I LOVE YOU CAPT !!

I LOVE YOU CAPT !!
Apa yang harus kulakukan


__ADS_3

Orang bilang malam pertama adalah malam yang sangat ditunggu-tunggu oleh sepasang pengantin baru. Namun tidak untukku dan kak Reza, aku bahkan tidak berani untuk masuk ke kamar bertuliskan Have a such a great honeymoon night Mr and Mrs Vandenbergh tersebut.


Sudah satu jam lebih aku berada di sky roof bangunan hotel ini, sendiri dan masih dengan gaun pengantin melekat di tubuhku. Aku sibuk dengan pikiranku sendiri, membayangkan diriku dan kapten dalam satu ruangan, dengan hiasan-hiasan bernuansa romantis sedangkan kami tau bahwa tidak ada perasaan apapun di antara kami berdua.


Sungguh, tak dapat kupercaya aku bahkan sangat menghormatinya sebagai atasanku selama ini dan bagaimana bisa sekarang aku harus menghormatinya sebagai seorang suami.


Bahkan dia pernah berkata bahwa aku hanya pantas untuk menjadi adiknya. Lalu apa ini? Aku harus bagaimana. Jujur aku sedang memikirkan masa depanku tetapi aku lebih memikirkan bagaiaman melewati malam ini.


"Nona, apa anda ingin memesan sesuatu?" tanya seorang pelayan menghampiriku.


"Tidak, terima kasih."


"Apa anda baik-baik saja?" tanyanya.


"Ya, memangnya kenapa?"


"Nona, sebaiknya anda memakai selimut ini agar tidak kedinginan, suhu pada ketinggian ini sangat tidak baik untuk kesehatan." Ucapnya sambil memberiku sebuah selimut bulu.


"Terima kasih," aku pun meraih selimut itu.


"Dan minum ini, air jahe ini akan menghangatkan anda." Ucapnya sambil menyerahkan secangkir minuman bening kecoklatan tersebut.


"Terima kasih." Ucapku.


Satu jam kemudian, udara betambah dingin. Bagaimanapun ini adalah ruangan terbuka tentu saja angin malam berhembus dengan leluasa.


"Luna.. " terdengar suara kapten berjalan menghampiriku. Dia sudah berganti pakaian bebas, tidak sepertiku yang masih saja berbalut gaun besar ini.


"Ya, kapten. Maaf sejak tadi saya berada di sini hanya untuk menghirup udara segar saja."


"Aku tau Luna, tetapi udara di sini mulai dingin. Kau bahkan sudah berada di tempat ini sejak dua jam yang lalu." Ucapnya tak kusangka dia benar-benar menghitung durasi kepergianku.


"Mmm saya, hanya belum terbiasa capt."


"Belum terbiasa bagaimana?" tanyanya.


"Belum terbiasa dengan setatus baru kita." Jawabku sambil meremass gaunku menahan kegugupan.


"Biasakanlah mulai sekarang Luna." Ucapnya sambil menarik tanganku.


"Kita akan kemana capt?" ucapku tetapi tetap menurutinya. Bodoh sekali kenapa aku masih bertanya kemana kami akan pergi, tentu saja ke kamar pengantin. Ucapku dalam hati.

__ADS_1


"Menurutmu?" jawabnya tersenyum.


Kami terus berjalan menyusuri koridor dengan gaunku yang menjuntai menyapu seluruh lantai karpet yang kami lewati dan akhirnya tibalah di sebuah kamar berjenis president suite di hotel ini.


Kapten membuka pintu, sedangkan aku masih saja ragu akan masuk atau tidak.


"Luna, masuklah." Ucapnya.


"Iya Capt," aku menghela nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan pelan saat melewati dirinya yang menahan pintu agar aku masuk.


Kapten pun masuk mengikutiku dari belakang. Aku melihat koperku juga berada di sana. Tentu saja ini ulah ibu. Kubuka koper itu dan astaga kenapa isinya seperti ini semua.


Tidak ada pakaian normal yang biasa kupakai, yang ada hanya berlembar-lembar baju tipis menerawang berenda, ada juga yang terbuat dari bahan satin halus. Persis seperti yang ada di film-film biru.


Sungguh, benarkah ini ulah ibuku ? batinku.


"Luna, ada apa?" tanya kapten yang sedang duduk di sofa dekat jendela.


"Tidak capt, hanya sedang memilih baju." Ucapku.


"Tadi Ganis dan mama yang menyiapkannya saat kita belum datang." Jawabnya sambil terus menatapku dari sana.


"Tidak Luna, ibu dan bapak sudah pulang sejak tadi sore." Jelas kapten.


