I LOVE YOU CAPT !!

I LOVE YOU CAPT !!
Bahaya


__ADS_3

Usai dari café, kamipun pulang. Sepanjang perjalanan tak ada kata yang terucap antara kami. Kapten sibuk mengemudi dan aku sibuk melihat ke arah jendela, ucapannya di café tadi membuatku tak bisa berfikir dengan jerih.


"Luna,.. " Ucapnya lirih.


"Ya Capt," jawabku, singkat. Aku tak berani menatap matanya.


"Luna, apa kau sungguh ingin menolak perjodohan ini?"


"Maafkan saya kapten, sungguh saya belum siap untuk menikah." Ucapku sambil meremass jemari. Aku sangat gugup mendengar pertanyaan itu lagi.


"Meskipun jika aku sendiri yang melamarmu seperti ini?" tanyanya.


Blussh..


Seketika hawa panas itu menyerang wajahku lagi. Badanku terasa hangat tetapi tanganku dingin.


"Lun, jawablah. Aku butuh jawaban." Kata kapten, ya ampun dia ini sebenarnya kenapa. Tak taukah dirinya jika jantungku saat ini bergedegup kencang hingga membuat bibirku kelu tak dapat dan berbicara.


"Sekali lagi aku tanya padamu will you marry me Laluna?" tanya kapten sambil menatapku dengan intens. Sadarkah dia telah mengatakan itu padaku?


"Sa-saya.. Saya--" kataku terpotong sebelum akhirnya kapten menjawabnya sendiri.


"Haha Luna, aku hanya bercanda. Lihatlah wajahmu! kau sangat tegang." Ucapnya tertawa terbahak. Astaga dia ini bisa sejahil ini ternyata. Sungguh tak dapat dipercaya.


"Ah kapten, hahaha" aku pun ikut tertawa, tetapi jujur jantungku masih belum bekerja dengan benar. Kulihat senyuman dan tawa tampannya, baru kali ini dia terlihat seperti ini. Dan itu sangat menarik hatiku.


"Yang benar saja Luna, kau lebih cocok untuk menjadi adikku bahkan usiamu juga lebih muda dari pada Ganis." Kata kapten sambil memperhatikan diriku dari atas sampai bawah. Aku lega akhirnya dia benar-benar tidak tertarik padaku.


"Apa kapten tidak mencoba mencari kak Sharon?"tanyaku, entah kenapa aku begitu penasaran dengan kisah mereka.


"Entahlah Luna, dia tidak mau menikah denganku. Aku tidak akan memaksanya." Ucapnya dengan tenang, tetapi aku tak melihat adanya kesedihan pada wajah itu.


"Memangnya bagaimana awalnya Capt? Bukankah seharusnya sebuah hubungan yang telah lama terjalin tidak akan semudah itu untuk dilepaskan?"


"Apa kau pikir aku dan Sharon benar-benar memiliki hubungan selama ini, Lun?"


"Tentu saja kapt, buktinya kalian sudah sampai ke jenjang pertunangan, bukan?" tanyaku, kali ini kurasa diriku sangatlah lancang.


"Lalu apa saranmu untukku Luna?"


"Sebaiknya kapten mencari Kak Sharon dan membicarakan apa yang menjadi masalah di antara kalian selama ini." Aku pun mencoba memberikan saran untuknya entah ini benar atau salah.


"Jadi aku harus mencari Sharon sekarang?" tanyanya, astaga dia ini kenapa. Sepertinya patah hati karena ditinggalka Sharon telah membuat kapten sedikit oleng.


"Ya, kapten. Terkadang cinta memang butuh perjuangan bukan?"


"Hahaha Luna, sudahlah hentikan perbincangan ini. Kau membuat perutku sakit saja." Katanya sambil terbahak lagi.


"Kenapa kapten tertawa? Apakah saya salah?"

__ADS_1


"Tidak, sudah ya. Jangan membahas ini lagi." Akhirnya kapten berhenti tertawa.


"Maafkan saya telah lancang Capt," ucapku pelan, aku sungguh menyesal.


"Apa maksudmu? Kau sama sekali tidak lancang Lun."


"Tetapi kenapa anda menertawakan saya Capt?"


"Hanya lucu saja, jangan meminta maaf lagi dan berhentilah menggigit-gigit bibir bawahmu seperti itu Luna." Kata kapten, aku memang sering menggigit bibir saat sedang gugup.


Akhirnya kami tiba di rumah.


"Luna! dari mana saja?" tanya ibuku bersiap untuk memberiku pelajaran.


"Iya buk, tadi Luna ke supermarket sebentar." Jawabku.


"Loh Reza, kok bisa sama Luna?" tanya nyonya Alex pada anak sulungnya.


"Oh iya ma, tadi gak sengaja ketemu di supermarket." Jawab kapten


"Ciee janjian nih ye!" ini suara Ganis mengejek kami.


"Apaan sih Nis." Ucapku.


