I LOVE YOU CAPT !!

I LOVE YOU CAPT !!
Ancaman


__ADS_3

Yoshi baru saja tiba di rumah setelah acara meeting yang diselenggarakan di kota S itu, sejak satu bulan berada di Indonesia ia dan Ana memutuskan untuk tinggal di rumah kedua orang tua Ana.


Sementara segala kegiatan di Lubyware Group yang berkantor pusat di Jakarta diurus oleh David, meskipun robot kepercayaannya itu terkadang harus pergi ke Bali untuk menemui anak dan istrinya.


“Sayang dimana Gwen?” tanya Yoshi yang sejak tadi tidak melihat putri kecilnya itu.


“Gwen sedang pergi bersama Luna dan Reza, Mas!" ucap Ana.


“Dan Shian?” Yoshi terlihat berbeda dari biasanya, sejak mengetahui jika putra Nathan Lee itu sedang berkeliaran, membuat pria itu lebih posesif dari biasanya.


“Shian sedang jalan-jalan dengan kakek-neneknya sayang, naik vespa keliling kampung,”


“Apa kau tidak bisa melarang mereka semua untuk tetap diam di rumah dulu dalam waktu dekat ini!” tiba-tiba saja Yoshi menaikkan intonasinya dan membuat Ana tersentak kaget,


“Mas, ada apa?”


“Kau seperti sedang ketakutan,” ucap Ana sambil memperhatikan wajah suaminya tersebut.


“Bukan ketakutan, tetapi sedang khawatir saja,” jawab pria itu tetapi raut wajahnya sungguh tak dapat membohongi, setiap hal yang menyangkut Nathan, selau membuat pria itu menjadi insecure.


Yoshi ingat saat-saat yang harus ia lalui untuk membuat Ana menderita selama bertahun-tahun karena dendamnya pada ayah Ana, padahal semua itu hanyalah akal bulus Nathan Lee, untuk kabur dari kejaran polisi cyber dan BIN.


“Ada yang tak beres sayang, please! Aku sedang banyak pikiran saat ini” Yoshi melihat ponselnya yang bergetar dan mengangkat panggilan tersebut.


“Tuan, ada masalah!” ucap David dari telepon.


“Ya, katakan!” Yoshi tau jika apa yang akan disampaikan oleh David itu adalah hal yang sejak kemarin mengganggu pikirannya.


“Albert kabur dari rumah sakit jiwa!”


“Sedangkan Bumi belum ditemukan keberadaanya,” ucap David detail.


“Kapan kejadiannya?” tanya Yoshi menarik napas lalu mengehmbuskannya.


“Tadi pagi tuan,”


“Baik, perketat keamanan, di mansions, kantor pusat dan kirim dua bodyguards kemari!” perintah Yoshi.


“Sesuai perintah anda tuan!” David menutup sambungan telepon itu, Ana terus memperhatikan apa yang sedang suaminya itu lakukan. Dan sempat menguping obroaln Yoshi dengan David.


“Mas, apa Nathan kembali lagi?” seakan dapat menebak apa yan g sdang dipikirkan oleh sang suami, Ana membelai wajah suaminya dengan lembut.


“Kau benar sayang, meskipun kepar*t itu telah tiada tetapi Albert dan adiknya sedang berkeliaran bebas saat ini,” ucap Yoshi sambil memeluk istrinya.

__ADS_1


“Itulah sebabnya aku begitu melarang orang rumah itu tidak bepergian keluar dulu,”


“Jangan khawatir sayang, ada bapak di sini! Apa kau lupa siapa bapak hm?” Ana mencoba menenagkan suaminya.


“Sayang aku tidak takut pada Albert ataupun keturunan ketujuh Natahan sekalipun, yang aku takutkan hanyalah keselamatanmu dan anak-anak, juga keluarga kita semua, dan satu lagi—,” ucap Yoshi terputus.


“Satu lagi apa?” Ana mengernyitkan dahinya.


“Rasa bersalahku padamu selalu saja muncul saat mendengar nama bajing*n itu disebut!”


“Sshh, jangan katakana hal itu lagi Mas, aku bosan mendengarnya,” ucap Ana memeluk rentenir kesayangannya itu.


Bagi Ana apapun yang telah terjadi di masa lalu, merupakan sebuah takdir yang sudah digariskan oleh Tuhan.


“Mau berlari sekencang apapun dan kemanapun, jika memang sudah takdir apa yang bisa kita lakukan Mas?” Ana masih mengeratkan pelukannya pada dada bidang berbalut kemeja itu.


“Bukankah jodoh akan selalu ‘bertemu’? iya kan Mas Ikau?” Ana mengejek pengagum rahasianya sejak SMA tersebut, membuat Yoshi merasa tenang walau hanya sesaat.


Adegan berpelukan itu semakin berlanjut hingga keduanya terlarut dalam pagutan yang hangat hingga memanas, namun saat aksi keliaran Yoshi dimulai, saat itu juga pintu terbuka.


