I LOVE YOU CAPT !!

I LOVE YOU CAPT !!
Berteman


__ADS_3

Setelah acara tukar cincin itu, kami kembali berkumpul di ruang meeting yang masih berada di area hotel itu. Jangan tanyakan bagaimana perasaanku, tentu saja sejak tadi aku menahan diri untuk tidak kehilangan kesadaran.


Pasalnya ini adalah suatu drama terbesar di dalam hidupku, bagaimana mungkin seorang Luna yang jauh dari kata cantik ini menjadi tunangan dari kapten Roosevelt, atau kak Reza.


Aku terus memandangi cincin pertunanganku itu, sejak tadi aku ingin melepaskannya tetapi kapten tidak mengijinkanku. Aku tau jika ini hanya pura-pura. Orang tuaku dan orang tuanya pun hanya menganggap ini sandiwara. Jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan.


Tatapan pria yang kini menjadi tunanganku itu sangat membuatku risih, aku ingin segera pulang dari tempat ini.


Sungguh kapten, apa kau akan terus diam dan setenang ini ? batinku.


"Jadi bagaimana agent Pram, apa sebaiknya kita langsungkan saja pernikahannya setelan ini?" tanya om Alex pada bapak.


Astaga, apa-apaan ini? pernikahan? bukankah pertunangan tadi hanya pura-pura? Akankah terjadi pernikahan yang juga pura-pura?


Aku terus saja berpikiran sesuka hatiku, jujur saja aku sangat kebingungan.


"Sebaiknya secepatnya ya Bu Larissa. Bukankah tidak baik menunda-nunda hal baik seperti ini." ucap nyonya Alex, bukankah mereka bilang jika ini hanya sandiwara. Tetapi kenapa sekarang jadi sungguhan bahkan merembet hingga ke pernikahan.


"Saya terserah anak-anak saja tuan dan nyonya Vandenbergh." Ucap bapak sambil memberi isyarat kepada pasutri itu. Sungguh aku sangat penasaran apa mereka semua ini sedang merencanakan sesuatu.


Aku melihat ke arah Kapten dan dia pun juga sedang melihatku, aku berusaha memberikan kode padanya tetapi dia sangat tidak peka. Aku ingin sekali memecah kecanggungan ini tetapi aku takut.


Aku teringat akan ucapan bapak dan kapten jika om Alex memiliki riwayat penyakit jantung. Astaga bagaimana ini. Sementara aku tak dapat melakukan pembelaan sedikit pun.


"Bagaimana Luna dan Reza, menurut kalian kapan tanggal baiknya?" tanya nyonya Alex.


Aku dan kapten saling berpandangan lagi, aku ingin sekali dia memberikan klarifikasi atas kejadian ini. Namun bukannya mengatakan sesuatu. Kapten malah diam saja.


"Umm begini Om tante, bukankah acara hari ini hanya pura-pura?" tanyaku dengan sangat hati-hati.


"Luna!!" ucap ibuku sambil menginjak kakiku.


"Akhh sakit Buk!"


"Luna, sebelumnya kami minta maaf atas kejadian hari ini. Awalnya memang kami hanya menganggapnya sebagai sandiwara tetapi jika memang kalian merasa cocok mengapa tidak membuatnya menjadi sungguhan saja?" kata Om Alex. Aku benar-benar bingung harus berkata apa sekarang.


"Tapi om. Bu-bukankah... "


"Luna diam! jangan membuat om Alex tertekan. " Bisik ibuku pada telingaku.


"Sepertinya Reza dan Luna butuh waktu untuk saling mengenal satu sama lain, pak Alex." Ucap ibuku sambil menepuk pundakku.


"Buk, apa maksud ibu?"


"Sudah, menurut saja Luna!" kata ibuku membentakku lirih.


Kami pun berpamitan untuk pulang malam itu juga, sementara kapten masih terduduk terdiam di kursi tanpa memperdulikan orang di sekitarnya.


***

__ADS_1


Keesokan harinya kami tiba di rumah.


"Pak, Buk apa maksudnya kemarin?" tanyaku pada kedua orang tuaku.


"Apa bagaimana?" tnya ibuku.


"Luna dan kapten tidak mungkin menikah." Ucapku.


"Kenapa Luna?"


"Luna masih ingin sekolah dan bekerja, bapak tau itu kan?" kataku sambil melihat ke arah bapak.


"Ya Lun, tetapi sepertinya kalau dilihat-lihat kalian cocok juga."


"Ih bapak ini, bukannya memberi solusi malah semakin menjerumuskan," dengusku kesal.


"Apa masalahnya Lun? cukup ikuti alurnya saja."


