
Tak kusangka ternyata kejadian kemarin itu membuatku kembali menjadi sorotan warga kapal ini. Bahkan berita tentangku di efleet pun kian menjadi-jadi.
Sementara itu kakakku terus saja memintaku untuk pulang, aku ingin menceritakan kronologi yang sebenarnya namun kurasa akan percuma saja, Mbak Ana adalah tipe orang yang keras kepala meskipun terlihat lembut.
Akhirnya kuputuskan untuk cuti saja dari kapal ini. Berharap setelah ini aku bisa kembali meyakinkan kakakku jika aku memang pantas untuk memilih keputusanku sendiri.
Hari ini aku akan kepada bos untuk mengajukan cuti. Sebelumnya sudah kukatakan pada semua teman-temanku jika aku akan pulang. Dan entah kapan akan kembali lagi.
***
Hari berikutnya sebuah kabar datang dari kantor kepengurusan kru dan mereka memberiku ijin cuti untuk beberapa bulan. Aku senang, meskipun aku sangat ingin menjalankan masa magangku ini dengan cepat tanpa jeda cuti.
Kulihat Bumi sedang berada di depan aula briefing. Aku pun menghampirinya.
"Bumi, gue mau pamit," ucapku.
"Hah? pamit kemana Lun?" tanyanya dengan sigap.
"Gue mau pulang besok."
"Lah kenapa?" tanyanya kaget.
"Cuti, gue disuruh balik sama keluarga." Jawabku, lemas.
"Kok tiba-tiba banget, jangan-jangan lu mau dikawinin ya sama emak lu?" tanyanya, menggodaku.
"Enak aja! "
"Terus kenapa dong?" tanyanya serius.
Aku pun duduk di sebelahnya, sebenarnya kami jarang sekali akur seperti ini. Tetapi harus kuakui meskipun Bumi adalah orang jail, setidaknya dialah orang yang paling dekat denganku di sini.
Meskipun menyebalkan tetap saja dia juga perduli padaku. Sempat beberapa kali beberapa kru menggangguku dan Bumi lah yang selalu datang membantu.
"Lun, cerita ke gue kenapa sebenarnya?" tanya Bumi menatapku dalam-dalam.
"Lu tau kan beberapa minggu belakangan ini gue jadi trending di sini, bahkan di efleet." Kataku.
"Oh yang masalah kemaren, tentang skandal lu sama kapten itu?" Katanya
"Dih skandal apaan sih!" jawabku kesal, mengapa Bumi menyebutnya dengan skandal.
"Lah apaan dong? Haha. Semua kru juga bilang begitu Lun" ucap Bumi tertawa.
__ADS_1
"Padahal gue gak ada apa-apaan sama kapten itu Bum." Ucapku lirih.
"Tapi, orang-orang liatnya beda Lun, saran gue sih mendingan lu gak usah pulang deh, biarin aja anjing menggonggong." Kata Bumi, padahal itulah yang kulakukan sejak kemarin.
Aku tak ingin terlalu memusingkan pandangan orang terhadapku tetapi Bumi tidak tau masalahnya bukan itu.
"Bukan itu masalahnya Bum, gue itu cuti karena memang paksaan dari keluarga gue." Ucapku.
"Apa beneran lu mau kawin Lun?" tanya Bumi.
"Eh, sembarangan ya kalo ngomong. Kakak gue khawatir Bum, soalnya udah dua kali ini gue kekunci di ruang mesin. Ucapku, mencoba menjelaskan padanya.
"Makanya Lun, kalo kerja itu yang bener.. " Ucapnya dengan santai.
"A-apa lu bilang? Padahal lu yang bikin gue kekunci kemaren kan" Kataku kesal.
"Wkwk kalo yang kedua kayaknya kapten yang bikin lu kekunci." Jawab Bumi.
"Dasar pasak Bumi!" Kataku sambil memberikan tinju pada perutnya.
Jujur saja sejenak aku berfikir benarkah apa yang dikatakan oleh Bumi, sementara aku juga kesal pada kapten saat aku melihatnya sedang memeluk wanita menuju ke kamarnya kemarin.
