
Harap bijak dalam membaca dan menanggapi, juga menjalani hidup ini ya gaes wkwk!
“Kakak pergi saja!” ucap Luna masih menahan pintu, gadis itu bertubuh ramping, tatapi tenaganya cukup kuat.
Bagaimanapun ayahnya telah melatihnya dengan sangat baik sejak ia masih kecil, berbeda dengan Ana. Ana lebih dominan pada sifat lemah lembut meskipun sebenarnya ia juga kuat.
Kuat untuk berlari dikejar-kejar rentenir selama bertahun-tahun lamanya, wkwkw (LAGI KANGEN KALI SAMA YOSHI ANA NIH GENK, HIKSS😓😓)
“Luna, kita harus bicara!” kapten masih memiliki kesabaran, meskipun sebenarnya ia juga kesal pada Luna.
“Bicara saja!”
“Kakak bisa bicara dari balik pintu!” gadis itu semakin mendorongkan tubuhnya, Reza mulai lelah dan khawatir jika ada yang melihat pertunjukkan itu, meskipun sebenarnya bukan masalah baginya, untuk mengakui Laluna sebagai istrinya di kapalnya.
Tetapi yang jadi masalahnya adalah ada pada Luna sendiri. Tentu gadis itu akan semakin marah padanya jika semuanya terbongkar.
“Mana bisa begitu Luna? Aku ingin melihat wajahmu! Aku tak bisa berbicara tanpa bertatap muka, sayang,”
“Kakak jangan memanggilku sayang lagi!” ucap Luna, Reza bisa membayangkan bagaimana ekspresi gadis yang sedang kesal itu, ia semakin tak tahan dibuatnya.
“Sayaang..” Reza masih ingin menggoda istrinya.
“Luna, aku takut jika seseorang melihatku berada di sini, dan mencoba membuka paksa pintu kabinmu, apa yang akan mereka pikirkan, sayang?”
“Makanya kakak pergi saja! Kenapa masih di sana?” jawab Luna ketus.
“Luna, kau benar-benar membuatku gemas!” akhirnya Reza mendorong pintu itu, lebih kuat lagi.
Bughh
Luna terpental, hingga membentur dinding kabin, Reza pun masuk dan menutup pintun kabin itu dengan double lock, agar tak ada yang bisa membukanya dari luar, meskipun menggunakan kunci master sekalipun.
“Auwwh!” Luna memekik kesakitan saat lengannya menghantam dinding, Reza pun terlihat khawatir melihat Luna yang terjatuh ke lantai dengan gaunnya yang tersingkap menunjukkan paha putihnya.
“Luna, mana yang sakit?” tanya kapten itu menyentuh paha istrinya.
“Kak, yang terbentur lenganku! Kenapa kau memegangi pahaku!” ucap Luna, masih terlihat kekasalan di wajahnya.
“Aku tak tau, mengapa tiba-tiba tanganku reflek menyentuh bagian ini,” ucap pria itu tersenyum, mata birunya menyipit saat bibirnya tersenyum lebar. Luna tau suaminya masih ingin menggodanya, sejak tadi Luna hanya melihat sisi jahil suaminya saja, tanpa ada keseriusan yang berarti.
“Modus sakali!” dengus Luna kesal, kemudian menutup bagian tubuhnya yang terekspose itu.
Luna pun berdiri dengan dibantu Reza, sejak tadi mata pria blasteran itu hanya tertuju pada bagian-bagian yang menonjol dari tubuh istrinya, Luna sering memakai wearpack saat tengan bekerja, jadi keindahan tubuhnya tak pernah terlihat begitu saja.
Karena staff dari departemen mesin tidak sama dengan departemen hotel, dimana para gadisnya mengenakan seragam yang cantik.
“Kau cantik Luna,” ucap Reza, meraih tubuh berbalut gaun indah itu. Pria itu mensejajarkan dirinya pada Luna, kini ia meraih dagu istrinya dan berbisik.
__ADS_1
“Jangan salah paham lagi ya, sungguh aku hanya mencintaimu Laluna.” Luna terdiam, inilah sebabnya ia tak mau menatap wajah suaminya saat sedang marah, gadis itu selalu terlena dan terbuai pada mata elang kebiruan Reza.
“Luna, katakan sesuatu, apa kau masih marah padaku?” Luna masih saja tidak mau menjawab perkataan Reza.
“Baiklah, aku minta maaf ya, meskipun aku tak tau dimana salahku,” Reza memanyunkan bibirnya berpura-pura merajuk.
“Kak..” Luna mulai mengeluarkan suaranya.
“Iya?” jawab Luna.
“Jika memang kakak ingin kembali pada Sharon, aku tak apa-apa,”
“Apa yang kau katakan Luna? Jangan membahas ini lagi, ini bukan saat yang tepat untuk membahasnya.” Reza mulai mengecup bibir istrinya.
“Kak, aku sedang tidak ingin bermesraan,” ucap Luna. Dan hal itu kembali membuat Reza tertawa.
“Tapi aku ingin…” Reza semakin memperdalam ciumannya.
“Kak, kenapa kau menukar minumanku di acara tadi?” akhirnya gadis itu mennayakan hal yang sejak tadi membuatnya penasaran.
“Kau akan menemukan jawabannya besok pagi,” ucap kapten itu dan kembali melanjutkan aksinya.
“Apa maksud kakak?” Luna tak kuasa menahan desiran yang dihasilkan sentuhan suaminya.
“Sayang, jangan terus berbicara, atau kau akan merusak momen ini,” ucap Reza.
