
Mata kecil itu memperhatikan Reza yang juga terus menatapnya, seakan pernah bertemu dengan anak kecil itu, tetapi Reza tidak ingat kapan dan dimana, wajah Shian begitu familiar baginya, Reza terus berfikir hingga akhirnya anak berpipi chubby itu menyapa dirinya.
“Halo om, om siapa?” tanya Shian, dengan logat kenak-kanakannya. Luna menyenggol lengan sang suami, agar tersadar dari lamunan agar menanggapi keponakannya tersebut.
“Eh iya, perkenalkan. Aku Reza, kau bisa memanggilku Daddy, boy!” ucap Reza tanpa sadar ia meminta Shian untuk memanggilnya dengan daddy.
“Kak, apaan sih! Uncle dong! Entar ketauan babenya Shian bisa digorok loh!” ucap Luna mengingat jika Yoshi begitu posesif pada sesuatu yang dimilikinya.
“Aku hanya bercanda sayang,” balas Reza mencubit pipi istrinya.
Shian hanya memperhatikan paman dan bibinya tersebut, sebenarnya ia bahkan tertarik untuk memanggil Reza dengan Daddy.
“Daddy Eza!” celetuk anak itu lalu meraih tangan pamannya.
“Baby, jangan memanggil om dengan nama daddy, nanti papa marah loh!” Luna mengikuti dua orang itu memasukki rumahnya.
“Papa sedang tidak di rumah Aunt, papa sedang menjemput opa buyut di London!” ucap Shian tanpa melepaskan tangannya pada tangan Reza, Reza merasa jika anak itu menyukainya.
“Benarkah jadi Kak Yoshi sedang berada di London?” Luna mengernyitkan dahinya, tumben sekali kakak iparnya tersebut meninggalkan anak istrinya di rumah ini sendiri.
Sementara Reza, sedang mencerna perkataan istrinya saat Luna menyebut nama ayah Shian adalah Yoshi.
Apa? Jadi nama ayah Shian adalah Yoshi, kakak ipar Luna bernama Yoshi? Apakah ini Yoshi yang sama? Ah mungkin ini Yoshi yang lain, bukankah begitu banyak nama yang sama di dunia ini? aku tak perlu terlalu memikirkannya.
Tapi mengapa mata Shian, dan hidungnya sekilas begitu mirip dengan Yoshi? Ah sudahlah sepertinya aku sedang kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh, hingga membuat si musuh sekaligus sahabat brengs*kku itu kembali hadir di otakku, gumam Reza dalam hati.
“Kak, ayo masuk! Kenapa masih berdiam diri di sana?” Luna kembali menangkap pria yang sedang melamun itu.
“Iya sayang,” jawab Reza.
Mereka pun duduk di ruang keluarga, tak berapa lama kemudian Pramuja bersama Larissa menyambut kedatangan putri dan menantunya tersebut.
“Halo! Tante tengil sudah datang ya?” ucap Pram mengacak rambut putri bungsunya dengan gemas,
“Ah James Bond! Luna kangen banget tau!” gadis itupun segera memeluk ayah tercintanya.
“Nak Reza bagaimana kabarnya?” tanya Larissa.
“Baik Bu, bapak dan ibu bagaimana?” pria bule itu mencium tangan ayah dan ibu mertuanya.
Pramuja menggendong cucu pertamanya dan mengenalkannya pada Reza.
Sejak tadi Shian terus bermain di halamn depan rumahnya, ia sedang menunggu sang ayah pulang bersama kakek buyut kesayangannya.
"Baby, ini Om Reza, suaminya tante tengikmu itu, sudah kenalan belum?" tanya Pram pada balita itu.
"Ih Bapak ah!!" dengus Luna kesal saat sang ayah menyebutnya 'tengik' di hadapan suaminya.
"Bercanda Luna!" Pramuja sangat merindukan garis itu, terutama saat gadis itu mengajak ribut untuk setiap hal kecil.
“Reza, istirahat dulu ya, nanti sore Kak Yoshi pulang, pasti bakalan rame nih!” ucap Pram tak sabar ingin melihat anak-anak dan menantunya berkumpul. Reza dan Luna pun masuk ke kamar mereka, rumah Luna memang tak sebesar rumah keluarga Yoshi ataupun Reza, bahkan kamar Luna dan Ana bersebelahan, hanya berjarak dinding saja.
