I LOVE YOU CAPT !!

I LOVE YOU CAPT !!
MINAL AIDIN WAL FAIDZIN


__ADS_3

Halo genk!! Minal aidin wal faidzin ya. Maafkan author kalau selama ini banyak salah sama kleaannn. Semoga selalu dalam lindungan Allah Swt ya mentemen smua 😘😘


...****...


Reza membawa gadis itu ke kamarnya, yang masih terletak di area bridge, ia sudah tak dapat ,menahan gelora yang menyerangnya sejak beberapa hari lalu, Luna berusaha melepaskan diri dari suaminya itu, namun usaha Luna sia-sia, ia sangat khawatir jika ada kru lain yang melihat kejadian itu.


“Kak, lepasin!” ucap Luna sambil memukul-mukul dada bidang suaminya.


l


“Kau akan mendapatkan hukumanmu, Luna,” ucap Reza. Kini mereka berdua telah berada di kamar kapten itu, Luna duduk di pinggiran bed, mata indahnya melihat sekeliling kabin itu, ruangan itu sangat berbeda dengan kamarnya.


“Beginikah kamar kapten? Wah sangat ekslusif ya!” ucapnya, sementara Reza yang sedang melepaskan seragamnya hanya tersenyum menyaksikan istrinya yang sedang terkagum itu.


“Kak, kenapa kau melepaskan jasmu? kemejamu? Celanamu? Jam tanganmu?” tanya Luna saat melihat Reza sedang melucuti apa yang menempel pada tubuh sixpack-nya.


“Kenapa Luna?” tanya pria itu sambil meletakkan jas dengan empat setrip di lengannya pada closet.


“Bukankah kau masih on duty sekarang?” tanya Luna menghindari tatapan pria itu.


“Ya, benar. Tetapi aku bisa menentukan kapan saja waktu break-ku,” Reza semakin mendekat.


“Apa?” Luna semakin terancam saat Reza yang hanya memakai kaos dalam dan celana pendek itu semakin mendekat.


“Bagaimana? Mau membuat permohonan maaf atau permohonan ampun? Hm?” ucap Reza dengan suara serak, ia meraih dagu tirus istrinya dan mengecup bibir itu dengan lembut.


“Kak, aku masih on duty,” ucap Luna menghindari ciuman suaminya.


“Luna, kau akan berdosa jika menolak suamimu,” Reza kembali melanjutkan aksinya.


“Tapi, ini bukan waktu yang tepat Kak!” Luna beranjak dari tempat tidur.


“Lalu kapan waktu yang tepat?” Reza ikut beranjak, dan meraih pinggang ramping Luna. Bagaikan dua insan yang sedang dimabuk asmara tetapi belum tau harus memulainya dari mana, sang kapten kembali menghujani gadis manis itu dengan ciuman lembut hingga kasar.

__ADS_1


Hingga sebuah alarm berbunyi. Lengkingan panjang, dan kemudian disusul dengan pendek sebanyak tiga kali berturut-turut, suaranya menggema di seluruh speaker penjuru kapal, menandakan jika sedang ada api di area tertentu.


Biasanya alat pendeteksi langsung berbunyi dan seluruh fire team, rescue squad dan seluruh anggota penanganan darurat langsung bertindak dengan menggunakan pakaian sesuai fungsinya masing-masing.


“Astaga, fire alarm!” Luna melepaskan pagutan itu. Bibirnya yang tadinya berwarna pink menjadi memerah akibat ulah Reza.


“Kak ada alarm api!”


“Api kak!” ucap Luna panik, namun Reza masih saja tak bergeming, setelah Luna mencubit hidungnya ia baru menyadari jika ada api di kapal. Alarm pendeteksi api telah berbunyi.


Reza berdecak kesal, karena harus gagal lagi, kemudian kembali mengenakan seragamnya. Luna tersenyum melihat suaminya kesal.


“Kak, jangan kesal, kau harus professional!” ejek Luna, sambil menghampiri Reza lalu membantunya memasangkan kancing kemeja seragamnya. Jemari lentik itu bermain di dada bidang Reza, satu persatu kancing pun terpasang dengan rapi.


“Kau menggodaku Luna,” ucap Reza tak dapat melepaskan pandangan matanya dari gadis itu.


“Sedikit..” ucap Luna, tersenyum jahil.


“Lihat saja saat emergency ini berakhir,” Reza memberi Luna ultimatum. Kemudian bergegas meninggalkan Luna yang masih harus membetulkan seragam dan rambutnya yang sedikit acak-acakan.


