
“Sayang, jangan mengacuhkanku seperti itu,” ucap Reza saat sang istri sama sekali tidak memperdulikannya sejak mereka berada di pesawat.
“Luna, apa yang harus aku lakukan? Agar kau berhenti merajuk?” Reza mendekatkan wajahnya pada wajah Luna.
“Jangan mendekatkan wajahmu padaku! Aku malas melihatmu Kak!” dengus Luna.
“Ayolah sayang, bukankah kita sudah impas sekarang?” ucap Reza saat sang istri mulai membuatnya lelah, seribu jurus sudah ia keluarkan untuk merayu gadis cantik itu tetapi tak satupun yang bekerja.
“Impas?” Luna mengernyitkan dahinya.
“Ya, tempo hari kau masih menyimpan kotak pemberian Bumi bukan? Dan kemarin kaupun juga menemukan kotak yang akan kuberikan pada Ana, jadi tidak ada hutang lagi Luna!” ucap Reza, membuat Luna semakin kesal.
“Impas apanya? Lunas bagaimana? Sejak kapan kesalahan dianggap sebagai hutang Kak?”
“Dan soal kotak dari Bumi itu. Aku sungguh lupa untuk membuangnya!” Luna tidak ingin kalah dari suaminya.
“Akupun sama, aku lupa untuk membuang kotak itu Luna, jadi tidak ada unsur kesengajaan dalam masalah ini, bukan?” Reza mengedipkan matanya.
“Kak, aku tidak sedang membeicarakan kotak itu, aku sedang membahas masa lalumu!”
“Ini bukan tentang pemberian dan penerimaan barang, tetapi tentang kejujuranmu!” bentak Luna.
“Astaga sayang, kita sudah menghabiskan berjam-jam untuk membahas semua ini, kukira akan berakhir dengan mudah. Apa yang harus kulakukan?”
“Apa kau tau mengapa hanya ada satu nama di hati manusia?”
“Tidak tau!” ucap Luna dengan wajah kesalnya.
“Karena hati itu kecil dan hanya bisa diisi dengan satu nama, begitupun dengan hatiku yang telah terisi penuh oleh namamu!”
“Terserah padamu Kak, menggombalah terus hingga kau kehabisan oksigen!”
“Kaulah oksigenku Luna, aku sesak tanpamu!” ucap Reza masih ingin merayu sang istri, untuk meredakan emosinya.
Sementara di balik tempat duduk mereka Alex tidak bisa memjamkan matanya karena mendengar perdebatan sepasang suami istri itu.
“Sampai kapan kalian akan melanjutkan pertandingan ini, Reza! Luna!” ucap Alex, sambil menguap.
l
“Papa tidak bisa tidur sejak tadi, sebenarnya ada masalah apa? Apa masih kurang kwalahannya kemarin!”
Reza dan Luna seketika saling berpandangan dan terdiam, mereka lupa jika sang ayah duduk di belakang mereka persis.
__ADS_1
Tiba di bandara Soetta.
Seorang anak kecil berlarian bersama adik perempuannya dan bersorak saat melihat paman dan bibi mereka baru saja datang.
“Uncle!” teriak Shian.
“Bibilu!” Gweneth menyusul sang kakak di belakangnya lalu berhambur memeluk bibi kesayangannya itu.
“Sayang, kalian menjemput bibi dan uncle ya? Ah senangnya,” ucap Luna sambil memeluk balita imut itu.
Ana dan Yoshi mengehampiri Reza dan Luna lalu bersalaman dengan Alexander.
“Pak Yoshi, senang sekali beretemu anda di sini,” ucap Alex.
“Saya juga senang bisa bertemu dengan Pak Alex, secara langsung!” jawab Yoshi, selama ini Yoshi hanya melihat Alex di foto bersama almarhum ayahnya.
“Baiklah jika begitu saya pamit pulang dulu ya, rasanya mata ini sangat mengantuk karena ulah Reza dan Luna!” Alex melirik kedua anaknya tersebut.
Yoshi terkekeh, pikirannya menjurus pada bubuk hijau darinya saat itu.
“Za, lo overdosis apa gimana? Sampek bokap lo kena imbasnya kayak gitu!”
“Diem lu Yosh! Bisa bicara bentar gak?” ajak Reza, kemudian membawa Yoshi pergi dari tempat itu, sementara Luna dan Ana bersama Gwen dan Shian.
