I LOVE YOU CAPT !!

I LOVE YOU CAPT !!
Hukuman Kapten


__ADS_3

Luna terbangun dari tidurnya, dan waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi waktu setempat, dia merasa lebih baik dan demamnya pun sudah turun.


Awalnya tak ada yang aneh, namun saat ia mencoba bangkit dari tempat tidur, rasa nyeri yang luar biasa pun mulasi muncul pada area pinggulnya.


“Akhh!” wajah manis itu memejamkan matanya saat ia teringat akan kejadian semalam. Luna ingat saat dirinya dengan agresif merayu suaminya, dia ingat saat dirinyalah yang meminta suaminya untuk tetap melanjutkan aktifitas mereka.


“Bodohnya Luna,” ucapnya sambil menatap pantulan dirinya pada cermin, di seberang tempat tidur.


“Semalam bahkan aku terlihat lebih nak*l daripada Sharon,” gadis itu terus bermolog sambil mengacak wajahnya.


“Apa yang Kak Reza akan pikirkan tentangku setelah ini?” ia kembali menatap jarum jam, dan bernafas lega untung saja ia bangun lebih siang daripada suaminya.


Anjungan lantai tujuh


Seorang wanita dan pria sedang menjalani sidang. Kapten dan beberapa officer lainnya termasuk Charles tengah menatap tajam ke arah kedua tersangka itu.


“Kalian tau apa kesalahan kalian?” ucap Charles pada Bumi dan Sharon, sementara dua koper telah siap untuk menemani mereka disembark hari ini.


“Sa-saya tau apa kesalahan saya Chief,” ucap Bumi sementara Reza sejak tadi hanya memperhatikan pria itu, dengan amarah yang tak dapat terlukiskan.


“Apa motifmu melakukan semua itu?” Charles melirik ke arah Sharon bagaimanapun ia masih teringat saat gadis jal*ng itu menjam*hnya semalam.


“Sharon Chief, Miss Sharon yang menyuruh saya,” ucap Bumi dengan tubuh yang bergetar, ia merasa terintimidasi saat Reza terus menatapnya, mungkin memang benar sang kapten belum melakukan apa-apa, tetapi tak mungkin dia akan melepasnya begitu saja.


“Dan anda Sharon, apa motif anda melakukan semua itu pada saya dan Luna, selaku istri kapten?” ucap Charles, namun Reza sudah tidak kuat lagi, ia merasa masalah ini lebih merujuk pada maslah pribadi.


Akhirnya kapten tersebut memutuskan menyelesaikan sidang ini hanya dengan pihak-pihak yang terlibat saja.


“Bij voorbaat excuses, maar ik denk dat we deze kwestie in der minne zullen oplossen.Met veel respect vraag ik de andere officieren om de brug te verlaten,”


ucap Kapten keturunan Belanda tersebut kepada para staffnya yang lain untuk meninggalkan ajungan sementara waktu.


(Mohon maaf sebelumnya, tapi saya pikir kami akan menyelesaikan masalah ini secara damai. Dengan penuh hormat saya meminta petugas lain untuk meninggalkan Anjungan)


“Volgens uw bestelling, kapitein!” ucap para staff itu secara bersamaan.


(sesuai perintahmu kapten!)


Dan merekapun meninggalkan tempat itu, kini hanya tinggal Reza, Charles, Bumi dan Sharon yang tertinggal, bersiap untuk menyelesaikan masalah yang telah dibuat oleh kedua orang tersebut.


Reza menghampiri Bumi dan menarik kerah bajunya, kali ini nahkoda itu tak dapat lagi menahan amarah yang sejak semalam ia tahan.


“Capt, maaafkan saya. Saya khilaf,” ucap Bumi ia tak kuasa melawan Reza.


“Kau tau apa akibatnya jika seorang kru melakukan tindakan criminal di atas air?” ucap kapten tersebut tanpa melepaskan cengkaramannya.


“Saya siap menerima hukumannya Capt!”


“Sayangnya aku tidak akan menghukumu secara hukum laut!”


“Ataupun secara hukum di wilayah territorial peraian Baltic ini Bumi!” ucap kapten dan Bumi pun membulatkan matanya ia pikir ia akan dikurung di kabin tertentu seperti yang biasa kru alami setelah melakukan tindakan criminal.


“Apa maksud anda kapten?”