__ADS_1
“Luna, ini kamarmu?” tanya Reza memperhatikan ruangan yang tidak begitu besar tersebut, matanya langsung tertuju pada sebuah boneka Shinbi raksasa yang tregolek di sudut ruangan.
“Iya Kak, maaf ya rumah kami memang sempit,” ucap Luna tidak enak.
“Tak apa Luna, bukankah bapak masih dalam misi penyamaran saat ini? Apa Negara sedang memberikan tugas penting lagi?” Reza menanyakan apa kegiatan sang ayah mertua yang masih berprofesi sebagai BIN tersebut.
“Terakhir kali, bapak ditugaskan untuk memecahkan kasus pembobolan data penting Negara, dan itu juga melibatkan kakakku dan kakak ipar, Kak.” Luna mengingat kembali saat-saat menegangkan beberapa tahun yang lalu saat Ana dan Yoshi masih saling membenci satu sama lain.
“Wah, kedengarannya menarik. Aku sangat penasaran dengan ayah Shian, Luna,” ucap Reza semoga saja apa yang sejak tadi mengganggu pikirannya segera terjawab.
“Iya Kak, Kak Yoshi itu keren tau! Dia hacker, CEO, juara taekwondo dan sekaligus penembak jitu tergabung menjadi satu sosok yang sangat tampan pada dirinya,” ucap Luna sambil mengedipkan matanya pada sang suami.
“Benarkah? Apa dia lebih tampan dariku?” tanya Reza dengan wajah serius, membuat Luna semakin ingin menggodanya.
“Emm aku tidak berani menjawabnya Kak!”
“Luna, katakan siapa yang lebih tampan? Aku atau kakak iparmu itu?”
“Kak, kau sangat kekanak-kanakan!” elak Luna saat Reza mulai menyentuh area-area sensitifnya.
“Katakan! Atau aku akan membuatmu mendes*h di siang hari!”
“Tentu saja kau yang lebih tampan Kak, mana mungkin aku memilihmu jika kau tidak tampan!” dengus Luna. Reza tersemyum puas saat mendapati sang istri kesal padanya.
“Sayang, bukankah itu boneka Shinbi?” Reza menunjuk boneka yang berada di sudut kamar Luna tersebut.
“Ah iya Kak! Itu punya mamanya Shian, dia sangat menyukaI Shinbi,” ucap Luna membicarakan Ana.
“Benarkah Kak?” Luna pikir hanya kakaknya-lah manusia dewasa yang menyukai boneka itu.
“Benar Luna, lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanya Reza memberikan kode rahasia pada istrinya.
“Apa Kak? Ayolah ini masih siang tau!”
“Apa masalahnya?” Reza semakin mendekatkan diri pada sang kekasih halalnya tersebut.
“Kak aku lupa!” tiba-tiba saja gadis itu melupakan obat-obatan yang di tasnya.
“Apa sayang?” Reza memutar bola matanya dengan malas, memikirkan istrinya yang selalu saja ceroboh dan pelupa.
“Obatnya ketinggalan di ruang tamu! Aku takut Shian akan mengambilnya untuk bermain!” gadis itupun panik dan meninggalkan suaminya di kamar seorang diri.
Tak berapa lama sesorang mengetuk pintu, dan Reza pun membukanya.
“Apa sayang? Sudah ketemu obatnya?” tanya Reza namun tak ada siapa-siapa di balik pintu tersebut, ia melihat ke kanan dan ke kiri, merasa tak ada satu orangpun, akhirnya ia menutup kembali kamarnya.
Tok
Tok
Suara ketukan kembali terdengar, Reza mulai tak tenang, berfikir jika rumah istrinya itu berhantu.
__ADS_1
“Siapa?” saat ia membuka pintu itu, lagi-lagi tak seorangpun yang terlihat. Namun ia merasa jika ada yang menarik-narik bajunya dari bawah, mata biru itupun segera melihat ke sumbernya.
“Ah, Shian! Baby boy! Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Reza menatap balita menggemaskan itu.
Namun sang bayi tidak bergeming, kemudian Reza kembali menatapnya dan memperhatikannya lekat-lekat.
