
Luna kembali ke kamar dan melihat suaminya sedang bersama keponakan juga kakaknya tengah mengobrol.
“Hai little princess,” sapa Luna pada balita lucu di gendongan kakaknya tersebut. Ana pun segera menghampiri adiknya lalu memeluk gadis yang satu tahun lebih tidak ditemuinya tersebut.
“Luna, Mbak kangen banget!” ucap Ana, tanpa melepaskan pelukannya, Reza hanya memperhatikan kedua gadis cantik itu, masih belum percaya jika hal seperti ini bukan hanya terjadi di sinetron-sinetron ataupun film. Jika dijadikan novel mungkin judul yang tepat adalah ‘Mencintai adik cinta pertamaku’
“Mbak, udah kenalan sama adik ipar belum?” bisik Luna sambil melirik suaminya.
“Oh udah dong! Udah kenal lama malah!” jawab Ana terbahak.
“Maksudnya Mbak udah kenal sama Kak Reza sebelumnya?” Luna terkejut.
“Udah Luna, kami dulu satu genk, sebelum Kak Yoshi datang ke kapal itu,” Ana kembali mengingat masa-masa indah bersama teman-temannya, sebelum akhirnya CEO menyebalkan itu memaksanya untuk menikah.
“Wah, yang bener Mbak?” Luna mematung tak percaya.
“Benar Luna! Aku, Reza, Jenny, Evelyn dan Diana dulu satu genk!” (masih inget genk rumpiest gak sih gaes? Haha ayo dong tengokin mereka kalo kangen hehe😆)
“Ah ya ampun!” jangan bilang Kak Reza juga yang saat itu meneleponku saat Shian baru lahir dulu!” gadis itu menatap tajam ke arah suaminya, teringat saat seorang bule menyebalkan menelpon dirinya beberapa tahun silam.
“Benar Luna! Dia orangnya!” jawab Ana, menunjuk Reza.
“Bahkan Reza sempat menanyakan siapa dirimu saat itu, haha!” Luna membulatkan matanya, tak semakin percaya.
“Ah pantas saja saat pertama kali melihat Kak Reza, rasanya aku pernah melihatnya sebelumnya, suaranya pun begitu familiar! Kakak kenapa kau tak bilang padaku?” Luna menuntut penjelasan dari suaminya.
Reza yang masih terlalu shock dengan semuanya, kini harus menerima keterkejutan lagi saat mengetahui jika gadis jutek yang pernah diteleponnya dulu adalah Luna.
“A-aku pun tak tau Luna, saat itu aku hanya ingin memberikan ucapan selamat pada Yoshi dan Ana saat kelahiran putra pertama mereka, namun entah bagaimana kaulah yang mengangkat teleponnya,” ucap Reza sambil menggaruk tengkuknya.
“Kak, aku baru sadar jika dirimu dulu sangatlah narsisitik! Apa yang mengubahmu menjadi sekaku ini sekarang?”
“Aku juga tidak tau Luna, yang jelas sepertinya aku mulai jatuh hati padamu setelah insiden telepon nyasar saat itu,” jawab Reza malu-malu,
Ana hanya tertawa melihat kedua orang tersebut, ia bahagia karena ternyata Reza lah yang menjadi suami dari adiknya, setidaknya ia tau bahwa Reza adalah pria yang baik dan dewasa, tidak seperti Yoshi yang terkadang masih kekanak-kanakan.
Entah bagaimana perasaanmu padaku saat ini Za, yang jelas kau adalah adik iparku sekarang dan selamanya kita akan menjadi saudara dalam satu keluarga, gumam Ana.
Hari semakin siang, dan Larissa meminta anak-anaknya untuk segera makan siang, di rumah yang tidak begitu besar tetapi cukup nyaman tersebut, Pramuja merasa lega karena kedua putrinya kini telah menemukan orang yang tepat sebagai pemimpin.
Tak ada lagi rasa khawatir sebab para musuh yang selama ini sangat meresahkannya, kini telah tiada dan berganti dengan canda tawa dari cucu-cucunya, Pramuja berharap Luna juga akan segera memiliki momongan seperti kakaknya.
Dalam hening makan siang, Reza sesekali melihat Ana yang tengah sibuk menyuapi kedua anaknya, diapun juga memperhatikan istrinya, beberapa kali pria itu tersenyum membayangkan bagaimana reaksi Yoshi saat bertemu dengannya nanti.
“Nak Reza bagaimana kabar papa mama?” tanya Larissa.
