I LOVE YOU CAPT !!

I LOVE YOU CAPT !!
Tiba di rumah


__ADS_3

Tiba di Bandara Soetta.


Setelah mendapatkan luggagenya, suami istri serasi itu langsung berjalan menuju pintu exit. Di area arrivals gadis tomboy berambut cokelat sedang menunggu sepasang suami istri tersebut sambil sesekali memeriksa jam tangannya.


Rengganis tak sabar ingin segera bertemu dengan Reza dan Luna setetelah beberapa bulan berpisah.


"Ganis!" teriak Luna, berlari menghampiri adik iparnya itu.


"Woy Luna!" Ganis tak kalah histeris, gadis itu begitu merindukan sahabat rasa saudaranya yang baru saja kembali dari kapal itu.


'"Luna, jangan berlari," ucap Reza yang sedang berjalam di sampingnya.


"Tidak Kak, aku hanya berjalan cepat!" balas Luna, dengan wajah sumrigahnya memeluk Rengganis.


"Uh dasar diteleponin gak pernah diangkat! bikin dede bayi mulu ya kalian!" ucap Rengganis, bercanda. Namun candaan itu berhasil mengubah raut wajah ceria Luna kembali murung.


"Ganis.. " Reza memberikan kode pada adiknya agar tidak terlalu banyak bicara dengan Luna dulu.


Gadis itu mengangguk meskipun tak mengerti dengan apa yang sedang kakaknya isyaratkan, kemudian mengajak kakak iparnya untuk segera masuk ke mobil.


"Eh ayo Luna pulang! Papa mama udah nunggu tuh!" Ganis menggandeng tangan Luna, dan sesekali mengajaknya bercanda. Dia tau sesuatu telah terjadi pada Luna namun Rengganis akan menanyakan hal itu pada kakaknya saja.


"Iya Nis," jawab Luna berusaha tersenyum meskipun hatinya masih merasakan perihnya kehilangan.


Tiba di kediaman Vandenberg.


"Welcome home Sayang," ucap sang Ibu mertua pada menantunya yang baru saja turun dari mobil.


"Terimakasih mama," ucap Luna membalas pelukan sang mertua. Rossa bisa merasakan jika ada yang tak beres pada Luna.


"Sayang kau kenapa? Kalian kenapa?" tanya ibu mertua itu menanyakan kondisi anak dan menantunya yang sepertinya tidak baik-baik saja.


"Luna tidak apa-apa Ma, hanya sedikit kelelahan saja," ucap gadis itu melirik suaminya, menunjukkan jika ia tidak akan sanggup melihat kekecewaan keluarga Reza nantinya.


"Ah pasti lelah sekali ya sayang, baiklah jika begitu istirahat saja di kamar, tapi makan dulu ya, mama tidak ingin kau sakit!" pesan sang Ibu mertua.


Reza meminta pelayan.untuk membereskan kamar tamu, sebab mulai saat ini Laluna tidak akan naik turun tangga lagi. Menjauh dari area tangga akan membuatnya jauh lebih baik.


Sebab rasa takut Luna akan anak tangga masih belum hilang sepenuhnya.


"Bi, tolong bawa barang-barang kami ke kamar tamu ya," ucap Reza pada maid tersebut. Rossa dan Rengganis menatap pria itu dengan penuh tanda tanya mengapa Reza tidak menggunakan kamar yang biasanya.

__ADS_1


"Baik Den," pelayan itu membawa barang-barang Reza dan Luna ke kamar tamu.


"Ma, Ganis dan Kak Reza, Luna ke kamar dulu ya," ucap gadis itu sambil mengikuti maid yang berjalan di depannya persis.


****


Rossa, Reza dan Rengganis sedang berada di ruang keluarga, saling menatap satu sama lain. Menunggu putra pertama keluarga tersebut membuka percakapan.


"Reza, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya wanita paruh baya tersebut pada putranya. Reza menarik nafas panjang sebelum memulai pemvicaraan mereka bertiga.


"Kak, kenapa Luna jadi seperti itu? apa yang kakak lakukan padanya di kapal?" sergah Rengganis.


"Mama dan Ganis, telah terjadi sesuatu pada Luna beberapa hari yang lalu. Kami kehilangan anak kami?" bibir kapten itu terasa begitu berat saat akan mengungkapkan kebenarannya.


"Ada apa Reza?" tanya Rossa sementara Rengganis tampak begitu penasaran.


