
Setelah acara itu aku terus saja memikirkan Luna, bahkan mungkin aku mulai tertarik dengan perjodohan ini. Dan mungkin juga aku sudah mulai tertarik pada gadis muda ABK ku itu. Tingkahnya sangat lugu bahkan hampir mirip dengan Ana, hanya saja Luna adalah Ana versi pecicilan.
Wajahnya pun hampir mirip dengan Ana, hanya saja Luna lebih manis karena ada lesung di pipinya. Aku heran pada diriku sendiri, mengapa wajah Ana masih saja terukir jelas di otakku.
"Reza, gimana menurut kamu? Apa Luna sesuai dengan kriteriamu?" tanya mama saat kami sedang sarapan.
"Belum tau ma," jawabku singkat.
"Roosevelt, papa tidak mau tau. Pokoknya kamu harus segera menikah. Dengan siapapun itu mau Luna mau Lina atau Lani terserah."
"Pa, ini terlalu terburu-buru. Reza masih harus mempersiapkan jiwa dan raga untuk bisa menjadi seorang suami." Ucapku mencoba membuat ayahku mengerti.
"Apa kau sama sekali tidak tertarik pada Luna sedikitpun?" tanya mama.
"Bukan begitu ma,"
"Lalu kenapa? Sudah berpuluh gadis yang kami tawarkan padamu selama bertahun-tahun ini, terakhir adalah Sharon, tetapi dia malah kabur. Dan sekarang satu-satunya pilihanmu adalah Luna putri kedua Om Pram. Apa kau mau menolaknya juga?" papa mulai emosi dan aku takut penyakitnya kambuh.
"Pa, apa papa yakin Luna akan menerima perjodohan ini?" jujur aku mulai ragu, sepertinya Luna tidak tertarik padaku.
"Yakin, bahkan sebelumnya kami telah menjodohkanmu dengan kakaknya Luna saat kalian masih belia, tetapi ternyata dia berjodoh dengan orang lain."
"Benarkah pa?" aku cukup penasaran sebenarnya, ternyata Luna memiliki kakak perempuan, dan aku juga hampir berjodoh dengannya.
"Tentu saja, papa sudah mengenal agent Pram sejak lama, karena sekarang hanya Luna yang tersisa, jadi menikahlah dengan Laluna, Roosevelt," aku bisa merasakan nada serius pada perkataan papa.
"Pa, tetapi Reza belum siap."
"Papa mulai ragu, sebenarnya kau ini normal atau tidak Reza?! Apa kapal menyebabkan dirimu berubah haluan?" Astaga papa sangat marah sekarang, dan apa katanya? dia bahkan curiga jika aku seorang gay.
"Astaga papa, Roosevelt masih normal, tenang saja."
"Mama tidak mau tau minggu depan kita akan ke Surabaya, menemui keluarga Om Pram untuk membahas masalah ini."
Aku pun tak dapat menjawab lagi, sepertinya kedua orang tuaku benar-benar marah saat ini. Dan akulah penyebab utamanya, akhirnya aku pergi ke kamar untuk menenangkan diri.
"Kak, mendingan nurut aja deh sama papa mama," Ucap Ganis yang tiba-tiba saja masuk ke kamarku.
"Tapi Nis, kakak belum yakin."
"Kak, Luna itu anak baik. Ganis sudah mengenalnya sejak di kampus dulu."
"Oh iya? Apa Luna juga pernah mempunyai pacar dulu?" Entah mengapa aku begitu kepo tentang Luna sekarang.
__ADS_1
"Dih kepo!! tanya sendiri dong!" Ganis malah meledekku.
"Nih ya, aku kasih nomer WA Luna!" Adikku itu pun langsung mengambil ponselku dan memasukkan kontak Luna.
"Serius ini nomor Luna, Nis?" tanyaku, aku takut Ganis hanya mengerjaiku.
"Dih, coba dong chat duluan."
"Ya udah deh. Entar kakak chat." Ucapku sambil memperhatikan nomor itu.
"Kak, aku cuma mau bilang, kakak harus berubah seperti dulu lagi, aku kangen kak Reza yang ceria kayak dulu, aku kangen kakakku yang dulu gak kaku kayak sekarang. Semoga Luna bisa mengembalikan dirimu yang dulu kak." Ucap Ganis sambil memelukku, benarkah apa yang dikatakannya. Benarkah aku telah banyak berubah sejak mengalami patah hati itu.
"Nis, kakak gak pernah berubah, kakak tetep Kak Reza mu yang dulu. Tidak ada yang berubah, kakak selalu menyayangimu." Ucapku sebelum akhirnya dia pergi dari kamarku.
***
Kupandangi layar ponselku yang tertera nomor Luna di sana. Akhirnya kuberanikan diri untuk mengirim pesan ke nomor itu, tetapi Luna tak kunjung membalasnya akhirnya aku punya meneleponnya.
Dia mengangkat telepon dariku, awalnya dia tak tau jika akulah orang yang telah mengirim pesan padanya. Entah kenapa Luna selalu memanggilku dengan Capt, padahal aku lebih suka jika dia memanggilku dengan kakak saja.