BUGH


Reza memukul pria bermata sipit itu, dan seketik Charles menahannya.


“Capt, please kendalikan dirimu!” ucap Charles sementara Sharon hanya memejamkan matanya tak tahan melihat kemarahan Reza.


“Kau akan diblokade di seluruh perusahaan kapal pesiar luar negeri Bumi!”


“Aku telah menuliskan rekomendasi pemblokiran pada buku pelautmu!” ucap Reza dengan nada dingin tanpa melihat Bumi, sementara pria yang sedang memegangi sudut bibirnya yang berdarah tersebut segera bangkit dan memohon pada Reza.


“Capt! Tunggu! Jangan lakukaan ini!”


“Saya mohon Capt! Jika anda melakukannya maka saya akan kehilangan masa depan Capt!” Bumi bersimpuh di kaki pria tegap itu.

__ADS_1


“Mungkin ini sangat tidak hormat Bumi! Tapi aku masih menggunakan akal sehatku, kau masih bisa berlayar di peraian Indonesia, aku hanya memblokir buku pelautmu, bukan paspormu,”


“Tapi Capt! Sama saja..” Bumi mencari pembelaan.


“Apa kau tau apa yang terjadi pada Luna?”


“Dia tersiksa Bumi! Apa kau pikir obat perangsang tidak berbahaya bagi keselamatan istriku?”


“Capt, saya mohon maafkan saya! Beri saya kesempatan kedua!”


“Kesempatan kedua untuk orang yang telah membahayakan nyawa istrtiku? Begitu?”


“Sa-saya juga mencintai Luna Capt!” Bumi masih saja mengatakan hal yang membuat Reza kembali tersulut emosi.


Bugh


Bugh


“Bahkan mulut masih saja bisa berkata demikian? Kau ingin bersaing denganku Paku Bumi?”


“Capt, tidak ada batasan dalam mencintai!”


Bugh


“Coba katakan lagi!” Reza semakin tertantang untuk menghajar pria itu.


“Bumi! Apa kau ingin mati?” ucap Charles mengernyitkan keningnya saat melihat wajah Bumi yang babak belur tapi masih saja melawan Reza.


“Capt, hentikan! Kau bisa membunuhnya!”


Charles menahan tubuh Reza yang masih ingin menghajar Bumi tersebut.


“Aku tidak takut mati Chief, captain telah merebut masa depanku, dan cintaku!” ucap Bumi tidak berhenti bicara.


“Kau!” Reza kembali ingin menjatuhkan pukulan pada pria itu tetapi lagi-lagi Charles menghentikannya.


“Charles, echt ik zal hem vermoorden!” ucap Reza kembali menunjukkan sisi kekanak-kanakannya.


(Sungguh aku akan membunuhnya!)


“Geen Kapitein, of Luna wordt weduwe en ik trouw met haar!” jawab Charles yang juga seorang keturunan Belanda.


(Jangan kapten! Atau Luna akan menjadi janda dan aku akan menaikahinya!)


“Apa katamu?” Reza menatap tajam Charles dan pria itu hanya terkekeh.


“Jangan gegabah Capt, gunakan akal sehatmu! Apa kau mau masuk penjara? Llihatlah kita masih punya satu tawanan lagi!” ucap Charles mengedipkan matanya pada Sharon.


Reza menghampiri gadis yang sejak tadi tidak berani menatapnya tersebut, sementara Charles hanya tersenyum mengingat keberuntungannya semalam.


“Roosevelt, maafkan aku!” ucap Sharon.


“Sharon, aku tak menyangka kau mampu bertindak bod*h seperti itu!”


“Kaulah otak dibalik semua ini!”


“Roose, kumohon! Maafkan aku,” gadis itu berniat memeluk Reza namun Charles menghalanginya.


“Tak ada hukuman yang pantas selain melaporkanmu pada ayahmu!” ucap Reza.


Dia tak mungkin menyakiti gadis itu, karena pria sejati tidak akan bertindak kasar pada wanita.


“Roose, kumohon! Jangan laporkan ini pada ayahku! atau ia akan mengirmku ke asrama!”


“Itu lebih baik untukmu Sharon!” ucap Reza tegas sambil mendial nomor pada ponselnya.


“Selamat siang Om Kuppens, saya Roosevelt,” ucap Reza saat seseorang di tanah air mengangkat teleponnya.