"Ikuti alurnya bagaimana? Kapten sudah memiliki kekasih sebelumnya. Bagaimana mungkin Luna menggantikannya begitu saja pak?" aku mencoba mencari cara agar terbebas dari drama ini.


"Sudah tenanglah, bapak akan bicara pada om Alex jika memang kamu tidak mau dijodohkan dengan nak Reza, tetapi tunggu waktu yang tepat ya."


Akhirnya bapak memberi solusi juga, meskipun aku harus menunggu. Tak apa, yang penting drama ini segera berakhir. Sejujurnya kapten adalah orang yang baik, tampan dan mapan.


Tetapi tidak ada cinta diantara kami, dan lagi bagaimana nanti jika kekasihnya tiba-tiba kembali sedangkan statusku sudah menjadi istrinya.


Sungguh, itu adalah mimpi buruk. Aku tak mau itu terjadi padaku. Bisa saja aku menerima perjodohan ini tetapi aku lebih memikirkan bagaimana nantinya, aku tak ingin menyesal.


***


"Woy Luna, yokk main!" teriak Lucas di depan rumahku.


"Lama nih juara kita gak mencetak gol? Udah pulang lu Lun?" ini suara Nina dengan baju olah raganya.


"Tunggu ya, gue siap-siap dulu." Ucapku sebelum berganti pakaian.


Kami pun pergi ke tempat fusal, sesampainya di sana. Kulihat beberapa temanku sudah menunggu, sungguh aku sangat rindu pada mereka semua.


"Eh Luna pake cincin sekarang?" tanya Lucas sambil melirik tanganku yang sedang membawa bola.


"Widih, lu serius mau nikah Lun?" ini suara Rendra.


"Apaan sih emang siapa yang bilang?" tanyaku heran.


"Emak gue tadi pas lagi belanja dibilangin gitu sama tukang sayur?"


"Lah gimana ceritanya tukang sayur bisa tau?" aku sungguh tak menduga, bukankah hanya bapak dan ibu saja yang tau tentang drama itu.


"Iya, kemarin emak lu cerita ke emak gue abis itu beritanya nyebar kemana-mana kalo katanya lu abis tunangan." Kata Nina.

__ADS_1


"Dih jangan percaya deh, itu gosip tau!" jawabku menyangkal.


"Serius Lun calon suami lu kapten?" tanya Lucas kepadaku.


"Ah bokis ah, udahlah gue gak jadi maen!" Aku pun pergi meninggalkan mereka semua.


"Lah kok gak jadi maen Lun?"


"Luna!! gimana sih malah pergi gitu aja!" teriak Nina tetapi aku sudah menjauh.


***


Di perjalanan pulang, kaulihat ada notif pesan masuk dari nomor tidak dikenal.


"Luna sedang apa?" bunyi pesan itu tetapi aku tidak membalasnya aku sangat malas menanggapi nomor tidak dikenal seperti ini.


Tiba-tiba nomor itu menelepon. Dan aku pun mengangkatnya.


"Halo Luna," terdengar suara pria dari seberang sana.


"Ya, halo. Ini siapa?" tanyaku.


"Ini Reza, save nomorku ya Lun,"


Deggg..


Aku terdiam beberapa detik, masih tak percaya bahwa kapten lah yang meneleponku.


"Ka-kapten?" tanyaku.


"Ya, benar. Panggil Reza saja Luna, mulai sekarang bisakah kita berteman?" tanyanya, sungguh suara itu terdengar sangat seksi di telingaku dan mengapa kapten bisa-bisanya mengajakku berteman.


"Berteman?"


"Ya, kau dan aku menjadi teman. Maukah?" tanyanya.


"Ya kapten, tentu saja. Hehe," untung saja dia hanya melakukan panggilan telepon bukan video call. Jika tidak wajahku yang seperti udang rebus ini pasti akan ditertawakannya.


"Bagus, apa yang sedang kau lakukan?"


"Saya habis bermain futsal, Capt."


"Benarkah? Luna kau ini sangat unik." Jawabnya, dan apa katanya aku unik? apa dia kira aku ini benda antik


"Hehe.." sungguh aku tak tau harus berkata apa lagi.


"Luna, apa kita bisa bertemu?" tanyanya, Ya Tuhan taukah dia bahwa setelah drama kemarin aku sangat tidak punya nyali untuk menemuinya jika dia tau.


"Tapi, bapak melarang saya untuk bepergian jauh Capt." Ucapku, mencoba menghindar.

__ADS_1


"Tak masalah, aku akan datang ke rumahmu.."


__ADS_2