
Reza POV
Setelah drama keluarga di kamar mandi usai, kini aku, mama, papa dan Ganis kembali ke ruang keluarga, kami sedang menunggu Luna keluar dari kamar membawa hasil tes kehamilan.
“Wah, Roose baru saja Papa membicarakan tentang anak denganmu pagi ini, dan lihat sekarang hal itu benar-benar terjadi!” ucap papa bahagia, bukan hal yang aneh jika papa menginginkan cucu segera, sebab teman-teman seusianya pun juga telah memiliki cucu, terlebih aku adalah anak pertama di keluarga ini,mana mungkin papa mengharapkan cucu dari Ganis, anak itu bahkan belum bisa menyisir rambutnya sendiri apalagi jika harus menikah dan memiliki anak.
“Pa, percayalah Luna tidak hamil, Roose yakin!” ucapku, tak ingin memberi harapan palsu pada ayahku.
“Sudah, tenang saja kita tunggu saja Luna datang ya!” papa masih saja berharap.
“Jangan kecewa ya Pa, jika akhirnya harapan papa tidak terpenuhi,” jawabku.
“Reza, kau ini kenapa? Seperti tidak ingin jadi seorang papa saja,kenapa pesimis seperti itu,” ucap ibuku, membela suaminya.
“Ma,jangan terlalu berharap pada sesuatu yang belum pasti kebenarannya, Reza tentu saja ingin, memiliki momongan,” aku tak mengerti dan tak tau harus menjelaskan dari mana dulu, orang tau benar-benar tidak tau tentang hubunganku dengan Luna yang sebenarnya.
“Bagaimana mau pasti sih Kak, orang emang belum bisa dipastikan sudah terjadi sesuatu atau belum,” ungkap Ganis yang membuatku memelototinya, aku khawatir jika adikku ini membongkar semua yang ia ketahui di depan kedua orang tuaku.
“Nis, apa maksudmu?” tanyaku pura-pura tidak tahu.
“Apa mau Ganis bongkar semuanya sekarang? Biar mama turun tangan Kak?” bisik Ganis di telingaku, sungguh adik yang nakal.
“Ada apa kalian bisik-bisik ha?” tanya mama, aku dan Ganis pun segera bersikap biasa.
“Ti-tidak Ma, cuma khawatir aja kok Luna gak keluar-keluar ya?” ucap Ganis asal.
“Eh iya, coba Nis, kamu lihat kakak iparmu. Baik-baik saja atau tidak,” perintah papa.
“Yaudah deh, Ganis lihat Luna dulu ya, jangan-jangan pingsan dia!” gadis itupun berlari menaikki anak tangga menuju kamarku.
Reza POV End
****
Author POV
Tiba di kamar.
“Lun, Luna!” panggil Ganis.
“Luna!” Ganis mengetuk pintu kamar mandi, namun tak ada jaawaban dari Luna, ia pun segera membuka pintu itu dan matanya membulat saat melihat sahabatnya tak sadarkan diri dan tergeletak di lantai.
“Lun, bangun Lun!”
__ADS_1
“Lun, lu pura-pura apa pingsan beneran?” Ganis menepuk-nepuk pipi Luna.
“Lun, lu beneran pingsan ya!”
“Ya ampun, Luna kenapa nih, apa dia stress gara-gara disuruh pake tespek!!”
“Kak Reza!”
“Pa! Ma! Tolongggg!!” Ganis terus berteriak memanggil semua orang. Seketika itu di lantai bawah, kedua orang tua Ganis langsung berlarian menuju kamar itu. Begitupun dengan Reza yang ketakutan terjadi sesuatu pada istrinya, ia tau sejak kemarin kesehatan Luna sedang menurun.
“Nis, Luna kenapa?” tanya Reza saat melihat Ganis sedang berusaha memapah tubuh istrinya yang tak berdaya.
“Aduh aku gak tau Kak, pas Ganis baru sampai di sini Luna udah kayak gini!” jawab Ganis.
“Sini biar Kakak aja Nis!” Reza meraih tubuh itu dan kembali membaringkannya di bed.
“Ya ampun, Luna kenapa Pa, cucu kita kenapa ya Pa,” ucap nyonya Alexander pada suaminya. Wanita itu mengusap tubuh menantunya, ia benar-benar mengira jika Luna tengah hamil.
“Sudah Ma, tenang saja, mungkin trimester pertama memang selalu seperti ini, sama seperti mama dulu saat hamil Reza dan Rengganis,” ucap Alex menepuk pundak istrinya.
“Roose, papa akan menghubungi dokter keluarga dulu ya,”Alex pun keluar dari ruangan itu untuk menghubungi obgyn.
“Baik Pa!” jawab Reza.
“Mati lu Kak, papa mama beneran ngira Luna hamil loh!” ledek Ganis padahal kakaknya sedang sangat mengkhawa istrinya.
