I LOVE YOU CAPT !!

I LOVE YOU CAPT !!
Jeloused Captain


__ADS_3

Meeting masih berjalan, Luna duduk di sebelah Bumi, mereka memilih tempat duduk yang paling belakang karena alasan keterlambatan, sambil terus bergurau dan sesekali tertawa, Luna begitu menikmati obrolannya dengan Bumi, tanpa ia sadari sepasang mata elang sedang memperhatikan mereka berdua dengan intens.


Reza harus menahan hawa panas yang terasa memnuhi dadanya, tangannya gemetar setiap kali Luna tertawa lepas mendengar celotehan Paku Bumi, bagaimanapun rasa cemburu itu mengganggu, ia harus tetap tenang dan fokus, ia tau betapa pentingnya posisinya di kapal ini, terlebih lagi ia harus berdrama menuruti permintaan istrinya.


Reza POV


Pagi ini aku dan istriku tiba di Pier, awalnya aku tak ingin menuruti permintaannya agar menyembunyikan status hubungan kami di hadapan para awak kapal. Namun, karena Luna merengek, memohon dan menangis, akhirnya akupun menurutinya. Aku tau Luna sangat ingin menyelesaikan pendidikannya.


Seperti biasa, acara penyambutan kapten selalu digelar saat kedatangan nahkoda baru, seorang staff dari bar menyambutku dengan senyuman,aku pun membalasanya, saat itu juga ia mengalungkan rangkaian bunga ke leherku dengan lembut, aku pun membalasnya dan memuji attitude manisnya itu.


Sekilas kulihat wajah istriku, dia tampak memutar mata malas, lalu berjalan begitu saja, hal ini sedikit menggilitik perutku, salah siapa? Bukankah dia yang menginginkan drama ini terjadi.


Aku mengikutinya dari belakang, dia harus melakukan serangkaian prosedur sebelum benar-benar berada di kapal ini, berbeda denganku, begitu melewati luggage inspection, aku pun bisa langsung menuju kamarku di lantai tujuh, yaitu deck dimana pusat navigasi berada.


Sesampainya di kabin, aku terus teringat Luna, lalu kutanyakan pada Wisnu, supervisor Crew Office, yaitu seseorang yang bertugas memimpin kepengurusan kru, termasuk pembagian kamar di kapal.


“Good Morning, Wisnu,” sapaku melalui telepon kabin.”


“Morning Capt Roosevelt! Apa kabar?” jawabnya, ia tau jika nomor yang menghubunginya adalah nomor kabin kapten.


“Baik, umm aku ingin menanyakan sesuatu,”


“Silahkan Capt, how may I assit you?” dia menanggapiku dengan sangat sopan.


“Apa kau tau staff dari departemen Engine yang join hari ini? Bisakah kau memeriksa nomor kabinnya?”


“Oh, apakah Laluna yang kapten maksud?” Laluna Aditama, seorang trainee?”


“Ya, dia masih trainee di dept Engine,” hampir saja aku lupa jika Luna hanya magang di sini.


“Laluna berada di kabin A002, Capt!”


“Baik, terimakasih Wisnu,” aku pun mengakhiri panggilan itu.


Setelah mendapat nomor kabin Luna, aku segera menelepon nomor tersebut dengan menggunkan kode deck. Namun setelah, beberapa kali kucoba mengubunginya,


sepertinya Luna sedang berada pada panggilan lain, cukup penasaran sebenarnya, bukankah ia baru saja tiba di kapal ini, seharusnya belum ada yang meneleponnya.

__ADS_1


Waktu menunjukkan pukul sebelas siang, waktu setempat. Aku pun segera bersiap untuk memberikan briefing di training room, aku tak lagi memikirkan dengan siapa dan sedang apa Luna sekarang, bukankah sebentar lagi kami akan bertemu. Aku berjalan melalui koridor di lantai satu, atau main deck, saat itu pula wajah tak asing menyapaku.


“Good morning Capt,” sapa laki-laki itu,” saat kami berpapasan. Dia adalah Bumi, seorang pria dari departemnen yang sama dengan istriku, seseorang yang sempat kukira kekasih Luna dahulu, akupun menanggapi sapaan dengan senyuman, meskipun dalam hatiku, ada rasa yang mengganjal.


“Morning,” layaknya seorang captain pada umumnya, sapaanku begitu singkat dan kilat, ada rasa penasaran sebenarnya, mungkinkah Bumi telah bertemu dengan Luna, hari ini.


Tiba di training room


Beberapa staff dari departemenku sudah berkumpul di ruangan tersebut, begitu juga dengan para kru. Mereka memberiku sambutan yang hangat.


Kami pun duduk berjajar dan memulai meeting, tetapi aku tak melihat Luna di sini, tepatnya Luna dan Bumi, mereka berdua tidak ada.


Beberapa menit kemudian pertanyaanku pun terjawab, Luna dan terduga pebinor itu memasukki ruangan training, rasa gemuruh di dadaku pun semakin menjadi-jadi, jadi ini lah jawabannya mengapa Luna tak menjawab teleponku, mengapa ia datang terlambat ke training room, hampir saja aku tak dapat mengontrol emosiku, tanpa sadar aku memanggil nama istriku saat itu juga,


“Laluna Aditama,” ucapku, seluruh peserta meeting pun menatap ke arahku, aku kelabakan.


