
Selama briefing di ruang mesin berlangsung, Luna sama sekali tidak dapat berkonsentrasi, pikirannya terus berkelana mengingat apa yang dikatakan oleh Paku Bumi, sesekali Bumi menatap wajah gadis itu, ia bisa merasakan jika Luna tidak mengikuti briefing dengan benar.
“So, guys are you ready for today?” tanya Chief Engineer pada seluruh kru di departemen mesin itu.
“Yes Chief!!” jawab para ABK itu serempak.
“Laluna, are you okay?” tanya pria bule itu, ia menanyakan apakah Luna baik-baik saja atau tidak.
“Yes Chief, Iam good,” jawab Luna sedikit kaget, dan ia mengatakan jika dirinya baik-baik saja.
“Kau tampak seperti kurang fit Luna,” ucap chief itu.
“No Chief, saya baik-baik saja. Hanya kurang minum mungkin,” ucap Luna asal.
“Ah baiklah, get some water and then go back here,” sang atasan meminta Luna untuk pergi mengambil air minum kemudian kembali lagi ke ruangan itu.
“Baik Chief!” Luna pun pergi meninggalkan briefing kemudian menuju kru mess untuk mendapatkan air mineral. Ia memutar gelas berisi air itu, ia tak meminumnya sebab tidak merasa haus sedikitpun.
Bumi datang menghampirinya
“Lun, lo kenapa? Masih mikirin dewa yunani lo itu apa?” tanya Bumi.
“Hmm, nggak!” jawab Luna tanpa melihat wajah Bumi.
“Alah gue tau Lun! Lo demen ama dia kan?”
“Apaan sih Bum!”
“Lun, saran gue sih lupain aja dia! Dia udah punya pacar Lun!” Bumi tak ingin sahabatnya itu terluka.
“Apaan sih Bum!” Luna semakin kesal, bukan kesal pada Bumi tetapi lebih kepada dirinya sendiri, sebab ia tak mampu mengatakan yang sebenarnya pada sahabatnya itu.
“Lun, gue tau dia emang keren, cool, punya pangkat tapi banyak cewek yang ngejar-ngejar do’i. Lo bakalan makan ati doang tau!”
“Bum, lo bisa diem gak! Kalo nggak, elo yang bakalan gue makan!” Luna berdecak kesal kemudian kembali ke briefing area di ruang mesin.
Suhu Engine Control Room yang sangat dingin karena letaknya yang berada di bawah permukaan air laut, menyebabkan para staff engine harus mengenakan seragam wearpack yang didobel dengan dalaman tebal.
Itupun masih dirasa kurang meredam suhu dingin yang menerpa kulit mereka.
Tapi, tidak dengan Laluna, meskipun ia tidak mengenakan seragam berlapis, dia terlihat biasa saja.
“Lun, lo gak pake setelan long john?” tanya Bumi, memperhatikan gadis itu.
“Nggak!”
“Wih, kulit badak emang tahan dingin ya!” ejek Bumi.
“Gerah gue Bum!” Luna menghela nafas panjang.
“Wah, gila! di peraian Baltic elo masih bisa kepanasan?" saat itu sedang musim dingin di area itu.
“Masih! apa lagi kalo denger elo ngoceh terus kayak gini!” Luna semakin merasa kesal setiap Bumi menghampirinmya, sebab ia akan kembali membahas masalah Reza dengan gadis misterius itu lagi.
__ADS_1
Malam tiba.
Luna berulang kali menelepon ke kabin suaminya, namun lagi-lagi Reza tidak mengangkat telepon dari istrinya itu.
“Ah Kak Reza! Lagi ngapain sih?” gumamnya, ini sudah kali ke tiga puluh ia menghubungi kabin kapten itu.
Luna kembali mencoba menghubungi lagi, hingga akhirnya membuatnya lelah.
Seseorang mengetuk pintu dan Luna berharap itu adalah suaminya. Namun, ternyata kali ini ia belum beruntung.
“Good evening Luna,” ucap pria dengan tiga setrip di pundaknya itu.
“Go-good evening Chief,” jawab Luna saat mengetahui jika ternyata bosanya-lah yang datang ke kabinnya.
“Luna, sebelumnya saya minta maaf ya, mungkin ini akan merepotkanmu, tetapi jika kau tidak keberatan bisakah kau menemaniku untuk datang ke acara captain’s corner malam ini?”
“Ke acara captain’s corner Chief?” Luna menjadi kaku, sebab ini adalah momen yang langka terjadi, tidak biasanya bosnya akan mengajaknya ke acara formal seperti itu, dan mengapa harus dirinya, ada beberapa kru wanita di departemen engine yang lebih layak dari pada dirinya.
“Aku tau, mungkin ini akan membuatmu heran, tetapi staff lain sedang sangat sibuk hari ini, Dan hanya kaulah yang tersisa,” ucap Bos Luna itu, padahal dalam hatinya berkata bahwa Luna adaah staff paling muda dan cukup cantik jika ia membawanya ke acara tersebut sehingga tidak akan memalukan baginya.
“Bukan begitu Chief, saya rasa saya tidak pantas,” ucap Luna.
“Aku sangat berharap ksu bisa membantuku Laluna, Hotel director dan jajaran officer lainnya mengharapkan setiap officer yang hadir harus membawa pasangan,”
“Ini tidak akan memakan waktu lama Luna, hanya sekitar tiga puluh menit, setelah introduction pada guest, kau bisa pergi,” Luna merasa tidak enak untuk menolak ajakan pria itu,
jika ia bukan bosnya, maka dengan mudah Luna bisa menolaknya, sayangnya ia adalah bosnya di departemen yang menaungi dirinya.
