
...🥀IBDT🥀...
Di SMA Pelita Utama
Senin pagi ini para siswa dan siswi tengah berlarian ke lapangan tempat dimana upacara rutin dilaksanakan. Begitu juga untuk gadis yang saat ini menerobos ingin menjadi barisan pertama. Kenapa?? Tentu saja karena sang idola kini menjadi pemimpin upacara.
"Ira... Ira... Ira!! Duh kok kita didepan sih?!! Panas bege!" Ucap salah satu temannya yang berambut pendek dan hobi memakai make up. Siapa lagi kalo bukan Melida Salwa.
"Ya udah sana Meli di belakang aja, Ira mau dengerin pak Remon ceramah nanti." Ucapnya penuh dusta. Siapa lagi kalau bukan Zanna Kirania(Ira).
"Ish, Ira mah gitu." Kesal Melida sembari mengerucutkan bibirnya kesal. Ya mau protest lagi tidak ada gunanya. Toh, dibelakang sudah ada barisan dan upacara akan dimulai.
Ganteng banget sih, Ira jadi pengen meluk. Batin Ira sembari menatap sang pemimpin upacara yang kini sudah berada di tengah tengah lapangan.
“Upacara selesai! Semua barisan di bubarkan.”
Upacara akhirnya selesai. Jika keempat sahabat Ira terlihat sangat lesu karena berada di barisan depan yang sangat panas, berbeda untuk Ira yang terlihat sangat bersemangat setelah upacara. Dan kini mereka duduk di kantin untuk rehat sejenak sebelum masuk kelas.
"Tuh kan, make up gua luntur... Ira sih sok banget jadi anak teladan." Umpat Meli sembari kembali memoles make up diwajahnya.
"Hehe, maafin Ira yah... Ira beliin teh tarik aja gimana??" Ucap Ira sembari tersenyum.
"Nah gitu dong... Baru Iranya kita." Ucap Vella Anvesa Putri yang hobi main tik tok.
"Bentar ya, Ira beliin dulu." Ucap Ira sembari bangkit dari duduknya kemudian pergi.
"Jumlahnya 20 ribu neng." Ucap ibu kantin.
"Ini... Makasih ya, Ira pergi dulu." Pamit Ira dan direspon senyuman oleh sang ibu kantin. Ira dikenal ramah oleh siapa saja hanya saja sifatnya yang polos sangat mudah dimanfaatkan oleh orang lain.
"Tinggal sisa 5 ribu... Pulangnya naik angkot ajalah." Lirih Ira. Beginilah Ira yang apabila melakukan kesalahan sangat kecil kepada sahabatnya pasti selalu dimanfaatkan.
"Weee, thanks yah Ira." Ucap Leni Gabrelia yang hobi bergosip.
"Sama sama." Jawab Ira sembari tersenyum.
"Eh iya, gua denger denger seblaknya mbok Jani enak banget loh... Gimana kalo entar kita pergi." Ucap Leni.
"Ayo... Ayo, gua lama banget gak makan seblak... Lo tau kan dimana tempatnya??" Tanya Meli antusias.
"Tau lah... Tapi motor gua dipake kakak, salah satu diantara kita harus ada yang gak ikut." Ucap Leni dengan nada sedih.
"Gua gak ikut ajalah, nitip aja ntar kita makan bareng di tempat gua." Ucap Liana Dewi yang hobinya beli baju terbaru dan gak bisa dibantah saat minta duit.
"Yah kalo gak ada lo, gak seru dong Li." Ucap Vella dan membuat suasana hening. Ira tau kondisi ini, dan dia sering merasakannya. Yang mana membuat Ira menangis dalam hati namun senyum diluar.
"Ira nggak ikut deh, Ira harus beres beres—"
"Beneran?? Sorry ya Ira, ntar kalo motor gua gak ke pake kita pergi bareng bareng." Ucap Meli sembari merangkul leher Ira. Kalian tau apa yang Ira lakukan?? Tentu saja hanya tersenyum. Selalu begitu.
...Krrrrriiiiiiiinnnnnggggggg!!!!...