“Aku tak perduli Luna,” Reza menarik gaun itu dengan kasar, kali ini ia tak ingin gagal lagi. Ingatan tentang chief engineer yang berusaha mendekati istrinya malam ini membuatnya diselimuti api cemburu.
“Luna, siapa yang mengijinkanmu memakai gaun itu malam ini?” Reza mengecupi tubuh istrinya yang tinggal tertutupi dua helai kain itu.
“Chief Kak, ia memintaku untuk menemaninya datang ke acaramu hari ini,” ucap Luna, ia merasa malu saat Reza menatap tubuhnya dari atas hingga bawah.
“Dan apa dia juga yang memintamu untuk berjalan dengan menautkan tanganmu pada lengannya?” Reza menciumi tangan gadis itu. Mmembuat Luna mendes*h kecil, karena sensasi geli.
“Benar Kak,”
“Dan kaupun membiarkannya merangkul pinggangmu yang ramping ini?” kapten itu pun menciumi perut istrinya yang rata hingga ke pinggangnya.
“Kak, kau membuatku geli!” Luna menggeliat saat sapuan bibir nahkoda itu menghujani setiap inci tubuhnya.
“Kau membuatku terbakar,” ucap Reza dengan wajah yang memerah. Dia pun menanggalkan pakaiannya, mulai dari tuxedo yang ia kenakan kemudian kemeja di dalamnya, satu persatu mulai terlepas.
“Luna, buka matamu, kenapa kau menutupnya?hm?” pria itupun meraih tangan Luna dan menahannya dengan tangannya.
Wajah gadis lugu itupun semakin memerah menahan hawa n*fsu yang bercampur dengan rasa malu.
“Kak, bagaimana jika ada yang mengganggu lagi, bagaimana jika tiba-tiba ada fire alarm? Meeting dadakan atau drill misalnya?” Luna berusaha mengalihkan suasana.
__ADS_1
Tanpa menjawab perkataan istrinya, kemudian kapten itu meraih radio yang terpasang pada saku celananya lalu menekan tombol off. Kemudian memutus sambungan telepon yang ada di kabin Luna.
“Kenapa kakak memutus semua akses komunikasi?” tanya Luna, ia mulai ketakutan sepertinya kali ini gadis itu tak akan selamat.
“Agar tak ada yang mengacaukanku lagi, sayang,” ucap Reza kembali membelai kulit mulus istrinya, dia mengambil hair pin yang berada di rambut Luna.
“Ini akan sakit jika menusukmu Luna,” ucap Reza meletakkan jepitan rambut itu di atas meja.
“Apa Kak? Menusuk?” Luna tidak fokus dengan uacapan suaminya, ia malah berfikiran pada sesuatu yang lain.
“Hmm..” Reza hanya menjawabnya dengan deheman.
“Kak, apa akan sesakit itu?”
“Ya, tentu saja, benda itu tajam Luna, hati-hati!”
“Bukankah kakak yang seharunya berhati-hati?” Reza mengerutkan keningnya, ia berfikir sepertinya istrinya sedang berfikir tentang hal lain.
“Apa yang kau pikirkan Laluna?”
“Apa ini berarti lampu hijau?” Luna menutup wajahnya, ia benar-benar salah tangkap, ia pikir suaminya sedang membicarakan hal itu.
“Dengar, kau benar sayang. Sepertinya ini akan sakit tetapi tak akan lama, tenanglah..” Reza melepaskan semua yang tertempel pada tubuhnya, begitupun apa yang ada pada tubuh istrinya, mereka sama-sama polos saat ini.
Luna menelan salivanya saat melihat dada bidang, perut sixpact dan sesuatu yang mengeras yang menyentuh kulit pahanya.
Desiran itu kembali hadir, tangan gadis itu menjadi dingin dan gemetar saat tubuh mereka berada pada jarak nol centimeter. Reza kembali menjelajahi leher jenjang itu, dan turun ke bawah, ke area dada dimana dua buah kencang gadis muda itu berada.
Cukup lama, Reza menikmati tubuh itu, Dan ia mulai melakukan penyatuan, sedikit demi sedikit, pelan namun pasti.
“Kak sakiit!” Luna berteriak, ia adalah ‘anggota komunitas bela diri’ di kotanya, ia sering sekali berlatih pertahanan hingga mmebuat sesuatu yang sangat ia jaga begitu sulit untuk diterjang Reza.
“Ya, sayang. Aku tau,” ucap Reza masih dengan usahanya, ia tak kuasa melihat air mata Luna mengalir di pipi mulus itu. Reza pun mengecupinya kembali untuk mengalihkan rasa sakit.
“KAK REZA!!” teriakan itu semakin kencang, saat milik suaminya mulai mendorong lebih kuat. Reza tak memperdulikan Luna yang tengah dilanda sakit akibat robekan itu.
“Sayang, sedikit lagi,” bisik Reza pada telinga istrinya. Luna memejamkan matanya, menahan benda asing yang sedang menghujamnya.
“Kak, please! Pelan-pelan saja!”
“Astaga, harus sepelan apa lagi sayang?” jika dipelankan lagi, maka itu berarti akan berhenti.
“Ini ngilu sekali kak!” Luna mulai menangis,
Reza pun memjamkan matanya, menahan kekesalan, baginya wajah Luna yang sedang menangis seperti itu sangat membuatnya tidak tega, sepertinya cukup sampai di sini dulu latihannya ya genkk!
Bersambung…
__ADS_1