“Baiklah jika begitu Chief, saya akan bersiap,” ucap Luna, kemudian menutup pintu kabinnya.
“Bella akan membantumu bersiap,” saat itu juga teman Luna yang bernama Bella masuk ke kabin itu, Lunapun terkejut, sejak kapan Bella ada di koridor itu.
Bella membawa sejumlah peralatan make up dan sebuah gaun untuk Luna.
“Ciee, Laluna..” ledek Bella, gadis itu adalah seorang trainee juga, sama seperti Luna tapi mereka jarang bertemu sebab Bella dan Luna berbeda shif.
“Apaan? Cie-cie!” jawab Luna.
“Dating sama si bos niye!”
“Dating kepalamu! Dasar Anabelle!” balas Luna.
“Wih, serem dong! Buruan sini gue make over Lun!” ucap Bella sambil meraih beberapa pemoles wajah di atas meja.
“Kenapa gak lu aja sih, yang nemenin si bos?” tanya Luna, sementara Bella mulai menggerakkan tangannya pada wajah Luna.
“Gak tau, kan cakepan elo daripada gue!”
“Gue juga bukan tipenya si bos, Lun!” jawab gadis manis itu.
“Emang gue tipenya si bos? udah tuwir kali dia!” ucap Luna menyinggung bosnya yang seorang duda itu.
“Tapi hot kan? hahaha!" jawab Bella.
__ADS_1
“Dasar mesuum!” Luna pun memperhatikan kelihaian Bella dalam memakaikannya eye shadwos, blush on, bulu mata palsu, dan segala macam alat kecantikan lainnya.
“Lo cantik juga Lun!”
“Lah emang gue cantik!” ucap Luna bangga, kini ia tinggal memakai gaun dan sepatu.
“Sini gue bantuin pake gaunnya,” ucap sang teman.
Dalam sekejap, Luna telah siap.
Luna terlihat anggun dengan dengan gaun berwarna mauve, gaun selutut dengan salah satu lengannya yang terbuka, rambutnya tercepol rapi dengan swarovsky hair pin di sisi kiri kepalanya.
Belt silver berkilauan menghiasi pinggangnya. Meskipun gaun itu tidak bgitu terbuka tetapi mampu menampakkan kaki jenjang gadis itu dengan sempurna. Dan yang terakhir, stiletto berwarna senada dengan gaunnya melengkapi keindahan gadis itu.
Satu kata untuk Luna ‘perfecto’
Tiba di acara.
“Luna, apa kau keberatan jika meletakkan tanganmu pada lenganku?” Ucap Chief Engineer, sambil memperhatikan gadis cantik fi sebelahnya.
Luna tampak ragu, sejenak ia melihat sekeliling, hingga matanya menangkap sosok yang membuatnya kesal hari ini,
“Kak Reza? Ah aku hampir saja aku lupa jika suamiku-lah yang mengisi acara ini, aku akan menyapanya setelah ini,” gumam Luna dalam hati.
Tetapi, ia baru sadar jika di samping Reza telah berdiri seorang wanita dengan ciri-ciri seperti yang dikatakan oleh Bumi siang ini.
“Siapa dia?” lagi-lagi Luna bermonolog, tangannya gemetar saat menatap gadis itu terus menempel pada sang kapten.
Reza berusaha menghindar, tetapi tidak begitu menghindar juga. Begitu sulit untuk dijelaskan, di sisi lain dia harus menjaga attitude-nya pada tamu.
“Ah, menyebalkan sekali! Lihat saja, setelah acara ini berakhir!”
“Luna..” ucap bosnya, Luna pun seketika melingkarkan tangannya pada sang officer.
“Iya Chief, baiklah,” dengan geram gadis itu terpaksa melakukan hal itu, akibat terbakar api cemburu.
“Tenang, setelah introduction, kau boleh kembali ke kabinmu,” ucap duda tampan itu, dan Luna pun mengangguk.
“Luna, kita kan menyapa Kapten Roosevelt dulu ya,” Chief itu membawa Luna menuju tempat sang kapten berada.
“Baik Chief,” Luna mengangguk. Sesekali ia membetulkan gaunnya yang tersingkap saat ia berjalan, menunjukkan paha mulusnya.
Reza merasa sangat risih, sebab sejak tadi Sharon terus menempel pada dirinya, bahkan resepsionis terus mengubungi kapten itu, akibat Sharon melakukan complain terus menerus tentang segala hal jika ia tidak bisa bertemu dengan Nahkoda kapal itu.
"Good evening Capt," sapa Chief Engineer pada Kapten, Reza pun menoleh dan seketika matanya tertuju pada seorang gadis di samping officer duda itu.
"Good Evening Chief Engineer," ucap Reza, suaranya tertahan ketika melihat tangan Luna melingkar pada lengan sang duda setrip tiga itu.
"You looks gorgeous Capt, and Ma'am," Luna menyapa Reza dan Sharon yang juga melingkarkan tangannya pada lengan suami Luna.
Reza terdiam, hatinya bergemuruh seperti ombak lautan Baltic yang sedang di terjang badai, ingin rasanya ia menarik istrinya yang terlihat seksi itu dan meminta penjelasan tentang semuanya.
Sama halnya dengan Luna sejak tadi ia menahan dirinya, jika tidak ingat ini adalah area kerjanya sudah dari tadi ia mengeluarkan jurusnya untuk menyerang gadis bule pelakor itu.
__ADS_1
Bersambung…