__ADS_1
Bel masuk berbunyi. Baik Ira dan keempat sahabatnya kembali ke kelasnya. Dan fokus Ira teralih saat dia melihat idolanya tengah bermain basket. Sangat tampan. Tapi yang Ira lakukan hanya suka dalam diam. Yah, meskipun menyakitkan. Dia sadar diri jika dia tidak terlalu cantik daripada mantan mantan idolanya. Pelajaran berlangsung namun fokus Ira tetap pada lapangan basket melihat sang idolanya bermain disana.
"Permisi pak... Zanna Kirania, Ada dikelas ini??" Tanya seorang wanita paruh baya. Panggil saja Bu Lastri.
"Saya bu." Jawab Ira sembari mengangkat tangan kanannya.
"Ikut ibu sebentar." Ucap Bu Lastri. Ira pun menganggukan kepalanya dan membuntuti Bu Lastri. Namun sebelum itu, dia mendengar gumaman salah satu teman kelasnya.
“Palingan dipanggil karena belom bayar tagihan sekolah.” B@ngke mati aja sono, dasar anak gak ada akhlak. Gak penting, skip aja ok😉
Ya, Ira memang selalu telat membayar tagihan sekolah. Bukan tanpa alasan. Dia diurus oleh sang nenek sedangkan kakak dan ibunya bekerja. Kakak laki lakinya yang hobinya mabuk tidak mungkin bisa diandalkan. Dan ibunya yang bekerja sebagai baby sitter juga tidak menentu.
"Kasih Ira waktu yah bu... Ira janji bakalan bayar." Ucap Ira tampak memohon.
"Ibu kasih kamu waktu 2 minggu lagi, tapi jika kamu tidak membayar... Dengan berat hati, kamu tidak bisa ikut ujian kelulusan." Ucap Bu Lastri. Membuat Ira terdiam.
"Saya yang bayar tagihan Ira bu." Ucap seorang pria muda. Yang mana membuat Ira membulatkan mata saat tau pria itu tak lain idolanya. Siapa lagi kalo bukan Acexanello Putra Syahreza.
"1 juta 700 kan?? Udah lunas!" Ucap Ace lantang kemudian pergi setelah memberikan cek dimeja. Ira pun pamit pergi dan mengejar Ace.
"Ace!!!" Panggil Ira membuat Ace menoleh.
"Hah? Kenapa??" Tanya Ace sembari menatap Ira. Gugup?? Ya jelas lah, ditatap sama cowok yang Ira suka dalam diam.
"An... Anu... Ira—"
"Soal tadi lo gak usah pikirin, gua udah ikhlas kok bantuin lo... Ok?? Gua pergi dulu ya, dah Ira." Ucap Ace kemudian melambaikan tangannya dan pergi meninggalkan Ira yang mematung. Ira tampak tersenyum malu kemudian kembali ke kelasnya.
"Hooh, bakalan kalah taruhan nih kita kalo kek gitu." Sahut satunya yang bernama Jackie Nandan Dwijaya.
"Gua dilawan, liat aja... Cewek jelek itu bukan apa apanya buat gua." Ucap Ace sembari tersenyum simark.
•Flashback On
Di parkiran sekolah atau lebih tepatnya basecamp para siswa yang membolos, terdengar gelak tawa dari Jack dan Gilang. Mereka menertawai Ace yang kalah taruhan dan memberikan jam mahal edisi terbatas. Yang mana jam itu pemberian kakak Ace yang dia beli di Jerman.
"B*ngs*t!! Kalah lagi gua!" Umpat Ace yang mana membuat Jack dan Gilang semakin tertawa keras.
"Cup, cup, cup... Jangan marah dong, salah sendiri kalah... Lagian lo ngapain putusin si Gabi, kan kita bilang nungguin sampe 2 minggu." Goda Gilang yang mana membuat Ace memutar bola matanya malas.
"Cewek centil sama murahan kek dia ogah banget gua... Yang ada gua khilaf ke dia, lagian harga jam itu gak seberapa." Ketus Ace.
"Cieee yang marah gak mau ngaku... Gua ada ide, Gilang sini bentar." Ucap Jack dan membisikan sesuatu kepadanya.
"Bisikin apa lo lo pada hah?!" Tanya Ace dengan mata tajamnya.