“Wah roman-romannya ada huru hara nih!” ucap Yoshi saat melihat Luna melirik tajam kea rah sahabatnya itu.
“Luna ngambek!” Reza mengehla nafas panjang.
“Lo apain? Makanya jangan kelamaan mainnya! Capek dia!” ucap Yoshi dengan santai.
“Bukan itu, gembel!”
“Apaan?” Yoshi mulai terlihat serius.
“Lo ingat gelang yang dulu pernah gue kasih buat Ana dulu gak?” tanya Reza. Yoshi tampak berfikir, kemudian raut wajahnya seketika berubah drastis dari sebelumnya.
“Kenapa sama gelang itu! Apa lo mau ngasih itu lagi buat bini gue?” sergah Yoshi. Ia ingat saat dirinya bertengkar hebat dengan Ana perihal gelang berlian itu.
“Bukan! Astaga!” Reza mengacak rambutnya kasar. Tak menyangka jika hari ini ada dua orang sekaligus yang menyerangnya.
“Lalu apa?” emosi Yoshi mulai mereda.
“Luna menemukan gelang itu Yosh, di koper lama gue!” ucap Reza dengan lelah.
__ADS_1
“Apa?”
“Terus gimana? Lagian lo ngapain sih masih nyimpen begituan? Kenapa gak lo kasih Jenny aja dulu!” ucap Yoshi.
“Gue, lupa! Sumpah gue lupa Yosh!”
“Dan sampai sekarang Luna masih belum bisa mengerti kalau gue benar-benar gak pernah punya hubungan dengan bini lo!” Yoshi mulai mengerti keadaan yang Reza hadapi sekarang, bagaimanapun ia juga sering menghadapi kemarahan Ana pada sesuatu yang sendiri pun tak mengerti,
“Za, harusnya lo bicarain ini baik-baik sama Luna!”
“Kurang baik gimana Yosh? Luna benar-benar keras kepala!”
“Resiko Za, punya bini cecan! Jangan melawannya, mengaku salah saja, meskipun lo sendiri gak tau apa kesalahan lo! Itu saran gue!”
“Kalo masih pengen dapat kehangatan! Haha!” Yoshi pun berlalu, sementara Reza sedikit mengambil kesimpulan dari obrolannya bersama sahabatnya tersebut.
Apapun yang terjadi, wanita memang selalu benar dan itu adalah hukum rimba! gumam Reza.
Di tempat lain,
Luna dan Ana sedang membawa Gwen dan Shian ke arena bermain anak.
“Mbak, Luna boleh ngomong sesuatu nggak?” tanya Luna ragu-ragu.
“Apa sayang?”
“Mbak, gimana hubungan Mbak sama Kak Reza dulu?” Ana melihat wajah adiknya, dan ia merasa ada sesuatu yang tidak beres.
“Kami bersahabat Luna, memangnya ada apa?”
“Mbak tau gak, kalau kak Reza pernah memiliki perasaan sama Mbak Ana?” raut kesedihan itu mulai muncul di wajah Luna. Ana menghela nafas panjang, ia takut akan menyakiti perasaan adiknya.
“Luna, Mbak sama Kak Reza memang hanya berteman selama ini, dan soal perasaan itu jujur saja Mbak tidak begitu tau, tetapi apapun perasaan Reza pada Mbak dulu dan sekarang, kami tidak pernah memiliki hubungan apapun,”
“Lagipula Reza sangat mencintaimu, sayang!”
“Luna masih terus memikirkan hal itu Mbak,” Ana pun memeluk gadis itu dan meyakinkannya jika perasaan Reza padanya dulu hanyalah sebuah persahabatan yang terlalu kuat, dan tidak bisa disebut sebagai cinta.
“Luna, jangan merusak keharmonisan rumah tangga kalian dengan mengungkit masa lalu yang tak berarti seperti ini, life must goon, baby!”
“Waktu terus berjalan, Reza adalah suamimu dan itu artinya ia juga telah menjadi adikku juga, ayo temui suamimu sana! Ia sangat tersiksa dengan acara merajukmu!” goda Ana.
“Iya Mbak benar, Luna tidak akan mempermasalahkannya lagi,” ucap gadis berlesung pipi itu kemudian berlari mencari suaminya.
__ADS_1
“Luna!” ucap Reza saat melihat sang istri dengan tiba-tiba memeluknya.
“Apa kau sudah memaafkanku sayang?” tetapi bukannya menjawab, Luna malah menangis di pelukan pria tampan itu.