Sebenarnya aku tak berhak untuk merasa seperti ini tetapi entah mengapa perasaan kesal itu datang dengan sendirinya. Padahal jika dipikir-pikir bukankah wajar jika seorang kapten melakukan hal semacam itu mengingat kekuasaan yang ia miliki di sini tentu banyak wanita yang menggilainya.
Aku tak ingin memikirkan hal konyol ini lagi, yang jelas sekarang aku harus mempersiapkan keperluanku untuk pulang besok.
***
"Eh Luna, katanya mau pulang kok masih ikut briefing?" tanya seorang temanku.
"Iya ini mau pamitan." Ucapku. Aku tak melihat Bumi di area ini, akhirnya aku hanya berpamitan pada teman-teman yang lain dan tentu saja Bosku, Mark Parker.
Beliau sangat berharap aku dapat segera kembali lagi kemari.
Setelah itu, aku pun keluar kapal menuju Pier atau pelabuhan.
"Lunaaa!" teriak seorang lelaki, yang ternyata adalah Bumi.
"Hey Bum! aku mencarimu!" ucapku.
"Lah elu juga gue cariin dari tadi. Nih, ambil buat kenang-kenangan." Kata Bumi sambil memberikan sesuatu untukku.
"Apa ini? tumben lu baik!" Ucapku ambil menerima barang tersebut.
__ADS_1
"Jangan kepedean dulu." Ucapnya.
"Haha, makasih ya Bumi si kampret!" kataku sambil menaruh kotak hitam itu ke dalam tasku.
"Lun, lu bakal balik lagi ke sini gak?" tanyanya
"Baliklah! kan masa magang gue belom kelar." Ucapku.
"Ok, aku menunggumu!" ucap Bumi sambil menarik hidungku dan berlari ke dalam Kapal.
"Dasar si kampret!" Ucapku sambil melihat pria keturunan cina itu menghilang.
***
Aku pun segera menenteng koperku keluar dari Pier namun mataku membuat saat kulihat seorang pria tengah asik berbicara pada wanita di depannya.
"Kapten" ucapku lirih. Sungguh, aku merasa ada sedikit cubitan pada hatiku saat ini.
Padahal aku sempat berfikir untuk berpamitan padanya juga hari ini. Namun karena pemandangan ini. Aku tak akan melakukannya.
Sungguh mengapa di hari terakhirku di sini, aku malah melihatnya bersama seorang wanita. Meskipun mereka hanya mengobrol biasa namun hatiku cukup gerah melihatnya.
Tanpa sadar akan kehadiranku, kapten itu tetap saja mengobrol bersama wanita itu dan sesekali mereka tertawa.
"Ah, menyebalkan!" kataku dalam hati.
Taksi pun datang untuk menjemputku ke bandara. Saat aku sudah berada di dalam taksi tiba-tiba saja mata kapten tertuju padaku.
Seakan ingin memanggilku tetapi aku pura-pura untuk tidak melihatnya. Sungguh, aku masih kesal padanya. Suatu kekesalan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.
Taksi pun melaju meninggalkan area pelabuhan menuju airport . Setelah melalui imigrasi aku pun bersiap untuk boarding.
Tak butuh waktu lama, saat ini aku sudah berada di dalam pesawat bersiap untuk take off dan membawaku pulang menuju tanah air tercinta.
Di dalam kabin pesawat aku terus saja memikirkan kapten, mengapa wajahnya begitu menghantuiku. Jika saja dia adalah pria yang baik, mungkin aku sudah jatuh hati padanya.
Namun bayangan saat dia membawa seorang wanita ke kabinnya itu membuatku berfikir bahwa dia bukan pria baik-baik, buktinya hari ini pun dia sudah berganti wanita lagi.
***
Setelah perjalanan panjang, tibalah aku di bandara soetta. Terlihat seorang wanita paruh baya dan pria tegap bersamanya berjalan ke arahku.
"Ibuk! Bapak!" Ucapku sambil berlari ke arah mereka.
__ADS_1
"Luna, akhirnya kamu pulang juga."Kata Ibu sambil memelukku.
Malam itu kami pulang ke rumah dan aku juga menceritakan kekesalanku pada kakakku. Namun sayangnya ketika aku sampai di rumah, mereka sedang pergi ke luar negeri.