"Sungguh?" tanyaku heran, ah mereka ini. Kenapa tidak meminta ijin dariku sebelum pergi. Jadi sekarang aku benar-benar telah menjadi seorang istri, yang jika di rumah mertua akan menjadi orang asing. Dan bila pulang ke rumah orang tuaku akan menjadi seorang tamu.


Oh Luna, sungguh malang nasibmu. Bahkan untuk saat ini pun aku bingung harus berbuat apa. Haruskah aku mandi kembang? atau memakai lulur di sekujur tubuhku?atau memakai sabun sirih untuk bersiap-siap menyerahkan diri pada kapten.


Aku terus saja sibuk tentang apa yang harus kukerjakan setelah ini. Sementara pagi tidak kunjung datang.


"Luna, kau sedang apa? mengapa hanya melamun?" tanya kapten.


"Mm.. Sedang memilih baju Capt." Ucapku.


Kapten beranjak dari tempat duduknya dan menghampiriku dengan wajah heran. Ya ampun, jangan sampai dia melihat isi koperku ini dan menemukan pakaian-pakaian dinas hasil kejahilan Ganis.


"Apa Ganis memilihkan baju yang tepat untukmu?" tanyanya sambil berjongkok ingin membuka koper yang telah kututupi itu.


"I-iya Capt, saya sedang mencoba memilih yang ternyaman," kataku menutupi kegugupan karena jarakku terlalu dekat dengannya.


"Bolehkah aku melihatnya, aku khawatir saja Ganis akan mengerjaimu. Sebab dia sangat jahil Luna." Ucapnya, sebenarnya akulah yang sering menjahili Ganis selama ini, dan kini mungkin saat yang tepat baginya untuk membalasku.

__ADS_1


"Ja-jangan Capt." Ucapku sambil terus menahan tanganku pada koper.


"Luna, sepertinya aku tau apa isi koper ini hanya dengan melihat ekspresi di wajahmu." Ucapnya sambil tertawa, sungguh tawa itu sangat jarang terlihat di wajahnya dan itu tampan.


"Mmm iya kapten, hehe."


"Biarkan aku melihatnya Luna. Jika memang semuanya tidak ada yang membuatmu nyaman. Kau bisa memakai bajuku dulu jika kau mau." Ucapnya dan kini dia mulai melihat ke dalam koper itu.


Kapten mulai mengambil satu persatu pakaian tipis itu dan dia tampak sangat biasa saja, berbeda denganku yang sejak tadi memegangi dadaku karena debaran membayangkan jika kami benar-benar menjadi sepasang suami istri sungguhan.


Bukankah ini sangat romantis, melihat suamiku memilihkan baju untukku. Sayangnya hingga saat ini pun aku masih menganggapnya sebagai atasanku.


"Luna, kurasa Ganis benar-benar sedang ingin mengerjaimu." Ucapnya sambil tetap memilih-milih baju itu.


"Tetapi ada satu baju yang kurasa cukup tertutup untukmu. Coba lihatlah." Kata kapten sambil menyerahkan baju itu.


Memang benar apa kapten, baju seperti lebih seperti piyama. Atasan berkancing dan celana pendek, sayangnya celana ini sangat pendek hingga jika kupakai tidak akan lebih panjang dari atasannya.


"Tapi capt, ini terlalu pendek untuk bawahannya." Ucapku terbata.


"Umm, kalau begitu kau bisa memakai bajuku dulu. Kurasa kaos-kaosku akan cukup longgar di tubuhmu Luna," ucapnya sambil memperhatikan tubuhku dari atas hingga bawah. Dan itu membuatku malu.


"Tidak usah capt."


"Luna, apa kau tidak ingin mandi? Dan mengganti gaun raksasa ini dengan baju yang nyaman?" ucapnya, dan dia benar. Aku sungguh ingin membuang gaun berbahan kasar ini.


"Baik capt, bolehkah saya meminjam baju anda?"


"Tentu saja, kau istriku sekarang." Kata kapten sambil berjalan menuju lemari dan mengambil satu kaos putih untuk kupakai.


Mendengar dia menyebutku sebagai istrinya, kembali membuat wajahku terserang hawa panas lagi.


"Ambil ini dan mandilah dengan air hangat, kau sudah terlalu lama terkena udara dingin sejak sore tadi." Ucapnya, aku merasa dia sedang memberikan perhatian kecil untukku.


"Terima kasih Captain." Ucapku, sambil meraih baju darinya dan berjalan menuju shower.


"Luna, jangan lupa kunci pintunya sebelum kau mulai mandi!" teriaknya sambil tersenyum jahil menatapku.


"Iya Kapten."


"Jangan terlalu lama ya," Ucapnya, lagi-lagi membuatku semakin tersipu.

__ADS_1


__ADS_2