Apa yang bisa kulakukan?"
"Ah, itu masalahnya rupanya?" Luna terkekeh, kemudian menyentuh dagu kekasih halalnya itu.
__ADS_1
"Bisa-bisanya kau tertawa di saat seperti ini.. "
"Jika masalahya hanya kabin, aku bisa bermain di kabinmu Kak, aku pun bisa tidur di kabinmu dengan mengendap-endap di malam hari, tanpa ada seorangpun yang tau, bagaimana hm?" Luna menaikkan satu alisnya
"Tidak Luna, tidak bisa seperti itu," ucap Reza, ia tidak mau menanggapi candaan istri kecilnya.
"Apa yang akan dipikirkan kru lain jika itu terjadi?"
"Kak, ini hanya masalah kabin, jangan terlalu mendramatisir, jika kau tidak ingin aku datang ke kabinmu, maka kaulah yang harus ke kabinku,"
"Itu lebih tidak benar lagi!"
"Sudahlah, kau tak perlu magang ataupun bekerja, cukup temani aku saja. Jadilah istri yang baik," akhirnya keputusan Reza kembali ke titik awal lagi.
"Kak, kau egois!"
"Aku hanya tidak ingin membuat keadaan menjadi rumit, Lun!"
"Kak, ayolah ini hanya perkara kamar, itu saja! jangan melebih-lebihkan!"
"Hey, ini bukan hanya tentang kamar, ini tentang status Luna," ucap Reza, sebenarnya ia ingin tertawa melihat istrinya yang sedang merajuk itu.
"Astaga, kenapa kau menangis sayang?" Reza menarik tubuh ramping itu dan panggilan sayang pun terucap begitu saja.
"Jangan panggil aku Sayang!" bibir ranum itu kini semakin mengerucut sempurna.
"Kemarilah.." Reza kembali menarik tubuh istrinya untuk duduk di pangkuannya. Awalnya Luna tidak mau, tetapi terpaksa akhirnya gadis itu bersedia juga, Reza mengalungkan kedua tangannya pada pinggang ramping itu, kemudian merangkulkan tangan Luna pada lehernya.
"Kau sungguh ingin bekerja? Dan menyembunyikan status kita di sana nanti?" tanya Reza menatap wajah dengan hidung memerah akibat tangisan itu.
"Iya Kak.. " jawab Luna lirih, masih dengan sesenggukan.
"Tidak merasa sayang, jika status istri dari Kapten tampanmu ini, kau sembunyikan dari teman-temanmu?" Reza tersenyum menggoda.
"Kak, hanya tiga bulan saja, jangan menggodaku seperti itu!"
"Ya, baiklah. Aku akan menurutimu, tapi setelah itu kau harus menuruti semua kemauan suanimu!"
"Iya kak.. iya.." jawab Luna pasrah.
"Beri aku satu ciuman," ucap Reza, menyodorkan pipinya.
__ADS_1
"Tidak mau!"
"Luna!" Reza masih dengan posisi yang sama.
"Tidak mau Kak, aku belum mandi!" Luka tetap tidak mau menuruti suami manjanya itu.
"Luna, aku akan menghitung hingga tiga. Jika tak ada pergerakan maka akulah yang akan menguasai keadaan," kata Reza, mengancam, mendominasi dan semakin mengeratkan kedua tangannya pada pinggang Luna .
"Satu.. "
"Dua.. "
Luna pun mencium pipi itu, dengan lembut tetapi Reza tidak membiarkannya berlalu begitu saja, ia pun menahan dagu Luna dan akhirnya bibir mereka saling bertemu.
Semakin dalam, semakin lama dan semakin membuat nafas keduanya memburu, Luna tersadar dan menghentikan pagutan itu, tetapi Reza masih berusaha menahannya, dengan lumataan dan hisaapan, hingga tangannya berhasil menaikkan kaos Luna.
Tangan kekar itu, menelusup ke balik baju istrinya, meraba dan mengeksplore setiap inci kulit mulus sang istri. Luna memegangi tangan Reza agar tidak sampai menyentuh area dadanya.
Namun, tenaga gadis itu terlalu lemah jika dibandingakan dengan tenaga suaminya, padahal Luna adalah juara taekwondo tingkat provinsi.
Reza berhasil menanggalkan kaos yang sejak tadi mengganggu itu, dan yang tertinggal hanya bra saja, ia mengecupi kulit putih Luna, dari belakang hingga ke depan, meskipun tangan Luna masih berusaha menghalanginya aksinya.
"Luna, apa kau tak ingin membalasku?" tanya Reza, sambil meraih tangan istrinya dan mengarahkannya pada kancing bajunya. Luna menunduk malu, ia tau suaminya sedang mengalihkan tangannya agar tidak menutupi area dada gadis itu.
Luna pun melepaskan satu per satu kancing baju Reza, begitupun dengan Reza, pemandangan yang disuguhkan di depan matanya sangatlah indah, dengan hati-hati ia melepaskan pengait pembungkus dada itu.
Namun, tinggal satu langkah lagi, gangguan kembali datang.
"Kakak!!"
"Kak! pinjam charger!!" Ganis berteriak dari luar kamar, seperti biasa, ia ingin meminjam charger kakaknya.
Reza memejamkan matanya, menahan kekesalan, padahal ia sudah susah payah meyakinkan Luna untuk sampai di titik ini, tetapi lagi-lagi adiknya mengganggu.
"Kak, Ganis mencarimu," ucap Luna dan meraih selimut untuk menutupi dadanya.
"Biarkan saja sayang," jawab Reza.
"Kak, please.. "
Akhirnya pria itupun patuh dan kembali menghentikan adegan tersebut.
__ADS_1