"Maksudnya apa Reza? kehilangan anak bagaimana!" bentak Ibu itu tidak sabaran.


"Ma, Luna baru saja mengalami keguguran!" ucap Reza, lirih namun sangat terdengar jelas.


"Apa??!" kedua Wanita itu seketika terkejut bukan kepalang.


"Tapi, bagaimana ceritanya bisa gugur gitu!" celetuk Rengganis.


"Semua ini karena ulah Sharon!" jawab Reza kembali menunjukkan kemarahannya pada gadis itu.


"Reza, katakan bagaimana kronologinya?" tanya Rossa.


"Ma, tiba-tiba saja Sharon datang ke kapal itu sebagai tamu, dia beberapa kali mengganggu Luna hingga kejadian naas itu terjadi,"


"Luna terjatuh dari escalator dengan beberapa luka, hingga akhirnya mengalami benturan pada perutnya yang menyebabkan keguguran itu terjadi," jelas Reza kembali mengingat kejadian yang ingin ia lupakan tersebut.


"Astaga Nak!" Rossa terkejut tak percaya.


"Dan kami belum sempat mengetahui kehadiran bayi itu saat kemudian Tuhan kembali mengambilnya," Reza telah menjelaskan semuanya pada sang Ibu.


"Mama harus melihat kondisi Luna saat ini Nak!" ucap Rossa berniat mengetuk pintu kamar menantunya.


"Jangan Ma," pinta Reza. Melarang sang Ibu untuk tidak mengganggu Luna dulu, pria itu tau jika istrinya sedang merasa bersalah pada keluarganya saat ini.


"Kak, terus dimana si blangsak Sharon itu?" Rengganis terpancing emosi mendengar ulah wanita bule yang juga tidak ia sukai itu.

__ADS_1


"Aku mengirimnya ke penjara Nis, dia sudah mendapatkan hukumannya," jawab Reza.


"Kak, aku sungguh ingin menghajarnya saat ini juga!"


"Tidak perlu Nis, lupakan saja. Aku sudah menghukumnya lebih dari itu!" Reza kembali mengingat saat dirinya mengurung Sharon di kamar jenazah selama dua minggu penuh.


"Kasihan Luna, aku akan menghiburnya!"


"Nis, biarkan Luna istirahat dulu, dia masih belum bisa menerima semua ini."


Reza memasukki kamar Luna, dan melihat sang istri sedang bermain ponsel.


"Sayang, sedang apa?" tanya Reza, mendekati istrinya.


"Kak, apa mama dan Ganis sudah tau?"


"Apa yang mama katakan? Pasti beliau sangat kecewa bukan?"


"Tidak, mereka baik-baik saja sayang. Jangan terlalu memikirkannya ya," Reza mencium puncak kepala Luna.


"Kak, aku merasa tidak enak. Papa bahkan berulang kali memposting foto cucu-cucu temannya, sedangkan cucunya sendiri telah tiada, " Luna memperlihatkan media sosial sang ayah mertua pada suaminya.


"Papa memang selalu seperti itu sejak dulu, dia sangat menyukai anak-anak. Jangan terlalu membawanya pada perasaan Luna,"


"Tapi aku tak sanggup melihat wajahnya saat nanti beliau mengetahui kabar ini!"


"Tenang saja sayang, papa adalah orang yang sangat bijak dalam menanggapi sesuatu," ucap Reza, dengan tangan yang mulai bergerilya menyusuri kulit istrinya.


"Apa kakak yakin?"


"Yakin, bisakah kita tidak usah terlalu memusingkannya Luna? yang berlalu biarkan berlalu. Pasti akan ada penggatinya setelah ini, " bisik Reza menciumi leher jenjang Luna yang sejak tadi menggodanya.


"Kak, aku belum mandi!" Luna menepis serangan pria tampan itu dan berlari ke kamar mandi.


"Aku juga belum!" Reza ikut masuk ke dalam ruang shower itu dan menguncinya dari dalam.


Gemercik air menjadi saksi kegiatan sepasang suami istri tersebut. Meskipun masih dengan rasa takut, Luna tetap berusaha mengimbangi sang suami.


"Kau tampak berbeda saat ini Luna, aku ingin melihat sosokmu yang seperti biasanya," ucap Reza di tengah-tengah kehangatan yang romantis.


"Kak aku ingin pulang ke rumah, bertemu bapak, Ibu dan kakakku,"

__ADS_1


__ADS_2