
“Lepaskan aku Charles!” teriak Sharon saat officer itu mencengkeram kedua tangannya dan menggiring tubuh gadis bule tersebut.
“Diamlah Sharon, aku punya kejutan untukmu!” bisik Charles pada telinga Sharon. Mereka melewati koridor lantai A dengan tergesa-gesa.
“Kejutan apa Charles? Apa Roosevelt memintamu untuk menjemputku?” tanya Sharon dengan mata berbinar, meski pipinya masih memar dan terluka akibat perlakuan Reza padanya kemarin.
“Kau benar Sharon! Captain-lah yang memintaku untuk menjemputmu,” ucap Charles dengan senyuman mengejek.
“Jangan bercanda Charles, apakah Roosevelt sudah memaafkanku?”
“Aku serius Sharon, Rooseveltmu yang memintaku untuk menjemput dan membawamu ke tempat yang istimewa!”
“Aku tau Roosevelt sebenarnya juga tertarik padaku, aku tau ia tidak benar-benar marah padaku! Ia hanya merasa kasihan pada Luna saja selama ini, iya kan Charl?” ucap Sharon dengan percaya diri.
“Umm sepertinya kau benar, mari kita lihat tempat istimewa apa yang Captain telah siapakan untukmu!” ucap Charles sambil menahan tawanya mendengar Sharon yang begitu percaya diri.
“Aku sudah tidak sabar Charles!” ucap Sharon dengan girang namun tawanya berhenti saat mereka berdua telah tiba di sebuah ruangan dengan dinding stainless steel, dan tertulis kata ‘morgue’ pada pintunya.
“Kita sudah sampai, baby Sharon!” ucap Charles dengan senyuman yang semakin mengembang.
“Ayo masuk!”
“Ti-tidak Charl! Apa yang kau lakukan? Ini kamar mayat!” seru Sharon saat Charles mendorong tubuhnya agar masuk ke ruangan tersebut.
“Apa kau gila membawaku kemari ha!” Sharon berusaha melepaskan diri dari sahabat Reza itu melihat pintunya saja sudah membuat gadis itu ketakutan setengah mati, apalagi jika harus masuk ke dalamnya.
“Sudah masuk sajalah! Ini perintah Rooseveltmu Sharon!” Charles kembali mendorong tubuh sintal itu, namun dengan sekuat tenaga gadis itu berpegangan pada Charles.
“Tidak! Aku tidak mau Charles!”
“Aku akan melakukan apapun untukmu jika kau bisa membebaskanku dari hukuman ini!" Sharon pun sadar, jika sejak. tadi pria itu hanya mengerjainya saja.
”Benarkah memangnya apa yang bisa kau lakukan untukku?” Charles memberikan Sharon kesempatan untuk berbicara.
“Apa yang kau inginkan Charles? Uang? Kekasaan atau tubuhku?”
“Aku bisa memberikan semuanya untukmu! Asal bawa aku pergi dari tempat terkutuk ini!” mohon Sharon, dan memeluk tubuh Charles.
“Sayangnya aku tak tertarik dengan penawaranmu itu Sharon! Kau bisa merayuku kembali saat hukumanmu ini telah usai!” ucap Charles kemudian memasukkan gadis itu ke dalam ruangan kecil tersebut lalu menguncinya dari luar.
“Charles!”
“Charles! Tolong aku! Aku tidak mau terkurung di sini! Aku bisa mati ketakutan Charl!” teriak Sharon sambil menggedor pintu besi tersebut namun Charles telah pergi, sejujurnya pria itu juga tak ingin berlama-lama berada di tempat itu, bagaimanapun aura negative dari sebuah kamar jenazah akan selalu menakutkan.
Di tempat lain
Reza tak henti-hentinya memandang tubuh istrinya yang msih lemah, bahkan sejak tadi Luna hanya sesekali mengucapkan kata tanpa membuka matanya, selang oksigen terpasang di hidungnya,
__ADS_1
begitupun dengan selang infus yang juga terpasang pada tangan kiri sedangkan tangan kanannya terpasang selang tranfusi darah, gadis itu telah kehilangan banyak darah akibat keguguran yang ia alami.
“God, mengapa bukan aku saja yang menjalani semua ini, mengapa harus Luna?”
“Mengapa kau harus menghukum istriku, apa salah Luna?” Reza masih belum bisa menenangkan hatinya, bayangan saat istrinya terjatuh terus terngiang di kepala nahkoda itu.
“Sharon! Aku bersumpah akan menjebloskanmu ke penjara, tak perduli dengan hubungan yang terjalin antara kedua orang tua kita!” ucap Reza, mengepalkan tangannya.
“Kak..” Luna mulai tersadar dan memanggil nama Reza.
“Ya sayang, mana yang sakit?” kapten segera memperhatikan istrinya tersebut, khawatir jika Luna masih merasakan sesuatu.
“Semuanya terasa sakit kak,” ucap Luna saat ingin bangkit dari tidurnya.
“Jangan terlalu banyak bergerak dulu sayang,” Reza membaringkan tubuh istrinya kembali.
“Perutku terasa sangat panas saat ini kak,” Luna memegangi bagian perut bawahnya, Reza semakin tak kuasa untuk mengatakan apa yang telah mereka berdua alami.
“Mungkin untuk beberapa menit saja sayang, setelah ini rasa panasnya kan menghilang,”
ucap pria itu mengatakan apa yang dokter telah sampaikan padanya saat Luna belum sadar.
“Luna, ada yang harus kau ketahui..” ucap Reza menggantung, jujur saja dadanya terasa sesak membayangkan bagaimana terkejutnya sang istri setelah ini.