Atau mungkin menurutnya aku lebih pantas untuk menjadi omnya? Haha, ini sungguh konyol. Aku selalu saja mengirim pesan di whatsappnya terapi dia jarang sekali membalasnya.
Entah karena malas atau apa, aku tak tau. Yang jelas, terkadang ada rasa mengganjal dan kesal saat Luna hanya membaca chat ku tanpa membalasnya.
***
Setibanya di Surabaya kami langsung menuju kediaman keluarga Luna, tadinya aku merasa biasa saja, namun setelah kupikir-pikir bukankah maksud dari kedatangan kami kemari sama halnya untuk melamar Luna.
Astaga, kenapa aku baru menyadarinya sekarang. Jadi hari ini aku akan melamar Luna menjadi istriku. Tidak, aku belum siap. Akhirnya aku meminta ijin untuk pergi sebentar dengan alasan membeli sesuatu.
Padahal aku hanya merasa gugup untuk bertemu dengan Luna, terlebih lagi karena dia tak pernah membalas pesanku beberapa hari ini dan sekarang tiba-tiba aku datang untuk melamar dirinya.
Aku pun tiba di sebuah supermarket di dekat rumah Luna, entah apa yang ingin kucari yang jelas aku hanya ingin memisahkan diri dari keluargaku dulu.
Bughh..
Tiba-tiba seseorang menabrakku, setelah kuperhatikan ternyata itu Luna dengan beberapa pembalut di tangannya yang sekarang telah berpindah ke tanganku sebab Luna menjatuhkannya.
"Luna? Kau di sini?" tanyaku, memecah kesunyian di antara kami.
Dia pun tampak terkejut dengan kehadiranku, aku membantunya membawakan belanjaannya, sebenarnya aku curiga apa jangan-jangan Luna juga sedang ingin kabur dari pertemuan keluarga kami itu.
"Luna, mau pulang sekarang?" tanyaku. Tetapi ternyata dia ingin pergi ke café. Sungguh ini kebetulan yang kuharapkan. Tanpa pikir panjang kami pergi menuju café yang ingin Luna datangi dengan sepeda tergantung di belakang bagasi.
__ADS_1
***
"Luna, mau pesan apa?" tanyaku sambil menunjukkan daftar menu.
"Apa saja Capt," jawabnya.
"Bukankah dirimu yang berencana ke café tetapi kenapa sekarang bingung mau pesan apa?" tanyaku.
"Eh iya, lupa. Hehe," jawabnya, aku merasa ia sedang gugup saat ini. Aku pun juga. Namun kutahan kuat-kuat agar tetap bisa bersikap biasa saja.
Dia hanya memesan jus tomat. Dan aku hanya memesan kopi, sungguh nampak jelas jika kami benar-benar dalam masa pelarian di tempat ini.
"Luna, aku ingin bertanya."
"Iya capt, silahkan." Jawabnya.
"Mengapa kau tak membalas pesanku?"
"Oh, pesan di whatsapp maksud kapten?" tanya Luna sambi meminum jus tomatnya.
"Iya, kenapa kau tak membalasnya?" kini wajahnya mulai bersemu merah sama seperti jus tomat yang tengah diminumnya itu.
"Saya sibuk capt, hehe." Jawabnya sambil membetulkan anak rambutnya yang berjatuhan, menandakan jika dia tengah merasa gugup.
"Lun, hari ini orang tuaku datang untuk melamarmu."
"Apa kapten?" ucapnya kaget hingga hampir terjatuh daritu tempat duduknya.
"Iya Luna, keluargaku datang untuk meminangmu." Ucapku menegaskan lagi perkataanku.
"Capt, bukankah acara pertunangan kemarin itu hanya drama? Lalu mengapa tiba-tiba sekarang menjadi sungguhan dan merembet hingga ke pernikahan."
"Ya benar, aku juga tidak tau tentang semua ini Luna, aku minta maaf padamu untuk kesalahpahaman ini." Ucapku sambil menatap matanya, dalam mode diam pun dia tetap saja cantik. Aku sedikit terpana melihatnya.
"Captain, bisakah kita bicara kepada keluarga kita untuk memikirkan hal ini lagi?" jawabnya.
"Tentu Luna, aku akan menjelaskan semuanya pada kedua orang tuaku setelah ini." Sungguh ternyata Luna benar-benar ingin menolak perjodohan ini.
"Terimakasih kapten, saya hanya tidak ingin terjadi masalah setelah ini?"
"Luna, jika saja bukan orang tuaku yang melamarmu hari ini, melainkan diriku sendiri lah yang datang padamu untuk memintamu menjadi istriku. Apakah kau juga akan menolaknya?" entah keberanian apa yang kumiliki saat ini hingga aku bisa senekat ini.
Bukannya menjawab, tetapi Luna malah tersedak jus tomat hingga wajahnya terlihat semakin memerah dan menggemaskan.
__ADS_1