I LOVE YOU CAPT !!

I LOVE YOU CAPT !!
Angry Luna


__ADS_3

Luna POV


Aku bisa merasakan sejak tadi Kak Reza seperti sedang menahan amarahnya padaku, ia mungkin memang sedang mengisi acara dan menjawab beberapa pertanyaan dari tamu, tetapi sorot matanya seakan tidak terlepas sedikitpun padaku.


Ada amarah, di sana. Sesekali mata kami bertemu, jujur saja dia tampak tampan dengan seragam putih formal itu, ada bunga di saku dadanya, yang menambah karisma pria itu.


Aku sadar sejak tadipun banyak mata kaum hawa yang terus mengagumi suamiku tak terkecuali bule pelakor yang sejak tadi duduk di barisan paling depan.


Entah siapa namanya tetapi tamu itu sangat meresahkan, beberapa kali ia mencuri kesempatan untuk memeluk kaptenku. Inginku berteriak dan berkata.


"That's My Husband!"


Tapi, sayangnya ini sangat tidak mungkin untuk kulakukan. Waktu terus berjalan dan Chief-ku memberiku segelas minuman, aku pun menerimanya.


Hampir saja aku meminumnya jika seseorang tidak meraih gelas itu dariku.


"Luna, jangan.. " suara yang sangat kukenal, Kak Reza menghampiriku dan meraih segelas wine itu.


"Iya kak?" jawabku, memandang tubuh tegap yang tengah berdiri di hadapanku, semua mata menatap kami. Seakan bertanya bisa-biasanya kapten ini menghampiriku dan mengambil gelas di tanganku.


Aku merasa takut, jika semua akan terungkap saat ini juga, lalu bagaimana dengan karirku nanti. Meskipun aku juga sangat ingin untuk menunjukkan status hubungan kami, terutama pada pelakor pirang itu.


Sial, dia memang cantik, tetapi tetap akulah yang lebih cantik darinya, itu menurutku. Haha.


"Luna, ambil minuman ini. Ada sehelai rambut di wine yang hampir kau mimum tadi," bisiknya.


"Iya Capt, terimakasih," jawabku, sebenarnya ingin kutanyakan padanya, mengapa dia menukar minuman kami, tetapi lagi-lagi situasi dan kondisi sedang tidak memungkinkan, aku tak ingin memicu perhatian lebih di acara ini.


Ingatan tentang bagaimana gadis tadi menempelkan tubuhnya pada suamiku begitu menyesakkan dada.


Chief engineer memperhatikan aku dan Kak Reza, dia tampak berfikir, mungkin dalam hatinya berkata, apa yang sedang Kapten lakukan padaku.


"Chief engineer, harap datang ke bridge besok pagi," ucap kak Reza kepada bosku itu.


"Baik Chief," jawab bos dudaku itu. Entah ini hanya perasaanku saja atau apa, yang jelas pandangan mata antara dua orang pria itu seperti mengisyaratkan sesuatu. Sesuatu yang hanya diketahui oleh mereka berdua saja.


Waktu terus berjalan, hingga acara captain's corner itu usai, aku pun kembali ke kabinku, tanpa tau dimana kapten berada, kumasukki area kru.


Hingga telingaku mendengar sesuatu.


Luna POV End


Luna berjalan di koridor kru lantai tujuh, lantai dimana anjungan berada, ia masih sangat kesal dengan Reza, yang terus didekati oleh gadis bule itu. Jika saja keadaanya tidak seperti ini, sudah pasti ia akan melenyapkan gadis itu seketika.


“Ah kesal sekali! Kesal! Kesal!” ucapnya sambil terus berjalan.


Sementara sayup-sayup ia mendengar suara seorang wanita di area itu.


“Capt, I love you!”

__ADS_1


“Aku tau aku salah! Dan sekarang biarkan aku menebus semua kesalahanku padamu!” terdengar suara wanita yang sepertinya sedang berbicara pada seseorang yang Luna kenali.


“Roosevelt, aku baru sadar jika pria itu adalah seorang pecundang! Aku menyesal telah melepaskanmu untuknya!”


Luna terdiam, sepertinya ia mengenal nama itu, ya benar itu adalah nama suaminya. Saat itu juga gadis itu melihat ke ruangan sebelah, dan ternyata benar, suaminya dan pelakor itu sedang berdiri berhadapan, Sharon menggengam tangan sang kapten, meskipun tak ada sambutran dari kapten itu, tetapi bagaimanapun istri mana yang tak terbakar melihat suaminya bersama wanita lain tanpa perlawanan.


“Kak!” Luna berlari menuju kedua orang itu, Reza pun terkejut.


“Luna?” ucap Reza saat melihat istrinya begitu diselimuti amarah.


“Kau ! siapa dirimu ha? beraninya!” Luna menarik tangan Sharon hingga membuat gadis itu meringuis kesakitan.


“Siapa diriku?” ucap Sharon tersenyum sinis,


“Siapa dirimu yang benar!” ucapnya lagi.


“Apa maksudmu ha?” Luna semakin mencengkeram lengan wanita itu.


“Heh! Sakit tau! Dasar gadis kasar!” ucap Sharon berusaha melepaskan diri dari Luna.


“Luna! Cukup!” Reza berusaha menenangkan istrinya.


“Kau tau siapa diriku Luna?” tanya Sharon masih dengan wajah yang menunjukkan rasa sakit.


“Katakan apa kau menggoda suamiku!”


