
Seminggu kemudian..
"Luna tolong bukain pintunya, ada tamu!" teriak ibuku dari dapur.
"Lagi naggung Buk, bentar."
"Nanggung apanya? cepetan bukain pintunya." Ibuku semakin berteriak.
"Iya deh, bawel!"
"Apa kamu bilang?" ibuku ternyata mendengarku.
"Iya iya ibuk sayang.. " Jawabku sambil menghentikan mabar bersama teman-temanku.
"Ngegame aja terus kamu! Jam segini juga masih belom mandi, perawan buluk emang."
Aku pun melangkahkan kaki menuju pintu, namun tiba-tiba langkahku terhenti, aku teringat jika kemarin Kapten berencana akan datang kemari.
Aku tak berani membukakan pintu dan aku menghampiri ibuku yang sedang memasak.
"Buk, ibuk aja yang buka pintunya ya."
"Kenapa?" tanya ibuku heran.
"Pokoknya Ibu aja deh. Luna mau mandi."
"Lah, bukannya dari tadi mandinya, kamu itu!"
"Udah ya Buk, Luna mandi dulu deh." Aku pun berlari menuju kamar mandi.
***
Samar-samar kudengar suara Ibuku sedang mengobrol dengan seseorang, tetapi setelah beberapa lama ternyata ada beberapa orang di ruang tamu.
Astaga, itu Om Alex dan istrinya serta Ganis pun juga ikut. Ya ampun, untung saja bukan aku yang membukakan pintunya tadi. Aku sungguh tidak ingin bertemu dengan mereka. Aku takut masalah perjodohan itu kembali diungkit.
Dan tentu saja aku masih malu untuk bertemu dengan kapten. Sentuhan tangannya saat memakaikan cincin itu membuatku tidak bisa tidur dalam beberapa hari ini.
Belum lagi saat dia mengirim pesan di what'sappku. Aku sangat tegang untuk membalasnya, terkadang aku tak membalas pesan itu bukan karena tidak ingin tetapi aku tak bisa menahan jariku yang terus gemetaran mengetik pesan.
Aku tak melihat kehadiran kapten di sana, mungkin saja ia tidak ikut atau mungkin sedang berada di ruang sebelah mengingat ruang tamu di rumah terbagi menjadi dua.
Aku pun masuk ke kamarku dengan mengendap-endap, tak ingin mereka melihatku sebab aku berencana untuk kabur setelah ini. Setelah berganti baju, kuraih tasku dan woop!! Luna yang cerdas ini pun berhasil keluar rumah dari pintu belakang.
Dalam perjalanan dengan sepeda, aku terus berfikir akan kemanakah kaki yang sedang mengayuh pedal ini pergi. Hingga aku pun berhenti di salah satu supermarket terbesar di komplekku.
Ah, bodo amat ntar pulangnya digebukkin emak, yang penting aku gak harus ketemu kapten Reza hari ini. Gumamku dalam hati.
__ADS_1
Aku pun memilih-milih beberapa items keperluanku. Sepertinya aku butuh pembalut juga mengingat stoknya di rumah sudah hampir habis.
Author POV
Sementara itu di kediaman keluarga Aditama, seorang wanita sedang pusing mencari keberadaan putri bungsunya.
"Pak, Luna tidak ada di kamar." Ucap wanita itu pada suaminya.
"Ah tadi bapak lihat lagi mandi kok Bu." Ucap Pramuja dengan santai.
"Bener Pak, Luna tidak ada dan kamarnya pun kosong."
"Masak sih Buk," Ucap Pramuja sambil memeriksa ke kamar Luna.
"Nah benar kan Pak?"
"Iya Bu, mungkin Luna sedang keluar. Coba ibu telepon."
Larissa pun segera menelepon putrinya dan menjauh dari ruang tamu.
"Gimana tuan Alex, apa yang ingin anda bicarakan kepada kami hari ini?" Tanya Pram kepada Alex.
"Untuk membicarakan masalah tempo hari itu tentu saja agent Pram."
"Masalah apa Pak Alex?" tanya Pram.
"Tentang perjodohan anak kita Pram, apa kau lupa?" tanya Alex sambil tertawa.
"Tentu saja, aku tak akan bercanda untuk masalah seserius ini." Ucap Alex kepada teman lamanya itu.
"Jadi kau serius ingin meminang putri bungsuku untuk putra sematawayangmu?"
"Hey tentu saja, sesuai rencana kita bertahun-tahun yang lalu bukan? Sebelum kepergianku dan keluargaku ke Belanda dulu?" Kata Alex mengingat-ingat masa lalu.
