
Reza dan Luna akhirnya berhasil keluar dari ruang ganti yang menyesatkan itu, dengan bantuan dari ayah Reza yang baru saja pulang dari Amsterdam.
“Roosevelt, kau apakan Luna?” tanya pria paruh baya tersebut sambil menatap menantunya saat mereka sedang berada di ruang keluarga.
“Apa pa? Roose tidak melakukan apapun pada Luna?” Reza menatap istrinya yang sejak tadi hanya menundukkan kepala.
“Ah Papa, harusnya pap jangan balik sekarang!” dengus Ganis kesal.
“Maksud kamu apa Nis?” tanya ibu Ganis.
“Biarin aja Kak Reza sama Luna terkunci sampai Kakak beneran ngapa-ngapain kakak ipar,” Alexander tersenyum menanggapi celetukan putrinya.
“Berisik kamu Nis!” Reza berkomentar.
“Biarin sih Kak, aku udah kepengen punya ponakan tau! Aku bosan tiap hari cuma lihat nenek-nenek sama kakek-kakek ini terus! Uh membosankan!”
“Apa kamu bilang Ganis?” Ganis kembali ditegur oleh ibunya.
“Luna sayang, kenapa diam saja? Apa masih belum nyaman berada di rumah ini?” tanya ibu mertua Luna.
“Tidak Ma, Luna baik-baik saja, rumah ini nyaman kok,” jawab Luna.
“Gara-gara Ganis ya, Luna jadi gak betah di rumah ini?” Alex ikut menyela.
“Oh tidak Pa, Ganis bahkan yang membuat saya merasa nyaman di sini, hehe,” Luna masih sangat canggung untuk berbicara dengan ayah mertuanya.
“Oh jadi bukan Reza ya yang membuat Luna nyaman di sini?” ledek ibu mertuanya.
“Mati lu Lun, wkwkw,” Ganis berbisik sambil pura-pura mengambil cemilan di depan Luna.
“Dasar Kalagondang!” Luna membalas bisikkan Ganis.
“Lun, mau istirahat di kamar?” tanya Reza.
“Umm boleh Kak,” Luna mengiyakn ucapan suaminya.
“Dih masih siang juga!” ledek Ganis.
“Rengganis!” teriak ibunya.
“Iya- iya Ibu tiri, aku diam deh!” Ganis memutar mata malas, sejak kecil ia selalu memanggil ibunya dengan ibu tiri padahal ia adalah putri kandungnya.
“Lihat Pap, anak kamu itu! Apa kita nikahkan saja, biar berkurang gilanya!” ucap wanita itu pada suaminya.
__ADS_1
“Boleh Ma, sama tukang sayur depan komplek, ahaha,”
“Dih kok sama tukang sayur sih Pap,”Ganis kesal
“Biar gratis makan sayur sepuasnya,bilang sama suami kamu jangan lupa kasih mama papa sayuran gratis setiap hari,” Alexander benar-benar sangat antusias mengerjai anaknya.
Luna yang hendak berdiri dari tempat duduknya pun mendekati Ganis,
“Bu, beli kangkung dua iket ya! Anter ke kamar!” ejek Luna dan semua orang di ruangan itu tertawa.
Luna dan Reza menaikki anak tangga menuju kamar mereka di lantai tiga.
Reza POV
Semalam aku hampir saja khilaf untuk menyerang Luna saat dugaanku benar ternyata dia tidak memakai apa-apa selain kemejaku, aku buaknlah orang yang munafik, tentu saja aku ingin melakukan hal itu bersama istriku, tetapi lagi-lagi insting tak kasat mata itu terus saja mengganggu, apalagi saat wajah polos yang Luna begitu menggemaskan muncul, aku tak akan tega jika harus memaksanya.
Baru kucium saja ia sudah sepanas dingin itu apalagi untuk berbuat yang lain, mungkin dia akan dilarikan ke rumah sakit karena gagal nafas. Pagi ini Papa kembali ke rumah, dan langsung membukakan pintu sialaan itu.
“Pa, please jangan membuat rumah ini menjadi seperti rumah persembunyian jaman penjajahan,” ucapku pada Papa yang sedang duduk di ruang keluarga bersama mama.
“Roosvelt, bukannya papa ingin membuat aneh bangunan ini, tetapi kita tidak akan tau hal apa yang akan terjadi setelah ini, tenanglah selama masih ada papa, semuanya akan baik-baik saja!”
