IRA (Berawal Dari Taruhan)REVISI

IRA (Berawal Dari Taruhan)REVISI
Mabuk


__ADS_3

...🥀IBDT🥀...


Malam Harinya


Seusai makan malam, Aiera menghampiri Inara yang sedang bermain dengan Dalza. Suara lenguhan bayi kecil itu membuat Aiera dan Inara tertawa kecil. Apalagi jika ada Ratih disana pasti tertawa gembira. Namun, Ratih tengah dikurung oleh sang suami. Bahkan dia tidak ikut makan malam bersama.


"Hihi, keponakan aunty lucu banget sih." Ucap Aiera sembari menciumi keponakannya.


"Kapan ya mata mungilnya terbuka??" Lirih Inara.


"Besok tanya dokter Zahwa aja." Ucap Aiera.


"Kamu bener Ra." Jawab Inara. Aiera yang gemas itu tak tahan untuk menggendongnya. Namun saat digendong, Dalza menangis keras membuat Inara mengambil alih. Dan baru digendongan Inara, Dalza langsung berhenti menangis.


"Ssuuttt... Anak mama, jangan nangis lagi hmm?" Ucap Inara sembari mengayun ayun Dalza.


"Giliran sama mamanya aja langsung gak nangis... Dasar keponakan aunty." Ucap Aiera kemudian mencium pipi keponakannya.


*Kau tega! Nara, lihat mata bayi ini... Lihatlah!! Apa kau tega meninggalkannya hanya karena kesalah pahaman diantara kita??!*~Aaron.


Aku tidak tega, tapi... Aku hanya menganggap kak Aaron ayah dari Dalza... Tidak lebih. Batin Inara.


"Oh iya Nar, Aku udah pilih design buat mini party... Cuman rekan bisnis abang sama keluarga kok." Ucap Aiera.

__ADS_1


"Tidak masalah, selama ini untuk Dalza." Jawab Inara.


"Dan Nara... (Menggegam salah satu tangan Inara.) Pikirkan mengenai dampak dari perceraianmu... Ya, aku tau kau ingin kebebasan tapi coba kamu lihat Dalza... Dia membutuhkan kasih sayang orang tua yang lengkap... Bukankah waktu itu kamu bilang setidaknya yang tidak merasakan kasih sayang orang tua cukup kamu, dan jangan anakmu?? Maka bertahanlah... Aku yakin abang gak mungkin melakukan hal itu, karena dihati abang sekarang hanya ada kamu... Kamu Inara." Ucap Aiera. Inara hanya terdiam.


"Akan aku coba." Lirih Inara.


...Cklekkk!!...


"ACENG!!!! Oh, maaf... Kalian melihat Aceng??" Ucap Ira.


"Aceng siapa kak??" Tanya Aiera bingung.


"Kakakmu lah, siapa lagi." Ketus Ira. Aiera hanya menghela napas panjang sampai Inara berbisik.


"Bang Ace kayaknya pergi sama bang Aaron tadi." Ucap Aiera.


"Huh! Sudahlah, boleh aku bergabung??" Tanya Ira.


"Tentu kak." Jawab keduanya.


Ketiganya pun bercerita ria meskipun dengan nada lirih karena si Dalza sudah tertidur. Agar tidak terganggu, Ira menidurkan Dalza pada box bayi yang ada disana. Toh Inara belum bisa berjalan jadi Ira yang menidurkannya. Saat asik bercerita, Ace datang sembari memapah Aaron yang mabuk.


"Bang Aaron kenapa??" Tanya Aiera.

__ADS_1


"Mabuk, udah sana kamu ambil air anget sama kain buat lap tubuhnya abang." Ucap Ace.


"Rara! Kamu ambil air angetnya aja biar aku yang urus dia." Ucap Inara memotong.


Ace pun membaringkan sang kakak disamping Inara. Melihat wajah Inara yang menyeramkan membuat Ace mengajak sang istri kembali ke kamarnya. Begitu juga Aiera, setelah mengantar air hangat dan kain dia langsung pergi.


"Nara... Nara..." Ucap Aaron. Inara tak meresponnya. Dia kesal karena Aaron pergi begitu saja dan kembali dalam keadaan mabuk. Baru hendak membuka kancing kemeja sang suami, Aaron menapisnya.


"Jangan sentuh aku! Hanya Nara yang boleh menyentuhnya!" Ucap Aaron yang mana membuat Inara bertambah kesal.


"Ini Nara!" Ketus Inara. Dan mendengar suara Inara, Aaron langsung memeluk erat Inara. Tentu membuat Inara terpenjat kaget.


"Jangan bercerai... Aku tidak bisa hidup tanpamu... Lebih baik aku mat—"


"Hus! Ngomong apaan sih??! Lepasin gak?!" Ucap Inara kesal. Aaron tak bergeming, dia justru mendusel dusel layaknya anak kecil.


"Mas! Mas jangan modus yah... Loh udah tidur?" Ucap Inara. Inara hanya menghela napas panjang kemudian menyelimuti sedikit kaki suaminya. Karena lelah, akhirnya keduanya terlelap dengan posisi yang sangat intim.


...🥀🥀🥀...


...Sebentar lagi Season 1 mau tamat, jadi mau lanjut Season 2 atau tamat nih??...


__ADS_1


...Calon papa muda lewat wkwkwk😂😂...


__ADS_2