"Ya, ya. Tak kusangka kau masih ingat Lex, kupikir kau sudah melupakannya."
"Tentu saja aku ingat, aku tak sepikun dirimu agen rahasia!" Ucap Alex menggoda sahabatnya itu.
"Tapi, masalahnya Ana, putri sulungku yang rencananya akan kita jodohkan dengan Reza sekarang sudah menikah dengan Yoshi, putra tunggal Permana Luby." Ucap pram tampak berfikir.
"Oh jadi Ana, sudah menikah dengan putra si hacker tengik itu?" ucap Alex terkejut.
"Ya, kabar buruknya adalah Permana telah meninggal dunia dalam kecelakaan tunggal. Hingga berpesan padaku untuk menjerat penjahat itu dan menjaga putranya yang ternyata menjadi menantuku sekarang." Kata Pram mengenang kepergian sahabatnya yang telah meninggal itu.
"Hey, benarkah? Bagaimana ceritanya? Sungguh si cerdas yang malang. Mengapa kau tak membertahuku jika teman ngopi kita itu telah tiada?" Ucap Alex dengan raut wajah yang tidak terlukiskan.
"Sangat rumit Alex, sangat rumit. Sudahlah, jangan membicarakan ini yang penting sekarang penjahat kelas kakap itu sudah tertangkap dan putriku Ana telah bahagia bersama Yoshi."
__ADS_1
"Aku sangat penasaran dengan kronologi kejadian itu Pram, bagaimana pun Permana Luby adalah sahabat sekaligus rekan bisnisku juga. Lalu apakah menantumu juga sebaik ayahnya?" tanya Alex penasaran.
"Yoshi? Haha, dia cerdas tetapi juga bodoh. Entahlah, begitu sulit untuk dijelaskan. Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Pram menindak lanjuti rencana mereka.
"Baiklah, tidak ada Lanthana, Laluna pun tak apa, dia gadis yang baik. Aku sangat terkesan dengan tingkahnya yang kocak sama sepertimu Pram," ucap Alex tertawa.
"Haha benarkah? Tapi ada masalah penting Lex,"
"Katakan kawan?"
"Sepertinya Luna masih belum ingin menikah dan masih ingin melanjutkan pendidikannya. Apa kau keberatan untuk menunggu?"tanya pram dengan sangat hati-hati, takut sahabatnya itu terkena serangan jantung lagi.
"Tetapi, Reza sudah sangat cukup umur untuk menikah Pram, bagaimana kalau kita nikahkan mereka dulu, lagi pula Luna juga masih bisa melanjutkan pendidikannya setelah menikah.
"Ya, itu ide yang bagus. Nanti aku akan mencoba membujuknya, lagipula Reza juga terlihat sangat baik, tidak playboy sepertimu!"
"Hey jaga bicaramu!" bisik Alex pada Pramuja sambil melirik ke arah istrinya.
Author POV End
Saat aku sibuk memilih pembalut, tiba-tiba ponselku betgetar.
Matilah kau Luna! Nyonya besar menelepon. Ah sudahlah tidak usah diangkat saja, batinku, sambil mengabaikan panggilan dari ibuku.
Aku pun mengambil satu pack pembalut bersayap dan berniat untuk membawanya ke kasir, namun karena terlalu terburu-buru, langkahku terhenti saat tubuhku menabrak seorang pria. Aku pun menatap wajahnya.
"Ka-kapten?"
"Luna? kau di sini?" Ucapnya sambil menangkap pembalut yang terbang dan terjatuh ke tangannya saat aku menabraknya tadi.
"Iy-iya Capt, maaf." Aku menunduk dan segera meraih pembalut itu dari tangannya.
"Tidak apa, apa kau baik-baik saja? Wajahmu memerah Luna." Ucapnya, sambil menatap wajahku lekat-lekat.
"Iya kapten, saya baik-baik saja." Aku pun berjalan ke kasir dan dia mengikutiku dari belakang.
Semua selesai, acara kabur-kaburnku telah gagal bukannya menjauh malah mendekatkan diri pada Kak Reza.
***
"Luna, apa kau mau pulang" tanyanya sambil membawakan belanja bawaanku, oh dia ini sungguh seperti superhero untukku.
"Tidak capt, saya ingin ke café dulu." Ucapku, aku tak ingin pulang dan terjebak di sana.
"Aku akan mengantarmu."
"Jangan capt, saya bawa sepeda kok."
__ADS_1
"Tak apa, aku bisa menaruhnya di belakang bagasi." Ucap kapten tanpa ragu.
Sial, bukannya pulang malah mengikutiku ke café, bagaimana ini Ya Lord, batinku sambil masuk ke mobilnya.