I LOVE YOU CAPT !!

I LOVE YOU CAPT !!
Salah Paham


__ADS_3

Hari berganti


Reza dan Alexander sedang berada di halaman depan rumah megah itu. Hamparan bunga tulip dan kincir angin buatan menghiasi area tersebut, membuat siapapun yang melihatnya seolah sedang berada di Netherland, Negeri seribu dam.


Kedua pria bertubuh tegap itu tampak sedang sangat serius membicarakan sesuatu. Ditemani terpaan sinar mentari yang membuat kulit keduanya menjadi kemerahan, Roosevelt atau Reza terus menyanggah penawaran ayahnya.


“Pa, bisakah kita tidak membahas hal ini untuk sementara waktu?” ucap kapten itu saat sang ayah sedang mengusulkan sesuatu untuk dirinya dan Luna.


“Papa hanya memberimu tawaran saja Roose,”


“Sudah seharusnya kau memiliki keturunan di usiamu yang sekarang ini,” Alexander menatap wajah puteranya, tampak jelas jika pria bule itu begitu mengkhawatirkan masa depan penerus keluarga Vandenberg.


“Luna bukan tidak bisa hamil Pa, ia hanya butuh waktu untuk memulihkan kodisinya, itu saja!”


“Papa jangan membesar-besarkan persoalan!” ucap pria yang sangat menyanyangi istrinya tersebut.


Alexander tampak berfikir keras, memandang halaman luas rumah bergaya eropa tersebut.


Sudah lama ia mendesain taman di sudut area yang dipenuhi dengan wahana bermain anak itu agar ketika cucu-cucunya telah lahir ke dunia maka canda tawa mereka akan menggema di area itu.


Bohong jika ia mengatakan dirinya tidak kecewa pada musibah yang menimpa anak dan menantunya kemarin.


Hati kecil kakek itu begitu berharap penuh pada Reza dan Luna untuk segera memberinya cucu seperti yang teman-temannya miliki dan tunjukkan padanya selama ini.


“Tapi sampai kapan hal ini akn terus berlangsung Roose?”


“Papa sudah terlalu tua untuk menanti, lalu bagaimana jika nanti papa lebih dulu tiada sebelum melihat anak-anakmu lahir ke dunia?” Alexander memjiat keningnya.


“Ayolah papa akan mencarikan obgyn terbaik di Amsterdam,” lagi-lagi Alex memaksa putranya untuk menjalani pengobatan organ reproduksi,


“Pa, tidak perlu! Luna pasti akan segera hamil lagi, ini hanya memerlukan sedikt waktu saja untuk pemulihan fisik dan psikisnya!” kedua pria itu terus berdebat meskipun tidak ada emosi yang tercium.


“Jika papa terus saja membahas persoalan ini, maka yang terjadi hanyalah Luna akan sangat kecewa dan merasa bersalah atas semua yang terjadi, padahal papa tau semua ini kesalahan Sharon dan juga takdir!"


“Tapi, Roose bagaimana jika Luna memiliki masalah serius dengan rahimnya?”


Alexander masih ingin meyakinkan puteranya tetapi Reza terlalu lelah untuk kembali membahas hal yang selama beberapa hari itu ia bicarakan dengan ayahnya tapa sepengetahuan Luna.


Tanpa sengaja Luna melewati area itu dan sempat melihat kedua pria tersebut sedang membicarakan dirinya, ia cukup penasaran dan ternyata kecurigaannya selama ini benar. Alex ingin mencarikan sesuatu untuk Reza.


“Papa tidak perlu mencarikan apapun!” ucap Reza dengan intonasi meninggi hingga membuat gadis itu mampu mendengarnya dari kejauhan.


“Papa akan mencarikannya Roose! Ayah mana yang akan tenang di saat putarnya terancam tidak akan memiliki keturunan!” Alex mengikuti nada tinggi putranya dan Luna pun mendengar semua itu, gadis itu terus mencerna perkataan suami dan ayah mertuanya.


Apa yang sedang papa ingin carikan untuk Kak Reza? Dan ternyata benar papa masih belum ikhlas atas musibah yang terjadi kemarin, mungkinkah beliau akan menjoohkan Kak Reza dengn gadis lain? Karena aku mandul?

__ADS_1


Aku bahkan tak tau apakah diriku ini masih normal atau tidak, Ya Tuhan aku sungguh tidak ingin dimadu! gumam Luna,


kemudian melanjutkan langkahnya tanpa tau perbincngan ayah mertua dan suaminya secara keseluruhan.


Luna pergi ke dapur dan melihat Rengganis sedang membuat kue. Gadis itu masih memikirkan perkataan ayah mertuanya.


“Lun, ngelamun mulu!” Ganis menepuk pundak kakak iparnya.


“Eh Nis, lagi bikin apa?” tanya Luna.


“Kue nih! Mau?” tawar gadis berwajah blasteran itu.


“Boleh! Tapi entar tolong anterin ini buat laki lo ya!” perintah Rengganis.