Setelah semuanya beres dan tak menyisakan tanda-tanda bekas penganiayaan, (hahaha)


Luna pun keluar dari kabin orang nomor satu di kapal itu, dengan memperhatikan kanan dan kiri, namun saat ia hendak melangkahkan kakinya dari pintu kabin, Bumi dengan seragam rescue squadnya menghampiri Luna.


“Luna!” panggil Bumi, Luna tau jika itu adalah suara temannya, karena merasa tertangkap basah iapun memejamkan matanya tanpa menoleh pada pria bermata sipit itu. Luna sedang memikirkan jawaban apa yang ia berikan pada Bumi, saat pria itu menanyakan apa yang sedang Luna lakukan di kamar kapten.


“Laluna woy!” Bumi kembali memanggil nama gadis berlesung pipi itu lagi, kali ini jaraknya semakin dekat dengan Luna, gadis itupun tersenyum pada Bumi, sebuah senyuman paksaan karena kegugupan.


“Ngapain lu di sini, Bum?” tanya Luna, senormal mungkin.


“Gue kan resqua squad Lun! Apinya ada di lantai 6, jadi gue pasti kesini juga dong, buat evakuasi kabin kapten,”


“Nah lo, lo ngapain di sini?” tanya Bumi, sesuai dugaan Luna.

__ADS_1


“Gue, gue lagi ngecek mesin laundry kapten,” ucap Luna terbata.


“Lah bukannya mesin laundry itu diceknya sama electrician? Kesetrum elo ntar kalo main-main di situ,” Bumi bertanya dengan polosnya, tanpa merasa curiga sedikitpun pada Luna.


“Iya Bum, gue dimintain tolong sama Pak Agus, electrician tadi, buat cek dulu kondisi mesin cucinya,” jawab Luna, sungguh ini sangat tidak masuk akal, jika Bumi berfikir. Sayangnya Bumi tidak berfikir macam-macam, dia percaya pada segala perkataan Luna.


“Baru tau gue kalo kapten nyuci baju sendiri, kirain kagak!” ucap Bumi, sambil berfikir.


“Udah, jangan dipusingin! mungkin dia lagi gabut! Ayo pergi dari sini!” ajak Luna. Bumi pun mengangguk dan memastikan bahwa tak ada satu orang pun di kabin itu, lalu memasangkan tanda bertuliskan 'evacuated' pada gagang pintu.


“Lun, lo yakin kapten gak ada di dalem?” tanya Bumi, ragu sebab saat ini ia sedang bertugas untuk mengevakuasi wilayah tersebut.


“Yakin,” jawab Luna.


“Emang lu tadi sempet ketemu dia?” Bumi masih saja mencari tau, sebab ia juga khwatir jika ternyata kapten masih ada di dalam sedangkan ia telah memasangkan tanda pada pintu itu, tentu saja Bumi akan mendapat masalah.


“Yakin gue!” jawab Luna, lelah menanggapi Bumi. Mereka masih terus berjalan, sambil sesekali Bumi memeriksa apakah masih ada seseorang yang masih belum dievakuasi.


Hingga tiba di lantai A, yaitu lantai dimana kamar atau kabin Luna berada.


Di sana masih ramai dengan para tim penanganan kebaran, faktanya api yang baru saja terdeteksi, hanyalah berupa asap, di area galley atau dapur kapal, beberapa orang kru juga sedang berkumpul di sana, menjalani pengarahanh tertentu dari para officers.


“Wah, iya bener kata lu, Lun,” ucap Bumi.


“Apaan?” Luna mendongakkan dagunya.


“Bener kapten gak ada di kabin ternyata,"


“Apa gue bilang tadi!” jawab Luna kesal.


“Ia soalnya dia ada di sini, tuh liat! Dia lagi ngeliat kea rah sini Lun!” ucap Bumi, Luna segera mengikuti kemana mata Bumi melihat dan ternyata benar, seseorang dengan seragam officernya dan dengan empat setrip di pundaknya sedang menatap ke arah mereka, tatapannya begitu menyeramkan, dingin dan seperti mengandung amarah.


“Eh Lun, gue boleh minjem telepon kabin lo gak?” tanya Bumi, namun Luna masih melihat Reza.

__ADS_1


Reza memang sedang memberikan pengarahan kapada para kru, namun matanya terus tertuju pada Luna, gadis itu kini menjadi salah tingkah, sebab terakhir kali, suaminya berpesan padanya untuk menjaga jarak dengan Bumi, namun kini ia malah sedang bersama Bumi, pria itu bahkan sedang berada di dalam kamar Luna, jangan tanyakan lagi bagaimana sang kapten menahan emosinya.


__ADS_2