"Gini Ce... Kita bakalan balikin jam lo asalkan dalam 1 minggu lo bisa pacarin si cewek jelek seSMA ini alias Ira... Dan kalo lo kalah lagi, baik jam sama motor kesayangan lo gak bakalan kita balikin." Ucap Jack membuat kening Ace berkerut.
"Taruhan lagi??"
"Bukan."
__ADS_1
"Terus??"
"Main lotre... Ya taruhan lah jubaedah!" Ucap Jack dengan nada kesal yang mana membuat Ace mangangguk angguk.
"Oke! 1 minggu, gua pasti bisa bikin cewek jelek itu jadi pacar gua." Ucap Ace penuh percaya diri.
"It's Ok! 1 minggu kita tunggu kabar baiknya... Dan tambahan, kalo lo berhasil permaluin tuh cewek... Jam kita buat lo." Ucap Gilang.
"Ck! Gampang itu mah." Ucap Ace.
•Flashback off
...🥀🥀...
"Kemana cewek jelek itu pergi??" Tanya Ace lirih. Biasanya Ira berhenti menunggu di pemberhentian bus, namun kali ini Ira sepertinya menunggu kendaraan lain. Ace pun menghentikan motornya membuat Jack terkejut.
"Napa berhenti disini??" Tanya Jack dengan kening berkerut.
"Lo turun cepetan! Gua mo lakuin pendekatan part 2... Udah turun!" Jawab Ace begitu entengnya seperti biasanya. Jack pun turun dan menatap sahabatnya itu.
"Sialan! Tega lo ninggalin gua sendirian." Ucap Jack mulai berdrama.
"Drama lo bagus, lain kali jadi peran Suara Hati Istri aja." Ucap Ace dan tanpa bicara lagi melajukan motornya.
Ace sialan!! Hiks, kenapa gua jadi korban taruhannya juga yak! Batin Jack menangis dalam hati. Jack pun menghubungi supir pribadinya untuk datang. Biasa horkay mah bebas!
Ira yang tengah menunggu angkot terkejut saat Ace memberhentikan motornya didepan Ira. Dan Ira tau jika itu Ace meskipun dia tengah memakai helm. Tampak Ace melepaskan helmnya, merilang rambutnya dan menatap Ira.
"Ira lo ngapain disini?? Sendirian lagi." Tanya Ace basa basi.
"Ira lagi nungguin angkot." Jawab Ira membuat Ace menatapnya merendahkan tanpa Ira sadari.
Pantesan tagihan sekolah kagak dibayar, pulangnya aja naik angkot... Pasti sempit, panas, bau lagi huweekk! Batin Ace.
"Mau gua anter gak?? Rumah lo ada dimana??" Tanya Ace. Dan itu membuat Ira senang. Namun, Ira tidak mungkin diantar Ace karena dia tidak ingin menjadi bahan omongan tetangga. Karena di daerah sekitar rumah Ira, orang yang berpacaran itu selalu dianggap sebelah mata oleh mereka.
"Nggak Ace, Ira pulang naik angkot aja... Makasih ya tawarannya, Ira pulang dulu." Ucap Ira kemudian masuk kedalam angkot yang tanpa Ace sadari sudah datang. Ace hanya menatap angkot yang Ira naiki dengan tatapan kosong.
"Gua... Acexanello Putra Syahreza... Cowok paling ganteng, kaya dan semua cewek selalu ngemis ngemis buat deket sama gua tapi cewek ini... Apa dia barusan nolak gua??" Ucap Ace tak percaya.
Iya, Ira adalah satu satunya wanita yang menolak ajakan Ace untuk diantar pulang. Dan tentu hal itu membuat harga diri Ace jatuh. Saat hendak memakai helm tiba tiba ponselnya berdering. Rupanya itu telefon dari sang kakak.
📞
“Kenapa bang??”
“Kamu udah pulang belum?? Jemput abang di bandara.”
“Belom, abang udah sampe di bandara... Biar Ace jemput.”
Tut.
__ADS_1
Selesai bertelefon singkat dengan sang kakak, Ace langsung melajukan motornya ke arah bandara untuk menjemput sang kakak. Dia tau sang kakak lebih suka naik motor ketimbang naik mobil. Itu sebabnya sang kakak memintanya untuk menjemputnya.