
Ana yang saat itu sedang tak sadrakan diri sayup-sayup mendengar suara suaminya, langsung membuka matanya dan berdiri meski dengan kaki tertatih, menghampiri sang suami yang sedang beridiri di dekat pintu.
Ana berhambur memeluk Yoshi, pria tegap itu sedikit heran dengan tingkah sang istri, yang biasanya terkesan cuek padanya. Untuk memelukpun jika Yoshi tidak meminta, Ana tak akan melakukannya.
“Mas, benarkah ini kau?” Ana memperhatikan wajah berdagu tergas itu, alis tebal dan mata tajam yang selalu berhasil membuatnya berkali-kali jatuh hati pada sang suami.
“Tentu saja sayang! Memangnya siapa lagi?” Yoshi menatap mata berkaca-kaca itu, tak mengerti dengan apa yang terjadi,
“Mas, kau masih hidup? Benarkah ini dirimu? Bukan bayanganmu?” gadis itu kembali mendekap pria tampan di hadapannya dengan air mata yang mengalir.
“Apa yang kau katakan An? Tentu saja aku masih hidup,” Yoshi membalas pelukan sang istri dengan penuh kasih sayang, menenangkan jantung istrinya yang terus berdegup kencang tersebut.
“Nak Yoshi, benarkah ini dirmu?” Larissa menghampiri sang menantu dengan Shian yang berada pada gendongannya.
“Syukurlah kau selamat Nak!” ucap Pramuja setelah tertegun selama beberapa detik, tak menyangka jika menantunya tersebut bisa selamat dari kecelakaan pesawat yang baru saja terjadi.
“Saya tidak jadi menggunakan pesawat itu Pak, Bu, meskipun nama saya telah terdaftar tetapi kemarin saya datang terlambat ke bandara sehingga menggunkan pesawat lain untuk pulang,” jelas Yoshi.
Dan semua orang pun bernafas lega termasuk Reza dan Luna.
“Untung aja kakak gak jadi naik peswat itu! Kalo jadi, bisa gila Mbak Ana!” ucap Luna menggoda kedua kakaknya.
“Iya Luna, Tuhan masih memberiku umur panjang,” ucap Yoshi sambil memperhatikan seorang pria di samping Luna, mata tajamnya mengernyit sementara Reza hanya terdiam menahan senyumnya, seakan tau apa yang akan dilakukan oleh teman rasa musuhnya tersebut.
“Woah, looks what do we have here!” Yoshi menghampiri pria bule berambut mowhak tersebut, bersiap memberikan serangan.
“Oh jadi ini suamimu Luna?” ucap Yoshi mendekatkan wajahnya pada Reza.
“Diem lo! Dasar! Lintah darat!” ucap Reza, membalas Yoshi.
“Sejak kapan Luna mau sama lo Za?”
“Bukannya yang mau sama lo cuma Jenny aja? Haha!” Yoshi semakin tak tahan untuk menggoda adik iparnya tersebut, ia tau jika Reza tak akan bisa membalasnya di depan Luna.
“Jenny?” Luna menanyakan siapa yang dimaksud oleh kakak iparnya tersebut.
“Teman sayang, salah satu temanku dan Ana, namanya Jenny,” ucap Reza mulai menangkap aroma kecemburuan di wajah istrinya.
“Bohay banget itu si Jenny, bener deh!” celetuk Yoshi, membuat Luna semakin terlihat kesal.
Sementara Reza ingin mendiamkan pria itu namun ak tau dengan cara apa.
“Yosh! Lu bisa diem nggak!” bisik Reza mendekatkan bibirnya pada telinga sang kakak ipar.
“Lun, ati-ati yah! Jenny itu agresif banget sama Reza!” pesan Yoshi lalu menggendong putrinya yang sejak tadi berada dalam dekapan Reza.
__ADS_1
“Yuk, sayang sama papa ya! Kasian om kamu sedang dalam masa terancam tuh!” Yoshi terkekeh lalu meninggalkan pasangan tersebut.
“Siapa Jenny Kak?!” Luna menuntut penjelasan dari suaminya. Gadis itu menyilangkan kedua lengannya, menunjukkan jika ia sedang dalam mode, menunggu klarifikasidari sang suami.
“Bukan siapa-siapa sayang hanya teman,” ucap Reza, ia tau jika sang istri sedikit cemburu.
“Kemarin Sharon! Sekarang Jenny!”
“Ada berapa gadis yang pernah singgah di hidupmu Kak?” Luna merajuk lalu memasukki kamar.
Semantara seluruh anggota keluarga sedang menyaksikan adegan 'uwuw' tersebut, belum selesai rasa terkejut saat mengetahui jika ternyata Yoshi masih hidup sekarang harus menyaksikan Luna dan Reza membuat drama.
Pramuja menghela nafas panjang, menatap istrinya yang tengah menggendong Shian.
“Bu, apa hari ini sedang ada festival drama biduk ruamh tangga?”
“Ibu juga tidak tau Pak, yang jelas sekarang sudah waktunya makan malam, minta Luna menyelesaikan acara ngambeknya setelah makan saja!” ucap Larissa kemudian mengetuk kamar Luna.
