
Reza dan Alex tiba di rumah pukul dua belas malam, lalu pria itu segera menuju kamarnya, sejak acara pertunangannya dengan Sharon berlangsung pria itu terus saja memikirkan Luna ia takut terjadi sesuatu pada sang istri, belum lagi rasa bersalah yang ia rasakan sepanjang hari ini.
Reza membuka pintu kamar itu perlahan, khawatir jika Luna sedang tidur. Malam ini juga Reza akan mengatakan semuanya kepada Luna.
“Sayang! Aku pulang!” ucap Reza tetapi tak ada jawaban dari Luna. Dia pun melihat ke kamar mandi dan juga ruang ganti, tetapi tak juga ia temukan sosok istrinya itu. Reza mulai panik dan keluar dari kamar, sementara Ganis berlari menaikki anak tangga menghampiri Reza.
“Kak!” ucap Ganis terengah-engah.
“Nis, dimana Luna?” tanya Reza dengan raut wajah kebingungan.
“Luna pergi Kak!”
“Apa?”
“Apa maksudmu Nis?” pria mulai merasakan ketidaknyamanan di hatinya.
“Kak, apa yang telah kakak lakukan hari ini?” sergah adik Reza itu menatap tajam ke arah kakaknya sambil meunjukkan sebuah postingan di media socialnya pada layar ponsel.
Reza mengamati berita tentang dirinya itu dan segera menyambar ponel adiknya.
“Apa? Jadi mereka mengunggah acara hari ini?” Reza mengacak rambutnya, merasa frustasi ia tak dapat membayangkan bagaimana ekspresi Luna saat melihta foto pertunangannya dengan Sharon hari ini.
“Ganis, apa Luna melihatnya?” sergah Reza menarik pundak gadis itu.
“Iya Kak! Kakak jahat! Apa yang kakak lakukan sebenarnya ha?”
“Nis, aku akan menjelaskannya setelah ini, tetapi dimana Luna?” Reza semakin tidak karuan, ia sungguuh menyesali apa yang terjadi hari ini.
“Kak! Apa kakak tau! Luna sangat terpukul saat melihat semua ini!”
“Nis aku tau tetapi akupoun melakukan semua ini dengan sangat terpaksa karena kondisi Sharon yang sedang kritis,”
“Tapi, kakak telah menyakiti Luna! Jika memang kakak berniat membantu Sharon dan Om Kuppens seharusnya kakak mengatakannya pada Luna! Bukan seperti ini!” emosi Rengganis begitu meluap-luap, ia membayangkan bagaimana perasaan Luna saat ini.
“Sekarang katakan, dimana Luna!” bentak Reza, tak tahan lagi dengan rasa khawatirnya.
“Kak kau sangat tega! Kau membiarkan istrimu merasakan kekecewaan seperti itu di saat kondisinya sedang --,” ucap Ganis terpotong.
__ADS_1
“Sedang apa Nis?”
“Luna hamil Kak! Kami baru mengetahuinya hari ini saat kakak tidak ada di rumah!” Ganis menunjukkan sebuah tespek bergaris dua di tangannya. Reza pun terdiam seakan mendapat tamparan yang keras. Hatinya terasa hancur membayangakan bagaimana hancurnya perasaan istrinya saat ini.
Terlebih Reza begitu terlihat bahagia saat fotografer mengambil foto pertunangannya dengan Sharon.
Reza menatap sebuah alat pendeteksi kehamilan itu dengan mata nanar, rasa bahagia dan terharu begitu bencampur menjadi satu. Dia tak sabar ingin memeluk dan mencium perut Luna yang saat ini sedang tumbuh darah dagingnya di sana.
“Benarkah ini Ganis? Apa aku akan sungguh-sungguh menjadi seorang ayah?” Reza menitikkan air mata, tak percaya jika do’anya telah dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa.
Sayang, maafkan aku. Mengapa berita sebahagia ini harus ternodai dengan perbuatan bodohku!
Reza bodoh! Bodoh! Bodoh! gumam pria itu terperosot ke lantai.
“Nis, dimana Luna? Please jujurlah padaku!” Reza kembali tersadar dan mencari-cari dimana keberadaan sang istri.
“Kak, Luna pergi ke rumah orang tuanya!” jawab Ganis.