“Apa kau merayunya?” Luna semakin tidak dapat mengontrol dirinya, kini tangannya yang lain mencengkeram rambut Sharon.


“Apa maksudmu!” Luna masih belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Dia begitu terbakar rasa cemburu.


“Luna, hentikan semua ini! Please!” ucap Reza menarik tubuh istrinya.


“Apa kak? Kenapa?”


“Ini tidak perlu terjadi Luna, jangan dengarkan Sharon!” ucap Reza.


“APA? Jadi dia Sharon?” Luna terkejut, pasalnya nama itu begitu tidak asing baginya.


“Quarter Master! Bawa guest ini kembali ke area tamu!” ucap kapten itu meminta staffnya untuk membawa Sharon pergi dari area kru itu.


“Tidak! Aku masih harus bicara dengan Reza!” teriak Sharon saat staff itu membawanya pergi.


“Roosevelt! Aku akan kembali!”


“Dan kau Luna! Seharusnya kaulah yang pergi dari hidup Reza!” gadis itu terus saja berteriak, hingga menghilang di ujung koridor.


Luna masih mematung, ia begitu terkejut saat mengetahui fakta yang ada.


“Luna!” Reza meraih tangan istrinya.

__ADS_1


“Kak, jadi benar dia Sharon, mantan kekasihmu dulu?” tanya Luna, ia merasa terpukul saat ini, bagaimanpun Reza tak pernah mengatakan bagaimana hubungannya dengan Sharon dulu.


“Benar Luna, tetapi aku tak pernah memiliki hubungan dengannya, bertemupun baru kali ini,” ucap kapten itu, ia tau jika Luna sedang merajuk.


“Siapa yang tau Kak! Pantas saja kudengar jika ia ingin memperbaiki semuanya! Aku tau kak aku hanyalah seorang istri pengganti bagimu!”


Luna menggebu-gebu, ia sadar ia sedang dalam kecemburuan saat ini, hanya saja ia tak mungkin mngatakannya pada Reza.


“Luna, aku tak pernah menganggapmu sebagai pengganti apapun dalam hidupku,” Reza masih dalam mode dingin, ia bisa memahami istrinya yang masih kekanak-kanakan itu.


“Sudahlah kak, jika kakak ingin menjalin hubungan lagi dengan Sharonmu itu! Aku tak masalah,” ucap Luna kemudian pergi meninggalkan kapten.


“Luna, tunggu!” Luna tetap saja berjalan sambil memayunkan bibirnya.


“Luna, sayang…”


“Aku bukan sayangmu! Roosevelt!” keadaan koridor kapal saat itu sedang sangat sepi, hingga mereka bebas mengkspresikan diri masing-masing.


“Kau terlihat lucu saat menyebut namaku seperti itu!” Reza meraih pinggang ramping istrinya, kemudian membawa gadis itu dalam pelukannya.


“Kau cantik Luna,” Reza membelai wajah istrinya.


“Kak, apa kau pikir aku sudah memaafkanmu?” Luna menepis belaian itu.


“Apa salahku, hey?” Reza mengerutkan keningnya.


“Karena kakak diam saja saat Sharon menggenggam tanganmu! Dan saat gadis itu juga terus menempel padamu. Kakak sama sekali tidak melawan!” ucap Luna semakin emosi bahkan belaian lembut suaminya tak mampu menahan hawa panas yang sejak kemarin ia rasakan.


“Luna, mengertilah! Aku tak mungkin seperti itu. Jika dalam acara tadi mungkin aku memang tak menghindarinya, bagaimana pun dia adalah guest, dan bagaimana pandangan tamu lain jika aku berbuat kasar pada Sharon.”


“Kak, kau sangat menyebalkan!” Luna berlari, akal sehatnya mampu menerima tapi tidak untuk hatinya, bagaimanapun wanita selalu mengutamkan perasaannya bukan logikanya.


“Luna! Astaga!” kapten itu tampak kacau sekali, baru kali ini ia terlihat panik.


Reza terus mengejar Luna hingga ke lantai A. Luna masuk ke kamarnya dengan menggunakan tubuhnya sebagai penahan pintu. Dia tau Reza memiliki kunci master dan ia dapat dapat dengan mudah membuka kabinnya.


“Luna! Buka pintunya!” Reza mengetuk pintu itu, dan akhirnya ia menggunakan kunci master miliknya. Dia mendorong pintu dengan tenaganya, tetapi hal itu terasa seperti berat,


“Luna, aku tau kau menahan pintunya,” ucap Reza.


“Sayang, jika aku mendorong pintu ini dengan kekuatan lebih, ini akan melukaimu!”


Luna tetap tak menjawab perkataan suaminya, ia tetap saja menahan pintu dengan kekesalan.


“Luna, menjauh dari pintunya atau kau akan terluka!” Reza semaklin menguatkan tenaganya, bagaimanapun ia tau jika istrinya bukan gadis biasa. Ingatan tentang penampilan seksi Luna malam ini sukses membuatnya terselimuti gairaah.


“Sayang, aku tak mau kau terpental dari pintu dan terluka,” ucap Reza dorongannya semakin kuat, untuk mendobrak pintu kayu berlapis besi itu.


“Biarkan saja Kak! Aku memang sudah terluka!” teriak Luna semakin kehabisan tenaga, karena Reza hampir barhasil mengalahkannya.

__ADS_1


“Astaga Luna!” Reza mulai gemas pada istrinya yang masih saja tidak mau mengerti.


__ADS_2