
Malam itu aku terus terjaga, sesekali kulihat Kak Reza yang telah tertidur di sofa, sejujurnya aku kasihan padanya. Demi menjaga jarak denganku dia rela tidur di sana tanpa selimut.
Akhirnya aku bangun dari tempat tidur dan memasangkan selimut pada tubuhnya. Wajahnya begitu teduh saat tertidur. Namun saat tanganku menyentuh kulitnya, sepertinya tangan Kak Reza sangat panas.
Akhirnya kuberanikan diri untuk menyentuh keningnya. Dan ternyata benar, Kak Reza sedang demam. Dengan sigap aku pun pergi ke luar kamar dan meminta steward untuk memberiku baskom agar aku bisa mengompres Kak Reza.
"Luna..." Terdengar suara Kak Reza memanggil namaku tetapi masih dengan mata terpejam.
"Kak, kau demam. Biarkan aku mengompresmu ya," ucapku. Tanpa menunggu jawabannya aku pun langsung menempelkan kain waslap basah itu ke keningnya.
Matanya mengernyit saat bersentuhan dengan kain lembab ini tetapi tetap tidak terbangun, membuatku semakin khawatir saja. Aku mulai panik dan berniat menelepon dokter, namun saat itu juga tangan Kak Reza menahanku.
"Luna, jangan pergi," ucapnya lirih.
"Kak, kakak sakit biarkan aku memanggil dokter ya," ucapku.
"Tidak perlu Luna, aku hanya sedikit kelelahan saja."
"Tapi kakak sangat demam, bahkan suhu tubuhmu mencapai 40 derajat celcius," ucapku. Aku tidak tau lagi apa yang harus kulakukan sekarang jika Kak Reza bertambah demam, sementara waktu masih menunjukkan pukul tiga pagi.
"Kakak minum penurun panas ya, biar aku minta ke steward area ini."
"Ya, Luna," ucapnya parau seperti sedang menahan rasa sakit.
Aku pun pergi untuk mengambil obat sementara Kak Reza menunggu di kamar. Saat aku kembali dia sudah berada di atas tempat tidur.
"Kak, minum obatnya dulu ya." Dia pun meminum obat berbentuk pil itu. Sungguh wajahnya memerah, pertanda suhu badannya sangat meningkat saat ini.
"Kak, wajah kakak sangat merah, apa kita ke dokter saja?" tanyaku mengkhawatirkannya.
"Tidak usah Luna, setelah ini aku akan membaik. Tenang saja, maaf ya aku tidak terbiasa tidur di sofa."
"Tidak apa Kak," ucapku, sungguh kasian bila dia harus tidur di sofa yang ukurannya terbilang kecil untuk tubuhnya itu.
"Maaf ya Luna," kata Kak Reza, masih saja meminta maaf dan entah untuk apa.
"Kak, jangan meminta maaf terus."
"Aku telah menghancurkan malam pertama kita dengan sakit seperti ini Luna," ucapnya dengan serius. Apa malam pertama? astaga bukankah sejak tadi kami hanya sibuk sendiri dengan pikiran masing-masing hingga ia memutuskan
untuk tidur di sofa saja.
"Kak, apa yang kau katakan?" sungguh apakah kalimat itu mencuat begitu saja dari mulutnya.
"Maafkan aku Luna. Seharusnya ini menjadi malam yang indah untuk kita berdua."
Aku tak mampu lagi untuk menjawabnya, sungguh dia ini sedang tidak sadar atau kenapa, apa demam ini membuat otaknya menjadi tidak singkron.
__ADS_1
"Kak, sudah tidurlah. Aku akan tetap terjaga untuk menjagamu," ucapku.
"Luna, kau sangat cantik. Terima kasih telah bersedia menjadi istriku," ucap Kak Reza, sungguh aku mulai takut. Dia seperti seseorang yang sedang mabuk.
"Kak, apa kau baik-baik saja?"
"Hemm, ya aku sangat baik-baik saja, tetapi mungkin dirimu yang akan tidak baik-baik saja setelah ini," ucapnya dengan mata terpejam, sementara termometer menunjukkan bahwa suhu badannya semakin meningkat.
"Astaga, Kak. Suhumu semakin meningkat," aku pun bertambah panik.
"Bagaimana ini, ya Tuhan. Aku harus memanggil dokter untukmu Kak."
"Jangan Luna, sudah tenanglah. Aku hanya ingin bersamamu saja bukan bersama dokter."
Aku pun semakin kacau, sepertinya Kak Reza sedang tidak sadar sekarang, lebih baik aku menelepon Ganis saja.
Tut
Tut
Tut
Tidak diangkat. Benar saja, ini masih pukul tiga pagi tentu Ganis masih terlelap. Namun tiba-tiba saja dia mengirim pesan pada aplikasi chatku.