“Reza, kau harus menjaga Luna dengan sangat baik, karena awal-awal kehamilan sangatlah rawan,” ucap Ibu Reza.
“Ma please, Luna tidak hamil Ma!” Reza mencoba meyakinkan ibunya.
“Kau ini kenapa tidak ingin istrimu hamil atau apa Reza!” terdengar nada amarah pada perkataan wanita itu
“Bukan begitu Ma, bukan!” Reza mengacak rambutnya karena lagi-lagi harus dihadapkan pada hal seperti ini.
“Lalu apa Reza? Apa masalahnya apa? Mengapa kau terus saja mengacaukan optimism mama, ha?”
“Bukan seperti itu Ma, Reza yakin Luna tidak sedang hamil?” Reza masih saja bersikukuh dengan ibunya.
“Kenapakau begitu yakin? Apa selama ini kalian menggunakan alat konrtarsepsi?” tanya wanita yang sedang diselimuti amarah tersebut.
Uhuk
Uhuk
__ADS_1
Ganis terbatuk-batuk saat mendengar ucapan ibunya.
“Aduh, drama apa lagi ini, kenapa bawa-bawa alat kb segala!” ucap Alex dari balik pintu.
“Sudah, sudah! Jangan ribut, Ini dokter sudah datang,” dia memasukki kamar itu bersama dengan seorang wanita bergelar obgyn.
“Ah papa akhirnya, dokter cepat periksa menantuku! Dan pastikan bayinya tidak apa-apa,” ucap ibu mertua Luna itu, dan beranjak dari bed.
“Maaf ya, Pak, Bu, semuanya. Bisakah kalian menunggu di luar sebentar? Saya akan memeriksa keadaan Nona ini dulu,” ucap dokter itu.
“Dok, bolehklah saya tetap berada di sini?” tanya Reza,ia sangat ingin menemani Luna.
“Mohon maaf ya Pak Reza, demi kenyamanan ibu Luna, sebaiknya bapak menunggu di luar saja, setelah selesai pemeriksaan saya akan segera memberitahu bapak,” pinta dokter itu dan akhirnya mereka semua pun keluar.
****
Seperti yang sudah-sudah, keempat orang itu kembali menunggu di ruang keluarga dengan segala kecemasan dan prasangka. Beberapa menit kemudian, dokter itu menuruni anak tangga dan menghampiri semua anggota keluarga Vandenberg.
“Dok, bagaimana? Apa hasilnya bagus? Apa cucu kami baik-baik saja?” tanya Alexander bersemangat. Reza hanya memijat keningnya, ia yakin sebentar lagi ayah dan ibunya tersebut akan mengalami kekecawaan yang dahsyat, saat dokter itu mengatakan yang sebenarnya, jika Luna memang tidk sedang hamil.
“Tuan dan Nyonya Vandenberg, tidak perlu khawatir. Ibu dan bayinya tidak apa-apa, semuanya sehat!” ucap dokter dengan senyuman mengembang.
“Ah,senangnya. Jadi Laluna benar-benar hamil Pa,” ucap nyonya Alex dengan sangat girang.
“Iya Ma, cucu kita baik-baik saja, sudah papa duga,” Alex mengiyakan ucapan istrinya.
“Apa-apaan ini Dok?” Reza dengan ribuan keterkejutannya menghampiri dokter itu, jangan tanyakan lagi bgaimana keadaan Ganis, mulutnya sedang menganga tidak karuan saat mendengar berita itu. Antara senang, bingung dan tak tau harus berbuat apa saat dirinya akan segera dipanggil ‘bibi’ oleh seorang malaikat kecil.
“Selamat ya Pak Reza, istri dan anak anda baik-baik saja, ibu Luna hanya kelelahan, istirahat yang cukup akan membantunya untuk segera pulih,” ucap dokter itu.
“Dok, apa anda yakin jika istri saya tengah hamil?” tanya Reza.
“Umm, dari denyut nadinya Ibu Luna bisa jadi tengah hamil Pak,” kata dokter itu.
“Reza! Apa-apaan kamu ini? Kenapa masih saja meragukannya? Kamu mau papa mama kecewa?” ucap Alex mengomeli anaknya.
“Pa, semua ini belum pasti Pa, please jangan senang dulu!” ucap Reza tetapi orang tuanya tetap tidak mau mendengarkan.
Dalam kebingungan, Reza pun naik ke atas, menuju kamarnya, ia harus segera menanyakan hal ini pada Luna.
Dilihatnya Luna tengah berbaring di bed dengan mata yang sudah terbuka, ia pun menghampiri istrinya yang masih pucat pasi itu.
“Luna, bagaimana keadaanmu?” tanya Reza.
__ADS_1
“Kak, aku sudah lebih baik, apa kata dokter kak?”
“Luna, dokter berkata jika kau tengah hamil!” ucap Reza sedikit ragu. Dia takut Luna akan sangat terkejut.