
...🥀IBDT🥀...
Seusai Makan Malam
Layla akan pergi dari sangkar dimana selama 3 bulan lebih dia disiksa dan dicaci maki. Dia tersenyum nanar saat melihat Axello dan Emma yang tampak bermesraan di dapur dengan kondisi Emma sedang memasak. Namun, Layla langsung memalingkan wajahnya kemudian keluar dari vila.
"Pak Hans, apa sudah pesankan saya taxi online??" Tanya Layla sembari meletakan barang bawaannya di pos tempat pak Hans berjaga. Tepatnya berhadapan langsung dengan gerbang.
"Sudah nona, anda tunggu lah beberapa menit lagi... Saya pergi dulu nona, istri saya sedang sakit." Jawab Hans.
"Oh iya, hati hati dijalan." Ucap Layla. Hans hanya menganggukan kepalanya sebelum akhirnya pergi dengan motornya. Layla pun duduk sembari menunggu taxi online datang.
Sabar ya sayang. Batin Layla sembari menghusap perutnya yang mulai terlihat membuncit.
Sedangkan dengan Axello, dia tengah tertawa bahagia bersama Emma. Melihat senyuman Emma membuat Axello tak tahan dan mencium bibir Emma singkat. Namun, Emma yang sudah berpengalaman tanpa Axello tau itu langsung menarik tengkuk Axello. Keduanya larut sampai melupakan kompor yang masih menyala.
"Sebentar... Sayang, kamu cium bau kebakar nggak??" Tanya Emma.
"Eh iya... (Melihat api yang membara.) Emma kebakaran!! Kau lupa mematikan kompornya??!" Tanya Axello.
"Sepertinya begitu, sayang lemarinya." Ucap Emma saat lemari atau lebih tepatnya rak buku itu jatuh. Dan seperti yang Emma duga, rak itu jatuh dan menindihi kaki Axello.
"Emma, tolong—"
"Ini juga lagi di tolong... Aaa!! Api!!!" Pekik Emma saat api mulai menjalar. Dia langsung berlari pergi meninggalkan Axello.
"Emma!!!! Emma!!!" Panggil Axello namun tidak di respon oleh Emma.
...Brukh!...
"Maaf nona, nona anda mau—(Emma langsung pergi dengan mengendarai mobil Axello.) Nona pergi tanpa tuan Axe?? Sudah lah... Lebih baik aku berikan surat perceraian ini kemudian pergi." Lirih Layla.
"Tolong!!!! Tolong!!!" Panggil Axello sontak membuat Layla berlari kecil menghampiri suara itu.
"Tuan!" Pekik Layla saat melihat kobaran api yang hampir melahap rak buku itu. Layla meletakan surat perceraiannya dan mengambil taplak meja kemudian membasahinya dengan air yang ada di teko.
"Tuan anda tidak—"
"Jangan menyentuh ku!" Bentak Axello.
"Tapi apinya—"
__ADS_1
"Berhenti sok peduli padaku, pergi dari—"
"Maafkan saya tuan, saya tidak bisa... Nyawa anda terancam... Setelah anda bebas nanti anda boleh menyiksa saya tetapi, pikirkan ibu anda jika saya tidak menolong anda." Ucap Layla sembari berusaha mengangkat rak buku itu. Melihat kekhawatiran Layla membuat Axello terdiam.
Padahal aku selalu menyiksanya, bahkan saat dia sakit aku mengharapkan dia mati tetapi sekarang... Dia justru menolong ku?? Dan Emma?? Dia malah membawa pergi mobilku. Batin Axello.
"Tuan tarik kaki anda!" Ucap Layla.
"Kakiku sepertinya patah, dan tidak bisa digerakan." Jawab Axello. Yang mana membuat Layla langsung menarik kaki Axello dan tangannya terkena bara api.
"Aw!!" Pekik Layla.
"Kau tidak—"
"Tuan... Tuan bangun tuan... Aku harus membawa tuan pergi secepatnya." Lirih Layla.
Dia pun memapah tubuh besar Axello dan dengan perlahan membawanya pergi. Saat Layla hendak mengambil surat perceraiannya, tanpa sengaja tangan Axello menapisnya dan surat itu terkena api. Layla pun memilih membawa Axello pergi dan membiarkan surat perceraiannya itu hangus dalam kobaran api.
"Tuan Axe." Ucap satpam pengganti Hans, panggil saja Glo.