Brakk


“Huuaaa papa!” Gwen berlari memeluk sang ayah yang sedang menind*h ibunya, Reza dan Luna yang juga melihat kejadian itu seketika tertawa terbahak.


“Astaga Bro, kunci pintunya kalo mau maen!” ucap Reza berpura-pura menutup matanya.


“Berisik lu Za! Kayak lo gak kasar aja maennya!” jawab yoshi sedikit kaku sebab Gwen sedang meraba dada ayahnya yang masih terbuka tersebut.


“Emang lo tau!”


“Taulah, Luna tuh yang bilang! Kancing bececr-cecer sampek ke luar kabin!”


“Gimana ceritanya coba! Setinggi itu ilmu lo Za?” Yoshi menahan tawanya, kini justru Luna yang berganti menahan malu.


“Sayang apa kau menceritakan semuanya pada Yoshi?” Reza menatap Luna, menuntut penjelasan.


“Ah Kak Yosh! Aku gak pernah ngomong kayak gitu!” Luna melempar bantal ke arah kakak iparnya.


“Lihat Za, bahkan bini lo juga kasar kayak gini!” Yoshi menangkap bantal-bantal yang dilemparkan oleh Lun ake tubuhnya.


“Iya Yosh, tapi gue suka!” jawab Reza tersenyum gemas, membuat Luna berpindah menyerangnya.


Ana tertawa terbahak menyaksikan ketiga orang tersebut, namun tawanya terhenti saat melihat minuman boba di tangan Gwen.

__ADS_1


“Sayang, ini apa? Bukankah mama bilang kalo Gwen gak boleh minum minuman kayak gini?”Ana meraih segelas minuman itu, tetapi Gwen malah menagmbil kembali minuman tersebut.


“Sayang, please dengerin mama, mana sini!”


“Jangan Ma, Gwen cuma mau nyimpen minuman ini aja kok!” jawab gadis kecil itu.


“Ha? Buat apa?”


“Buat ditukerin sama boneka boba aku yang hilang tadi Ma, tadi cowok itu janji mau bawain balik boboba Gwen, nanti pas bobobanya udah balik, Gwen kasihin deh minman boba ini buat dia lagi! Begitu perjanjiannya Ma!” kata Gwen dengan air mata yang mulai mengering.


“Wah sayang, papa gak ngerti nih,” Yoshi mendekati putrinya, cara Gwen bercerita begitu terdengar lucu olehnya.


“Tadi Gwen hampir diculik Yosh!” ucap Reza, membuat pria yang sedang duduk di ranjang itu seketika bangkit.


“APA?!” Ana pun ikut terkejut dan memeriksa seluruh tubuh putrinmya.


“Yosh, An tadi ada orang bertopeng hampir aja bawa lari gwen, untungnya gue sama Luna bisa ngejar dia, dan bawa Gwen balik!”


Yoshi terdiam tanpa ekspresi, tetapi sorot matanya begitu menunjukkan luapan emosi.


“Itu Albert!” ucapnya, menyebut nama kakak Bumi kemudian pergi keluar kamar untuk menemui ayah mertuanya.


“Pak, ada masalah!” melihat Yoshi yang sedang kalut, Pram seketika menoleh dan meletakkan kopi di tangannya.


***


Luna dan Reza berada di kamar, sang istri sedang membersihkan wajahnya, dan hanya memakai pakaian tipis, awalny Reza sangat mengantuk setelah pertandingannay dengan penjahat sore tadi.


Tetapi kini pria itu seketika kehilangan rasa kantuknya saat melihat pemandangan indah yang telah disuguhkan itu.


“Luna, apa kau masih marah?” baru melihat sang istri dari belakang saja sudah membuat sisi kelaki-lakiannya bangkit.


“Apa kakak sedang menginginkan sesuatu?” tanya Luna tanpa melihat suaminya.


“Ya, jika diijinkan,” ucap Reza mengerjapkan matanya berkali-kali untuk menahan gelora yang melanda.


“Tapi aku sedang tidak ingin Kak!” jawab Luna ketus, gadis itu masih saja belum memaafkan Reza sepenuhnya.


“Tapi aku ingin!” Reza segera meraih pinggang ramping itu, ke dalam dekapannya.


Memperhatikan pantulan meraka berdua pada cermin.


“Jika kau tidak ingin, mengapa kau menggodaku sayang!” nahkoda itu mulai menciu* leher sang istri yang tak terhalang apapun.

__ADS_1


“Aku tidak menggodamu Kak, kau saja yang selalu berpikir ke arah hal-hal seperti itu!”


“Aku tidak perduli dengan apa yang akan kau ucapkan. Yang jelas selama seminggu ini kau telah membuatku meraas dahaga!dan sekarang kau harus menyembuhkannya!”


__ADS_2