“Baik bu, tetapi sepertinya papa ingin Luna untuk menjalani terapi,” jawab menantu tersebut.
Larissa seketika menatap puterinya, tidak tau jika Luna tengah sakit saat ini.
“Luna sakit?” ucap Ana sambil menghentikan suapannya untuk Shian.
“Sakit apa?’ ucap Pram dan Larissa secara bersamaan.
“Hm Luna habis keguguran kemarin,” jawab gadis berlesung pipi itu, sambil meletakkan sendok dan garpunya.
__ADS_1
“Ha? Kok Mbak sampai gak tau! Kalo kamu hamil Lun!” Ana membulatkan matanya.
“Dan sampai keguguran pun bapak sama ibuk juga gak tau loh!” Pramuja mengikuti Ana.
Ketiga orang tersebut memandang Luna dan Reza secara bergantian, merasa telah tertinggal berita sepenting itu.
“Sebenarnya Luna sendiripun tidak tau jika saat itu tengah hami Pak, Bu dan Mbak!”
“Semuanya begitu tiba-tiba, hingga saat Luna terjatuh dari tangga, saat itulah kami baru mengetahui jika Luna telah mengalami keguguran,” ucap gadis itu dengan wajah murung mengingat hal yang telah membuatnya kacau selama beberapa minggu tersebut.
“Tapi, bagaimana kondisimu saat ini Luna?” Larissa menunjukkan kekhawatirannya.
“Luna gak apa-apa Bu, tapi papa sedang mencarikan obgyn untuk memeriksa keadaan organ reproduksi Luna,”
“Memangnya ada apa Lun, kok bisa jatuh dari tangga gitu?” Ana mencoba mencari tau kronologi kejadiannya.
“Semua ini salahku An, Luna terjatuh dari escalator gangway saat aku hendak membawanya masuk ke dalam kapal,” ucap Reza rasa bersalah itu begitu terlihat di wajah blasteran itu.
“Memangnya gimana ceritanya sih Za?” Ana mulai penasaran.
Saat Reza hendak menceritakan semuanya tiba-tiba saja Luna mencegahnya, gadis itu tidak ingin lagi mendengar nama Sharon, ingatan tentang rasa kehilangan anaknya saat itu begitu membuatnya lemah.
***
Malam harinya, Shian berlari menemui ibunya, yang sedang berada di kamar.
“Ma, Papa datang!” ucap Shian, dan Ana pun segera berlari ke halaman depan untuk menyambut sang suami yang baru saja pulang.
Ana mencari-cari keberadaan Yoshi, namun tidak ada tanda-tanda keberadaan suaminya di sana.
“Sayang, itu bukan papa! Itu ojol Nak!” ucap mama muda tersebut.
“Itu papa Ma, ada di sana! Tadi Shian melihat papa masuk lewat pintu gerbang itu!” ucapan balita itu terdengar begitu jujur dan apa adanya.
“Tapi Ma, tadi papa diem aja pas Shian coba panggil-panggil,”
“Nak, Shian salah lihat sayang, coba ya mama lihat ponsel mama dulu. Barangkali papa menelepon,”
Saat itu juga Ana berjalan ke kamarnya, namun langkahya terhenti saat melintasi ruang keluarga, sebuah tanyangan televisi mengabarkan jika telah terjadi kecelakaan pesawat semalam.
Ana pun mengeraskan volume televisinya, saat itu juga jantungnya teras berhenti berdetak ketika matanya melihat jika pesawat dari Greenwich, London tujuan Jakarta telah mengalami kebakaran dan meledak di peraian China, saat akan transit ke Negara tersebut.
“Yoshi!!” Ana menjerit sekencang-kencangnya saat melihat berita itu, menganggap jika itu adalah pesawat yang suaminya tumpangi, dalam perjalan ke tanah air.
Shian ikut menangis saat melihat sang ibu histeris tanpa tau apa penyebabnya . Larissa dan Pramuja pun segera melihat apa yang sedang terjadi pada putri sulungnya tersebut.
“Ana! Ada apa?” Larissa panik melihat Ana terperosot ke lantai, sambil menangis tersedu-sedu.
“Ada apa Nak?” Pramuja segera meraih tubuh itu dan membawanya ke sofa, gadis itu tampak memucat dan hampir tidak sadarkan diri, sementara Larissa menggendong cucu pertamanya dan berusaha menghentikan tangisan bayi tampan itu.
