I LOVE YOU CAPT !!

I LOVE YOU CAPT !!
Genk Rumpies


__ADS_3

“Nah iya bagus Eve! Jewer aja! Dasar tuman emang laki begini!” terdengar sura gadis lain memasukki ruang tamu tersebut,


“Uh dasar Dianna lampir!” balas Jenny melihat Dianna datang bersama David.


"Kalo gak inget punya baby, udah gue gibeng Lo Jen!" ucap Dianna yang sejak dulu tidak pernah akur dengan suami Evelyn tersebut.


“Di, lo juga udah punya anak?” sapa Reza melihat sahabatnya yang lain juga datang ke rumah itu.


“Udah dong kapten tengik!” jawab gadis Bali itu kemudian mendekati Reza sambil menggendopng anakanya.


“Eh Di, si robot gimana maennya?” bisik Reza sambil memperhatikan suami Dianna yang masih berada di luar.


“Wah songong nih orang ya! Maen tinggal maen aja! Ini buktinya jadi kan!” jawab Dian ketus, menunjukkan bayi imut itu.


"Aduh imut banget! untung gak bar-bar kayak emaknya!" ucap Reza membelai pipi bayi itu.


“Lo sendiri, mana? Emang belom jadi-jadi dari kemaren?”


"Perasaan udah setaun lebih kan Za nikahnya?!" Evelyn tampak berpikir.


“Belom Di, masih proses! Ajarin biar cepet jadi dong!” ejek Reza.


“Ngajarinya gimana bule gila!”


"Gue videoin gitu? Dih entar lu jual lagi!" bentak Dianna menjewer telinga Reza.


"Ya kalo laku Di, haha!" balas Reza


Luna yang sejak tadi sibuk dengan bayi Jenny dan Evelyn pun menghampiri kedua sahabat itu.


“Eh ini bini lo Za?” tanya Evelyn saat melihat Luna.


“Iya, bini gue sekaligus adeknya Ana! Cakep kan?” Reza tersenyum bangga.


“Evelyn!”


“Laluna!” kedua gadis itu kemudian saling berjabat tangan.


“Wah Luna umur berapa? Masih muda sekali!”


Evelyn memperhatikan wajah istri Reza itu.


“Dua puluh dua Kak,” jawab Luna canggung, ia merasa belum begitu akrab dengan teman-teman suaminya itu.


“Pantas saja, aduh Eja seyeng bisa aja cari bini cecan!”


“Woiya dong!” balas Reza lalu merangkul Luna.


Kemudian duduk bersama teman-temannya yang lain, suasana yang biasanya hanya ramai dengan suara-suara Shian dan Gwen kini semakin ramai lagi dengan tangisan bayi-bayi itu.


David dan Yoshi sedang berada di halaman rumah, memisahkan diri dari kerumunan genk rumpies itu.


“Tuan, bagaimana kabar anda?” tanya pria berambut klimis rapi tersebut.


“Seperti yang kau lihat David,” Yoshi tampak sedang memikirkan sesuatu.


“Dan kau, kau terlihat tidak kaku lagi sekarang! Diana banyak merubahmu ya? Sepertinya kleuarga Luby telah kehilangan robot kesayangan kami,” canda Yoshi menepuk pundak David, membuat pria itu tertawa.

__ADS_1


David adalah asisiten pribadi Yoshi sejak usianya masih remaja, dan kini telah menikah dengan Diana karena suatu kesalahan fatal di malam yang memabukkan dulu.


“Tuan, anda membuat saya malu saja!” David ingin membalas menepuk pundak tuannya itu, namun ia tidak berani.


“Kau tau Dav, beberapa hari ini pikiranku sedang sangat kacau karena bedeb*h-bedeb*h itu!”


“Tuan, saya tau itu. Tetapi tak perlu khawatir sebab mereka sedang tidak berada di Indonesia saat ini!” ucap David, membuat Yoshi seketika tersentak kaget.


“Apa? Tidak di Indonesia?”


“Bukankah BIN dan pihak imigrasi sedang mengurus mereka?” Yoshi telah membahas hal itu dengan ayahnya tadi pagi dan sekarang semuanya telah terlambat, Albert dan Bumi mungkin telah kabur ke luar negeri.


“Tuan, mereka terbang ke Shanghai, dengan menggunakan identitas palsu!” ucap David menunjukkan sebuah laporan dari mata-matanya.


“Apa ini?!” Yoshi memperhatikan sebauh rekaman cctv dari ponsel David, terlihat di sana dua orang pria sedang berjalan menuju gate untuk check in ke pesawat.


“Aku tau ini pasti akan terjadi, Hah!”


“Apa yang tuan takutkan?” David belum menangkap apa yang sedang dipikrkan oleh Yoshi.


“Mereka pasti akan kembali David! Itu pasti! Sama seperti yang dilakukan oleh Nathan dulu, menghilang dulu kemudian menyerang!” ucap Yoshi dengan tangan yang mengepal.


“Eh Yosh, apaan tuh?” tanya Reza saat melihat Yoshi sedang membawa selembar kertas pada tangannya,


“Albert dan Bumi kabur Za, dan ini laporannya?!”


“Apa?” Rezapun melihat laporan tersebut, namun ia tak percaya jika Bumi berhasil kabur.