“Apa kak?” Luna bisa merasakan jika apa yang akan dikatakan Reza adalah bukan sesuatu yang baik, gadis itu bahkan bisa melihat sang suami menitikkan air mata, di matanya Reza tak pernah terlihat sekacau itu sebelumnya.
“Usianya tiga minggu,”
“Apa?” Luna mengernyitkan dahinya tak percaya, antara rasa bahagia dan terkejut bercampur menjadi satu.
“Iya sayang, malaikat kecil sedang tumbuh di rahimmu,” Reza merangkup wajah pucat pasi tersebut.
“Tapi..”
“Tapi apa Kak?”
“Tapi, Tuhan telah mengambilnya kembali,” pria itu menutup mata birunya tak tahan melihat istrinya sedang terdiam membisu berusaha mencerna kabar baik dan buruk yang datang secara bersamaan.
“Kak, aku masih belum mengerti, kau bilang aku sedang mengandung. Ya, mungkin itu benar selama bebarapa hari ini perutku sering terasa kram dan terkadang tubuhku begitu lemas, aku tau ada yang tak beres, sempat terfikir untuk menggunakan tespek,”
“Namun, ternyata semua yang kurasakan benar. Aku sedang hamil, tetapi kenapa kakak bilang kita telah kehilangan?”
“Aku akan menelepon rumah, kita harus segara memberitahu papa dan mama, Kak!”
“Mereka akan sangat bahagia mendengar berita ini!” Luna berusaha untuk bangkit kembali dan meraih telepon di samping bednya, tetapi Reza menahan gadis itu.
“Tidak perlu sayang, dengarkan aku. Kau baru mengalami keguguran Luna,” sorot mata Luna seketika memudar menandakan betapa hatinya terluka saat itu.
__ADS_1
“Apa Kak?” buliran bening itu mulai keluar dari mata cantik Luna membanjiri pipinya tanpa henti.
"Tidak Kak, ini tidak mungkin!"
Dua minggu kemudian
Reza memutuskan untuk disembarking dari kapal, kondisi fisik Luna sudah sangat membaik namun tidak dengan psikisnya. Gadis itu masih sering melamun, menyendiri dan membayangkan bahwa dirinya hampir saja menjadi seorang ibu.
Luna belum bisa menerima kehilangan itu, baginya semuanya terasa begitu tiba-tiba, hingga ia belum sempat untuk merasakan bahagianya melihat dua garis pada tespek yang telah lama ia simpan di kopernya.
Bahkan ia sempat melakukan tes kehamilan sehari setelah ia Reza melakukannya, tetapi tentu saja itu belum menunjukkan hasil.
(yang bener aja, sehari lgsg jadi emang sulap Lun? wkwk)
“Sayang kita pulang ya,” ucap Reza sambil memeluk istrinya yang sedang berdiri di bow (area depan kapal, berbentuk sudut, tempat ikonik adegan Titanic)
“Apa yang sedang kau lihat?” merasa istrinya tidak menanggapinya ia pun melihat apa yang sedang Luna perhatikan dari kejauhan.
“Lihatlah itu Kak, Sharon seperti orang gila,” ucap Luna memperhatikan polisi sedang membawa Sharon untuk diperiksa atas tuduhan percobaan penghilangan nyawa.
“Maafkan aku Luna, aku bukan suami yang baik, seharusnya aku bisa lebih keras lagi pada Sharon,” Reza semakin mengeratkan pelukannya pada pinggnag ramping itu.
“Kak, aku tau ini juga tak mudah bagimu, aku tau kau sangat menghargai seorang wanita. Aku justru merasa iba pada Sharon, di usianya yang sudah cukup matang ini, ia masih belum bisa menemukan jati dirinya,”
“Lagipula kau sudah cukup kejam padanya, demi menuruti egomu, kau telah membuat Shron gila, akibat terkurung di ruangan berhatu itu salaam dua minggu!” Luna terkekeh, senyuman itu kembali terukir di wajahnya setelkah beberapa hari ini sempat menghilang.
“Kau sangat manis saat sedang tersenyum Luna,” Reza mencium pipi berlesung itu.
“Kak, apa aku bisa hamil lagi?” tiba-tiba saja pertanyaan itu terlontar begitu saja.
“Bagaimana jika aku tidak bisa hami lagi?”
“Apa kakak akan menikah lagi?” Luna mulai panik atas perkatannya sendiri.
"Aku tak ingin ada poligami Kak!"
“Apa yang kau bicarakan Luna?” Reza tertawa, ia bahagia setidaknya istrinya sudah kembali seperti semula. Menjadi Luna yang sering berbicara hal konyol.
“Kak aku tidak ingin dimadu,” Luna mnggelengkan kepalnya, ia terinagt saat dokter mengtakan jika rahimnya membutuhkan perawatan intensif setelah guncangan yang terjadi saat ia terjatuh.
"Sungguh menjalani semua itu tak pernah terbayangkan olehku!"
“Astaga Luna, hentikan semua ini!” Reza menggigit pipi itu dengan gemas.
“Jangan bilang kakak akan membawaku pulang untuk menikah lagi!”
“Apa mama dan papa mengatakan sesuatu padamu Kak?” Luna sungguh merasa insecure, sebab tiba-tiba saja suaminya mengajaknya pulang ke Indonesia padahal seharusnya masa tugas Reza belum berakhir.
__ADS_1
“Tidak Luna, aku hanya tidak ingin membuatmu terlalu stres di kapal, jadi kita pulang ya, kita mulai lagi program kehamilan!”