“Apa? Selarut ini? sendiri?” Reza kebingungan bukan kepalang.
“Kak! Kenapa kakak menyalahkanku! Aku sudah berusaha menahan Luna, apa kakak pikir aku tega pada sahabatku itu!”
“Luna terlalu sakit hati Kak!”
Reza pun berlari ke luar dan segera melajukan mobilnya ke bandara. Sementara Alex juga tak kalah kebingungan ia sibuk menelepon sang istri yang sedang mengikuti Luna, tetapi terus saja gagal.
Pria itu merasa sangat bersalah pada menantunya apalagi dengan kondisi Luna yang saat ini sedang mengandung cucu impiannya.
Sayang, dimana dirimu! Aku bersumpah tidak akan memaafkan diriku sendiri jika sampai terjadi sesuatu padamu Luna! gumam Reza sambil memukul kemudi.
Dalam kabin pesawat Luna tak dapat menghentikan tangisannya, teringat wajah sang suami yang terlihat sangat bahagia itu dengan Sharon membuatnya begitu sesak napas karena perihanya luka di hati, Reza telah membohonginya dengan sedalam ini.
Teganya kau Kak! Apa salahku padamu? Jika memang kau mencintaI Sharon lalu kenapa saat itu kau menikah denganku? Jika seperti ini akhirnya aku tak akan sudi untuk menerima pertungan kita saat itu!
Itulah mengapa kau begitu menolakku saat aku ingin ikut bersamamu hari ini, itulah mengapa beberapa hari ini kau terkesan mengacuhkanku! Sekarang aku tau, kau memiliki hubungan dengan Sharon di belakangku!
Aku tak akan membiarkan kau menyentuh anak ini Kak!gumam Luna sambil memegangi perutnya.
__ADS_1
Setelah mengetahui berita itu, Luna langsung mengemasi barang-barangnya dan tanpa banyak berbicara pada Ganis dan Dewi, iapun segera memesan taksi ke bandara. Dewi, ibu mertuanya begitu khawatir pada keadaan Luna lalu mengikuti gadis itu ke bandara.
Tetapi sudah terlambat, saat itu Luna langsung mendapatakan tiket direct ke Surabaya dan Dewi tak mendapatkan tiket yang sama.
***
Keesokan harinya Reza tiba di rumah Pramuja, dengan keadaan yang acak-acakan dan dia mengetuk pintu rumah mertuanya itu. Reza begitu kacau dengan mata yang memerah.
Tok
Tok
Seseorang membuka pintu rumah dan dengan tiba-tiba memberikan pukulan pada wajah Reza.
Bugh
Bugh
“Yosh! please dengerin gue dulu! Ijinin gue buat ketemu sama Luna!” ucap Reza sambil menahan rasa sakit pukulan kakak ipar Luna itu.
“Lo apain adek gue ha!” Yoshi menarik kerah baju pria malang itu dengan kuat.
“Yosh! please! Ini gak seperti yang Luna pikirkan! Gue bisa jelasin semuanya!” Reza pasrah saat tangan Yoshi kembali menghajarnya.
Ana yang mendengar keributan itu segera keluar rumah dan menghentikan suaminya.
“Mas! Hentikan Mas! Sudah!” Ana menahan tubuh sang suami, agar tidak memberikan pukulan pada Reza lagi.
“An, please! Bolehin gue buat ketemu sama Luna!” pinta Reza rasa sakit di tubuhnya tak lagi ia rasakan karena kini justru hatinyalah yang terasa teriris mendapati gadis yang sangat dicintainya harus kembali ke rumah kedua orang tuanya dalam keadaan hamil.
“Za! Gue gak nyangka kalo lo itu berengsek!” ucap Yoshi, tubuh pria yang sama tegapnya dengan Reza itu kini bergetar menahan emosi, ia sudah menganggap Luna sebagai adik kandungnya sendiri bukan lagi sebagai ipar.
“Tau gitu gue nikahin aja Luna sama anaknya Pak Lurah!” bentak Yoshi.
“Adek gue gak dilahirin cuma buat disakitin sama cowok kayak elo!” Yoshi hendak memukul Reza lagi, tetapi tiba-tiba saja Pramuja datang dan melarangnya.
“Yoshi, hentikan!" perntah ayah mertua Reza itu.
__ADS_1