Kami pun masuk ke rumah dan duduk bersama dua keluarga ini. Setidaknya kegugupanku mulai berkurang.


"Luna, Om mau bicara serius." Ucap om Alex padaku.


"Begini, kami semua sudah sepakat untuk menikahkan dirimu dan Reza, om harap kamu bersedia, Luna." Ucap om Alex, dan aku pun bingung harus berkata apa.


"Pa, Reza dan Luna tidak bisa menikah." Kata Kapten mencoba membantuku menjawab pertanyaan papanya.


"Kenapa?" tanya om Alex dan istrinya secara bersamaan.


"Hmm, Luna masih ingin melanjutkan pendidikannya pa." Kata kapten.


"Tapi, Luna masih bisa belajar setelah menikah nanti" om Alex masih berusaha mencoba untuk menikahkan kami.


"Pa, Reza juga masih belum siap. Intinya kami berdua masih sama-sama belum siap." Kata kapten.


Suasana di ruang tamu ini mulai tegang saat Om Alex dan kapten terus bersitegang, mengeluarkan unek-uneknya masing-masing.


Sementara bapak dan ibu hanya mengikuti alurnya saja. Begitupun denganku dan Ganis, lalu Ganis mendekatiku dan berisik pekan.


"Lun, keluar yuk. Lihat-lihat rumah lu." Ucap Ganis.


Di teras.


"Lun, gue mau ngomong sama lu."

__ADS_1


"Ngomong apa Nis? Kalo lu pengen gue nikah sama kakak lu, gue gak bisa." Ucapku, aku bisa menebak apa yang akan dikatakan oleh Ganis.


"Lun, plisss gue pengen liat keluarga gue damai. Lu liat kan bokap nyokap gue selalu aja ribut masalah kak Reza yang gak nikah-nikah." Ganis mulai meneteskan air matanya, membuatku tidak tega saja.


"Tapi, Nis. Kenapa harus gue? Masih banyak cewek lain yang bisa jadi bini abang lu."


"Lun, Kak Reza itu pemilih tapi kalo sama lu kayanya dia mau." Ucap Ganis sambil menyeka air matanya.


"Emang abang gue itu kurang ganteng ya Lun?"tanya Ganis


"Nis, Kapten itu gak ada rasa sama gue, dia bilang kalo dia bakal cari Sharon kok setelah ini." Kataku, mengingat-ingat percakapan kami di mobil.


"Astaga Lun, bohong dia itu!!" ucap Ganis.


"Gimana maksudnya Nis?"


Saat kami sedang sibuk membicarakan kapten tiba-tiba Ibuku datang


"Luna!! Ganis!! Pak Alex pingsan!!"


"Apaa?!" jawab kami serempak. Akhirnya kami pun masuk ke dalam.


"Ganis, Papa pingsan!" ucap Kapten panik,


"Ya ampun Kak, kenapa bisa begini?" tanya Ganis.


"Reza, cepat siapkan mobil!!" Kata bapak sambil mengangkat tubuh om Alex. Kami semua masuk ke mobil dan menuju rumah sakit.


Nyonya Alex terus menangis dan tubuhnya mulai lemas melihat suaminya pingsan dan akan di bawa ke rumah sakit. Ibu mencoba menenangkan Mama kapten itu sambil memeluknya erat.


Sementara aku mencoba menenangkan Ganis yang juga sedang ketakutan.


"Nis, tenanglah. Papamu pasti akan baik-baik saja." Kataku pada Ganis.


"Lun, gue takut. Papa kritis kayak dulu lagi." Ucap Ganis terisak.


"Tenang Nis, jangan bicara seperti itu."


"Pasti tadi Kak Reza ribut sama papa, jadi menyebabkan Papa stres dan kambuh seperti ini."


"Lun, papa itu punya penyakit jantung. Jadi jika merasa tertekan sedikit saja maka penyakitnya akan mudah kambuh." Ucap Ganis masih saja menangis


Kemudian dokter datang setelah memeriksa om Alex. Dan kami semua berkumpul untuk mendengarkan penjelasan dokter tentang keadaan ayah Ganis itu.


"Keadaan pasien tidak cukup baik, jika hal ini terus terjadi maka dapat membahayakan nyawanya mengingat kinerja jantung pasien sudah melemah saat ini." Jelas dokter.


"Dok, apa yang harus kita lakukan?" tanya kapten dengan serius, aku bisa menangkap raut kehamilan di wajahnya.


"Untuk sementara ini biarkan pasien berada di ruang ICU dulu dan berusahalah untuk membuat pasien merasa tenang dan bahagia tanpa tekanan." Ucap dokter kepada kami semua.

__ADS_1


Seketika semua mata tertuju padaku dan kak Reza, seolah kamilah yang menyebabkan om Alex seperti ini.


"Mama tidak mau tau pokoknya kamu dan Luna harus menikah secepatnya sebelum keadaan papa memburuk Reza!" ucap nyonya Alex menghampiri kami berdua.


__ADS_2