__ADS_1


****


“Luna, apa kau di kamar mandi?” tanya Reza usai menyelesaikan sidang yang menguji kesabarannya tersebut.


“Ya Kak!” jawab Luna dari dalam shower room, gadis itu bahkan tak dapat menyembunyikan bekas-bekas cetakan biru pada sekujur tubuhnya. Sementara sang suami sudah kembali ke kabin.


“Sayang, kukira kau tak akan bangun dari tempat tidur hari ini,” ucap Reza tak tau dampak ucapan tersebut bagi istrinya.


Luna pun keluar dari ruangan kecil itu, dengan wajah yang memerah menahan malu yang tak kunjung hilang.


“Luna, apa kau baik-baik saja?” ucap sang suami melihat istrinya berjalan dengan begitu pelan.


“Iya Kak, aku baik-baik saja,” Reza tau jika Luna sedang menahan ngilu, ia masih ingat bagaimana keagresifan istrinya semalam dan itu tidak mungkin akan membuat gadis itu baik-baik saja hari ini.


“Sungguh? Apa demammu masih belum hilang?” Reza meneyntuh dahi istrinya.


“Kau masih sedikit demam, Sayang,” Reza pun mengangkat tubuh langsing itu dan merebahkannya pada tempat tidur.


“Kak, pengaruh obatnay sudah hilang! A-aku sudah sadar sekarang!” ucap Luna terbata berfikir jika suaminya akan kembali mengulangi kegiatan semalam.


“Tidak Luna, kenapa kau begitu mes*m!” Reza terkekeh, rasa kesalnya pada Bumi seketika menghilang saat melihat gadis itu yang begitu menggemaskan.


“Kak, jangan membuatku malu,” ucap Luna sambil menutup wajahnya dengan selimut.


“Aku tidak bisa melupakan bagaimana ekspresimu semalam Laluna,” Reza sengaja membuat gadis itu semakin menenggelamkan diri pada selimut tebalnya.


“Kak! Tolonglah!” Luna memukul lengan kokoh suaminya.


“Seandainya setiap malam terlewati seperti kemarin, hmm,” gumam Reza melirik sang istri yang tak lagi terlihat karena semakin bersembunyi.


“Luna, tunjukkan wajahmu!” Reza menarik selimut itu.


“Tidak, aku akan terus seperti ini jika kaka tidak berheti membahasnya!” ucap Luna dengan suara yang tertahan karena terhalang selimut.


“Ya, iya.. Aku akan diam!” ucap Reza mengalah.


“Kak, maafkan aku,” Luna keluar dari persembunyian itu.


“Aku sudah memaafkanmu sayang,” ucap sang kapten membelai pipi berlesung tersebut.


“Lgipula aku juga diuntungkan bukan?” Reza menaikkan satu alisnya.


Bugh


Luna kembali memukul dada bidang itu, sebab suaminya kembali mengingatkan dirinya akan sesuatu yang membuat area sensitivenya begitu ngilu hari ini.


“Katakan selamat tinggal untuk Bumi, Luna,” ucap Reza.


“Apa kakak menjatuhkan dismissal untuk Bumi?” gadis itu membulatkan matanya kaibat terkejut.


“Dia telah membahayakan nyawamu, obat itu adalah obat keras dan terlarang!”


“Untung saja tubuhmu cukup kuat menahannya,” ucap Reza serius. Luna gemetar merasakan kekecewaan di hatinya, saat mengetahui sahabatnya tersebut telah mengkhianati dirinya.


“Tapi Kak, apa itu adil untuk Bumi? Benarkah dia bersalah?” Luna masih belum percaya pada fakta yang ada.


“Ya, dia dan Sharon. Mereka semua bersalah sayang,” ucap Reza meyakinkan istrinya.


“Bahkan Bumi tak akan bisa kembali ke kapal pesiar internasional, dia akan bekerja di kapal local setelah ini.”


“Apa Kak?”


“Bukankah itu terlalu kejam?” Luna tau jika sahabatnya itu begitu terobsesi dengan pekerjaannya selama ini.


“Jangan membelanya lagi Luna, aku sedang tidak ingin terluluhkan olehmu saat ini,” Reza menatap wajah istrinya dan kemudian meng*cup bibir merah itu dengan lembut.


“Kak, apa aku bisa bertemu dengan Bumi dan Sharon?”

__ADS_1


“Bisa, tapi hanya sebentar,”


__ADS_2