“Cup sayang, ada apa? Mama kenapa?” nenek itu sedang menanyakan apa yang terjadi pada cucunya, sebab Ana tidak dapat mengucapkan sepatah katapun.
“Shian tidak tau Nenek, mama melihat tv dan menangis,” terang Shian dengan air mata yang masih membasahi pipinya.
“Mbak, ada apa? Mbak Ana kenapa?” Luna keluar dari kamarnya bersama Reza, lalu melihat kondisi kakaknya yang tidak baik-baik saja. Larissa segera mengedarkan pandangannya pada televisi, namun yang tampak hanyalah iklan shampoo dan pasta gigi.
__ADS_1
“Apa yang membuatmu menangis An? Ini hanyalah iklan odol!” ucap Larissa, sementara Ana berusaha membuka matanya,
Pramuja tau jika sesutau telah terjadi, tetapi ia tak ingin membuat putrinya terkejut terlalu cepat.
“An, ada apa?” Reza mendekati kakak iparnya tersebut, tetapi Ana tetap saja hanya menangis tanpa mengucapkan sesuatu.
“Pak, Gwen ada di kamar, tolong bawa kemari!” Ana teringat jika bayi perempuannya masih berada di atas tempat tidur, ia khawatir jika Gwen terjatuh tanpa pengawasan siapapun.
“Biar gue aja yang ambil Gwen,” ucap Reza lalu masuk ke kamar Ana dan kembali dengan membawa anak kecil itu dalam dekapannya.
Beberapa kali Gwen menarik-narik rambut pamannya tersebut, dan Reza hanya tersenyum mendapati perlakuan bayi menggemaskan itu.
Luna mengambil segelas air untuk kakaknya, setelah meminum seteguk air tersebut, Ana mengatur nafasnya lalu mengatakan jika pesawat Yoshi mengalami kecelakaan.
“Pak! Yoshi Pak!” ucap Ana, dengan buliran bening kembali membasahi pipinya.
“Yoshi kenapa An?” tanya Pramuja.
“Pesawat yang membawa Yoshi terbakar dan tenggelam di laut China!” gadis itu kembali menangis ia bahkan belum sempat mengambil ponselnya.
“APA?!” semua orang terkejut saat mendengar perkataan Ana.
“Serius lu An?” tanya Reza yang masih dijambak rambutnya oleh Gwen ikut terkejut, ia memperhatikan layar televisi tetapi tayangan berita itu sudah menghilang.
“Mbak, mbak gak lagi halu kan?” Luna memercikan air ke wajah kakaknya, tetapi gadis itu justru semakin histeris dan memanggil-manggil nama Yoshi.
“Pak, bagaimana ini?” Larissa panik, dan meminta suaminya untuk melakukan sesuatu.
“Bu, bapak sudah melihat berita itu, tetapi saat ingin menyampaikannya pada Ana, Ana justru telah mengetahuinya terlebih dulu."
“Coba bapak kroscek lagi, apa benar itu pesawat yang sedang ditumpangi menantu kita Pak?”
“Bapak sudah memeriksanya Bu, dan memang benar nama Yoshi tertera disana,” jelas Pramuja saat melihat daftar manifest atas nama Yoshi Aricko Luby,
Larissa menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang sedang terjadi, ia pun ikut menangis dan menganggap jika sang mennatu telah tiada, bukankah jarang sekali korba kecelakaan pesawat yang bisa selamat.
Luna dan Reza pun ikut panik dan tak tau harus melakukan apa, sementara Pramuja masih mendekap tubuh putrinya yang kian melemah.
“Ini gak mungkin! Kak Yoshi gak mungkin ada di pesawat itu!” Luna tampak sedih dan ingin menangis, sementara Reza yang masih dalam kondisi sadar, meraih ponselnya untuk menghubungi pihak maskapai.
Saat semua orang sedang dal;am kepanikan tiba-tiba saja seseorang masuk ke dalam rumah.
“Sayang, aku pulang!”
“Shian, Gwen, papa pulang Nak!”
Semua orang menoleh ke arah sumber suara, dan dengan mata membulat mereka melihat pria yang beberapa detik yang lalu telah dianggap mati itu.
Halo gaes, cuma mau ngasih tau aja. Cerita Yoshi Ana ada di Novel ini ya, barangkali mau mampir, Dan biasanya kalo udah baca Yoshi Ana susah bgt move on-nya wkwk 😆
My Husband is my Secret lover by lady Meilina
Thank you kesayangan 🤗
__ADS_1