“Ini bukan Bumi Yosh!” Reza memperhatikan wajah dua pria itu dan dari keduanya tidak tedapat wajah Bumi.


“Tetapi ini Albertus, Za!” bantah Yoshi meyakinkan Reza.


“Iya gue tau. Ini mungkin memnag Albetus tetapi pria yang di sebelahnya ini bukan Bumi!” Reza tetap pada pendiriannya, ia sudah sangat menghafal wajah Bumi, bahkan posturnya pun ia ingat, dan menurutnya foto itu bukanlah foto musuhnya tersebut.


“Yakin lo Za?”


“Yakinlah! Bahkan gue sendiri yang melakukan pemblokiran di buku pelaut Bumi!”


“Dia gak akan bisa ke laut maupun ke Negara manapun karena gue udah kasih note di paspor sama buku pelautnya!” ucap Reza yakin.


Mungkin ia mmeng tidak bisa benar-benar memblokir pria itu di wilayah darat tetapi jika pihak imigrasi Negara lain melihat adanya stempel peringatan dari kapten tersebut, 80 persen Bumi tidak akan bisa diterima di Negara manampun, kecuali Indonesia.


“Wah, keren juga lo Za!” puji Yoshi.


“Tapi tuan, Jika pria yang ada di foto ini bukanlah Bumi lalu dimana dia sekarang?” David menatap kedua pria tampan itu.


“Di sini! Di Negara ini!” ucap Reza.


“Bahkan kemarin saat Gwen hampir diculik, gue curiga kalo Bumilah yang menjadi otaknya, Yosh!”


“Lo benar juga Za, meskipun gue belum pernah bertemu dengan Bumi tetapi diq adalah satu-satunya tersangka saat ini,”


“Apa rencana lo Yosh?”


“Masih sama, perketat kemanan dan pencarian Bumi,” jawab Yoshi yang sebenarnya tidak begitu yakin dengan kinerja orang-orangnya itu.


“Tuan saya akan tambahkan personel spy kita!” usul David dan Yoshi pun mengangguk.

__ADS_1


Setelah kepergian genk rumpies itu, suasana rumah kembali sepi. Dianna, David, Evelyn dan Jenny sementara memutuskan untuk tetap berada di kota itu sambil mengikuti Evelyn yang sedang menjalani bisnis barunya di sana,


semacam pembukaan cabang baru apoteknya di wilayah itu.


Sementara Diana mengikuti suaminya yang masih menjalankan misi dari Yoshi.


***


“Sayang, kau terlihat murung,” tanya Reza saat melihat istrinya sedang berdiam diri tanpa melakukan apapun, Luna sesekali meminkan ujung sprei untuk mengatasi kegabutannya.


“Apa? Aku tidak murung Kak,” jawab Luna dengan bibir yang mengerucut.


“Sprei itu sangat beruntung ya? Dimainkan olehmu?” goda Reza melihat sang istri memelintir-lintir kain berkaret itu.


“Apa kakak juga mau dimainkan seperti ini?” jawab Luna masih tanpa ekspresi.


“Dengan senang hati sayang!” ucap Reza lalu merebahkan kepalanya pada paha Luna.


“Kakak mau dipelintir-pelintir seperti ini ha?!” Luna memencet hidung mancung itu kemudian memutarnya, membuat Reza memekik kesakitan.


“Luna, kau sunggu melakukanya padaku ha!” Reza pun mencubit pipi itu dengan gemas.


“Ah sakit Kak!” Luna memegangi pipinya yang memerah.


“Katakan apa yang sedang mengganggu pikiranmu saat ini Luna?” Reza mengelus pipi yang istri yang memerah akibat cubitannya itu.


Semenatar Luna membelai rambut bersemu blonde Reza dengan lembut.


“Kak, kau sangat berat,” ucap Luna menahan kepala sang suami.


“Jangan mengalihakn pembicaraan, katakan apa yang sedang kau pikirkan Luna ?”


“Kak, aku ingin punya bayi!”


“Seperti teman-temanmu yang lain!” ucap Luna dengan hidung yang mulai memerah seperti ingin menangis, Ia mengingat saat suaminya terlihat begitu bahagia vermin bersama anak Evelyn dan Dianna.


“Ya sudah ayo!” Reza pun terlihat begitu bersemangat lalu bangun dari rebahannya.


“Ayo kemana?” Luna tak mengerti.


“Ayo membuatnya, bukankah kau bilang ingin bayi? Bagaimana akan ada jika kita tidak memprosesnya sayang?” Reza pun merebahkan tubuh Luna ke tempat tidur.


“Kak! Aku serius!” Luna menepis tangan kekar sang suami, lalu kembali duduk.


“Aku pun serius sayang!” ucap Reza menatap mata istrinya yang berkaca-kaca.


“Tapi, bukan seperti itu yang kumaksud, kak!”


“Lalu?”


“Kak, ayo kita ikuti usulan papa untuk melakukan terapi,” ucap Luna dengan penuh harap.


“Sungguh?” Reza tak percaya jika Luna akan secepat itu menanggapi tawaran ayahnya kemarin.


“Sungguh kak!”


“Ya sudah, mingggu depan kiat berangkat ke Amsterdam!”

__ADS_1


__ADS_2