"Glo hubungi pemadam kebakaran, soal tuan Axe biar saya yang membawanya ke rumah sakit." Ucap Layla.
"Tapi nona, tangan anda—"
Aku harap setelah ini, tuan terbuka hatinya untuk mau menerima ku dan anak ini... Karena jujur, aku tidak mungkin bisa membesarkan anakku sendirian. Batin Layla kemudian menatap Axello yang ada dipangkuannya.
Sesampainya di rumah sakit, Layla dengan setia menunggu Axello yang tengah ditangani dokter. Bahkan sampai Emma datang dan hendak masuk ke ruangan.
"Maaf nona, tuan sedang ditangani dokter." Ucap Layla yang mana membuat Emma berdecak. Keduanya pun menunggu sampai akhirnya pintu terbuka dan dokter keluar dari ruangan.
"Dok bagaimana—" Ucapan Layla terjeda saat sang dokter lebih dulu bicara.
"Pasien ingin bertemu dengan nona Emma... Siapa nona Emma??" Ucap sang dokter membuat Layla membeku.
"Saya dok." Ucap Emma kemudian lebih dulu masuk dan disusul oleh dokter.
Apa yang kamu harapkan Layla... Kamu seharusnya sadar, jika sampai kapan pun tuan tidak akan pernah menganggapmu... Lebih baik aku pergi, sebelum tuan melihat ku dan menyiksa ku lagi. Batin Layla kemudian pergi dengan air mata menetes.
"Sayang kamu—"
"Emma, kita putus! Jangan pernah menghubungiku lagi! Aku sadar, ternyata kamu tidak mencintai ku... Dengan teganya kamu membiarkan ku hampir termakan kobaran api... Jika bukan karena Layla, aku pasti tidak akan selamat." Ucap Axello.
__ADS_1
"Sayang dengarkan pen—"
"Dok bawa dia pergi, dan suruh wanita yang mengantarku masuk kesini." Ucap Axello.
"Sayang!! Lepaskan aku!!! Sayang!!!" Panggil Emma namun tak direspon oleh Axello. Beberapa saat kemudian dokter masuk.
"Maaf tuan, nona tadi sudah pergi." Ucap sang dokter.
"Apa?! Dia sudah pergi... Gawat aku harus me—Arghh!" Pekik Axello saat hendak berusaha bangkit.
"Tuan jangan banyak bergerak, kaki anda dalam pemulihan." Ucap sang dokter membuat Axello berhenti bergerak.
Apa sekarang mommy akan tau kebenarannya?? Batin Axello.
Sedangkan disisi lain, Inara meneteskan air mata kebahagiaan saat Dalza sudah sadar. Meskipun luka bekas kecelakaannya masih belum sembuh, tapi setidaknya Dalza sudah sadar. Namun, Inara sedikit bingung saat Dalza sadar dia memanggil manggil nama Anna.
"Dalza." Panggil Inara membuat Dalza menoleh ke arah sang ibu.
"Siapa Anna??" Tanya Inara.
"Calon istriku." Jawab Dalza dengan nada lemah.
"Calon—"
"Iya tante... Anna calon istri sekaligus menantu tante, El berharap tante merestui mereka." Ucap Elvano. Inara hanya diam karena masih bingung dengan ucapan Dalza.
"Dimana Anna??" Tanya Dalza. Yang mana membuat Elvano terdiam. Dia sendiri belum mendapatkan kabar apapun dari para bodyguardnya.
"Akan aku cari, sekarang perhatikan kesehatanmu... Cepatlah sembuh supaya kamu melihat pernikahanku dengan Ara." Ucap Elvano membuat Arasyah merona dan memukul kecil lengan Elvano.
"Kabar buruk! Vila tuan Axello kebakaran dan tuan Axello masuk rumah sakit." Ucap Thomas.
"Apa?!! Di rumah sakit mana??" Tanya Arasyah.
"Di rumah sakit ini nona, ada di ruang VIP 1." Jawab Thomas.
"Aunty kabarin mommy kamu dulu ya... Mas, kamu cek keadaan Axello." Ucap Inara. Aaron Arasyah dan Elvano pun pergi. Sedangkan disana hanya ada Inara.
Baru Dalza sadar, dan ada musibah lagi. Batin Inara.
Kalo di rumah sakit ini, berarti vila abang deket... Kok abang bilang vilanya di pelosok kota, kalo di pelosok kan nggak mungkin jauh jauh kesini. Batin Arasyah bingung.
__ADS_1
...🥀🥀🥀...