Ganis manis : Kenapa sih, bukannya bikin dedek bayi malah nelpon-nelpon gue! πͺ
Ganis manis : Kenapa lu Lun? Apa kakak gue kasar mainnya?π±
Lalalulunana : Nis, stop ngejekin gue ah ! π£
Ganis manis : Lah gimana? Lu minta-minta tolong gitu, sakit banget emang Lun? Gak apa awal-awal emang gitu Lun, entar juga enak.π
Lalalulunana : Nis pliss !!ππ
Ganis manis : Ye iyee! kenape sii ah? malem-malem ganggu aja penganten baru iniπ
Lalalulunana : Nis, abang lu sakit. Demam sekarang, gue bingung harus ngapain.
Ganis manis : Wah elu Lun, lu apain abang gue sampek demam. Kecapean gak tuh?π€£
Lalalulunana : Iya beneran Nis, dia emang kecapeka katanya.
Ganis manis : Lah beneraan kecapean Lun? Berapa ronde sih ?π±
Lalalulunana : Dih bukan itu Nis, kita mah gak ngapa-ngapain dari tadi.πͺ
Ganis manis : Serius?π±
__ADS_1
Lalalulunana : Bener, Ihh mesum banget lu Nis, ini gimana sekarang? Kakak lu suhunya masih empat puluh derajat padahal udah minum obat loh.
Ganis manis : Yaudah sih, pelukan aja biar tukeran suhu badan, π
Lalalulunana : Ih eluu!!" π£
Ganis manis : Abisnya gimana lagi, jam segini pasti aja belum ada dokter. Kecuali kalo ke UGD. Tapi saran gue sih gausah ke rumah sakit. Itu kakak gue cuma demam biasa ituh!
Lalalulunana : Lu serius Nis?"
Ganis manis : Seriuss!! coba lu kasih anget-angetan deh biar cepet turun suhunya. Atau coba ajakin anu biar berkeringat Lun. wkwk π€£
Lalalulunana : Dihh dasar lu Nis, udahlah bener-bener gak guna obrolan ini. π€π€
Aku pun menutup perbincangan ini, percuma saja bertanya pada Ganis, sementara Kak Reza masih saja sibuk meracau tidak jelas.
"Kak, bisa bangun sebentar tidak? Aku mau balurin tubuh kakak pakai minyak kayu putih," ucapku.
"Kak Reza," aku terus mencoba membuatnya tersadar.
"Luna, aku kedinginan." Kata Kak Reza sambil menarik tubuhku. Dan membuatku terjatuh menindih tubuhnya.
(aduh maaf ini author memang lg gak jelas bgt genkπ€£π€£)
Seketika wajahku memanas saat mataku menatap wajahnya, meskipun ia sedang terpejam tetapi tetap saja ini membuat ritme jantungku meningkat seratus persen.
Aku berusaha melepaskan diri dari pelukannya tetapi sepertinya sangat sulit, tangan Kak Reza begitu berat hingga aku tak kuat melepasnya.
"Kak, buka matamu, suhu badanmu tak kunjung turun," ucapku sambil menepuk-nepuk pipinya aku takut Kak Reza akan semakin tidak jelas.
"Luna, biarkan seperti ini dulu," ucapnya lirih namun tetap memelukku. Aku bisa merasakan aura rasa sakit di wajah itu.
Dengan susah payah akhirnya aku berhasil melepaskan diri, sementara termometer lagi-lagi menunjukkan angka 40 derajat celcius.
"Kak, maaf ya aku terpaksa membuka bajumu untuk mengompres tubuhmu," kataku meminta ijin tetapi sepertinya Kak Reza masih saja tak mauembuka mata.
Satu-persatu kancing itu lepas dan dada bidangnya seketika nampak jelas di depan mataku, sungguh pemandangan ini sangat indah aku berusaha agar tetap terlarut dalam pesonanya..
Kuraih kain waslap basah itu lalu mulai membasuh tubuh Kak Reza, tanganku gemetar saat melakukannya tetapi bisa apa lagi, tidak mungkin aku meminta tolong pada Ganis.
Aku terus mengurus suamiku itu hingga pagi datang dan Kak Reza bangun. Dia memegangi kepalanya dan lalu membuka selimut.
"Luna, kenapa bajuku terbuka?" ucapnya terkejut. Astaga karena semalam terlalu panik hingga aku lupa membetulkan kembali kemeja Kak Reza yang sudah kubuka agar bisa mengompresmya.
"Kak, maaf apa kau tidak ingat semalam?" tanyaku.
"Apa? Semalam? Apa yang kau lakukan padaku. semalam Luna?!" Kak Reza sangat terkejut.
__ADS_1