“Iya, iya!” jawab Luna kemudian pergi membawa sepiring kue Royal Dutch tersebut. (beberapa jenis kue yang biasa disajikan saat coffee break di kapal)


****


“Kak, ini kue dan teh dari Ganis,” ucap Luna menghampiri sang suami yang tengah duduk sendiri di halaman depan tersebut, tanpa Alexander.


“Makasih sayang,” Reza mengambil kue berbentuk hati itu. Luna duduk di samping Reza, menugunggu sang suami menceritakan tentang apa yang ia bicarakan dengan ayah mertuanya.


“Kak, apa kakak tidak ingin menceritakan sesuatu?” akhirnya Luna memancing suaminya.


“Apa Luna?” Reza tidak jadi menggigit kue kering bernama genji itu.


“Apa ayah sedang mencarikan sesuatu untuk kakak saat ini?” Luna memicingkan matanya.


“Hmm, jadi kau sudah tau Luna?” Reza mengiyakan perkiraan Luna meskipun dalam hatinya khawatir jika sang istrti akan tersinggung.


“Jadi benar Kak?” Luna membulatkan matanya.


“Benar Luna, aku sudah mencoba menjelaskan semuanya pada papa, tetapi papa tetap bersikeras,” Reza menangkap raut kekecewaan di wajah istrinya, Ia tau terapi reproduksi akan membuat Luna merasa dianggap ‘sakit’.


“Dan kakak setuju?”


Sungguh, benarkah aku akan memiliki madu? Hatiku terasa sangat sakit dan patah menjadi dua saat ini, batin Luna.


“Aku terserah padamu Luna, jika kau mau menerimanya maka aku akan menurutimu," ucap Reza seperti tanpa dosa.


Kak, sungguh kau akan melakukan semua ini padaku? Sungguh? Lihat saja, jika itu benar aku akn menghabisi maduku itu!


Luna tak kuasa menahan kekesalannya, mengapa Alexander begitu cepat mengambil keputusan dan mendiagnosa jika dirinya bnear-benar mandul.


Luna terdiam tak menaggapi perkataan Reza ia begitu sibuk dengan pikiran ngawurnya sendiri.

__ADS_1


“Genji-nya enak tetapi terlalu kering hingga membuatnya hancur saat aku menggigitnya, kau mau sayang? Aku akan menyuapimu” ucap Reza mengomentari kue berbentuk hati yang sedang dimakannya itu.


“Tidak kak! Genji itu memang sangat rapuh saat sedang terluka! dan kaulah yang melukainya!” bentak Laluna lalu pergi meninggalkan Reza, pria tampan itu tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi.


Bukankah kami sedang membicarkan kue hati ini, kenapa Luna malah membahas gigitan? Melukai? Hati yang rapuh? Ah aku sungguh tau, gumam Reza. Kemudian beranjak dari kursinya dan mengejar sang istri.


“Sayang, ada apa?” Reza mengikuti Luna hingga masuk ke kamar.


“Apa kau tersingguh dengan perkartaan papa?” ucap Reza pada sang istri yang sedang membenamkan wajahnya pada bantal.


“Laluna..” Reza menyentuh tubuh itu namun Luna tetap saja tidak mau membalikan wajahnya, ia menangis tersedu menganggap bagaimana sang suami bersikap sebaiasa itu saat menghadapi persoalan rumah tangga mereka.


“Kakak jahat!” Luna semakin terjebak dalam kesalahpahaman.


“Aku jahat? Apa yang sudah kulakukan Luna? Apa masalah kue hati tadi? Iya aku tak akan memakannya, aku tak akan menggigitnya lagi,” ucap pria itu, ia sendiri juga bingung harus berkata apa, menganggap jika kondisi emosional Luna memanglah belum stabil.


“Kak, sekarang juga pulangkan aku ke rumah orang tuaku!”


“Apa?” Reza terkejut.


“Bukankah kita akan pulang ke sana minggu depan?”


“Tidak kak! Aku mau sekarang!”


***


Di kediaman Keluarga Aditama


“Sayang, kita harus kembali ke London sekarang juga!” Yoshi panik saat mengetahui kondisi opanya sedag kritis.


“Apa? Ini terlalu buru-buru Mas!” ucap Ana yang sedang menyuapi Gwen.


“Mama memberitahu jika kondisi jantung opa sedang melemah ia terus menyebut nama Shian," putra pertama Yoshi dan Ana.


Anak berusia tujuh tahun itupun segera bangkit dari tempat tidurnya saat mendengar opa kesayangannya sedang sakit.


“Papa, aku ingin bertemu opa buyut!” ucap Shian, ia sangat khawatir.


“Tetapi kau pun sedang sakit Nak!” ucap sang ayah sambil memeriksa suhu badan putranya.


“Shian, tetap di rumah sini saja ya bersama kakek dan nenek, mama tidak ingin terjadi sesuatu padamu baby,” Ana membelai dan mencium kening putranya.


“Mas, bagaiman jika kita bawa opa pulang ke Indonesia saja?”


“Ya, itu rencanaku sayang, atau kau bisa tetap tinggal di sini saja bersama anak-anak. Biar aku yang menjemput opa,” Yoshi tampak berfikir, ia tak mungkin membawa Shian melakukan perjalanan jauh dengan kondisi seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2