Di kamar.
“Sayang, jangan dengarkan Yoshi, dia hanya mengada-ada saja!” ucap Reza membelai wajah Luna yang terlipat karena kesal.
“Kak Yoshi memang tidak mengada-ada karena hal itu memang benar ada. Siapa lagi yang kakak sembunyikan dariku?”
“Apa mantan pacarmu sangat banyak? hm?” Luna semakin tidak dapat menahan emosinya, sisi posesifnya begitu meningkat drastis akhir-akhir ini.
“Tidak! Kita seperti ini karena perjodohan saja bukan!”
“Iya benar, tetapi bukankah aku juga pernah melamarmu secara langsung? Apa kau lupa saat kita bertemu di supermarket saat itu?” Reza semakin melinggkarkan lengan kekarnya pada pinggang sang istri namun Luna menghindar.
“Itu kan karena kakak sedang bercanda saja kan?”
“Siapa bilang? Mana mungkin melamar seorang gadis hanya bercanda?”
“Ajakan untuk menikah tidak mungkin bisa dianggap sebagai lelucon Sayang!” Reza mencium pipi berlesung favoritnya itu.
“Jangan menciumku Kak, sebelum kakak jelaskan padaku siapa Jenny!”
“Astaga Luna, Jenny itu seorang…” kalimat Reza menggantung saat seseorang sedang mengetuk pintu.
“Luna, Reza ayo makan dulu!” Larissa membuyarkan acara perdebatan antara anak dan menantunya tersebut.
Luna pun segera membuka pintu dan meninggalkan sang suami yang mulai frustasi, menganggap istrinya terlalu mudah marah saat ini, bahakan untuk hal yang belum jelas sekalipun.
Selama acara makan malam, Yoshi sedang sibuk berasam kedua anaknya, Pramuja dan Larissa sedang mengobrol sendiri, sedangkan Reza dan Luna sama sekali tidak mengeluarkan sepatah katapun.
__ADS_1
Reza berusaha mengajak istrinya untuk berkomunikasi, namun sang istri hanya fokus pada makanannya, lalu kembali masuk ke kamar saat ia telah selesai makan.
Yoshi mengajak kedua anaknya ke ruang keluarga, sementara Reza tak tau harus kemana, sebab Luna mengunci kamar mereka dari dalam, dan tak mengijinkan pria tampan itu untuk masuk.
“Mampus, tau rasa kan Za sekarang!” celetuk Yoshi terkekeh.
“Semua ini gara-gara elo Yosh!” jawab Reza lalu duduk bersama ayah dua anak itu.
“Tau gitu, gue biarain aja tadi elo mampus! Pulang-pulang bawa masalah aja ama bini gue!” dengus Reza kesal.
“Keenakan elo dong kalo guie m*ti tadi! Bisa bebas gangguin bini gue lagi!” Yoshi mengingat masa lalu.
“Ngapain gue gangguin Ana, bini gue aja daun muda!” jawab Reza, dan Yoshi pun terbahak mendengarnya.
“Lo lagi beruntung aja kali Za, ati-ati Luna banyak yang ngincer di daerah sini!”
“Tuh anaknya Pak Lurah tuh, si Alvin juga demen ama dia!” celetuk yoshi.
“Serius lo Yosh?” Reza menaggapinya dengan sangat serius, membuat Yoshi semakin bersemangat.
“Wah serius banget malah, belom lagi yang kapten basket kampung sebelah tuh juga suka sama Luna kayaknya!”
“Yang benar Yosh?” Reza semakin penasaran, ia ingat bahwa Luna juga sangat menyukai basket,
“Ati-ati aja Za saingan lo mah, masih kinyis-kinyis semua!”
“Alah, bisaan lo aja itu mah! Gue juga masih kinyis-kinyis!” ledek Reza, tetapi jauh di dalam hatinya, ia mulai resah, mengingat saat di kapal kemarin memang banyak pria yang tertarik pada istrinya.
“Di kapal kemarin juga banyak sih ngejar Luna, Yosh!”
“Nah itu! Itu! Harusnya lo mulai pasang kuda-kuda dari sekarang," Yoshi tak tahan ingin segera tertawa lepas.
"Ada lagi tuh cowok namanya Bumi, kesel banget gue!" Reza mulai mencurahkan Isi hatinya.
"Oiya? emang apa function-nya?" tanya Yoshi mulai tertarik.
"Staff engine juga sama kaya Luna,"
"Masa kapten kalah sama cacing gorong-gorong kek gitu! malu-maluin lu Za!" ledek Yoshi.
"Mau lihat fotonya gak Yosh?" tawar Reza, entah mengapa kebenciannya pada Bumi begitu besar sejak awal.
"Ogah, ngapain gue liat-liat batang!" jawab Yoshi.
"Serius Yosh, Luna sempet bilang kalo marga Bumi itu familiar," ucap Reza sambil meraih ponselnya.
__ADS_1
"Emang apa marganya?" Yoshi mulai ingin tau.
"Lee! namanya Paku Bumi Lee,"