
JANGAN LUPA LIKE, VOTE AND KOMENNYA YA๐ ๐๐
TERIMA KASIH DAN SELAMAT MEMBACA SEMUA๐๐
I LOVE YOU READERS๐๐
...๐ฅIBDT๐ฅ...
Malam Harinya
Seusai makan malam, Ira pun menceritakan semuanya pada sang ibu. Sesekali Bude menambahkan dan berusaha agar Ira tidak menikah. Awalnya Anadita menolak namun melihat wajah memohon dari Ira, akhirnya dia menyetujuinya.
"Maafin Bude Ira." Ucap Bude.
"Nggak Bude... Ini saatnya Ira bales kebaikan Bude, Ira gak apa apa kok bude." Jawab Ira.
"Mbak, jadi besok bos mbak kesini??" Tanya Anadita.
"Iya An, dia pengen liat calon menantunya." Jawabnya dan diangguki patuh oleh Anadita.
Ya Allah, semoga ini keputusan tepat... Ira cuman pengen bantuin Bude dengan cara ini. Batin Ira.
Selesai makan malam, Ira dan lainnya pun ke kamarnya masing masing untuk tidur. Menyambut hari yang penjang esok harinya. Dan Ira berharap calon suaminya mau menerimanya.
Keesokan Harinya
Ira membantu Bude dan ibunya yang menyiapkan beberapa cemilan untuk bosnya. Untuk Ernitta dia sudah pergi ke kampus karena memang dia memiliki kelas pagi hari ini.
"Dia sedang menuju kesini, sekitar 15 menit lagi akan sampai." Ucap Bude dan Ira hanya menganggukan kepalanya mengerti.
"Ira kamu yakin dengan keputusanmu??" Tanya Anadita. Melihat kecemasan di wajah sang ibu, Ira pun menggegam tangannya dan menatap matanya.
"Ira yakin bu... Ibu nggak usah khawatir ok??" Jawab Ira yang mana membuat Anadita memeluknya erat.
__ADS_1
"Ibu sayang kamu Ira." Ucapnya.
"Ira juga sayang ibu." Jawab Ira sembari mengeratkan pelukannya. Yang mana membuat Budenya semakin tidak tega dan ikut meneteskan air matanya.
Maafin Bude Ira. Batinnya.
Ting! Tong!
"Mereka datang, pah bukain pintu." Ucapnya pada sang suami. Pakde pun membuka pintu dan menyambut hangat kedatangan bosnya.
"Maaf sedikit sempitโ"
"Nggak kok... Jadi, mana calon menantuku??" Tanyanya sembari duduk disofa.
"Sebentar, Ira!!" Panggil Bude. Tampak Ira datang menghampiri sembari membawa beberapa cemilan. Setelahnya dia pun duduk disamping Budenya.
"Cantik... Siapa namamu??" Tanyanya.
"Zanna Kirania, panggil Ira aja tante." Jawab Ira sopan.
"Dia siapamu Sar??" Tanyanya pada Bude.
"Keponakan, dan itu ibunya." Jawab Bude. Tampak bosnya berdiri dan menghampiri Anadita.
"Kamu merestui putrimu dengan putraku??" Tanyanya.
"Sebagai seorang ibu, aku hanya bisa menyetujui dan memberikannya restu saat anak ku sendiri memintanya." Jawab Anadita. Yang mana mendapatkan pelukan darinya.
"Anakmu akan aman dan akan aku bahagiakan dia seperti putriku sendiri." Ucapnya sembari melepaskan pelukannya perlahan.
"Terima kasih nyonya." Jawab Anadita.
"Tidak perlu memanggilku begitu, kita akan menjadi besan." Ucapnya dan direspon anggukan oleh Anadita. Kini dia beralih pada Ira yang mana membuat Ira bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Cantik... Oh iya, mulai sekarang panggil aku mama... Ok manis??" Ucapnya sembari mencubit dagu Ira gemas.
"Ok ma." Jawab Ira kikuk.
Tante ini kok kayak gugup gitu yak?? Apa cuman perasaan aku aja. Batin Ira.
"Nyonya mari nikmati hidangan sederhana kami." Ucap Anadita. Yang mana membuatnya menganggukan kepalanya dan menuju ke meja makan sembari menggandeng Ira. Sepertinya dia mulai nyaman dengan calon menantunya.
...๐ฅ๐ฅ๐ฅ...
Disisi lain Aaron tampak membuka matanya perlahan saat mendengar suara isakan tangisan. Dia pun bangkit dari posisinya dan memegangi kepalanya yang terasa pening.
"Arghh kepalaku." Lirihnya. Dia pun menoleh menuju ke sumber suara. Alangkah terkejutnya saat melihat seorang gadis membelakanginya meringkuk.
"Inara..." Lirih Aaron sembari membelakan matanya. Dia pun membalikan tubuh gadis tersebut hingga tampaklah wajahnya yang memerah dengan air mata mengalir.
"Hiks!!! Hiks!!! Kakak jahat!!!" Teriaknya sembari memukuli dada bidang t*lanjang milik Aaron.
Sedangkan Aaron sendiri masih terdiam. Dia menatap leher Inara yang penuh dengan kissmark. Yang mana membuat Aaron memejamkan matanya mengingat kejadian semalam. Oh iya, saat prom night dia bertemu rekan kerjanya yang kebetulan mengantar anaknya. Hingga Ace datang menjemput Aiera membuatnya mengantar Inara. Namun dia sendiri bingung, kenapa dia bisa berakhir di apartemen terlebih dengan keadaan t*lanjang terlebih sahabat adiknya yang mengenaskan.
Burkhhh!
Inara terjatuh yang mana membuat Aaron meraihnya. Namun seketika Inara menapis tangan Aaron. Inara berusaha berdiri namun lagi lagi tidak bisa dan tertahan oleh tubuh Aaron yang dibelakangnya.
"Katakan apa yang terjadi Inara... Jangan membuatku bingung." Ucap Aaron. Inara hanya mengeratkan selimutnya yang menutupi tubuh mungilnya.
"Bukankah sudah jelas kak... Hiks... Hiks... Kakak sendiri yang bawa Inara kesini!" Jawab Inara dengan isakan tangisannya. Dia enggan menatap Aaron. Yang mana membuat Aaron terdiam. Dia membawa Inara kesini??
"In... Inara tenang aja, kakak akan tanggung jawab... Yah... Jangan nangis lagi." Ucap Aaron.
"Nggak mau... Hiks... Hiks... Inara gak mau." Jawab Inara karena dia tidak ingin menikah muda. Dia hanya ingin seperti Aiera dan bermain bersama.
"Pikirkan ini baik baik Inar... (Menggendong Inara sampai di kamar mandi.) Kamu mandilah, dan pakai pakaian Aiera... Bajumu robek." Ucap Aaron kemudian menutup pintu kamar mandi.
__ADS_1
Aaron menghela napas panjang. Sepertinya ada yang tidak beres sampai sampai dia memprengk*sa teman adiknya yang jauh dibawahnya. Bagaimana tidak, Inara baru 17 tahun sedangkan dirinya sudah genap 30 tahun. Tapi jika Inara meminta pertanggung jawabannya, maka Aaron dengan lapang dada akan mempertanggung jawabkan kesalahannya.
...๐ฅ๐ฅ๐ฅ...