IRA (Berawal Dari Taruhan)REVISI

IRA (Berawal Dari Taruhan)REVISI
Ace yang bar bar


__ADS_3

...Kau tidak akan mengerti sulitnya mencari berlian didalam air. ...


...🥀IBDT🥀...


Dilain sisi


Inara dan Ratih sampai di sebuah panti asuhan. Tampak beberapa anak anak yang masih belia menghampiri Ratih dan Inara begitu mendapatkan izin dari ibu panti. Ratih dan Inara membagikan bingkisan juga beberapa mainan untuk mereka.


"Terima kasih nyonya atas kunjungannya... Semoga menantu anda dilancarkan saat persalinan nanti." Ucap ibu panti.


"Aamiin... Terima kasih doanya, kami langsung pamit pulang dulu... Dah anak anak." Ucap Ratih.


"Daaah tante dan kakak baik." Jawab anak anak serentak.


Ratih dan Inara pun masuk kedalam mobil. Dan Inara kini tau sikap lain dari sang ibu mertua, selain Ratih perhatian dia juga memiliki jiwa sosial yang tinggi.


"Mama kasihan sama anak anak panti... Mereka dari kecil tidak pernah mendapatkan kasih sayang orang tua yang lengkap, dan kamu lihat tadi Nara?? Mereka bahagia saat kita membawakan mereka mainan." Ucap Ratih membuat Inara terdiam sembari menghusap perutnya yang sedikit membesar.


Kalau aku cerai dan meninggalkan anak ini... Apa itu artinya, anak ini tidak akan memiliki kasih sayang dariku?? Dari seorang ibu?? Batin Inara.


"Nara sayang kenapa diam saja?? Perut kamu sakit?? Mau ke dokter—"


"Nggak kok ma... Nara gak apa apa, cuman lagi pengen ngelus perut aja." Jawab Inara.


"Gitu toh... Mama khawatir tadi kamu kenapa kenapa." Ucap Ratih bernapas lega.


"Biasanya usia 4 bulan udah ada pergerakan janin loh, kamu ngerasain sesuatu??" Tanya Ratih. Inara menganggukan kepalanya pelan.


"Kayak ada yang gerak gitu pas Nara elus ma." Jawab Inara. Dan Ratih tersenyum lebar.


"Itu artinya kandungan kamu normal, mama seneng dengernya." Ucap Ratih tampak bahagia.


"Oh iya, Aaron baik kan ke kamu sayang?? Dia gak jahatin kamu kan?? Gak dingin ke kamu kan??" Tanya Ratih.


Dingin gimana?? Orang aku sendiri yang dingin ke dia. Batin Inara.


"Nggak kok ma, kak Aaron baik ke Nara." Jawab Inara.


"Syukurlah... Adukan ke mama kalo Aaron bikin kamu kesal ok??" Ucap Ratih dan direspon anggukan oleh Inara.


Sesampainya di rumah, Inara langsung ke kamarnya dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih longgar. Setelahnya, dia pun duduk dibibir ranjang dan tangannya terangkat mengelus lembut perutnya. Dan hajatan akan diadakan saat Ira kembali. Mungkin dengan begitu, acara menjadi lebih ramai.

__ADS_1


"Kenapa tiba tiba kangen sama om Aaron??" Lirih Inara. Dia pun berjalan menuju ke kaca balkon dan sedikit menyingkab korden berwarna putih itu.


Kalo aja aku lebih kuat sedikit dari om Aaron, pasti hal itu gak akan terjadi dan pasti sekarang aku masih bisa sekolah bareng Rara... Sayang aku lemah dan gak bisa berontak. Batin Inara.


...Cklekk! ...


Aaron tampak masuk kedalam kamarnya dan menutup pintunya. Meletakan tas kantor dan kardigannya kemudian melipat kemejanya sampai sebatas siku.


"Om!" Panggil Inara membuat Aaron mengurungkan niatnya untuk ke kamar mandi.


Perut Inara sudah terlihat sekarang... Entah mengapa aku merasa sangat senang dan ingin mengelusnya. Batin Aaron.


"Iya kenapa??" Tanya Aaron. Inara duduk dibibir ranjang.


"Sini duduk, oh iya pintunya dikunci sekalian." Jawab Inara.


"Baiklah." Ucap Aaron kemudian mengunci pintu kamarnya dan duduk disamping Inara. Keningnya berkerut saat melihat Inara memainkan jarinya.


"Kamu ingin sesuatu Nara?? Katakan saja." Ucap Aaron.


"Aku pengen itu." Jawab Inara.


"Itu apa?? Sate lagi??" Tanya Aaron.


"La... Lalu apa??" Tanya Aaron saat Inara berdiri sembari menyilangkan kedua tangannya didepan dada. Hingga Inara tersenyum sembari mendorong tubuh Aaron hingga terlentang diatas ranjang. Dan Inara pun duduk diperut Aaron.