“Hey, kau bukan Shian, tetapi seorang bayi perempuan! Siapa namau anak cantik?” Reza mengangkat balita berkuncir dua itu, dengan poni menghiasi dahinya, sungguh menggemaskan, anak itupun melihat Reza tanpa berkedip, bulu matanya sangat lentik seperti mata Luna.
Tetapi di sisi lain, ia baru menyadari jika wajah anak itu begitu mirip dengan Ana. Belum habis rasa penasarannya, tiba-tiba terdengar suara yang telah lama tak pernah ia dengar selama ini.
“Gwen! Dimana sayang?” suara yang sangat ia kenal itu semakin terdengar jelas di belakangnya.
“Gwen! Mama mencarimu Nak!”
Reza segera membalikkan badannya dengan gadis kecil itu masih berada pada gendongannya, matanya membulat sempurna saat tau siapa yang sedang memanggil gadis kecil itu dengan sebutan mama.
Reza tak mampu berkata saat sosok itu semakin mendekatinya dengan biasa saja.
Berbeda dengannya yang masih sangat shock dan terpaku.
“La-Lanthana,” ucap Reza saat Ana dengan senyumannya mendekati dirinya. Wajah itu, senyuman itu masih tampak sama seperti terakhir kali ia melihat sahabatnya tersebut.
Reza tau mungkin perasaannya pada Ana telah berubah sejak lama, namun keterkejutan ini begitu menyiksa dan menyesakkan dada.
Bagaimana mungkin ini bisa terjadi, setelah pernikahanku yang hampir satu tahun ini, aku tak tau jika kakak iparku adalah Lanthana, aku bukan masih memliki perasaan padanya.
Hanya merasa bukankah ini sungguh konyol saat kau baru mengetahui jika gadis yang pernah membuatmu terluka hebat, ternyata telah menjadi kakak iparmu sendiri, dan itupun setelah melewati waktu yang cukup panjang, batin Reza.
“Reza, selamat datang adik iparku!” ucap Ana dengan senyuman yang semakin mengembang,
Pria itupun baru sadar itulah mengapa nama belakang Laluna dan Lanthana sama, ternyata mereka adalah kakak beradik, satu ayah dan satu ibu, pria blasteran itu mulai merasa betapa bodohnya dirinya selama ini.
Dan itulah mengapa boneka Shinbi itu bisa berada di sini, sebab Ana-lah pemiliknya.
Inilah sebabnya mengapa wajah Shian begitu mirip Yoshi dan wajah gadis kecil ini sangat mirip dengan Ana, karena memang merekalah kedua orang tuanya.
Reza masih membisu dan tak tau ingin berkata apa, dan menunjukkan ekspresi bagaimana, sementara sang istri belum juga kembali.
Ana tampak menahan tawanya saat sang sahabat sekaligus adik iparnya tersebut sedang berusaha menutupi keterkejutannya. Bisa dibayangkan bagaimana saat Reza bertemu dengan Yoshi nanti.
“Eza seyeng... Haha! Kok ngelamun?” sekali lagi Ana memanggil nama sahabatnya tersebut, dengan panggilan khas Jenny, genk mereka di kapal dulu, sebelum Reza menjadi nahkoda seperti sekarang ini.
Reza segera menyadarkan dirinya, ia cukup terkejut saat mengetahui ternyata Ana sudah tau jika dirinya telah menikahI adik kandung gadis cantik itu.
Dengan tergagap ia menyapa Ibu dua anak itu, tentu saja dengan ekspresi layaknya seorang sahabat lama yang baru bertemu lagi tanpa ada embel-embel 'perasaan' di dalamnya.
“Eh Ana! Apa kabar!” ucap Reza se-normal mungkin, ia tak ingin Ana semakin menertawakannya.
“Baik dong adik iparku!” ucap Ana lalu meraih puterinya dari dekapan Reza.
“Gwen, sini sama mama! Kasian Om Reza, keberatan ngangkat kamu!” Reza masih memperhatikan gadis itu salam diam, ingin terkejut rasanya tak mungkin, ini diam saja lebih tidak mungkin lagi.
__ADS_1
“An, jadi lo beneran jadi kakak ipar gue sekarang?!” Reza mengatur jantungnya yang sebenarnya belum stabil akibat insiden ini.