
...Lebih baik terpaksa dicintai daripada terpaksa mencintai....
...🥀IBDT🥀...
"Halo Ira... Dari kebun ya??" Tanya Arsen.
"Iya nih kak." Jawab Ira sembari tersenyum manis.
"Ira dia—"
"Kenalin... SUAMINYA Ira." Ucap Ace menekan kata suami.
Ira kapan nikah?? Batin Arsen.
"Ayo masuk!" Ucap Ace sembari menenteng Ira masuk.
"Ace! Kak Ira masuk dulu ya." Ucap Ira. Arsen hanya tersenyum sejenak kemudian pergi dari sana.
"Ace!! Ace lepasin ih! Ace kenapa sih??" Ucap Ira kesal.
"Lo emang gak peka ya, udah punya suami ganteng gini masih genit sama cowok lain!" Ucap Ace tak kalah kesalnya.
"Genit apaan sih?? Kan Ira cuman nyapa kak Arsen." Ucap Ira membela. Toh, dalam hatinya hanya ada Ace mana mungkin dia genit pada Arsen yang jelas jelas kalah jauh dari suaminya.
"Udahlah Ira mau mandi!! Ace!!! Turunin!!!" Ucap Ira saat Ace memanggulnya layaknya karung beras.
"Kakak ipar ambilin dua handuk kimono dikoper... Oh iya, jangan lupa kakak pake earphone ya." Ucap Ace.
"Siap adik ipar." Jawab Ernitta kemudian mengambilkan handuk kimono untuk sepasang pasutri itu.
"Nah, tinggal pake earphone deh." Ucap Ernitta sembari mendengarkan musik melalui earphone.
4 jam kemudian, Ace keluar sembari menggendong Ira ala bridal style. Begitu sampai didalam kamar, Ace memakaikan baju untuk Ira. Maklum, Ira kelelahan karena diserang Ace tanpa jeda.
"Duh kasihan banget sih istri gua... Salah sendiri bikin hati suami panas." Lirih Ace kemudian dia pun memakai pakaiannya dan ikut terlelap disamping istrinya.
__ADS_1
"Mimpi yang indah... My wife." Bisik Ace ditelinga sang istri.
...🥀🥀...
Beberapa bulan kemudian. Sejak kembali dari rumah bude, hubungan Ace dan Ira semakin erat. Hanya saja, salah satu diantara mereka belum mengungkapkan perasaan satu sama lain. Dan karena itu membuat Ira berani membahas soal perceraiannya. Toh, dia mengira Ace hanya memperlakukannya sebagai pemuas n*fsu.
Sedangkan dengan Aaron masih bersabar menunggu sampai Inara benar benar menerimanya. Terlebih sekarang kandungannya yang sudah membesar membuat Aaron harus extra siaga. Meskipun sekarang Inara sudah tidak banyak minta hal aneh lagi, tapi melihat kandungan Inara membuat Aaron gampang berpikiran negative.
Pagi ini, Ratih mengajak kedua menantu dan putrinya jalan pagi disekitaran vila. Karena berhubung sekarang hari minggu dan Aiera juga Inara tengah libur.
"Ma, barbie yang Aiera minta kapan dateng??" Tanya Aiera.
"Nanti sore kayaknya." Jawab Ratih.
"Aiera berapa banyak lagi barbie yang ingin kamu beli??" Tanya Ira. Pasalnya setiap minggunya, Aiera selalu membeli barbie model terbaru.
"Sayang tidak perlu bertanya, Aiera pasti membelinya sampai semua barbienya memenuhi vila." Ucap Ratih.
"Huh! Mama mah gitu." Ucap Aiera kesal membuat ketiganya tertawa kecil. Setelah lama berkeliling, mereka pun kembali dan duduk taman. Lebih tepatnya diatas karpet bulu yang ada disana.
"Inara bagaimana keadaan cucu mama?? Dia sering menendang??" Tanya Ratih. Inara terdiam seolah merasakan sesuatu.
"Aaaaaa! Aiera mau ngerasain... (Menyentuh perut Inara.) Wow beneran keponakan aunty nendang... Hihihi!" Ucap Aiera sembari tersenyum bahagia.
"Inara." Panggil Ira.
"Iya kak kenapa??" Tanya Inara.
"Perut kamu sebesar itu apakah sakit??" Tanya Ira dengan polosnya. Yang mana membuat Ratih Inara dan Aiera tertawa kecil.
"Tidak sakit, hanya saja sulit bergerak." Jawab Inara. Dan Ira hanya menganggukan kepalanya mengerti.
"Ma Inara ke atas dulu ya." Ucap Inara.
"Biar Aiera anter." Ucap Aiera kemudian menggandeng Inara masuk kedalam Vila.
__ADS_1
"Kenapa sayang??" Tanya Ratih melihat Ira menunduk sedih.
"Maaf ma, Ira ngecewain mama karena sampai sekarang Ira belum hamil." Jawab Ira. Yang mana membuat Ratih tersenyum dan menghusap puncak kepala Ira.
"Kalian baru 7 bulan pernikahan... Toh Ace nyentuh kamu baru 3 bulan yang lalu kan?? Daripada itu, mama dulu butuh waktu 3 tahun baru bisa hamil." Ucap Ratih.
"3 tahun ma??" Tanya Ira.
"Hmm... Sampai ibu mertua mama kepengen punya cucu banget, dan untungnya bisa melihat kelahiran Aaron saat dia sakit keras... Dan mama rasa, tidak lama lagi kamu akan hamil... Dengan begitu, vila ini tidak akan sepi lagi... Jangan sedih, kemari biar mama peluk." Jawab Ratih kemudian memeluk Ira.
Anna, Ira akan bahagia... Dia akan selalu bahagia karena aku dan suamiku selalu disampingnya. Batin Ratih sembari menghusap lembut puncak kepala Ira.
...I'm coming home...
"Siapa yang telefon... Kak Aaron??" Lirih Inara baru selesai berganti pakaian. Dia pun mengangkat telefon dari suaminya.
(Style Inara👆🏻.)
📞
“Hallo Nara??”
“Iya kenapa?” Jawab Inara. Kali ini tidak seketus dulu.
“Aku akan pulang telat jadi kamu ingin sesuatu?? Untuk nanti malam??”.
“Kue macaron coklat.” Jawab Inara.
“Hanya itu?? Baiklah aku tutup telefonnya jangan lupa minum susunya.”
“Iya.”
..._Tut_...
__ADS_1
Panggilan berakhir. Setiap akan pulang, Aaron selalu menelefon Inara menanyakan apa keinginan Inara. Dan tentu Inara selalu meminta apa yang dia inginkan. Entah itu Aaron pulang cepat maupun pulang terlambat seperti saat ini.
Tumben pulang telat ngabarinnya pagi, biasanya kan agak sore. Batin Inara.