"Nara... Nara jangan memancingku!" Ucap Aaron dengan suara berat.


"Tapi Nara pengen kayak waktu itu." Ucap Inara dengan puppy eyes nya dan itu membuat Aaron menggertakan giginya.


"Aaaaaa!" Pekik Inara saat Aaron membalikan posisi. Kini Aaron berada diatas Inara sedangkan Inara berada dibawah kungkungan Aaron. Tangan Aaron masuk kedalam kaos Inara dan menghusap perut Inara.


"Geli ih!" Ucap Inara dengan suara imutnya membuat Aaron menelan ludahnya kasar.


"Kamu yang memancingku Nara." Ucap Aaron sebelum akhirnya mencium bibir Inara dan menyerang Inara pelan pelan.


Desahan kedua pasutri itu memenuhi ruangan. Sesekali Aaron menghusap perut Inara dan menciuminya. Dan Inara menikmati setiap sentuhan dari Aaron. Aaron menggegam erat kedua tangan mungil Inara.


...🥀🥀...


"Ace!" Pekik Ira saat Ace memeluknya dari belakang dan dengan jahil menggigit kecil telinga Ira.

__ADS_1


"Kenapa hmm??"


"Lepasin ih! Ace!!—"


"Mending gua peluk apa gua cium lo disini." Ucap Ace membuat Ira terdiam dan kembali menyirami tanaman yang berada di balkon atas.


"Ira, besok kita di rumah aja ya... Bikin dedek, daripada di kebun... Banyak nyamuk, gak ada enak enaknya... Kalo di kamar sama gua kan ada enak enaknya." Ucap Ace sembari tersenyum jahil.


"Ace!! Kalau gak mau ikut ya gak usah ikut... Nyebelin banget sih, lepas ih Ira mau mandi." Ucap Ira.


"Mandi bareng yuk." Ajak Ace membuat Ira membelakan matanya.


"Kamu sehat kan?? Disini bukan kayak di rumah kamu yang setiap kamarnya ada kamar mandi... Disini cuman ada satu kamar mandi Ace... Satu! Jadi jangan macam macam!" Ucap Ira sembari berjalan menuju ke kamarnya mengambil handuk dan piyamanya.


"Mumpung sepi Ra... Ya... Yah." Ucap Ace sembari membawa handuk kimononya.


"Gak— Ace!!! Ace keluar... Ace!!!" Pekik Ira saat Ace tiba tiba mendorong Ira masuk kedalam kamar mandi dan menguncinya. Tentu saja Ace ikut masuk. Beberapa menit kemudian, Ernitta bangun dari tidurnya dan hendak mencuci muka namun saat didepan pintu kamar mandi.


"Emhh!! Ace—Arghh!!! Hummppphhh!! Hummppphhh!!!"


"Astghafirullahalazim, Ernitta... Bisa bisanya telinga polos kamu sudah tidak polos lagi... Mending cuci muka di wastafel ajalah." Ucap Ernitta kemudian menuju ke wastafel dapur.


2 jam kemudian, bude dan Anadita pulang dari acara arisannya. Mereka melihat Ernitta yang memakai earphone sembari menonton drakor di handphonenya.


"Ernitta... Erni!" Ucap bude membuat Ernitta menoleh.


"Mama sama bulik kapan pulang??" Tanya Ernitta sembari melepaskan earphonenya.


"Barusan... Ira sama Ace mana??" Tanya Anadita membuat Ernitta menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal.


"Anu... Itu.... Mereka didalam kok." Jawab Ernitta. Anadita pun menganggukan kepalanya pelan dan masuk kedalam hendak kedapur. Namun, saat hendak kedapur dia melihat Ira dan Ace keluar bersamaan dari kamar mandi dengan kondisi rambut mereka sama sama basah.


"Ib.... Ibu." Ucap keduanya gagap. Anadita pun menahan tawa.


"Kok kalian keluar dari kamar mandi bareng lagi... Habis ngapain??" Ucap Anadita dengan nada menggoda.


"Anu... Itu... Cuman... Cuman keramas bareng—"


"Habis bikin cuc—umpphh!" Ucap Ace terjeda saat Ira membungkam mulutnya.


"Hahaha!!! Kalian ini, lain kali harus inget dan pilih tempat yang aman ya??" Ucap Anadita membuat Ira bertambah merona.

__ADS_1


"Siap bu!... Eh Ira... Ira!! Tuh anak ibu ngambek, Ace bujuk Ira dulu ya bu." Ucap Ace dan direspon anggukan oleh Anadita.


Ya Allah, teruslah membuat mereka bahagia dan jauhkan mereka dari masalah yang meregangkan hubungan mereka. Batin Anadita.


__ADS_2