“Untuk Roosevelt mungkin semuanya bukan hal yang asing lagi, tetapi bagaimana dengan Luna Pa? ia beberapa kali harus mengalami hal aneh karena rumah rancangan papa ini,”
“Kapan kau kembali bekerja?”
“Belum tau Pa, mungkin bulan depan,”jawabku.
“Hey, kenapa cepat sekali, jangan bekerja dulu.”
“Ada apa Pa? sekarang Roosevelt sudah menjadi seorang suami, mau makan apa istriku jika aku tidak bekerja, hahaha,” ini kali pertama aku bisa tertawa lepas dengan papa setelah bertahun-tahun berlalu.
“Tunda dulu, kau bisa bekerja lagi setelah istrimu hamil, itu saran papa, agar rumah segera berganti suasana, mengingat usiamu juga sudah tidak muda lagi, Nak,” ayahku mengedipkan matanya padaku.
“Papa ini bicara apa, biarakan semua mengalir apa adanya, tidak perlu terburu-buru seperti itu,” jawabku sebelum akhirnya Luna datang ke ruang keluarga, ia sudah berganti pakaian lengkap, kami pun terus berbincang, tetapi Luna hanya banyak diam. Bahkan saat papa, mama dan Ganis mnegurnya, ekspresi wajahnya masih saja datar. Karena aku sadar ada yang tidak beres, aku pun membawanya ke kamar.
“Luna, apa kau sakit?” tanyaku padanya yang sedang terduduk di atas kasur.
“Tidak Kak, hanya sedikit pusing,” jawab Luna sambil memegangi kepalanya.
Akupun mendekatinya dan menyenuh dahinya, ia tampak kaget saat tangan ini merasakan suhu tubuhnya.
“Kau demam Luna, pasti ini karena semalam kan?”
__ADS_1
“Tidak apa Kak, nanti akan sembuh sendiri,” Luna berbaring tetapi dengan raut wajah seperti sedang menahan sakit.
“Lun, apa kita perlu ke dokter?” tanyaku,tetapi gadis itu hanya menggelengkan kepalanya.
“Tidak usah Kak,” jawab Luna,tetapi saat itu juga ia langsung beranjak ke toilet. Aku pun mengikutinya dari belakang.
Di wastafel, Luna tampak seperti ingin muntah.
“Kak, jangan ke sini akau ingin muntah,” ucapnya semakin terlihat kacau.
“Kau mual?” aku semakin mendekat kepadanya.
“Iya,Kak. Jangan mendekat.”
“Kenapa?”
“Aku risih Kak, kakak keluar saja!”
Luna pun muntah, tak hanya sekali tetapi berulang kali,ia terus saja memintaku untuk keluar dari ruanagan itu tetapi aku tidak memperdulikannya.
“Lun, kenapa bisa begini? Apa kau masuk angin?”
“Sepertinya begitu Kak, aku sangat lemas. Tidak ada lagi yang bisa dimuntahakan kak,” kata Luna, matanya sayu, seperti orang sakit. Aku pun membopongnya, dan membaringkannya pada tempat tidur.
“Luna, aku akan memberitahu mama ya, tunggulah sebentar,” ucapku sebelum meninggalkan Luna dengan selimut tebal, mungkinkah dampak terkunci semalaman yang membuatnya seperti ini ataukah karena aku menciumnya kemarin.
Setelah mendengar ucapanku, mama segera naik tangga ke kamarku.
“Apa yang terjadi Reza? Apa Luna hamil?” tanya mama, aku ingin tertawa mendengarnya, mana mungkin Luna hamil hanya dengan satu ciuman.
“Reza tidak tau Ma, mama lihat saja sendiri,”
Kami tiba di kamar, dan Luna sedang memejamkan mata, Mama menyentuh dahinya, memeriksa suhu tubuh istriku yang tak berdaya itu.
“Sayang, apa yang kau rasakan?” tanya mama. Luna membuka matanya saat mendengar suara mama.
“Ma, Luna pusing dan mual,rasanya seperti masuk angin,”
“Oh,tetapi apa nafsu makanmu normal Sayang?”
“Normal Ma, hanya untuk saat ini saja, Luna tidak bisa makan apa-apa, apapun yang masuk ke perut selalu saja keluar begitu saja,” ucap Luna lirih.
“Bagaimaa jika kita lakukan tes kehamilan saja Reza?” perkataan mama begitu mengagetkan kami berdua.
__ADS_1
Bersambung..