Akhirnya aku berpura-pura untuk menyatakan keterlambatannya, tak mungkin aku mengatakan kekesalanku pada gadis itu depan semua orang.


“Yes Capt!” jawabnya, seperti tanpa dosa, dan malahmenawarkan akan membuatkan surat permohonan maaf, yang benar saja. Tapi tak apa, karena aku akan meminta permohonan maaf yang lain.


Setelah meeting berakhir, aku pun kembali ke bridge atau anjungan. Di sana operasional masih sama, tak banyak yang harus kupantau, sebab kapal masih dalam keadaan docking, atau bersandar. Aku menunggu Luna datang, dan iapun datang, tetapi tidak sendiri.


“Siang Luna, dan Bumi, kau pun datang?” tanyaku, saat melihat pemuda itu terus menempel pada istriku.


“Yes, Capt. Saya juga terlambat datang ke meeting hari ini, saya mohon maaf Capt,” ucap pebinor itu dengan menundukkan kepalanya, padahal aku tak perduli padanya ataupun kesalahannya.


“Bumi, kau boleh pergi dan buat laporan permintaan maaf segera!”


“Baik, capt!” Bumi pergi, meninggalkan anjungan. Kini hanya tertinggal Laluna seorang, dan aku.


“Capt, saya akan segera membuat surat pernyataan juga,” ucapnya sambil menggigit bibir bawahnya, kebiasaannya sungguh tak dapat dirubah atau bagaimana, aku sudah berulang kali mengatakan padanya untuk berhenti melakukan hal itu, terutama di hadapan lawan jenis.


“Ehmm,” aku sengaja mendekatkan pipiku padanya, sebab bridge sedang dalam kondisi sepi.


“Maaf Capt,” ucapnya tak mengerti, wajah polosnya begitu menggemaskan.


“Ehmm,” aku masih saja berdeham berharap dia tau apa maksudku.

__ADS_1


“Baik, Capt. Saya permisi dulu jika begitu,” ucap Luna, dasar tidak peka.


“Luna,” aku pun terpaksa menarik tubuh ramping itu. Hingga jatuh ke pelukanku.


“Kak, apa yang kau lakukan…”


Aku tak perduli dengan gerakannya yang memberontak ingin melepaskan diri, aku hanya sedang melepaskan rasa kesal padanya saja, tanpa mengatakan sesuatu.


Aku terus mendekap tubuh itu, entah bagaimana mendiskripsikannya, tiba-tiba rasa takut kehilangan itu muncul begitu saja. Dulu, di kapal ini pun aku juga kehilangan seseorang yang sangat kusayangi, aku memendam perasaanku begitu dalam, hingga tiba-tiba seorang pria datang, dan mengambilnya begitu saja.


Aku tak ingin kejadian yang sama terjadi lagi, meskipun kini Luna telah jelas-jelas menjadi milikku, tetapi drama ini seakan memperkeruh suasana, hubungan backstreet tak akan mudah, dan rawan kesalahpahaman, baik bagi yang menjalaninya, atau pun bagi orang-orang di sekitarnya.


“Kak!” Luna mendorong tubuhku, dia begitu kuat, entah superhero apa yang telah merasukki tubuhnya.


“Apa??” tanyaku, kesal. Hampir saja aku terjatuh karena dorongan itu.


“Jangan bercanda, ini bridge, dan kakak memelukku begitu saja, nanti kalau ada yang lihat bagaimana?” Luna tak kalah kesalnya denganku.


“Aku sudah mematikan seluruh cctv Luna,” bisikku.


“Kak, aku tidak mau tau. Pokoknya kakak tidak boleh menggagalkan rencanaku!” dia terus saja mengomel, padahal seharusnya aku yang marah di sini.


“Luna, seharusnya aku yang marah,” ucapku.


“Marah bagaimana?”


“Apa yang kau lakukan dengan Bumi?” akhirnya aku menyebut nama bedebah itu.


“Bumi? Tidak ada apa-apa antara aku dan Bumi,”


“Lalu mengapa kau tidak menjawab telepon tadi pagi? Apa Bumi sedang meneleponmu ha?” astaga, ini terlalu kekanak-kanakan sebenarnya, tetapi aku ingin menghilangkan rasa mengganjal ini.


“Apa yang kau bicarakan kak? Lalu bagaimana dengan sikap ganjenmu di pier tadi ha?”


“Ganjen apa?”


“Tersenyum pada gadis seksi pembawa bunga tadi?”

__ADS_1


“Memanggilnya dengan kata ‘sweet’! apa kau pikir aku tak mendengarnya?” ucap Luna bertubi-tubi, membuatku ingin segera menerkamnya saja.


Aku sudah tak mampu lagi menahannya, akhirnya kuraih pergelangn tangan itu dan membawanya ke ruangan bertuliskan Captain’s Cabin.


__ADS_2